Subject: LKH Artikel

Artikel ttg Investor terhebat Indonesia 



Lo Khenghong: Perusahaan yang untung itu seperti mesin uang
Rika   |   30 August 2012   dibaca sebanyak 3713 kali
Sukses dan nama besar Warren Buffett di dunia investasi menuai kekaguman dari 
pemain saham di penjuru dunia. Tak sedikit investor yang menjadikan Buffett 
sebagai panutan, mempelajari strategi investasinya, dan menerapkannya. Di 
Indonesia, salah satu yang terinspirasi oleh Buffet adalah Lo Kheng Hong.
Pria berusia 53 tahun ini berpegang pada metode analisis fundamental Buffett. 
Ia tak bergeming dan tak pernah sekali pun mencoba jurus investasi saham lain.
Bagi Lo, Buffett adalah gurunya. Ia hafal di luar kepala banyak petuah Buffett, 
kisah hidup sang maestro, bahkan menghormati prinsip hidupnya. Rupanya tak 
sia-sia Lo membaca puluhan buku ‘ajaran’ Buffett, ia menarik pelajaran dari 
situ dan hasilnya? Lo telah memetik keuntungan besar dari bursa saham.  
Keuntungannya dari saham berlipat ribuan persen.
Nafkah hidupnya pun hanya berasal dari saham. Ia mengaku tak punya usaha atau 
pekerjaan apapun selain berinvestasi saham. Tak heran, pelaku bursa banyak 
menjuluki ayah dua orang anak ini sebagai Warren Buffett-nya Indonesia.
Simak kisah, pandangan hidup, dan strategi investasi Lo dari pengakuannya 
sendiri kepada KONTAN berikut.
Saya ini hanya seorang investor, 100% uang saya taruh di saham.
Jadi saya tidak bekerja dan saya tak punya kantor. Saya hanya punya satu sopir 
untuk mengantar-antar saya dan dua pembantu di rumah. Saya bangga jadi investor 
saham. Kalau mengisi formulir, misalnya di bank pun, saya selalu tulis profesi 
saya investor saham.
Saya ini sudah berinvestasi saham selama 23 tahun. Tentu saja tidak semua 
investasi saya berhasil, saya pernah jatuh. Saya juga tidak langsung pintar.
Semakin lama orang bermain saham, dia bisa belajar dari kesalahannya dan akan 
semakin terlatih.  Saya percaya, orang yang berhasil itu adalah orang yang 
jatuh tapi bangun lagi.
Pertama kali saya membeli saham tahun 1989. Berapa modal awal saya? Nol. Waktu 
itu saya masih karyawan Bank Ekonomi, jadi saya hanya menyisihkan sedikit demi 
sedikit dari gaji saya. Kalau orang lain membelanjakan penghasilannya untuk 
macam-macam, saya belanjakan sebagian gaji setiap bulan untuk membeli saham.
Saya ingat, di awal saya invest, saya mengantre untuk membeli saham penawaran 
perdana (IPO) PT Gajah Surya Multifinance. Antrenya panjang sekali. Saya 
semangat membeli, eh nggak tahunya begitu listing saham itu jeblok. Hahaha...
Tapi saya tetap yakin dan terus berinvestasi sampai akhirnya pendapatan dari 
saham bisa menghidupi saya. Ketika saya sudah merasa cukup, pada tahun 1996, 
saya berhenti dari Bank Ekonomi pada saat saya sudah jadi Kepala Cabang.
 Ada empat alasan kenapa saya memilih menjadi investor saham. 
Pertama, investor saham bisa menjadi orang terkaya di dunia. Contohnya? Ya, 
Warren Buffett. Saya belajar dari dia. Selama 10 tahun terakhir ini, saya sudah 
baca 40-an buku tentang Buffet. Buku itu tak hanya saya baca sekali, tapi saya 
ulangi dua tiga kali, benar-benar saya pahami isinya.
Kedua, keuntungan perusahaan itu hak si pemegang saham. Bayangkan, yang bekerja 
direksi dan karyawan, tapi begitu untung yang menerima pemegang saham. Enak 
kan? Membeli perusahaan yang untung besar itu seperti membeli mesin pencetak 
uang.
Ketiga, dalam jangka panjang imbal hasil saham lebih tinggi dari instrumen 
investasi lainnya, seperti obligasi, emas, dan properti.
Keempat, jadi investor itu waktu luangnya banyak. Anda tahu, di dunia ini ada 
empat macam manusia. Tipe pertama,  orang yang punya banyak waktu tapi tidak 
punya uang. Contohnya, orang pengangguran.
Tipe kedua,  yang punya banyak uang tapi tidak punya waktu. Yang ini biasanya 
para pengusaha. Lalu tiga, orang yang tidak punya waktu dan tidak punya banyak 
uang juga. Ini kebanyakan para pegawai yang bergaji kecil.
Tipe terakhir, orang yang punya waktu dan punya uang. Tipe terakhir inilah yang 
saya inginkan sebagai investor saham. Orang bilang, time is money. Buat saya 
tidak, waktu lebih berarti dari uang. Uang bisa dicari, tapi uang tidak bisa 
mengembalikan waktu.
Sekarang saya merasa punya banyak waktu. Saya bisa travelling menjelajahi 
berbagai kota di lima benua. Sekali saya pergi, tidak sebentar lho, saya bisa 
tinggal sampai sebulan di sana.
Tapi saya juga memanfaatkan waktu saya untuk membaca. Setiap pagi, bangun, lalu 
saya pergi ke taman, duduk membaca dan berpikir. Itu hobi saya. Laporan 
keuangan itu makanan sehari-hari. Saya juga berlangganan empat koran, tiga di 
antaranya koran bisnis termasuk KONTAN. Semuanya saya baca dari halaman satu 
sampai habis.
Sering saya baru mandi jam satu, kemudian keluar, kadang pergi ke sekuritas. 
Saya ini manusia gaptek. Saya tidak punya laptop, tidak mengerti apa itu email 
atau internet apalagi online trading. Jadi saya membeli saham selalu lewat 
telepon kepada beberapa sekuritas. Saya tidak takut kehilangan momentum 
meskipun membeli lewat telepon, kan saya bermain saham untuk jangka panjang.
Dalam berinvestasi, saya berusaha membeli perusahaan yang bagus di harga murah 
dan saya simpan.
Saya punya lima kriteria untuk membeli perusahaan publik.
Pertama, lihat manajemennya apakah dikelola orang yang jujur, profesional, 
berintegritas, dan saya kagumi. Jarang sekali orang membeli saham dengan 
melihat ini, biasanya orang hanya lihat laporan keuangan. Tapi bagi saya, kalau 
dalam properti itu ada istilah lokasi, lokasi, lokasi, dalam ekuiti itu harus 
manajemen, manajemen, manajemen.
Kedua, perhatikan usahanya. Di masa depan akan seperti apa bisnis itu? Memang, 
hari esok itu misteri. Tapi saya sendiri berpendapat, masa depan itu ditentukan 
juga dari masa lalu. Bagi perusahaan yang sudah memenuhi syarat pertama tadi, 
kita bisa lihat masa lalunya dalam jangka panjang misalnya 5-10 tahun ke 
belakang. Kalau itu untung, kemungkinan ke depan juga akan untung.
Ketiga, cari perusahaan yang labanya besar.  Hitung berapa besar profit 
margin-nya dan return on equity atau ROE-nya (tingkat pengembalian modal: rasio 
laba bersih terhadap total modal).
Keempat, pilih perusahaan yang terus bertumbuh dalam jangka panjang.
Kelima, cermati valuasi dari PER (price earning ratio) atau PBV (price to book 
value), bandingkan dengan kompetitornya. Belilah yang murah. Kesempatan emas 
untuk membeli saham bagus dengan harga murah tentu saja di tengah kondisi 
krisis. Saya selalu ikuti prinsip Buffet, be greedy when the others are fearful.
Dengan lima prinsip sederhana itu nyatanya saya berhasil.
Pada tahun 2005, saya membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk 
(MBAI). Waktu itu harga perusahaan ternak ayam terbesar kedua di Indonesia ini 
baru Rp 250 per saham. Saya kumpulkan pelan-pelan sahamnya sampai akhirnya 
punya 8,29% saham. Tahun lalu, harga sahamnya sudah mencapai Rp 31.500, jadi 
naik 12.600%. Keuntungan itu saya realisasikan. Saham itu saya jual karena dia 
akan merger dengan PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA).
Saya juga pernah punya saham PT Timah Tbk (TINS). Saya beli di tahun 2002 
seharga Rp 285. Dalam dua tahun harganya naik ke Rp 2.900. Saya jual, tapi 
setelah saya lepas, dia terbang lebih tinggi lagi. Waktu itu ilmu memang belum 
tinggi. Begitu harga saham naik banyak, saya gemetar.
Menyesalkah saya? Begini, kalau investor saham tidak bijak, maka seluruh 
hidupnya akan berisi penyesalan. Jual sekarang, besok harga lebih tinggi lagi. 
Tahan, enggak tahunya harga turun terus.
Selain dua saham itu, saya pernah mendapat keuntungan cukup besar dari PT 
United Tractors Tbk (UNTR), PT Gadjah Tunggal Tbk (GJTL), PT Charoen Pokphan 
Tbk (CPIN), PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), PT 
Lippo Cikarang Tbk (LPCK).
Sekarang, portofolio saya berisi sekitar 20-an saham dengan jumlah saham 
maksimal 4%. Tidak banyak kelihatannya, tapi rata-rata perusahaan besar. Saya 
juga merotasinya. Kalau ketemu satu perusahaan bagus, maka saya cari mana di 
portofolio yang sudah menurun dan saya buang satu juga.
Saya juga pernah rugi.
Saya pernah rugi karena margin. Makanya sejak tahun 1998 saya enggak pernah 
memakai fasilitas margin lagi.
Saya sekarang bebas utang. Pernah dengar kisah Jesse Livermore? Dia salah satu 
investor yang sangat sukses di jaman dulu. Dari tukang tulis papan bursa dia 
investasi saham dan jadi investor besar. Tapi dia berutang dan akhirnya ketika 
investasinya gagal, dia bunuh diri.
Saya tidak mau seperti itu. Kalau tidak punya utang, meskipun saham saya 
hancur, saya tidak apa-apa. Saya masih punya saham itu yang ke depan juga bisa 
naik lagi.
Karena itu, meskipun harga saham jatuh dan uang saya tinggal 15%, saya tetap 
membeli saham. Tentu saja istri tidak tahu...ha ha ha. Saya membeli saham 
United Tractors (UNTR), saham bagus yang harganya sudah murah sekali. Waktu itu 
pernah jatuh sampai Rp 125, tapi saya baru masuk di Rp 250. Padahal, laba 
operasi per sahamnya sudah 7.800.
Saya belikan semua sisa uang saya untuk satu saham itu. Dan benar, UNTR naik 
terus. Pada tahun 2004, saya akhirnya jual. Waktu itu harga UNTR Rp 1.350, tapi 
ini harga sesudah stock split. Kalau dihitung itu kira-kira setara Rp 15.000, 
jadi saya untung sekitar 6.000%.
Saya ini tidak sama dengan investor saham umumnya.
Saya tidak suka mengejar dividen. Menurut saya, lebih baik saya investasi pada 
perusahaan yang menggunakan devidennya sebagai modal kerja. Itu akan lebih 
memberi saya keuntungan.
Saya juga tidak mengejar saham-saham IPO. Dari pengalaman, kalau kita beli 
saham IPO, ketika sahamnya naik ternyata kita cuma dikasih beberapa lot saja. 
Tapi kalau jeblok, seringnya kita pesan berapa pun dikasih.
Saat ini, saya melihat IHSG bagus, sudah di atas 4.000 di kondisi krisis 
seperti ini.
Tapi bukan berarti semuanya mahal. Makanya investor harus melakukan pekerjaan 
rumahnya, risetlah mana yang masih murah. Saya sendiri sekarang memiliki saham 
di sektor perbankan, consumer goods, peternakan, sawit, bahkan batubara.
Sejauh ini, saya masih bermain saham di bursa dalam negeri. Tapi bulan depan 
saya rencananya akan pergi ke Yunani. Saya akan mendalami bursa di sana, pasti 
banyak saham bagus yang harganya murah. Ini kesempatan.
Terakhir, saran saya bagi investor sekarang: kerjakan PR.
Berapa banyak dari investor yang masih baca laporan keuangan? Berapa yang 
melakukan analisis fundamental? Membeli saham perusahaan tanpa melihat lima hal 
dasar yang saya sebut tadi itu dan hanya melihat chart menurut saya tidak 
benar, keliru, dan menyesatkan. Investor harus tahu apa yang dia beli.
Main saham itu juga bukan perkara hoki. Tuhan itu maha pengampun, tapi bursa 
saham tidak punya belas kasihan pada orang yang tidak tahu apa yang dia beli.

Kirim email ke