VATIKAN – PAUS BENEDIKTUS KELUARKAN HIMBAUAN PASCA-SINODE TENTANG EKARISTI
  Oleh Gerard O'Connell, Koresponden Khusus di Roma
              KOTA VATIKAN (UCAN) -- "Sacramentum Caritatis" (Sakramen 
Ekaristi), seruan apostolik Paus Benediktus XVI yang baru disahkan menyangkut 
Ekaristi, menegaskan validitas pembaruan liturgi yang diminta Konsili Vatikan 
Kedua. Dokumen itu juga meminta penghormatan penuh terhadap norma-norma 
liturgi, dan mendukung kembalinya praktek-praktek devosional tradisional dan 
penggunaan bahasa Latin secara lebih luas.
              Dokumen itu memberi rekomendasi-rekomendasi yang telah di-voting 
oleh hampir semua dari 250 orang lebih dari 118 negara yang menghadiri Sinode 
Para Uskup tentang Ekaristi (2-23 Oktober 2005). Dokumen itu juga meneguhkan 
kembali kewajiban selibat para imam ritus Latin, meneguhkan aturan-aturan 
Gereja yang menolak memberikan komuni kepada umat Katolik yang bercerai dan 
kawin lagi, dan melarang saling memberi komuni kepada umat Kristen yang tidak 
memiliki persekutuan penuh dengan Roma. 
              Versi bahasa Inggris dari teks bahasa Latin berisi lebih dari 
25.000 kata dan lebih dari 250 catatan kaki. Dokumen itu juga tersedia dalam 
enam bahasa Eropa lain: Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Portugis, dan 
Spanyol.
              Usul-usul yang disetujui oleh Sinode 2005 itu sudah diumumkan 
atas keputusan paus kelahiran Jerman itu, sehingga teks dokumen itu tidak 
memiliki banyak kejutan. Sekalipun begitu, pandangan ilmiah paus sendiri 
memungkinkan teks kaya secara teologis, karena itulah preferensi kuat paus agar 
elemen-elemen tradisional lebih tampak dalam Ekaristi dan liturgi.
              "Ini merupakan sebuah dokumen sangat penting secara pastoral 
maupun doktrinal," kata Angelo Kardinal Scola, patriarkat Venesia, Italia, 
ketika memaparkan teks itu dalam sebuah konferensi pers di Vatikan pada 13 
Maret. Dia adalah "relator general," semacam koordinator, dalam Sinode tentang 
Ekaristi itu.
              Teks itu memiliki “aspek-aspek doktrinal yang baru” dan “tidak 
kurang dari 50 rekomendasi praktis atau arah yang baru,” kata kardinal. 
“Keberhasilan luar biasa” dari dokumen itu, katanya, adalah “kemampuannya untuk 
mengatasi dikotomi antara kehidupan dan perayaan liturgi.”
              Dalam pendahuluannya, paus mengatakan bahwa Sinode Para Uskup 
“mengakui dan meneguhkan kembali pengaruh yang bermanfaat dari pembaruan 
liturgi terhadap kehidupan Gereja yang dimulai dengan Konsili Vatikan Kedua” 
(1962-65). Memang ada "banyak kesulitan dan bahkan terkadang banyak 
penyimpangan," katanya mengakui, namun semua itu “tidak dapat mengelabui 
manfaat dan keabsahan pembaruan liturgi, yang kekayaannya masih harus perlu 
disingkapkan sepenuhnya." Kardinal Scola mengatakan bahwa himbauan itu 
"mengandung suatu tindakan untuk menerima dan menerapkan hasil konsli itu lebih 
lanjut."
              Dokumen itu telah melewati pembahasan teologis dan terutama 
Kristologis tentang Ekaristi dan keterkaitan intrinsik antara “seni perayaan 
sepantasnya” dari Ekaristi ("ars celebrandi") dan "keterlibatan penuh, aktif, 
dan membuahkan hasil dari kaum beriman” yang sangat diinginkan konsili. Seni 
perayaan yang sepantasnya, katanya, merupakan “buah yang tak terpisahkan dari 
norma-norma liturgi dalam semua kekayaannya,” dan di sini klerus mempunyai 
tanggung jawab khusus. 
              Dalam kata-kata yang kelihatannya bersifat otobiografis, Paus 
Benediktus menegaskan bahwa “para imam harus sadar akan fakta bahwa dalam 
pelayanannya, mereka hendaknya jangan pernah menempatkan diri sendiri atau 
pandangan personal di tempat pertama, tetapi Yesus Kristus. Upaya apapun untuk 
membuat diri mereka pusat tindakan liturgis, jelas bertentangan dengan 
identitas utama mereka sebagai imam. Imam pertama-tama adalah pelayan bagi 
orang lain, dan dia harus senantiasa berkarya agar menjadi tanda yang mengarah 
ke Kristus."
              Dia menekankan "kesatuan erat tata perayaan liturgi dalam Misa,” 
dan mengatakan bahwa “jangan memberi kesan bahwa dua bagian tata perayaan itu 
terpisah, satu berada di samping yang lain. Liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi 
memiliki kesatuan intrinsik, tak perpisahkan." Selain memberi usul-usul 
bagaimana berkotbah, dia juga menekankan perlunya para imam memperbaiki kotbah 
mereka.
              Di dunia “yang penuh ketakutan dan konflik,” Paus Benediktus 
mengatakan, “salam damai” hendaknya dilakukan “dengan tidak berlebih-lebihan.” 
Dia meminta kantor-kantor Vatikan yang terkait untuk memindahkannya dari 
tempatnya sekarang (yaitu sebelum Komuni) dan meletakkannya sebelum persembahan.
              Paus yang adalah seorang pemain piano mahir dan pencinta musik 
itu juga mengatakan, “lagu liturgis punya tempat yang penting.” Selama 2.000 
tahun, katanya, “Gereja mencipta, dan masih terus mencipta, musik dan lagu yang 
mengungkapkan keunggulan iman dan cinta yang sedemikian kaya. Warisan ini 
hendaknya jangan sampai hilang. Jelas, sejauh menyangkut liturgi, kita tidak 
bisa berkata bahwa lagu ini lebih baik dari lagu itu. Improvisasi yang tidak 
sepantasnya atau memasukkan gaya musik yang gagal menghormati arti liturgi 
harus dihindari." 
              Dia juga menegaskan bahwa "teks, musik, pelaksanaan" harus 
"berhubungan dengan arti misteri yang dirayakan, struktur tata perayaan 
liturgi, dan masa liturgis.” Menegaskan usul Sinode, dia meminta agar “lagu 
Gregorian sebaiknya dicintai dan dipakai, sebagai lagu yang cocok untuk liturgi 
Roma." Dia juga menyetujui sebuah usul lain Sinode “untuk mengungkapkan lebih 
jelas persatuan dan universalitas Gereja,” dan mengusulkan agar Ekaristi dalam 
pertemuan-pertemuan internasional “sebaiknya dirayakan dalam bahasa Latin, 
kecuali untuk bacaan, kotbah, dan doa umat."
              Sekalipun diusulkan Sinode, usul untuk menggunakan bahasa Latin 
itu mendapat suara negatif terbanyak. Sekalipun demikian, paus mengatakan 
“doa-doa tradisional Gereja yang telah dikenal dengan baik hendaknya didoakan 
dalam bahasa Latin dan, jika mungkin, seleksi-seleksi lagu Gregorian hendaknya 
dinyanyikan.” Dia mengusulkan agar “para imam masa depan” dididik “untuk 
memahami dan mempersembahkan Misa dalam bahasa Latin, menggunakan teks Latin, 
dan menyanyikan lagu Gregorian.” Umat beriman, lanjutnya, bisa diajarkan “lebih 
banyak doa bersama” dalam bahasa Latin dan dilatih untuk menyanyikan 
bagian-bagian liturgi dalam lagu Gregorian.
              Mengulang kembali Paus Yohanes Paulus II dan Sinode 2005, Paus 
Benediktus mendorong umat beriman “sering melakukan pengakuan dosa.” Paus 
meminta agar para imam selalu bersedia melakukan pelayanan ini. “Tempat-tempat 
pengakuan dosa di gereja-gereja kita hendaknya secara jelas menjadi ekspresi 
yang kelihatan dari Sakramen Pengakuan Dosa,” katanya. Dia menekankan kewajiban 
Misa hari Minggu, dan mendesak agar hari Minggu tetap menjadi hari untuk 
beristirahat.
              Untuk menyoroti nilai devosi Ekaristi dalam kehidupan umat 
Katolik, paus mengesahkan sebuah usul lain yang diutarakan oleh Uskup Agung 
Yangon Mgr Charles Maung Bo dalam Sinode itu. Paus mendukung "adorasi perpetual 
Ekaristi, baik secara individual maupun komunitas” dan mengusulkan agar 
gereja-gereja mempertahankan pandangan ini. Paus juga mengesahkan devosi-devosi 
Ekaristi lain, seperti "empat puluh jam" dan perarakan-perarakan Sakramen 
Mahakudus.
              Juga menanggapi Sinode itu, paus menegaskan bahwa “penempatan 
yang tepat dari tabernakel menunjang pengakuan akan kehadiran nyata Kristus 
dalam Sakramen mahakudus." Paus menasehati agar “tempat hosti kudus disimpan” 
harus “ditandai dengan sebuah lampu, dan harus terlihat oleh setiap orang saat 
memasuki gereja."
              Bapa-Bapa sinode, termasuk mereka dari Indonesia dan Jepang, 
menekankan pentingnya inkulturasi liturgi. Paus mengesahkan kebutuhan ini untuk 
dilakukan “sejumlah adaptasi yang memadai sesuai kebudayaan dan konteks yang 
berbeda” dan sesuai dengan norma dan pedoman yang ada. 
              Sinode membahas jumlah imam yang sangat terbatas “di sejumlah 
wilayah yang dulu mendapat evangelisasi pertama” dan “di banyak negara yang 
sudah lama terdapat tradisi Kristen.” Sejumlah uskup dari Asia meminta agar 
mempertimbangkan penahbisan “pria-pria yang dewasa kepribadiannya,” namun 
Sinode tidak setuju. Sebagai alternatif, Paus Benediktus mengesahkan himbauan 
Sinode agar “penyebaran klerus lebih merata,” dan adanya berbagai prakarsa 
pastoral untuk memperoleh lebih banyak panggilan religius. 
              Dalam bab ketiga dari teks itu, yang juga mencerminkan Sinode 
itu, paus menekankan keterkaitan antara Ekaristi dan kehidupan sehari-hari. 
Sinode menerima usul-usul para uskup dari Asia dan benua lain yang menekankan 
dimensi sosial Ekaristi, dan demikian juga paus. "Hubungan antara misteri 
Ekaristi dan komitmen sosial harus dibuat eksplisit,” kata paus. 
              Mengulang lagi penekanan Sinode bahwa “pengorbanan Kristus 
merupakan sebuah misteri pembebasan yang terus dan pasti menantang kita,” paus 
mendesak segenap kaum beriman “untuk menjadi pendukung keadilan dan 
perdamaian,” dan mendorong  mereka “untuk secara bertanggung jawab melindungi 
ciptaan." 
              Paus mengatakan, “santapan kebenaran (Ekaristi) menuntut bahwa 
kita mengutuk situasi yang tidak manusiawi yang membuat orang lapar sampai mati 
sebagai akibat ketidakadilan dan eksploitasi. Ekaristi memberi kita keberanian 
dan kekuatan baru untuk berkarya tanpa lelah dalam melayani peradaban cinta." 
Paus juga menyatakan “solidaritas seluruh Gereja dengan mereka yang kebebasan 
beribadahnya disangkal," dan menutup dengan mengesahkan usul Sinode bahwa 
keuskupan-keuskupan dan komunitas-komunitas Kristen “mengajar dan mempromosikan 
ajaran sosial Gereja." ***
   
ZY02102.529b     14 Maret 2007     130 baris     (1,128 kata)
  BERITA DARI KANTOR BERITA KATOLIK ASIA 
(UCAN, UNION OF CATHOLIC ASIAN NEWS)



 
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.

Kirim email ke