Helo, rekan-rekan milis Yahoogroups
Salam Damai Dalam Kasih Kristus,
Berikut ini kembali saya kirimkan berbagai berita menarik tentang karya dan
pelayanan Gereja di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya serta tak
ketinggalan berbagai informasi terkini dari Vatikan yang berhasil diliput oleh
Kantor Berita Katolik Asia (UCAN, Union of Cathiolic Asian News) dan berbagai
informasi ini kami berikan secara gratis agar dapat diketahui oleh semua umat
Kristiani (baik umat awam maupun kaum religius).
Jika teman-teman milis merasa berita-berita ini bagus, silakan memforward
berita-berita tersebut kepada sahabat atau kenal anda agar dapat diketahui oleh
semua orang
o ya teman-teman, pada kesempatan ini, saya ingin memberitahukan bahwa
mulai minggu ini berita-berita Gereja yang dari Indonesia (URBI) pengirimannnya
kan kami pisahkan dari berita-berita Gereja dari negara-negara Asia termasuk
Vatikan (ORBI)
Pemisahan dalam pengiriman berita-berita dengan tujuan agar pembaca lebih
fokus untuk mengetahui berbagai berita yang saya kirimkan, disamping itu
teman-teman akan lebih mudah untuk membuka email yang kami kirimkan dan tidak
terlalu besar kbnya .
Demikian teman-teman, selamat membaca
Syaloom.
VITALIS
-----------------
BERIKUT INI ADALAH BERBAGAI BERITA TENTANG KARYA DAN PELAYAN GEREJA DI
INDONESIA (URBI) YANG BERHASIL DILIPUT KANTOR BERITA KATOLIK ASIA (UCAN, UNION
OF CATHOLIC ASIAN NEWS)
BULETIN UBI NO. 528B EIDISI TERBIT: 5 9 MARET 2005
POKOK-POKOK BERITA:
1. BANDAR LAMPUNG, Lampung - USKUP MENYOROTI KRITIK UMAT TERHADAP
IMAM DAN MINTA MEREKA SALING MEMAHAMI
2. PADANG, Sumatra Barat - GEREJA GALANG BANTUAN UNTUK KORBAN GEMPA DI
SUMATRA
3. RUTENG, Nusa Tenggara Timur - PULUHAN ORANG TEWAS, RIBUAN MENGUNGSI
AKIBAT BANJIR DAN TANAH LONGSOR DI FLORES
4. JAKARTA - AKSI PUASA PEMBANGUNAN MENDORONG UMAT MENINGKATKAN
NILAI-NILAI KATOLIK DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
5. BATIPUH, Sumatra Barat - LEMBAGA-LEMBAGA GEREJA LOKAL DAN
INTERNASIONAL MENYIAPKAN BANTUAN SETELAH GEMPA
6. ATAMBUA, Nusa Tenggara Timur - PEMIMPIN GEREJA DAN PEMERINTAH SERUKAN
AGAR MASYARAKAT TETAP TENANG MESKI PERBATASAN DENGAN TIMOR TIMUR DITUTUP
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.INDONESIA (IJ02041.528b) 7 Maret 2007 81 baris (763 kata)
USKUP MENYOROTI KRITIK UMAT TERHADAP IMAM DAN MINTA MEREKA SALING MEMAHAMI
BANDAR LAMPUNG, Lampung (UCAN) -- Misa penahbisan menjadi kesempatan
bagi uskup untuk mendesak imam-imamnya agar merenungkan kritik-kritik yang
disampaikan awam dan bukan merasa tersinggung.
Uskup juga mendesak umat awam agar berusaha memahami tantangan yang
dihadapi para imam dan berdoa bagi mereka.
Banyak umat mengeluh bahwa para imam merayakan Misa secara
tergesa-gesa, sementara yang lain menanyakan, mengapa imam tidak memakai jubah
di tempat umum, kata Uskup Tanjung Karang Mgr Andreas Henrisoesanta SCJ dalam
kotbahnya pada Misa penahbisan seorang imam praja dan empat diakon baru-baru
ini.
Sekitar 1.300 orang menghadiri Misa penahbisan yang dilaksanakan di
Katedral Kristus Raja Bandar Lampung, ibu kota Propinsi Lampung, Sumatera
bagian selatan.
Uskup Henrisoesanta mengatakan dalam kotbah Misa 25 Januari itu bahwa
ada orang yang bertanya kepadanya, mengapa sejumlah imam tidak mempersembahkan
Misa setiap hari. Ia kemudian bertanya kepada para imam, Apakah kalian takut
Misa menjadi kegiatan rutin yang nantinya akan membosankan?
Prelatus itu mengatakan, umat awam ingin tahu apakah imam masih
percaya dan beriman atas apa yang mereka perbuat, khususnya dalam Misa saat
konsekrasi. Ia menekankan, imam perlu iman mendalam dan teguh saat peristiwa
luar biasa atau mukjizat agung ketika roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan
Darah Kristus.
Menurut Uskup Henrisoesanta, kritik terhadap imam dan frater serta
pertanyaan tentang komitmen panggilan mereka terjadi dalam banyak cara, bisa
dalam pertemuan, kasak-kusuk bahkan surat kaleng kepadanya. Ia mendesak para
imam tidak marah dan merasa tersinggung mendengar kritikan semacam itu namun
selidiki kebenaran itu dengan tulus.
Seperti pada saat upacara pentahbisan ini, umat banyak yang hadir
sebagai tanda dukungan dan doa terhadap kalian. Mereka paham bahwa tugas pastor
memang berat, katanya. Seraya mencontohkan St. Paulus, ia mendesak imamnya
untuk mau membiarkan Tuhan menobatkan mereka.
Tugas yang paling penting dari seorang imam adalah menggembalakan umat
dengan bimbingan Roh Kudus dan kesetiaan kepada uskup, melayani Sabda,
memaklumkan Injil, mengajar umat Katolik dan terus-menerus membangun hidup suci
dengan semakin akrab dengan Yesus, katanya.
Uskup Henrisoesanta juga minta umat awam untuk mengenali imam mereka
dengan baik dan berdoa agar mereka menjadi lebih baik. Berusahalah untuk
mengerti usaha dan masalah mereka, desak uskup.
Sejumlah umat dan imam berbicara dengan UCA News mengomentari apa yang
disampaikan uskup itu.
Pastor Piet Yoenanto Sukowiluyo, vikjen keuskupan, berkomentar bahwa
apa yang diangkat uskup itu belumlah sesuatu yang serius di keuskupan itu. Apa
yang disampaikan memang sesuai dengan cara uskup itu yang sering menyampaikan
hal-hal praktis kepada imam-imamnya dan kepada umatnya untuk mengantisipasi
pengaruh-pengaruh negatif dari wilayah lain, kata imam itu.
Dalam kotbah itu, lanjutnya, Uskup Henrisoesanta ingin mengingatkan
para imam akan pentingnya kesederhanaan, selibat dan ketaatan, serta pentingnya
menemani umat mereka.
Tentang kebiasaan pastor membawa handphone dan alat elektronik modern
ke mana-mana saat ini, Pastor Sukowiluyo mengatakan pastor akan nampak
materialistik dan berbeda dengan gaya hidup sebagian besar umatnya yang hidup
di desa-desa, yang bahkan sulit mendapatkan uang untuk membeli beras.
Bagi saya, baik kalau imam menggunakan handphone, tapi tingkah laku
dan pakaian mereka hendaknya berbeda dengan awam, lanjutnya. Ia juga
mengatakan imam tidak tersinggung atau marah mendengar apa yang dikatakan
uskup itu dan mereka secara pribadi merefleksikan hal itu atau
membicarakannya dalam pertemuan informal di antara mereka.
Petrus Hendro, 36, seorang awam, mengakui bahwa gaya hidup imam telah
berubah. Saya ingat ketika masih anak-anak jika ada romo kami berebut untuk
salaman. Jika beruntung bisa dapat medali, salib atau permen, katanya.
Sekarang ini, pastor membawa mobil, menggunakan handphone dan laptop,
dan makan di restoran. Hal itu masih bisa diterima, jelas Hendro, Asal,
sikap hidup romo itu dipusatkan kepada pelayanan kepada umat dan Tuhan.
Sementara itu, Susana Indriyati Caturiani, 37, anggota Komisi
Komunikasi Sosial keuskupan itu, menyatakan setuju dengan pernyataan uskup
bahwa banyak umat bertanya mengapa imam-imam sekarang kurang memiliki jiwa
berjuang untuk pelayanannya.
Ibu rumah tangga dan juga dosen di Universitas Negeri Lampung (Unila)
itu mengatakan, imam mesti reflektif atas tanggapan panggilan yang sudah
dijalani, dan berjuang untuk bertahan dalam hidup yang suci seperti Yesus.
Kami para awam hanya bisa mendukung dan mendoakan mereka, katanya. Ia
menambahkan, orang awam yang ingin menegur imam jika melihat sesuatu yang tidak
beres secara moral harus melakukannya dengan hati-hati dan dengan cara personal
karena tradisi kita masih paternalistik.
Pastor Thedens Tana, 35, yang ditahbiskan tahun 2002, mengatakan umat
tidak boleh memandang pastor itu sangat sempurna sehingga harus benar dalam
segala tindakan di hadapan siapa pun karena kami juga manusia. Ia mengamati,
imam baru mulai masa pembelajaran untuk menjadi suci justru setelah
ditahbiskan. Pastor Tana yang mengaku mengalami jatuh-bangun dalam panggilan,
berterima kasih kepada sahabat-sahabatnya karena mereka bisa mendengar
curhat-nya dan membantunya kembali pada niat awal panggilan.
Menurut Buku Petunjuk Gereja Katolik Indonesia 2005, keuskupan
Tanjungkarang memiliki 90.261 umat Katolik, yang dilayani oleh 24 imam praja
dan 21 imam religius. ***
--------------------------------------------------------------------------------
INDONESIA (IJ02066.528b) 8 Maret 2007 67 baris (640 kata)
GEREJA GALANG BANTUAN UNTUK KORBAN GEMPA DI SUMATRA
PADANG, Sumatra Barat (UCAN) -- Gereja Katolik di Propinsi Sumatra
Barat tengah memberi bantuan darurat menyusul dua gempa bumi yang terjadi 6
Maret yang menewaskan 73 orang, mencederai 421 orang, dan merusak lebih dari
1.000 bangunan.
Gempa pertama berkekuatan 4,9 skala Richter terjadi pukul 10.23 waktu
setempat di dekat Padang, ibu kota propinsi. Gempa kedua berkekuatan 5,8 skala
Ritcher terjadi pukul 10.49 waktu setempat. Pusat gempa berada 11 kilometer
dari Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar.
Wilayah-wilayah yang paling parah terkena gempa adalah Kota Solok, Kota
Bukittinggi, dan Kota Payakumbuh dan Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam,
serta beberapa bagian dari Kabupaten Padangpariaman.
Masyarakat melaporkan bahwa getaran kedua gempa tersebut juga terasa di
Propinsi Jambi dan Propinsi Riau, dan bahkan hingga ke Malaysia bagian barat
dan Singapura.
Hingga 8 Maret, menurut Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Bencana
yang berpusat di kantor gubernur, 73 orang tewas. Sebanyak 161 orang menderita
luka parah, sementara 260 lainnya menderita luka ringan. Satkorlak juga
melaporkan bahwa 1.053 bangunan hancur, 545 mengalami kerusakan berat, dan
2.019 mengalami kerusakan ringan.
Keuskupan Padang segera mengirim bantuan kepada para korban, yang
kebanyakan adalah warga Muslim di propinsi yang mayoritas berpenduduk Muslim
itu.
Menurut laporan tidak ada korban tewas di Padang, tapi dua bangunan
(rumah toko) berlantai dua hancur. Banyak bangunan lainnya, termasuk biara
Suster-suster Cinta Kasih dari Maria Bunda Yang Berbelaskasih (SCMM), gedung
Sekolah Menengah Pertama St. Maria yang dikelola Katolik, dan kediaman uskup
mengalami kerusakan ringan. Bangunan-bangunan tersebut mengalami keretakan dan
gentengnya jatuh.
Beberapa gereja paroki -- St. Petrus Claver di Bukittinggi, St. Petrus
Rasul di Padangpanjang, St. Fidelis Sigmarinda di Payakumbuh, dan St. Barbara
di Sawahlunto -- juga mengalami kerusakan.
Pastor Michele Galli SX dari Paroki St. Petrus Claver mengatakan kepada
UCA News bahwa hanya dua umat paroki yang mengalami patah kaki. Namun 16 rumah
milik umat paroki mengalami kerusakan.
Imam itu juga mengatakan, gua Maria di kompleks gereja roboh dan sebuah
patung Bunda Maria setinggi 1,5 meter yang terbuat dari kayu yang berada di
dalam gedung gereja jatuh. Satu tangan dari patung itu patah.
Ia melaporkan bahwa lima rumah milik umat paroki St. Petrus Rasul
mengalami rusak berat. Mereka saat ini tidur di tenda-tenda darurat di depan
rumah-rumah mereka, katanya.
Selain itu, lanjutnya, sebuah gedung sekolah yang dikelola keuskupan
dan sebuah gedung milik TNI Angkatan Darat di mana umat Katolik dari Stasi
Solok dan Stasi Batusangkar biasa mengadakan ibadah, juga mengalami kerusakan.
Arif Rusdi Rusli, ketua umum Perkumpulan Sosial Katolik dan Pemakaman
(PSKP) Keuskupan Padang, mengatakan kepada UCA News bahwa mereka sedang
menyalurkan sejumlah dos air mineral, mie instant, dan biskuit, serta lebih
dari 200 sarung untuk para korban di Kota Padangpanjang. Mereka memusatkan
perhatian pada wilayah-wilayah yang tidak dilayani oleh posko-posko bantuan
milik pemerintah daerah.
Bantuan langsung dibagikan kepada warga masyarakat melalui pengurus RT
(rumah tangga) dan kelurahan, jelasnya. Bantuan itu baru tahap awal,
lanjutnya. Sambil membawa bantuan spontan, kami berusaha melihat dari dekat
apa yang menjadi kebutuhan korban.
Uskup Padang Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap mengatakan kepada UCA
News 7 Maret, Bantuan tanggap darurat itu akan terus dilanjutkan dengan fokus
pada kebutuhan korban. Ia mengakui bahwa mereka masih belum memiliki data
akurat tentang kebutuhan riil para korban bencana, tapi ia mengatakan bahwa
keuskupan akan bekerja sama dengan organisasi-organisasi lintas agama di daerah
tersebut untuk menentukan kebutuhan para korban.
Uskup juga mengatakan, umat Katolik di keuskupannya akan mengadakan
intensi khusus untuk para korban tewas dan selamat, dan mengumpulkan kolekte di
semua paroki dan stasi pada Misa-Misa Minggu 11 Maret.
Keuskupan telah membuka posko bantuan di kompleks Komisi Pengembangan
Sosial Ekonomi di Padang. Keuskupan juga telah membuka rekening bank agar semua
umat Katolik di wilayah itu bisa mengirim bantuan dana untuk para korban gempa.
Keuskupan Padang mencakup semua Propinsi Sumatra Barat, empat kabupaten
di Propinsi Riau, dan satu kabupaten di Propinsi Jambi. Menurut statistik
keuskupan 2005, Keuskupan Padang memiliki 87.084 umat Katolik. Umat Islam
terdiri atas 98 persen dari 4.456,800 penduduk Propinsi Sumatra Barat. ***
-------------------------------------------------------------------------------
INDONESIA (IS02062.528b) 8 Maret 2007 65 baris (619 kata)
PULUHAN ORANG TEWAS, RIBUAN MENGUNGSI AKIBAT BANJIR DAN TANAH LONGSOR DI FLORES
RUTENG, NTT (UCAN) -- Hujan lebat sejak 2 Maret di wilayah Keuskupan
Ruteng di Pulau Flores yang sebagian besar beragama Katolik menimbulkan tanah
longsor dan banjir yang menewaskan 41 orang dan mengungsikan sekitar 5.000
orang.
Lima paroki yang terpengaruh oleh bencana itu adalah Paroki Kristus
Raja Pagal, Paroki St. Antonius Padua Beamese, Paroki St. Fransiskus Reo,
Paroki St. Yosef Benteng Jawa dan Paroki St. Damianus Beamuring, semuanya
berada di Kabupaten Manggarai.
Uskup Ruteng Mgr Eduardus Sangsun SVD mengatakan kepada UCA News 7
Maret via telepon bahwa ia sedang berada di Pagal "untuk meninjau langsung dan
memberikan ketenangan kepada umatnya di Gapong." Gapong adalah wilayah yang
paling parah dihantam bencana di Pagal.
Pastor Alfons Segar, vikjen keuskupan, telah menulis surat kepada
seluruh pastor paroki dan umat untuk segera mengirim bantuan dana dan materi.
Bantuan dikumpulkan di kantor keuskupan di Ruteng, ibu kota kabupaten itu.
Staf keuskupan, relawan, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan
pemerintah kini menangani masyarakat yang menjadi korban bencana itu.
Sejak 4 Maret, Tim Relawan Keuskupan Ruteng, mahasiswa Sekolah Tinggi
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) St. Paulus Ruteng dan Komisi Kepemudaan
Keuskupan Ruteng telah menyalurkan dana dan bahan-bahan bagi para korban di
Pagal dan Benteng Jawa. Mereka juga memberikan selimut, kopi, pakaian, mie
instan, susu, gula, beras, pembalut wanita, air minum, dan lain-lain.
Pastor Simon Nama, ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi dan ketua
Tim Relawan Keuskupan Ruteng, mengatakan kepada UCA News 7 Maret bahwa semua
bantuan kemanusiaan dari Gereja telah disalurkan dalam koordinasi dengan
pemerintah dan LSM lain agar tidak terjadi tumpang tindih.
Pastor Nama menceritakan bahwa keluarganya di Pagal juga menjadi korban
akibat tanah longsor itu. "Saya sedih namun saya tetap memberikan kekuatan
kepada keluarga agar mereka tetap tabah menghadapi bencana ini," katanya kepada
UCA News.
Menurut informasi yang diperoleh hari itu, sekitar 1.400 umat Katolik
mengungsi ke aula paroki Pagal. Tanah longsor menewaskan 29 orang di wilayah
paroki itu. Tim evakuasi dari pemerintah dan tim-tim LSM masih sedang berusaha
menggali jenazah yang tertimbun longsoran tanah yang penuh dengan batu-batu
besar.
Di aula paroki tetangga, Beamese, terdapat 267 pengungsi. Kepala
Paroki, Pastor Josi Erot mengatakan kepada UCA News, semua sarana transportasi
dan komunikasi di paroki itu telah putus. Ia coba memberi makanan kepada umat
parokinya dan memberikan mereka pakaian dan selimut karena hujan masih terus
turun. Mahasiswa dan warga lain berusaha membawa bantuan itu dari Ruteng, 40
kilometer ke selatan, dengan menggunakan mobil dan kemudian berjalan kaki
sejauh empat kilometer.
Sedikitnya 1.034 orang mengungsi dan tinggal di aula Paroki Beamuring,
30 kilometer timur Ruteng, dan "jumlah itu terus berubah karena pengungsi terus
berdatangan," kata Pastor Frans Supartan kepada UCA News 7 Maret.
Dengan bantuan relawan pemerintah dan LSM, paroki itu membuka dapur
umum untuk masyarakat, lanjut pastor paroki itu. Saya sangat prihatin dengan
kondisi mereka karena ada banyak anak kecil dan nenek-nenek yang sebenarnya
lebih cocok tinggal di rumah daripada menjadi pengungsi, katanya.
Di paroki Reo, 55 kilometer utara Ruteng, semua rumah terendam air, dan
semua masyarakat melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi.
Remy Harum, camat Reo, mengatakan kepada UCA News, warga masyarakat
sudah mendapatkan bantuan makanan, air minum dan selimut dari Gereja,
pemerintah dan LSM.
Di Benteng Jawa, 1.683 orang mengungsi ke aula Paroki St. Yosef. Pastor
Kanis Ali, pastor kepala paroki, mengatakan kepada UCA News bahwa sampai saat
ini ia masih mampu menangani para pengungsi dengan bantuan kemanusiaan dari
pemerintah, keuskupan, LSM, dan lembaga-lembaga swasta. Ia melaporkan bahwa 18
dari 19 jenasah yang diketahui terkubur di bawah tanah longsor belum ditemukan
hingga 7 Maret.
Yoseph Byron Aur, ketua tim evakuasi, menginformasikan kepada UCA News
bahwa "Gologega yang sebelumnya sebuah kampung" telah "mendadak menjadi sebuah
danau."
Tanggal 7 Maret, Wakil Gubernur Propinsi Nusa Tenggara Timur Fransiskus
Lebu Raya dan Yohanes Suhandi, anggota DPRD propinsi itu, mengunjungi para
pengungsi di Paroki Benteng Jawa.***
--------------------------------------------------------------------------------
INDONESIA (IN02039.528b) 9 Maret 2007 91 baris (850 kata)
AKSI PUASA PEMBANGUNAN MENDORONG UMAT MENINGKATKAN NILAI-NILAI KATOLIK DALAM
KEHIDUPAN SEHARI-HARI
JAKARTA (UCAN) -- Aksi Puasa Pembangunan (APP) Nasional 2007 dari
Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) meminta umat Katolik Indonesia untuk
menjalani kehidupan Katolik yang sejati dalam hubungan mereka dengan sesama,
dan para uskup diminta menyesuaikan permintaan ini dengan kebutuhan untuk
masing-masing keuskupannya.
Memberdayakan Kesejatian Hidup Dalam Hubungan Sosial adalah tema APP
tahun ini. Tema ini adalah yang pertama dari rangkaian tema besar lima tahun
(2007-2011) untuk memberdayakan kesejatian hidup dalam berbagai aspek kehidupan
sehari-hari. Tema APP tahun-tahun berikutnya: Memberdayakan Kesejatian Hidup
dalam Pemberdayaaan Lingkungan (2008), Memberdayakan Kesejatian Hidup dalam
Hubungan Antarumat Beriman (2009), Memberdayakan Kesejatian Hidup dalam
Keluarga (2010), dan Memberdayakan Kesejatian Hidup dalam Perwujudan Diri
(2011).
Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi KWI menyiapkan kerangka tema APP
lima tahun itu dan membagikannya ke semua keuskupan. Setiap keuskupan diminta
mengembangkan tema APP-nya berdasarkan kerangka itu.
Surat Gembala Prapaskah dari pemimpin Keuskupan Bandung, Keuskupan
Purwokerto dan Keuskupan Ruteng, mengangkat tema nasional itu untuk umat mereka.
Dalam surat gembalanya Pastor Markus Priyo Kushardjono OSC,
Administrator Keuskupan Bandung, minta agar umat Katolik bertobat, "karena
Indonesia adalah negara yang kaya dan subur tetapi rakyatnya miskin."
Menurut data Maret 2006, tulis imam itu, 49 persen penduduk Indonesia
(108,78 juta) adalah orang miskin, dan 2,3 juta anak di bawah usia 5 tahun
menderita busung lapar dan kurang gizi. Ia menyebutkan kerusakan ekosistem,
banyaknya pengangguran, maraknya pusat-pusat pembelanjaan dan restoran cepat
saji ikut menimbulkan persoalan-persoalan ini.
"Rusaknya ekosistem, akibat dari keserakahan, berdampak kerugian besar
bagi manusia dalam bentuk banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran, dan
kerusakan hutan dan tanah pertanian," tulis Pastor Kushardjono dalam surat itu.
Surat itu dibacakan seluruh gereja dan kapel di keuskupan itu tanggal 17 dan 18
Februari.
Maraknya pusat-pusat perbelanjaan dan restoran cepat saji yang
dinikmati sekelompok orang yang memanjakan budaya instan, konsumeristis dan
individualistis, semakin memperlebar jarak di antara yang kaya dan yang miskin,
lanjut imam itu.
Tanpa sadar bahwa mereka juga mungkin ikut terlibat memperbesar
permasalahan itu, kata Pastor Kushardjono, orang cenderung menyalahkan orang
lain (kebijakan, peraturan, dan lembaga), bahkan menyalahkan orang yang sudah
terpuruk dan terpinggirkan. "Maka, marilah kita dengan rendah hati bertobat,"
minta imam itu kepada umat Katolik Bandung.
Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ membahas 'Pemberdayaan
Kesejatian Hidup dalam Hubungan Sosial' berdasarkan Injil dan keinginan setiap
orang akan kedamaian dan kebebasan dari rasa terancam. "Ibu-Ku dan
saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan Firman Tuhan dan
melakukannya," demikian kutipan uskup itu seperti dikatakan Yesus dalam Injil
Lukas.
"Tuhan Yesus telah menunjukan jalan dan kiat-kiat ilahi untuk membangun
persaudaraan sejati itu dengan iman, harapan dan cinta kasih," tulis Uskup
Sunarka. Ia minta umat Katolik untuk merubah hidup mereka dan berpaling dari
tujuh dosa pokok: kesombongan, kerakusan, hawa nafsu, ketamakan, iri hati,
kemarahan dan kemalasan, "kalau tidak maka kesejatian persaudaraan akan
terancam" dan negara akan bubar. Surat Gembala itu dibacakan pada Misa 18
Februari di gereja-gereja keuskupan yang berpusat di Purwokerto itu.
Uskup Ruteng Mgr Eduardus Sangsun SVD, dalam surat gembalanya, minta
umat Katolik merenungkan cara berpuasa yang benar. "Puasa yang benar adalah
pengendalian diri disertai sesal dan tobat sejati yang muncul dari kedalaman
kesadaran batin kita untuk mengubah hidup agar lebih dekat kepada Tuhan dan
sesama," jelasnya dalam surat itu yang dibacakan di gereja-gereja saat Misa 25
Februari.
"Bagi para pengelola kesejahteraan umum, puasa adalah waktu terbaik"
untuk mengubah sikap buruk, pesan uskup itu, seraya mencontohkan, "korupsi,
penyalahgunaan kekuasaan, pemerasan, dan tidak berpihak pada kepentingan
rakyat."
Sementara itu Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang juga mengangkat tema
"Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan
Pekerjaaan-Nya" di keuskupan agungnya selama masa puasa. Puasa Kristiani
menggerakkan sikap melayani untuk persahabatan antarsesama, kata prelatus itu
dalam surat gembalanya, yang dibacakan di gereja-gereja 18 Februari.
Ia meminta umat Katolik untuk melakukan matiraga dan latihan rohani
selama masa puasa sebagai tanda perubahan kehidupan iman. "Perubahan itu harus
nyata dalam tekad kita untuk membangun lingkungan sosial di mana terdapat,
persaudaraan, kerukunan dan sikap saling memahami," tulis uskup itu.
"Pada dasarnya, setiap manusia berwatak sosial. Dalam kebersamaan
sosial, manusia menemukan makna dan manfaat hidupnya," jelas prelatus itu.
Seraya menekankan pentingnya kerjasama antarumat beragama yang merupakan
lingkungan sosial utama yang perlu terus dibina, ia mengingatkan umat Katolik
setempat bahwa "orang yang berbeda iman merupakan kekayaan dalam kebersamaan
hidup."
Sementara, Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ
memfokuskan Surat Gembala Prapaskah, dengan mengambil tema: Bersyukurkah Kita?
Tema itu berkaitan dengan peringatan 200 tahun Gereja Katolik di Jakarta.
"Peristiwa itu kita syukuri dan akan kita wujudkan dalam bentuk karya kasih
terhadap sesama," tekan kardinal dalam surat yang dibacakan 17 dan 18 Februari
di gereja-gereja keuskupan agung itu.
Menurut kardinal, membuat syukur kepada Allah menjadi syukur seluruh
keluarga, kelompok kategorial, lingkungan, wilayah, dan semua yang kita kenal
dekat di paroki atau di keuskupan, tampaknya tak ada kesulitan. "Tetapi
mensyukuri satu sama lain, karena masing-masing diimani saling menjadi saluran
rahmat Allah bagi dirinya, itulah yang tidak mudah," lanjutnya.
Dalam surat gembala itu, kardinal itu juga menegaskan bahwa dari Sidang
Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005, keuskupannya telah memilih dua hal
pokok agar ditanggapi, yakni masalah buruh dan pekerja serta masalah lingkungan
hidup (bersih dan bebas sampah).
Prapaskah selama 40 hari adalah saat merenungkan sengsara, wafat, dan
kebangkitan Kristus, yang diawali dengan Rabu Abu, 21 Februari tahun ini. ***
--------------------------------------------------------------------------------
INDONESIA (IJ02071.528b) 9 Maret 2007 56 baris (537 kata)
LEMBAGA-LEMBAGA GEREJA LOKAL DAN INTERNASIONAL MENYIAPKAN BANTUAN SETELAH GEMPA
BATIPUH, Sumatra Barat (UCAN) -- Teriakan "Gampo! Gampo! Gampo!"
("gempa" dalam Bahasa Minangkabau) mengakibatkan masyarakat Desa Gunung Rajo
lari keluar meninggalkan rumah-rumah mereka, yang dalam sekecap menjadi rusak.
"Saya pun meneriakkan teriakan itu sambil berlari keluar menuju halaman
rumah. Saya memandang rumah saya bergoyang dan bergerak secara perlahan. Saya
tidak mampu berucap selain menyebut nama Allah," kenang Nurbaiti, 48.
Ibu tiga anak itu adalah salah satu dari sekitar 1.000 orang yang
kehilangan tempat tinggal di desa itu akibat gempa 6 Maret. Banyak orang kini
tinggal di tenda-tenda darurat yang dibangun sendiri oleh masyarakat di
sepanjang jalan desa itu.
Tanggal 8 Maret, tim Katolik internasional dan lokal mengunjungi daerah
yang mayoritas Muslim itu untuk memperkirakan kebutuhan pokok masyarakat. Tim
itu terdiri dari staf Keuskupan Padang, Caritas dari Gereja Katolik Jerman dan
Caritas dari Gereja Katolik Cekoslovakia, serta Catholic Relief Services (CRS)
dari Gereja Katolik Amerika Serikat.
Gunung Rajo adalah sebuah desa di Batipuh, kota kecamatan di Kabupaten
Tanah Datar yang paling parah dihantam gempa itu. Gempa pertama berkekuatan 4,9
pada skala Richter, terjadi pukul 10:23 pagi dekat Padang, ibu kota Propinsi
Sumatera Barat. Gempa kedua berkekuatan 5,8 skala Richter, terjadi pukul 10:49
dengan pusat gempa 11 kilometer dari Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar.
Sambil memeluk puterinya yang berusia delapan tahun, Nurbaiti
mengatakan kepada UCA News bahwa ketika gempa itu terjadi, ia sedang memasak di
dapur. Suaminya berada di sawah dan anaknya di sekolah.
Setelah gempa pertama, cerita wanita itu, "Saya melihat rumahku miring
dan temboknya retak-retak, tak bisa dihuni lagi." Anak-anaknya yang lain dan
suaminya datang, dan mereka berdoa di depan rumah mereka. "Namun goncangan
kedua saya rasakan lebih kuat. Kami semakin ketakutan."
Nurbaiti dan keluarganya sekarang tinggal di bawah terpal berukuran 3X5
meter persegi yang biasa digunakan suaminya untuk menjemur padi. "Kami semakin
takut untuk masuk rumah," kata wanita itu sembari duduk di bawah tenda terpal,
yang dibangun di depan rumahnya. Namun ia menjelaskan, "Kami tak mungkin
meninggalkan rumah itu."
Gempa itu menggangu aktivitas ekonomi di desa itu. Penduduk pun makan
seadanya dari persediaan yang mereka miliki sambil menunggu bantuan.
Hingga 8 Maret, menurut Satkorlak, 3.306 rumah, 32 kantor, 87 sekolah
dan 98 tempat ibadah dilaporkan rusak berat, sementara itu 9.234 rumah, 29
kantor, 104 sekolah dan 312 tempat ibadah rusak ringan. Lima puluh tiga orang
dilaporkan tewas, dan 421 lainnya luka-luka.
Michael Yudha Winarno dari Caritas Jerman mengatakan kepada UCA News,
berdasarkan hasil penaksirannya, yang paling banyak dibutuhkan sekarang adalah
tenda untuk tempat tinggal sementara. Ia berjanji bahwa pihaknya akan segera
mengirimkan terpal-terpal untuk dijadikan tenda-tenda. Setelah itu, katanya,
korban membutuhkan bantuan bahan bangunan untuk membangun kembali rumah mereka.
Sementara itu, tanggal 8 Maret, Pastor Philips Rusihan, vikjen
Keuskupan Padang, bertemu dengan staf CRS di Gereja St. Petrus Rasul di
Padangpanjang.
Imam itu mengatakan kepada para pekerja Gereja internasional itu "agar
berhati-hati" menyalurkan bantuan kemanusiaan. Ia menjelaskan, "meskipun
bantuan diberikan dengan niat tulus atas dasar kemanusiaan, seringkali
diinterpretasikan negatif." Satkorlak, katanya, adalah saluran bantuan yang
aman, namun birokrasi akan menghambat distribusi. Dengan pemikiran itu, kata
Pastor Ryusihan, keuskupannya telah memutuskan untuk menyalurkan bantuan
kemanusiaan via lembaga sosial dan LSM.
Jerry Chamberland dari CRS mengatakan kepada UCA News bahwa
organisasinya akan menyediakan bantuan darurat dan pemulihan pasca bencana dan
disalurkan melalui mitra-mitra lokal seperti Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi
Keuskupan Padang, lembaga keagamaan lain dan LSM. ***
--------------------------------------------------------------------------------
INDONESIA (IS02068.528b) 9 Maret 2007 45 baris (412 kata)
PEMIMPIN GEREJA DAN PEMERINTAH SERUKAN AGAR MASYARAKAT TETAP TENANG MESKI
PERBATASAN DENGAN TIMOR TIMUR DITUTUP
ATAMBUA, NTT (UCAN) -- Menyusul penutupan perbatasan dengan Timor
Timur, uskup Katolik dan bupati di wilayah Indonesia minta agar masyarakatnya
tetap tenang.
Indonesia menutup perbatasan itu, 26 Februari, setelah para prajurit
pemberontak di Timor Timur menyerang sebuah pos polisi di negara itu dan
merampok sejumlah senjata otomatis pada malam sebelumnya.
"Saya minta kepada seluruh umat di Keuskupan Atambua agar tetap tenang
dan tidak usah membesar-besarkan persoalan ini karena yang rugi adalah kita
sendiri," kata Uskup Atambua Mgr Antonius Pain Ratu SVD kepada UCA News 1
Maret. Sekitar 12.000 eks pengungsi Timor Timur tinggal di Kabupaten Belu,
Timor Barat. Atambua adalah ibukota kabupaten itu.
"Secara khusus saya minta agar warga baru eks pengungsi Timor Leste
tetap menjaga ketenangan dan bersikap bijaksana, jangan terpancing emosi, serta
jangan terprovokasi sehingga yang terjadi di sana tidak berimbas di Belu dan
sekitarnya," kata prelatus itu.
Uskup itu berharap agar pemerintah tidak terlalu radikal menerapkan
peraturan dan perlu ada perlakuan khusus di wilayah itu.
"Banyak biarawan atau biarawati yang rumah induknya ada di Atambua, dan
sering ke Timor Leste untuk urusan Gereja. Jika mereka tidak diizinkan,
bagaimana nanti urusan selanjutnya?" tanya uskup itu.
Uskup itu mengatakan pemerintah Indonesia juga harus mengizinkan orang
Timor Timur yang sakit untuk melintasi perbatasan itu agar mendapatkan
perawatan medis di rumah sakit Katolik Atambua. "Saya mau tanya, apakah manusia
yang dipentingkan atau peraturan yang diutamakan, sedangkan peraturan itu
dibuat oleh manusia?"
Ada empat pintu keluar masuk untuk pelintas batas di antara Timor Timur
dan wilayah yang masuk Keuskupan Atambua. Tiga dari tempat penyeberangan itu,
Metamauk, Motaain, Turiskain, berada di Kabupaten Belu, dan satu tempat
penyeberangan adalah Napan, yang berada di kabupaten tetangganya, Timor Tengah
Utara (TTU).
Seorang anggota TNI di pintu gerbang perbatasan di Motaain mengatakan
kepada UCA News 28 Februari bahwa tidak seorangpun diizinkan melintas "karena
pintu perbatasan ditutup untuk segala aktivitas."
Ketika mengunjungi Uskup Pain Ratu tanggal 27 Februari, Bupati Belu
Joachim Lopez mengatakan kepada pers bahwa ia telah menyerukan agar masyarakat
tetap tenang, melakukan kegiatan rutin mereka sehari-hari dan tidak
terprovokasi dengan situasi di Timor Timur.
"Saya pikir konflik yang terjadi itu adalah persoalan internal negara
lain," katanya. "Sebagai pemerintah kami minta kepada warga agar tetap bekerja
seperti biasa dan tidak usah mempersoalkannya."
Namun, Siprianus Bau Manek, 31, mengatakan kepada UCA News, situasi itu
menghalangi dia untuk mencari nafkah. "Sejak pintu perbatasan ditutup, kami
tidak bisa mendapatkan uang," katanya sambil berdiri menopang gerobak yang
sehari-hari digunakannya untuk mengangkut barang-barang. "Kami berharap agar
kondisi ini cepat pulih sehingga kami bisa bekerja lagi dan menghidupkan
keluarga." ***
--------------------------------------------------------------------------------