Helo, Rekan-rekan milis
Berikut kembali saya kirimkan berbagai berita menarik tentang karya dan
pelayanan Gereja yang terjadi di Indonesia dalam pekan ini. (Buletin UBI, UCAN
Bahasa Indonesia - edisi terbit: 12-16 Maret 2007) Juga saya selipkan lagi
sebuah berita menarik dari Vatikan tentang seruan Paus Benediktus kepada umat
Katolik di dunia untuk kembali menggunakan bahasa Latin dalam liturgi ekaristi.
Selengkapnya mengenai seruan Paus dapat dibaca pada berita dari Vatikan yang
saya sertakan.
Berita ini sangat menarik dan sebaiknya perlu diketahui oleh umat awam
terlebih oleh kaum religius. Oleh karena itu, jika anda merasa berita-berita
yang dikirimkan ini bermanfaat, silakan rekan-rekan milis meneruskannya kepada
teman, kenalan, atau sesama anggota kongregasi/tarekat anda agar informasi ini
diketahui oleh semua orang.
Demikian berita-berita UCAN untuk minggu ini. Berita-berita lain tentang
karya dan pelayanan Gereja di negara Asia lain akan segera dikirimkan terpisah
dari berita-berita Indonesia.
Terima kasih, dan selamat membaca. Kasih Kristus menyertai selalu.
Hormat saya,
VITALIS
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BERIKUT BERITA-BERITA GEREJA DARI INDONESIA & VATIKAN (URBI + ORBI) YANG
BERHASIL DILIPUT KANTOR BERITA KATOLIK ASIA (UCAN, UNION OF CATHOLIC ASIAN NEWS)
BULETIN UBI NO. 529B EIDISI TERBIT: 12 16 MARET 2005
POKOK-POKOK BERITA:
INDONESIA, KETAPANG, Kalimantan Barat -- KAUM AWAM DIMINTA LEBIH
BERPARTISIPASI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL DAN POLITIK
INDONESIA, ATAMBUA, NTT -- DUTA BESAR VATIKAN DORONG UMAT KATOLIK
WARTAKAN INJIL DENGAN KETELADANAN
INDONESIA, JAKARTA -- SEKOLAH TEOLOGI PROTESTAN TOLAK TUNTUTAN KAUM
MUSLIM AGAR SEKOLAH DITUTUP
INDONESIA, JAKARTA -- IMAM KAPUSIN SETEMPAT DIANGKAT MENJADI USKUP
UNTUK KEUSKUPAN SIBOLGA
VATIKAN - PAUS BENEDIKTUS KELUARKAN HIMBAUAN PASCA-SINODE TENTANG
EKARISTI
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and
always stay connected to friends.
BULETIN UCAN EDISI BAHASA INDONESIA NO. 259B EDISI TERBIT: 12 16 MARET 2007
BERITA-BERITA GEREJA (URBI + ORBI) DARI INDONESIA DAN VATIKAN:
------------------------------------------------------------------
VATIKAN (ZY02102.529b) 14 Maret 2007 101 baris (1,218 kata)
PAUS BENEDIKTUS KELUARKAN HIMBAUAN PASCA-SINODE TENTANG EKARISTI
Oleh Gerard O'Connell, Koresponden Khusus di Roma
KOTA VATIKAN (UCAN) -- "Sacramentum Caritatis" (Sakramen Ekaristi),
seruan apostolik Paus Benediktus XVI yang baru disahkan menyangkut Ekaristi,
menegaskan validitas pembaruan liturgi yang diminta Konsili Vatikan Kedua.
Dokumen itu juga meminta penghormatan penuh terhadap norma-norma liturgi, dan
mendukung kembalinya praktek-praktek devosional tradisional dan penggunaan
bahasa Latin secara lebih luas.
Dokumen itu memberi rekomendasi-rekomendasi yang telah di-voting oleh
hampir semua dari 250 orang lebih dari 118 negara yang menghadiri Sinode Para
Uskup tentang Ekaristi (2-23 Oktober 2005). Dokumen itu juga meneguhkan kembali
kewajiban selibat para imam ritus Latin, meneguhkan aturan-aturan Gereja yang
menolak memberikan komuni kepada umat Katolik yang bercerai dan kawin lagi, dan
melarang saling memberi komuni kepada umat Kristen yang tidak memiliki
persekutuan penuh dengan Roma.
Versi bahasa Inggris dari teks bahasa Latin berisi lebih dari
25.000 kata dan lebih dari 250 catatan kaki. Dokumen itu juga
tersedia dalam enam bahasa Eropa lain: Prancis, Jerman, Italia,
Polandia, Portugis, dan Spanyol.
Usul-usul yang disetujui oleh Sinode 2005 itu sudah diumumkan atas
keputusan paus kelahiran Jerman itu, sehingga teks dokumen itu tidak memiliki
banyak kejutan. Sekalipun begitu, pandangan ilmiah paus sendiri memungkinkan
teks kaya secara teologis, karena itulah preferensi kuat paus agar
elemen-elemen tradisional lebih tampak dalam Ekaristi dan liturgi.
"Ini merupakan sebuah dokumen sangat penting secara pastoral maupun
doktrinal," kata Angelo Kardinal Scola, patriarkat Venesia, Italia, ketika
memaparkan teks itu dalam sebuah konferensi pers di Vatikan pada 13 Maret. Dia
adalah "relator general," semacam koordinator, dalam Sinode tentang Ekaristi
itu.
Teks itu memiliki aspek-aspek doktrinal yang baru dan tidak kurang
dari 50 rekomendasi praktis atau arah yang baru, kata kardinal. Keberhasilan
luar biasa dari dokumen itu, katanya, adalah kemampuannya untuk mengatasi
dikotomi antara kehidupan dan perayaan liturgi.
Dalam pendahuluannya, paus mengatakan bahwa Sinode Para Uskup
mengakui dan meneguhkan kembali pengaruh yang bermanfaat dari pembaruan
liturgi terhadap kehidupan Gereja yang dimulai dengan Konsili Vatikan Kedua
(1962-65). Memang ada "banyak kesulitan dan bahkan terkadang banyak
penyimpangan," katanya mengakui, namun semua itu tidak dapat mengelabui
manfaat dan keabsahan pembaruan liturgi, yang kekayaannya masih harus perlu
disingkapkan sepenuhnya." Kardinal Scola mengatakan bahwa himbauan itu
"mengandung suatu tindakan untuk menerima dan menerapkan hasil konsli
itu lebih lanjut."
Dokumen itu telah melewati pembahasan teologis dan terutama Kristologis
tentang Ekaristi dan keterkaitan intrinsik antara seni perayaan sepantasnya
dari Ekaristi ("ars celebrandi") dan "keterlibatan penuh, aktif, dan membuahkan
hasil dari kaum beriman yang sangat diinginkan konsili. Seni perayaan yang
sepantasnya, katanya, merupakan buah yang tak terpisahkan dari norma-norma
liturgi dalam semua kekayaannya, dan di sini klerus mempunyai tanggung jawab
khusus.
Dalam kata-kata yang kelihatannya bersifat otobiografis, Paus
Benediktus menegaskan bahwa para imam harus sadar akan fakta bahwa
dalam pelayanannya, mereka hendaknya jangan pernah menempatkan diri
sendiri atau pandangan personal di tempat pertama, tetapi Yesus Kristus.
Upaya apapun untuk membuat diri mereka pusat tindakan liturgis, jelas
bertentangan dengan identitas utama mereka sebagai imam. Imam pertama-tama
adalah pelayan bagi orang lain, dan dia harus senantiasa berkarya agar menjadi
tanda yang mengarah ke Kristus."
Dia menekankan "kesatuan erat tata perayaan liturgi dalam Misa, dan
mengatakan bahwa jangan memberi kesan bahwa dua bagian tata perayaan itu
terpisah, satu berada di samping yang lain. Liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi
memiliki kesatuan intrinsik, tak perpisahkan." Selain memberi usul-usul
bagaimana berkotbah, dia juga menekankan perlunya para imam memperbaiki kotbah
mereka.
Di dunia yang penuh ketakutan dan konflik, Paus Benediktus
mengatakan, salam damai hendaknya dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan.
Dia meminta kantor-kantor Vatikan yang terkait untuk memindahkannya dari
tempatnya sekarang (yaitu sebelum Komuni) dan meletakkannya sebelum persembahan.
Paus yang adalah seorang pemain piano mahir dan pencinta musik
itu juga mengatakan, lagu liturgis punya tempat yang penting. Selama
2.000 tahun, katanya, Gereja mencipta, dan masih terus mencipta,
musik dan lagu yang mengungkapkan keunggulan iman dan cinta yang sedemikian
kaya. Warisan ini hendaknya jangan sampai hilang. Jelas, sejauh menyangkut
liturgi, kita tidak bisa berkata bahwa lagu ini lebih baik dari lagu itu.
Improvisasi yang tidak sepantasnya atau memasukkan gaya musik yang gagal
menghormati arti liturgi harus dihindari."
Dia juga menegaskan bahwa "teks, musik, pelaksanaan" harus "berhubungan
dengan arti misteri yang dirayakan, struktur tata perayaan liturgi, dan masa
liturgis. Menegaskan usul Sinode, dia meminta agar lagu Gregorian sebaiknya
dicintai dan dipakai, sebagai lagu yang cocok untuk liturgi Roma." Dia juga
menyetujui sebuah usul lain Sinode untuk mengungkapkan lebih jelas persatuan
dan universalitas Gereja, dan mengusulkan agar Ekaristi dalam
pertemuan-pertemuan internasional sebaiknya dirayakan dalam bahasa Latin,
kecuali untuk bacaan, kotbah, dan doa umat."
Sekalipun diusulkan Sinode, usul untuk menggunakan bahasa Latin itu
mendapat suara negatif terbanyak. Sekalipun demikian, paus mengatakan doa-doa
tradisional Gereja yang telah dikenal dengan baik hendaknya didoakan dalam
bahasa Latin dan, jika mungkin, seleksi-seleksi lagu Gregorian hendaknya
dinyanyikan. Dia mengusulkan agar para imam masa depan dididik untuk
memahami dan mempersembahkan Misa dalam bahasa Latin, menggunakan teks Latin,
dan menyanyikan lagu Gregorian. Umat beriman, lanjutnya, bisa diajarkan lebih
banyak doa bersama dalam bahasa Latin dan dilatih untuk menyanyikan
bagian-bagian liturgi dalam lagu Gregorian.
Mengulang kembali Paus Yohanes Paulus II dan Sinode 2005, Paus
Benediktus mendorong umat beriman sering melakukan pengakuan dosa. Paus
meminta agar para imam selalu bersedia melakukan pelayanan ini. Tempat-tempat
pengakuan dosa di gereja-gereja kita hendaknya secara jelas menjadi ekspresi
yang kelihatan dari Sakramen Pengakuan Dosa, katanya. Dia menekankan kewajiban
Misa hari Minggu, dan mendesak agar hari Minggu tetap menjadi hari untuk
beristirahat.
Untuk menyoroti nilai devosi Ekaristi dalam kehidupan umat Katolik,
paus mengesahkan sebuah usul lain yang diutarakan oleh Uskup Agung Yangon Mgr
Charles Maung Bo dalam Sinode itu. Paus mendukung "adorasi perpetual Ekaristi,
baik secara individual maupun komunitas dan mengusulkan agar gereja-gereja
mempertahankan pandangan ini. Paus juga mengesahkan devosi-devosi Ekaristi
lain, seperti "empat puluh jam" dan perarakan-perarakan Sakramen Mahakudus.
Juga menanggapi Sinode itu, paus menegaskan bahwa penempatan yang
tepat dari tabernakel menunjang pengakuan akan kehadiran nyata Kristus
dalam Sakramen mahakudus." Paus menasehati agar tempat hosti kudus
disimpan harus ditandai dengan sebuah lampu, dan harus t erlihat oleh
setiap orang saat memasuki gereja."
Bapa-Bapa sinode, termasuk mereka dari Indonesia dan Jepang, menekankan
pentingnya inkulturasi liturgi. Paus mengesahkan kebutuhan ini untuk dilakukan
sejumlah adaptasi yang memadai sesuai kebudayaan dan konteks yang berbeda dan
sesuai dengan norma dan pedoman yang ada.
Sinode membahas jumlah imam yang sangat terbatas di sejumlah wilayah
yang dulu mendapat evangelisasi pertama dan di banyak negara yang sudah lama
terdapat tradisi Kristen. Sejumlah uskup dari Asia meminta agar
mempertimbangkan penahbisan pria-pria yang dewasa kepribadiannya, namun
Sinode tidak setuju. Sebagai alternatif, Paus Benediktus mengesahkan himbauan
Sinode agar penyebaran klerus lebih merata, dan adanya berbagai prakarsa
pastoral untuk memperoleh lebih banyak panggilan religius.
Dalam bab ketiga dari teks itu, yang juga mencerminkan Sinode itu, paus
menekankan keterkaitan antara Ekaristi dan kehidupan sehari-hari. Sinode
menerima usul-usul para uskup dari Asia dan benua lain yang menekankan dimensi
sosial Ekaristi, dan demikian juga paus. "Hubungan antara misteri Ekaristi dan
komitmen sosial harus dibuat eksplisit, kata paus.
Mengulang lagi penekanan Sinode bahwa pengorbanan Kristus merupakan
sebuah misteri pembebasan yang terus dan pasti menantang kita, paus mendesak
segenap kaum beriman untuk menjadi pendukung keadilan dan perdamaian, dan
mendorong mereka untuk secara bertanggung jawab melindungi ciptaan."
Paus mengatakan, santapan kebenaran (Ekaristi) menuntut bahwa kita
mengutuk situasi yang tidak manusiawi yang membuat orang lapar sampai mati
sebagai akibat ketidakadilan dan eksploitasi. Ekaristi memberi kita keberanian
dan kekuatan baru untuk berkarya tanpa lelah dalam melayani peradaban cinta."
Paus juga menyatakan solidaritas seluruh Gereja dengan mereka yang kebebasan
beribadahnya disangkal," dan menutup dengan mengesahkan usul Sinode bahwa
keuskupan-keuskupan dan komunitas-komunitas Kristen mengajar dan mempromosikan
ajaran sosial Gereja." ***
----------------------------------------------------------------------
INDONESIA (IJ02067.529b) 14 Maret 2007 48 baris (562 kata)
KAUM AWAM DIMINTA LEBIH BERPARTISIPASI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL DAN POLITIK
KETAPANG, Kalimantan Barat (UCAN) -- Uskup Ketapang Mgr Blasius
Pujaraharja meminta umat awam Katolik di Propinsi Kalimantan Barat untuk
semakin aktif dalam berbagai isu sosial dan politik setempat.
Kita mengalami banyak bencana. Manusia memporakporandakan alam, dan
kuasa kejahatan ada di mana-mana, kata Uskup Pujaraharja mengingatkan.
Sebagai awam Katolik, tegasnya, Saudara semua dipanggil untuk melakukan
perbaikan.
Prelatus itu berbicara dengan 40 anggota Komisi Kerasulan Awam
Keuskupan Ketapang serta wakil-wakil dari Keuskupan Agung Pontianak dan
Keuskupan Sintang pada pertemuan regional komisi yang digelar 1-4 Maret di
Ketapang dengan tema Meningkatkan Peranserta Kaum Awam Katolik Dalam Kehidupan
Sosial-Politik dan Kemasyarakatan.
Injil tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak melibatkan diri kita
di tengah masyarakat, tegas uskup dalam homili pada Misa Kudus yang membuka
pertemuan regional tersebut. Awam Katolik harus masuk ke berbagai bidang
kehidupan dan memberikan terang di sana, tegas Uskup Pujaraharja.
Uskup Pujaraharja ingin agar umat awam Katolik semakin terlibat dalam
kehidupan politik dengan mencalonkan diri menjadi pejabat, bekerja di tempat
pemungutan suara dan dalam kampanye, mendukung pemilihan dan menyebarkan
informasi tentang para kandidat, dan memberikan suara dalam pemilihan.
A. Margana Wiratma dan Pastor Yohanes Rasul Edy Purwanto,
masing-masing wakil ketua dan sekretaris eksekutif Komisi Kerasulan Awam
Konferensi Waligereja Indonesia adalah pembicara utama pada pertemuan
regional tersebut.
Wiratma menceritakan bahwa pada tahun 1955, seorang awam Katolik dari
sebuah partai lokal yang sudah mati, Partai Dayak, terpilih menjadi gubernur.
Pria awam itu, Johanes Chrisostomus Oevang Oeray, adalah satu-satunya awam
Katolik dari komunitas Dayak yang menjadi gubernur propinsi itu.
Yang terakhir, Anselmus Robertus Mecer, juga orang Dayak, menjadi
anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 1999.
Menurut data Gereja lokal, Propinsi Kalimantan Barat memiliki 3,7 juta
penduduk, 30 persen di antaranya Katolik dan 25 persen Protestan. Orang Suku
Dayak terdiri atas 41 persen dari jumlah penduduk, dan 60 persen di antaranya
beragama Katolik, 35 persen Protestan, sisanya menganut aliran kepercayaan
tradisional.
Untuk memperbaiki kehidupan sosial, Uskup Pujaraharja menyebut Sidang
Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005 yang meminta semua umat Katolik,
mulai dari Komunitas Basis Gerejani, untuk menciptakan sebuah "habitus baru"
untuk membarui bangsa.
Habitus baru yang dimaksud, menurut SAGKI, adalah sebuah kelompok
gugus berdasarkan kebaikan, cinta, dan keadilan yang digunakan oleh individu
dan kelompok untuk bertindak, melakukan pendekatan, melihat, merasa, berpikir,
memahami, dan berelasi dengan individu-individu atau kelompok-kelompok lain.
Habitus baru ini, kata para uskup, akan menjadi landasan keadaban publik baru.
Namun, Pastor Purwanto mengingatkan peserta bahwa umat awam Katolik
hendaknya tidak hanya terlibat dalam partai-partai politik, tapi sungguh
menjadi rasul di tengah masyarakat dan menyadari tugas panggilan serta punya
ketrampilan dan keberanian, kata imam diosesan itu.
Sementara itu, Stefanus Sempani, seorang peserta dari Paroki St. Petrus
Rasul di Nanga Tayap, mengamati bahwa umat awam Katolik di daerahnya mengalami
kesulitan mendapatkan informasi tentang kehidupan sosial dan politik di tingkat
nasional dan lokal.
Kami sangat sulit mendapat bahan, jadi kami tidak bisa menjelaskan
kepada umat awam lain di tingkat kampung tentang apa yang harus kita lakukan,
kata pria awam berusia 40 tahun itu.
Norbeta Ilin, dari Paroki St. Gemma Galgani di Ketapang, mengamati
bahwa banyak umat awam Katolik di daerahnya juga kekurangan informasi.
Menjelaskan bahwa propinsi itu akan mengadakan pemilihan langsung
gubernur dan wakil gubernur pada bulan November, wanita awam itu mengatakan:
Saya harap jangan sampai pemilihan tersebut membawa konflik di tengah
masyarakat. Ia menyinggung kemungkinan pertikaian antara para pendukung
dari para kandidat.
Pada pertemuan regional itu, peserta juga menyarankan agar anggota
dewan legislatif setempat membuat peraturan yang tidak menyakiti
kelompok-kelompok etnis dan agama. ***
-----------------------------------------------------------------------
INDONESIA (IS02092.529b) 15 Maret 2007 58 baris (701 kata)
DUTA BESAR VATIKAN DORONG UMAT KATOLIK WARTAKAN INJIL DENGAN KETELADANAN
ATAMBUA, NTT (UCAN) -- Duta Besar Vatikan untuk Indonesia meminta para
imam, frater, katekis, dan seluruh umat Katolik di Timor Barat untuk mewartakan
Injil melalui kesaksian hidup sehari-hari.
Uskup Agung Leopoldo Girelli mengunjungi Keuskupan Atambua pada 5-6
Maret setelah mengakhiri kunjungan pastoral ke Timor Leste, 26 Februari-4
Maret. Uskup agung yang tinggal di Jakarta itu mengadakan kunjungan pertama ke
wilayah itu sejak ia menjadi Duta Vatikan untuk Indonesia dan Timor Leste tahun
2006. Ia mengunjung Keuskupan Agung Kupang, juga di Timor Barat, pada 7-8 Maret.
Pada hari pertama sekembalinya ke Indonesia, ia bertemu 60 frater dan
para pembina di Seminari Tinggi Lo'o Damian di Lalian. Para frater itu, yang
telah menyelesaikan pembinaan setingkat seminari menengah, tengah mengikuti
Tahun Orientasi Rohani (program persiapan satu tahun untuk masuk seminari
tinggi).
Duta Vatikan mengatakan kepada mereka bahwa seminari adalah
tempat yang tepat untuk pembinaan. Ini adalah tempat yang tepat untuk
Anda membenahi dan memberdayakan diri. Di sinilah Anda mempunyai
kesempatan untuk terus menerus membentuk kepribadian Anda selaku calon imam.
Para frater kelak menjadi para imam yang baik, beriman dan saleh dan hidup
sederhana serta memiliki semangat pengabdian yang tinggi, katanya.
Kita harus menyatu dengan Yesus Kristus dalam perayaan Ekaristi yang
kita rayakan setiap hari, katanya. Ia juga mengingatkan para frater dan para
imam tentang sentralitas Ekaristi dalam kehidupan para imam.
Setiap imam, katanya, harus secara serius mempersiapkan diri untuk
merayakan Misa bersama umat Katolik. Anda harus mempersiapkan kotbah dengan
baik sehingga pewartaannya sungguh ditangkap dan dihayati umat, sarannya.
Lebih dari itu, lanjutnya, setiap imam hendaknya mewartakan Injil dengan
kesaksian hidup sehari-hari.
Pada hari yang sama, Uskup Agung Girelli mengunjungi sebuah
biara Serikat Sabda Allah di Nenuk, dekat seminari itu. Duta Vatikan
disambut oleh Pastor Feliks Kosat SVD, superior SVD Provinsi Timor.
Duta Vatikan memuji para misionaris SVD yang telah menjadi suluh
bagi masyarakat di Timor Barat dan Timor Leste.
Hidup dan karya imam hendaknya menjadi panutan masyarakat, katanya,
seraya menekankan bahwa semua imam hendaknya hidup sederhana dan saleh. Para
imam Serikat Sabda Allah memulai karya misi di Timor dan Pulau Flores tahun
1913.
Di Katedral St. Maria Imakulata di Atambua, Duta Vatikan mengungkapkan
kekagumannya atas perkembangan Gereja Katolik di Timor, khususnya di Keuskupan
Atambua. Saya bangga dan kagum menyaksikan umat Katolik yang terus bertumbuh
dan berkembang di Pulau Timor, katanya.
Duta Vatikan meminta umat Katolik, khususnya kaum muda, untuk terus
menerus memperdalam iman mereka dan menjadi saksi bagi Yesus Kristus dan
Injil-Nya di tengah masyarakat.
Umat Katolik terdiri atas lebih dari 90 persen dari 450.000 penduduk di
wilayah keuskupan yang mencakup Kabupaten Belu dan Kabupaten Timor Tengah Utara
di sepanjang perbatasan dengan Timor Leste.
Pada 6 Maret, Uskup Agung Girelli mengunjungi Seminari Menengah St.
Maria Immaculata di Lalian, tempat ia mempersembahkan Misa yang dihadiri oleh
para seminaris dan pengajar.
Mutu pendidikan calon imam harus diperhatikan, katanya dalam homili.
Gereja membutuhkan imam yang baik, yang kokoh imannya, yang saleh hidupnya,
yang rela berkorban demi orang banyak dan memiliki pengetahuan yang luas.
Gereja membutuhkan saksi-saksi Kristus yang setia mewartakan ajaran-Nya lewat
perilaku hidup kesehariannya.
Dalam sambutannya, Pastor Rosindus Tae, rektor seminari menengah,
mengatakan bahwa ia dan para seminaris sangat bersyukur karena tak disangka
Duta Vatikan menginjakkan kakinya di kampus seminari ini sejak seminari ini
didirikan tahun 1950.
Di Kupang, Uskup Agung Girelli mengunjungi Sekolah Tinggi
Pastoral Keuskupan Agung Kupang pada 7 Maret. Uskup Agung Kupang Mgr Petrus
Turang dan Pastor Kanisius Pen, rektor sekolah itu, menyambut wakil paus
tersebut.
Duta Vatikan mengatakan kepada sekitar 300 mahasiswa: Sekolah ini
penting sebagai tempat persiapan menjadi katekis atau pewarta Sabda Allah.
Sekolah ini didirikan untuk memperdalam ilmu, iman, melatih diri, sehingga
semakin mampu dan matang untuk mewartakan kabar sukacita Kristus.
Ia meminta para mahasiswa untuk menjaga ajaran agama dan menjadi orang
yang memberi kesaksian kepada dunia tentang sukacita Kristus di tengah
masyarakat.
Sekolah pastoral yang didirikan tahun 2001 itu telah menghasilkan 1.275
katekis, 776 orang di antaranya program sarjana S1 dan 499 program diploma dua.
Sore harinya, Uskup Agung Girelli memimpin Misa di Seminari Tinggi St.
Michael di Kupang. Beberapa pejabat pemerintah beragama Katolik turut hadir.
Mengacu pada bacaan-bacaan Misa, ia mengatakan bahwa para imam harus
tekun dalam tiga tugas pokok yaitu sebagai pengajar, pemimpin, dan orang yang
menyangkal diri, semua seketika.
Pada 8 Maret, Duta Vatikan merayakan Misa di Katedral Kristus Raja. ***
----------------------------------------------------------------------
INDONESIA (IJ02114.530b) 14 Maret 2007 37 baris (467 kata)
SEKOLAH TEOLOGI PROTESTAN TOLAK TUNTUTAN KAUM MUSLIM AGAR SEKOLAH DITUTUP
JAKARTA (UCAN) -- Sebuah sekolah teologi milik Protestan di Jakarta
Timur menolak tuntutan sejumlah kaum Muslim agar sekolah itu ditutup, seraya
mengatakan bahwa sekolah itu memiliki izin resmi beroperasi.
Pada 10 Maret pagi, lebih dari 400 kaum Muslim yang mengklaim sebagai
warga sekitar Sekolah Tinggi Teologia Setia menggelar aksi protes selama dua
jam di depan sekolah tersebut. Mereka membawa spanduk sepanjang 20 meter yang
menunjukkan berbagai tuntutan mereka. Sekitar 400 aparat kepolisian menjaga
sekolah selama aksi protes yang dipimpin oleh Front Pembela Islam itu
berlangsung.
Aldi, seorang Muslim setempat yang ditemui UCA News pada 12 Maret,
mengatakan bahwa warga setempat, yang kebanyakan Muslim, sering mengeluh
tentang keributan yang dilakukan oleh para mahasiswa baik di dalam maupun di
luar sekolah itu. Namun mereka tidak merasa terganggu dengan kegiatan ibadah
yang diadakan di kampus itu, katanya mengakui.
Menurut Aldi, warga setempat telah menolak kehadiran sekolah
itu tiga tahun lalu, tapi baru sekarang mereka secara terbuka
melakukan aksi protes, setelah melihat sebuah asrama baru mulai
dibangun sekitar 400 meter dari sekolah itu. Lelaki berusia 49 tahun itu
mengatakan, Kami ingin sekolah itu dipindahkan ke tempat lain.
Sekolah yang memiliki dua lantai dan berbentuk huruf U itu dibangun
tahun 1990 di atas lahan seluas 1,5 hektare. Sekolah itu kini memiliki sekitar
1.600 mahasiswa dari seluruh tanah air dan 80 dosen.
Pendeta Juwanto, pembantu rektor, mengatakan kepada UCA News 12 Maret
bahwa tuntutan kaum Muslim itu tidak mendasar. Kampus ini sudah berdiri 17
tahun lebih di tempat ini. Kami juga telah mendapat izin untuk mendirikan
kampus ini. Biar bagaimanapun, kami tidak akan memenuhi tuntutan mereka,
tegasnya. Ia menambahkan, sekolah itu telah mendapatkan izin dari Dirjen Bimas
Protestan, bagian dari Departemen Agama.
Sekolah itu dibangun di sebuah lingkungan di mana warga kelas menengah
ke bawah tinggal, katanya, karena kami ingin mendidik para mahasiswa untuk
hidup sederhana.
Berbeda dengan pendapat Aidi, Pendeta Juwanto mengklaim bahwa para
mahasiswa dan dosen memiliki hubungan yang baik dengan warga setempat. Kami
tidak pernah memiliki persoalan, katanya. Saya yakin permintaan pembubaran
sekolah ini bukan murni berasal dari warga sekitar.
Sekolah itu telah melaporkan kasus tersebut kepada walikota dan juga
akan mengadukan kasus tersebut kepada Dewan Perwakilan Rakyat, katanya.
Yohanes, seorang mahasiswa, sependapat dengan Pendeta Juwanto. Ia dan
teman-temannya memiliki hubungan yang baik dengan warga setempat, katanya
kepada UCA News. Kami sangat menghargai mereka. Kami datang dari daerah hanya
untuk belajar.
Yohanes berasal dari Nias, sebuah pulau di Indonesia bagian barat yang
penduduknya mayoritas beragama Protestan. Ia menjelaskan bahwa kehadiran
sekolah itu memungkinkan warga setempat untuk membuka warung nasi, tempat para
mahasiswa biasa makan siang.
Seorang wanita Muslim berusia 38 tahun yang membuka sebuah
warung nasi memberi komentar senada. Saya tidak punya masalah dengan
sekolah ini. Justru sekolah ini membantu menghidupi keluarga saya. Saya
kira tidak ada warga di sini yang masuk agama Kristen. Soal iman
itu urusan pribadi, katanya kepada UCA News. ***
----------------------------------------------------------------------
INDONESIA (IJ02122.529b) 16 Maret 2007 56 baris (683 kata)
IMAM KAPUSIN SETEMPAT DIANGKAT MENJADI USKUP UNTUK KEUSKUPAN SIBOLGA
JAKARTA (UCAN) -- Paus Benediktus XVI telah mengangkat Pastor Ludovikus
Simanullang OFMCap, Provisial Kapusin Sibolga, sebagai Uskup Sibolga.
Uskup (terpilih) Simanullang, 51, berbicara dengan UCA News pada 15
Maret melalui telepon dari Sibolga, mengatakan ia menerima berita
pengangkatannya itu dari Uskup Agung Leopoldo Girelli, Duta Besar Vatikan untuk
Indonesia pada 11 Maret di Jakarta.
Radio Vatikan mengumumkan pengangkatan itu pada 14 Maret. Pengumuman
pengangkatan itu telah didengar oleh para imam dan sejumlah umat yang disiarkan
melalui Radio Vatikan, kata Uskup (terpilih) itu. Saya sebenarnya merasa
kurang mampu dan takut ketika mendengar berita penunjukan Vatikan untuk
menjalankan tugas itu. Namun tugas itu adalah pilihan Roh Kudus maka saya
terima dengan rela hati karena saya sadar bahwa Roh Kudus akan membimbing
saya, lanjutnya.
Ditanya tentang rencana untuk keuskupan itu, katanya, ia belum punya
rencana, namun hal pertama yang saya lakukan adalah mengunjungi umat saya
untuk memberikan dukungan moril kepada mereka yang menghadapi masalah gempa
bumi.
Pada 28 Maret 2005, gempa di bawah laut di teluk bagian
barat Sumatra, mengakibatkan kerusakan hebat di Nias dan lebih dari 500
orang tewas. Gempa itu, yang berkekuatan 8,7 skala Richter, terjadi tiga bulan
kemudian, setelah gempa berkekuatan 9,0 skala Richter menghantam
sepanjang pesisir barat laut Sumatra pada 26 Desember 2004, menimbulkan
tsunami yang menewaskan lebih dari 230.000 orang di sekitar wilayah Samudera
India. Sekitar 130 dari mereka yang tewas berada di Propinsi Sumatra
Utara, yang termasuk wilayah Keuskupan Sibolga.
Pastor Barnabas Winkler OFMCap, Administrator Keuskupan Sibolga,
berbicara dengan UCA News pada 16 Maret melalui telepon dari Sibolga,
mengungkapkan juga akibat bencana itu. Ia mengatakan rehabilitasi gereja yang
rusak dan fasilitas gereja lainnya hendaknya mendapat prioritas utama.
Imam itu mengatakan ia dan semua umat Katolik dari keuskupan itu
menyambut baik pengangkatan uskup baru itu. Kami senang karena kami sudah
menunggu begitu lama. Pastor (Uskup terpilih Simanullang) ini sederhana dan
rendah hati dan juga ditambah pengalamannya sebagai Provinsial Sibolga, kata
Pastor Winkler.
Ia mengungkapkan harapannya bahwa uskup baru akan memberikan
pelayanan pastoral kepada umat Katolik termasuk Sakramen Krisma. Ia
mencontohkan banyak program pastoral yang belum dijalankannya karena ia kurang
sehat dan kekurangan tenaga imam. Saya berharap uskup baru bisa minta tenaga
imam dari keuskupan lain karena tenaga imam yang ada masih sangat
kurang sedangkan umat terus bertambah dan perlu juga pemekaran paroki
karena ada paroki-paroki yang wilayahnya terlalu luas, kata administrator
keuskupan itu.
Mantan Uskup Sibolga, sekarang Keuskupan Agung Koajutor Medan Mgr
Anicetus Bongsu Sinaga OFMCap, dipindahkan ke keuskupan agung tetangganya tiga
tahun lalu.
Menurut Uskup (terpilih) Simanullang, tantangan utama yang dihadapinya
dan tenaga pastoral Gereja adalah pengakaran iman umat, karena Sibolga adalah
sebuah Gereja yang relatif masih muda. Sibolga menjadi prefektur apostolik pada
12 November 1959, dan diresmikan menjadi keuskupan tahun 1980. Uskup Agung
Sinaga adalah uskup pertamanya.
Kalau iman umat sudah mengakar maka segala kegiatan Gereja akan
berjalan baik, kata uskup (terpilih) itu. Ia juga mengatakan ia berharap semua
imam, religius, tenaga Gereja dan awam Katolik di keuskupan itu bekerja sama
yang erat untuk membangun keuskupan itu.
Pastor Mikael To, kepala Dekenat Nias, mengatakan kepada UCA News pada
16 Maret, dari Gunungsitoli, ia dan umat Katolik di dekenatnya, menyambut baik
pengangkatan uskup baru itu. Ia berharap uskup baru akan memprioritaskan pada
kunjungan pastoral ke seluruh paroki, secara khusus paroki-paroki yang rusak
akibat gempa bumi.
Gunungsitoli terletak di Nias, sebuah pulau di sebelah barat Pulau
Sumatra. Pulau itu berada di wilayah Keuskupan Sibolga.
Uskup (terpilih) Simanullang lahir di Sogar, sebuah desa di Keuskupan
Sibolga, 23 April 1955. Ia bergabung dengan Kapusin pada 12 Januari 1976, dan
ditahbiskan menjadi imam 10 Juli 1983.
Ia belajar Spiritualitas Fransiskan dan mendapat gelar Sarjana S3
(doktor) dari Universitas Kepausan Antonianum yang berpusat di Roma tahun 1993.
Setelah kembali ke Indonesia, ia melayani sebagai pemimpin postulan para frater
Kapusin dari tahun 1994 hingga 1997 di Pematangsiantar, Sumatra Utara. Dari
tahun 1997 hingga 2006, ia melayani sebagai Provinsial Kapusin Provinsi Sibolga
selama dua periode, dan tahun 2006 diangkat kembali selama tiga tahun.
Data Buku Petunjuk Gereja Katolik 2005, Keuskupan Sibolga memiliki
197.383 umat Katolik, atau 8,6 persen total penduduk di wilayah yang mayoritas
Muslim itu. Keuskupan itu memiliki 14 paroki, 12 imam diosesan, 44 imam
religius, dan 184 biarawati. ***
-----------------------------------------------------------------------
Jika anda ingin mengetahui berita-berita lain tentang karya dan pelayanan
Gereja di Asia termasuk Indonesia dan Vatikan, silakan kunjungi UCAN website
kami di: www.ucanews.com atau anda juga dapat mengakses berita yang sama di
website KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) di: www.mirifica.org
Usul dan dan saran anda akan media pelayanan ini kami tunggu di: [EMAIL
PROTECTED]
-----------------------------------------------------------------------