*As seen on our tweet:*

[image: Inline image 1]

*Black Swan BBM: Bandul Siap Balik Arah?*

Setelah drama politik beragenda ekonomi yang dipertontonkan sepanjang
minggu lalu berakhir anti-klimaks dari sudut pandang kepentingan ekonomi
dan pasar itu sendiri, kenaikan BBM bersubsidi yang sekaligus pemangkasan
subsidi (beban negara) batal untuk segera diimplementasikan, tetapi juga
tidak dibatalkan sama sekali sepanjang tahun APBN 2012.

Kedua kata kunci tersbut, *batal untuk segera* diimplementasikan, tetapi
juga* tidak dibatalkan sama sekali* telah kembali memunculkan
ketidakpastian; sesuatu yang sangat tidak disenangi pasar.

Pergerakan pasar yang dengan mudah dibaca melalui *inflow* asing terhadap
pasar keuangan lokal *(local inflow*) sepanjang Maret, yang berkebalikan
dengan *outflow*asing terhadap produk keuangan yang berhubungan dengan
Indonesia di bursa luar negeri (*overseas outflow*), jelas mengindikasikan
pertaruhan (*bet*) atas antisipasi kenaikan inflasi akibat agenda
pemangkasan subsidi BBM. Pola/siklus berbasis pendekatan
historikal/statistik empiris yang sederhana ini: melepas aset untuk
mendiskon inflasi mengantisipasi kenaikan BBM (kuartal 1-2012), dan
kemudian masuk kembali jelang pengumuman kenaikan BBM (pertengahan Maret
2012).

Permasalahan yang mengganggu, hampir tidak ada pelaku pasar yang
memperhitungkan apa yang sudah lalu disebutkan Nassim Talib sebagai *black
swan theory* (*A metaphor that encapsulates the concept that an event is a
surprise (to the observer) and has a major impact. After the fact, the
event is rationalized by hindsight.*)

Mengapa "buru-buru" mengakumulasi saham-saham *big caps* yang sensitif
kenaikan inflasi jika inflasi akibat BBM yang digadang-gadang terhampir
pasti ternyata batal segera dilakukan? Apakah kemudian interval waktu
ekspektasi 3 bulan ke depan sebelum BBM bersubsidi dinaikkan jika formulasi
kondisional Amandemen UU APBN 2012 terpenuhi, pasar perlu kembali mendiskon
level harga saham-saham *big caps* yang terlanjur dipersiapkan / salah
bertaruh tersebut? Yang pasti, diskon pasar itu tidak menyenangkan, dan
salah posisi lebih lagi menyakitkan!

Reuters dalam laporannya pasca-keputusan DPR Sabtu (31 Maret) dinihari
tersebut, terang menyebutkan spekulasi pasar terhadap kepastian kenaikan
BBM pada 01 April sebagaimana digaungkan oleh otoritas fiskal/moneter dari
partai berkuasa:

*Failure to pass the proposal in parliament would have kept inflation low
but disappointed rating agencies that instead want the government to use
the $18 billion it spent on fuel subsidies last year for much-needed
infrastructure.*
*Subsidies keep pump prices at just half the market rate, spurring fuel
demand in Asia's largest gasoline and diesel importer and helping boost car
sales to record highs.*
*Lifting prices by one-third would only take them to a level reached in
2008 after Yudhoyono raised prices after a oil price spike.*
*The president cut prices in 2009, as oil prices declined during the global
financial crisis. His plan to lift them again comes as oil prices have
surged because of geopolitical concerns over Iran and its nuclear program.*
*Without a price increase, the government sees the budget deficit widening
to 4 percent of gross domestic product, more than double the 1.5 percent it
was aiming for this year.*

Pandangan ini pun diamini dengan sejumlah posisi analisis dari sejumlah* top
broke*r asing di Indonesia, di antaranya J.P. Morgan pada Jumat lalu:

*Fuel prices are not yet resolved: As we write this, the issue of
raising fuel  prices  has  not  been resolved,  with  demonstrations and
politicking ongoing. We have no insight on the final outcome, but see  a
fuel price hike  as  the  preferred  option  structurally. Markets  may
weather  a backtracking as growth may remain attractive, but ultimately
setbacks to reform may restrain multiples from rerating to potential.*

Yang menarik, selain antisipasi kenaikan BBM, *local inflow* asing terhadap
ekuitas Indonesia juga didasari kepada pertaruhan proyeksi pasar global
atas pandangan sejak pertengahan Maret yang menyaksikan penurunan momemtum
pertumbuhan *major economies* dengan rilis data ekonomi Cina yang cenderung
negatif. Sejumlah dana asing menjadikan ekuitas ASEAN yang didominasi
oleh *domestic
consumption-led growth* sebagai alternatif perlindungan aset terhadap
resiko investasi pada*export-oriented major economies/emerging markets*.

Cilakanya, data-data ekonomi sebagaimana preseden memasuki awal kuartal
1-2012, justru cenderung berbalik arah positif. Dimulai dari Cina, Eropa
dan kembali ke AS. Satu-satunya hal yang paling menonjol ketika
momentum *export-oriented
major economies* kembali ngebul maka komoditas kembali mendapatkan
tenaganya meninggalkan agenda *domestic consumption players*.

*Yen slips, Aussie jumps as China data cheers* (
http://www.reuters.com/article/2012/04/01/us-markets-forex-idUSBRE82P00820120401
)
*Europe Ministers Reach Deal on Trillion-Dollar 'Firewall'* (
http://www.voanews.com/english/news/Europe-Ministers-Reach-Deal-on-Trillion-Dollar-Firewall-145156805.html
)
*Spain’s bullfight with austerity* (
http://www.ft.com/intl/cms/s/0/51db4448-7a93-11e1-9c77-00144feab49a.html#axzz1qqCebsTr
)
*A Sign of the Times: Big Hiring is Back at US Colleges* (
http://www.cnbc.com/id/46918154)

Bandul siap balik arah? Sudah tepatkah pilihan saham Anda?
-- 
'+'

Follow positif01indo on Twitter: https://twitter.com/#!/positif01indo

Persetujuan *request followers* baru diberikan hanya satu kali tiap akhir
kuartal maks 500 *request */ diskresi kami.

<<Tweet +01-Black Swan BBM-Bandul Siap Balik Arah (02apr2012).GIF>>

Kirim email ke