Caknoval, maen dulu lah ke papua baru kasih komen, rakyat papua dibilang masyarakat pra sejarah.. Masalah koteka itu masalah adat budaya kalo hal itu adalah sebuah kenyamanan bagi mereka bukan kewajiban bagi kita utk merubahnya. -----Original Message----- From: "caknoval" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sun, 30 Oct 2011 17:58:00 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [saham] Re: JFK, Indonesia, CIA dan Freeport
Hahaha....mantap juga analisisnya. Demi membiayai amerika jalan2 di bulan sampai harus rela membiarkan rakyat Papua hidup dalam kondisi pra sejarah, sementara gunung emas mereka sekarang sudah lenyap menjadi lubang besar penuh limbah. --- In [email protected], "billie" <semutit3m@...> wrote: > > Kalo saya punya sudut pandang lain, bukan membela amerika atau yahudi.. Tapi > amerika negara yg meng eksplore bumi ini utk kebaikan bumi juga.. Amerika dg > kemampuan luar angkasa, amerika dg kemampuan telekomunikasinya, amerika dg > kemampuan TI nya, amerika dg sistem pemerintahannya dsb.. Apakah kita dg > kemampuan sumber daya alam yg melimpah dpt berbuat banyak tuk mengeksplore > bumi dan memberikan manfaat tuk penduduk bumi.. Biarlah Tuhan yg Maha Adil > memberikan Emas kita tuk modal amerika meng eksplore bumi untuk memberikan > manfaat tuk alam semesta.. Apakah tuk eksplore luar angkasa tidak membutuhkan > modal yg besar.. > > Jabat erat, > > Billy > -----Original Message----- > From: "adi noe" <adinoe.mail@...> > Sender: [email protected] > Date: Sun, 30 Oct 2011 14:22:03 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [saham] JFK, Indonesia, CIA dan Freeport > > Yg jelas pemerintah indo ga peduli ama SDM ny yg ada jg peduli rekening msg2, > mau gali sendiri kaga bisa akhirnya pasrah aj yg penting komisi msk. > Jd kira2 oon nd pem indo? > Bisa y bisa tidak, tergantung dari sisi mana anda melihatnya? > > sent from 3® > > -----Original Message----- > From: "caknoval" <noval.invest@...> > Sender: [email protected] > Date: Sun, 30 Oct 2011 10:56:52 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: [saham] JFK, Indonesia, CIA dan Freeport > >  > Date: Thursday, October 27, 2011, 7:33 PM > > Salam kebangsaan yg terhina, > > Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam > majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di > Washington > DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and > Freeport.â€� > > Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun > 1967, > namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. > Dalam > tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, > demikian nama > perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi > pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959. > > Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. > Oleh > Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. > Freeport > Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi > perdananya > terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali > CEO > Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun > berkali-kali > pula menemui kegagalan. > > Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes > Wilson > yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan > dengan > Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan > itu > Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas > Gunung > Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di > tahun > 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan > tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van > Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan > membacanya. > > Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport > Sulphur itu > jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga > menulis > tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah > lainnya > diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh > Gunung > Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di > dalam > tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan > perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam > benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa > bangkit > kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata. > > Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama > atas > Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak > ditulisnya > dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson > menyebut > gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya > tidak > perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di > permukaan > tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa > sinar > matahari. > > Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena > selain > dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih > emas dan > perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD > MOUNTAIN, > bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson > memperkirakan > jika Freeport akan untung besar dalam waktu tiga tahun sudah kembali > modal. > Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari > 1960, > Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk > mengeksplorasi gunung tersebut. > > Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama > dengan > yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah > Irian > Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan > Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat. > > Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald > Kennedy > agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah spertinya > mendukung > Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall > Plan > jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan > bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing > kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari > Irian > Barat. > > Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg > sesungguhnya > mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda > mengetahui fakta > sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS > tidak > ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut. > > Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan > perjanjian > kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin > Freeport > jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket > bantuan > ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan > Bank > Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan! > > Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy > tewas > ditembak > pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy > merupakan > sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak > mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika. > > Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak > belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi > kepada > Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang > keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS > tahun 1964, > adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport. > > Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. > Selain > kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi > Caltex > (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 > memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen > labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah > satu dari > tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh > kebijakan > Soekarno ini. > > Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan > agar orang > ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. > Augustus > C.Long juga aktif di Presbysterian Hospital di NY dimana dia pernah dua > kali > menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika > tempat ini > merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA. > > Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara > tahun > 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa > saja yang > dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai > masa yang > paling krusial. > > Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C.Long terpilih > sebagai > Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus > 1965, Long > diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk > masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk > menentukan > operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu > tokoh > yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan > menggerakkan > sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army > Friend. > > Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, > pukul > 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Suharto akan mendesak > angkatan > darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. > Mantan > pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar > adanya. > > Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah > perwira > loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan > Direktur > Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah > siap > mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu > Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu > darimana > Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport? > > Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah > mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. > Mereka > adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius > Tahija. > Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo > dengan > Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan > darat > karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka. > > Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) > yang > draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan Rockefeller, disahkan > tahun > 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani > Suharto > adalah Freeport!. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru > dibuat. > Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu > menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak > seperti > itu malah merugikan Indonesia. > > Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng > Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur > CIA > John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA > Richards > Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978. > > Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bobâ€� > Moffet dan menjadi > perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS > pertahun. > > Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis > sebuah > buku berjudul “Grasbergâ€� setelab 384 halaman dan > memaparkan jika tambang > emas > di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk > bijih > tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia. > > Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan > cadangan > bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan > 45 > tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya > produksi > tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu > merupakan yang termurah di dunia!! > > Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. > Seharusnya > EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga > mengandung > tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, > maka > Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan > sangat > mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan > membangun > pipa-pipa > raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura sepanjang 100 kilometer > langsung > menuju ke Laut Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan > mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. Ini sungguh-sungguh > perampokan > besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!!! > > Kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput areal tambang emas > Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput gunung emas tersebut > yang > ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, > perak, dan > tembaga yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, > meninggalkan > limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua > yang > sampai detik ini masih saja hidup bagai di zaman batu. > > Freeport merupakan ladang uang haram bagi para pejabat negeri ini, yang > dari > sipil maupun militer. Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar > di > dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri > dan > keluarganya. Freeport McMoran sendiri telah menganggarkan dana untuk itu > yang > walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang > kecil > karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika > Indonesia mau > mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu. > > Sumber : Blog Media Kata >
