Helo, Rekan-rekan milis

  Berikut kembali saya kirimkan berbagai berita menarik tentang karya dan 
pelayanan Gereja yang terjadi di Indonesia dalam pekan ini. (Buletin UBI, UCAN 
Bahasa Indonesia - edisi terbit: 12-16 Maret 2007) Juga saya selipkan lagi 
sebuah berita menarik dari Vatikan tentang seruan Paus Benediktus kepada umat 
Katolik di dunia untuk kembali menggunakan bahasa Latin dalam liturgi ekaristi. 
  Selengkapnya mengenai seruan Paus dapat dibaca pada berita dari Vatikan yang 
saya sertakan. 
  Berita ini sangat menarik dan sebaiknya perlu diketahui oleh umat awam 
terlebih oleh kaum religius. Oleh karena itu, jika anda merasa berita-berita 
yang dikirimkan ini bermanfaat, silakan rekan-rekan milis meneruskannya kepada 
teman, kenalan, atau sesama anggota kongregasi/tarekat  anda agar informasi ini 
diketahui oleh semua orang. 
  Demikian berita-berita UCAN untuk minggu ini. Berita-berita lain tentang 
karya dan pelayanan Gereja di negara Asia lain akan segera dikirimkan terpisah 
dari berita-berita Indonesia. 
  Terima kasih, dan selamat membaca. Kasih Kristus menyertai selalu. 
  Hormat saya,
  
 VITALIS 
  
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  BERIKUT BERITA-BERITA GEREJA DARI INDONESIA & VATIKAN (URBI + ORBI) YANG 
BERHASIL DILIPUT KANTOR BERITA KATOLIK ASIA (UCAN, UNION OF CATHOLIC ASIAN NEWS)
  BULETIN UBI NO. 529B – EIDISI TERBIT: 12 – 16 MARET 2005 
  POKOK-POKOK BERITA:
  
   INDONESIA,      KETAPANG, Kalimantan Barat -- KAUM AWAM DIMINTA LEBIH 
BERPARTISIPASI DALAM      KEHIDUPAN SOSIAL DAN POLITIK
   INDONESIA,      ATAMBUA, NTT -- DUTA BESAR VATIKAN DORONG UMAT KATOLIK 
WARTAKAN INJIL      DENGAN KETELADANAN
   INDONESIA,      JAKARTA -- SEKOLAH TEOLOGI PROTESTAN TOLAK TUNTUTAN KAUM 
MUSLIM AGAR      SEKOLAH DITUTUP
   INDONESIA,      JAKARTA -- IMAM KAPUSIN SETEMPAT DIANGKAT MENJADI USKUP 
UNTUK KEUSKUPAN      SIBOLGA
   VATIKAN      -– PAUS BENEDIKTUS KELUARKAN HIMBAUAN PASCA-SINODE TENTANG 
EKARISTI
  
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  
 
---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and 
always stay connected to friends.
BULETIN UCAN EDISI BAHASA INDONESIA NO. 259B – EDISI TERBIT: 12 – 16 MARET 2007 

BERITA-BERITA GEREJA (URBI + ORBI) DARI INDONESIA DAN VATIKAN:
------------------------------------------------------------------

VATIKAN     (ZY02102.529b)   14 Maret 2007   101 baris     (1,218 kata)
PAUS BENEDIKTUS KELUARKAN HIMBAUAN PASCA-SINODE TENTANG EKARISTI
Oleh Gerard O'Connell, Koresponden Khusus di Roma
        KOTA VATIKAN (UCAN) -- "Sacramentum Caritatis" (Sakramen Ekaristi), 
seruan apostolik Paus Benediktus XVI yang baru disahkan menyangkut Ekaristi, 
menegaskan validitas pembaruan liturgi yang diminta Konsili Vatikan Kedua. 
Dokumen itu juga meminta penghormatan penuh terhadap norma-norma liturgi, dan 
mendukung kembalinya praktek-praktek devosional tradisional dan penggunaan 
bahasa Latin secara lebih luas.
        Dokumen itu memberi rekomendasi-rekomendasi yang telah di-voting oleh 
hampir semua dari 250 orang lebih dari 118 negara yang menghadiri Sinode Para 
Uskup tentang Ekaristi (2-23 Oktober 2005). Dokumen itu juga meneguhkan kembali 
kewajiban selibat para imam ritus Latin, meneguhkan aturan-aturan Gereja yang 
menolak memberikan komuni kepada umat Katolik yang bercerai dan kawin lagi, dan 
melarang saling memberi komuni kepada umat Kristen yang tidak memiliki 
persekutuan penuh dengan Roma. 
        Versi  bahasa  Inggris  dari  teks  bahasa  Latin  berisi  lebih  dari  
25.000  kata  dan  lebih  dari  250  catatan kaki.  Dokumen  itu  juga  
tersedia  dalam  enam  bahasa  Eropa  lain:  Prancis,  Jerman,  Italia,  
Polandia, Portugis,  dan  Spanyol.
        Usul-usul yang disetujui oleh Sinode 2005 itu sudah diumumkan atas 
keputusan paus kelahiran Jerman itu, sehingga teks dokumen itu tidak memiliki 
banyak kejutan. Sekalipun begitu, pandangan ilmiah paus sendiri memungkinkan 
teks kaya secara teologis, karena itulah preferensi kuat paus agar 
elemen-elemen tradisional lebih tampak dalam Ekaristi dan liturgi.
        "Ini merupakan sebuah dokumen sangat penting secara pastoral maupun 
doktrinal," kata Angelo Kardinal Scola, patriarkat Venesia, Italia, ketika 
memaparkan teks itu dalam sebuah konferensi pers di Vatikan pada 13 Maret. Dia 
adalah "relator general," semacam koordinator, dalam Sinode tentang Ekaristi 
itu.
        Teks itu memiliki “aspek-aspek doktrinal yang baru” dan “tidak kurang 
dari 50 rekomendasi praktis atau arah yang baru,” kata kardinal. “Keberhasilan 
luar biasa” dari dokumen itu, katanya, adalah “kemampuannya untuk mengatasi 
dikotomi antara kehidupan dan perayaan liturgi.”
        Dalam  pendahuluannya,  paus mengatakan bahwa Sinode Para Uskup 
“mengakui dan meneguhkan kembali pengaruh yang bermanfaat dari pembaruan 
liturgi terhadap kehidupan Gereja yang dimulai dengan Konsili Vatikan Kedua” 
(1962-65). Memang ada "banyak kesulitan dan bahkan terkadang banyak 
penyimpangan," katanya mengakui, namun semua itu “tidak dapat mengelabui 
manfaat dan keabsahan pembaruan liturgi, yang kekayaannya masih harus perlu 
disingkapkan sepenuhnya." Kardinal Scola mengatakan  bahwa  himbauan  itu  
"mengandung  suatu  tindakan  untuk  menerima  dan  menerapkan  hasil konsli  
itu  lebih  lanjut."
        Dokumen itu telah melewati pembahasan teologis dan terutama Kristologis 
tentang Ekaristi dan keterkaitan intrinsik antara “seni perayaan sepantasnya” 
dari Ekaristi ("ars celebrandi") dan "keterlibatan penuh, aktif, dan membuahkan 
hasil dari kaum beriman” yang sangat diinginkan konsili. Seni perayaan yang 
sepantasnya, katanya, merupakan “buah yang tak terpisahkan dari norma-norma 
liturgi dalam semua kekayaannya,” dan di sini klerus mempunyai tanggung jawab 
khusus. 
        Dalam  kata-kata  yang  kelihatannya  bersifat  otobiografis,  Paus  
Benediktus  menegaskan  bahwa  “para imam  harus  sadar  akan  fakta  bahwa  
dalam  pelayanannya,  mereka  hendaknya  jangan  pernah menempatkan  diri  
sendiri  atau  pandangan  personal  di  tempat  pertama, tetapi Yesus Kristus. 
Upaya apapun untuk membuat diri mereka pusat tindakan liturgis, jelas 
bertentangan dengan identitas utama mereka sebagai imam. Imam pertama-tama 
adalah pelayan bagi orang lain, dan dia harus senantiasa berkarya agar menjadi 
tanda yang mengarah ke Kristus."
        Dia menekankan "kesatuan erat tata perayaan liturgi dalam Misa,” dan 
mengatakan bahwa “jangan memberi kesan bahwa dua bagian tata perayaan itu 
terpisah, satu berada di samping yang lain. Liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi 
memiliki kesatuan intrinsik, tak perpisahkan." Selain memberi usul-usul 
bagaimana berkotbah, dia juga menekankan perlunya para imam memperbaiki kotbah 
mereka.
        Di dunia “yang penuh ketakutan dan konflik,” Paus Benediktus 
mengatakan, “salam damai” hendaknya dilakukan “dengan tidak berlebih-lebihan.” 
Dia meminta kantor-kantor Vatikan yang terkait untuk memindahkannya dari 
tempatnya sekarang (yaitu sebelum Komuni) dan meletakkannya sebelum persembahan.
        Paus  yang  adalah  seorang  pemain  piano  mahir  dan  pencinta  musik 
 itu  juga  mengatakan,  “lagu liturgis  punya  tempat  yang  penting.”  Selama 
 2.000  tahun,  katanya,  “Gereja  mencipta,  dan  masih  terus mencipta,  
musik dan  lagu  yang  mengungkapkan keunggulan iman dan cinta yang sedemikian 
kaya. Warisan ini hendaknya jangan sampai hilang. Jelas, sejauh menyangkut 
liturgi, kita tidak bisa berkata bahwa lagu ini lebih baik  dari lagu itu. 
Improvisasi yang tidak sepantasnya atau memasukkan gaya musik yang gagal 
menghormati arti liturgi  harus  dihindari." 
        Dia juga menegaskan bahwa "teks, musik, pelaksanaan" harus "berhubungan 
dengan arti misteri yang dirayakan, struktur tata perayaan liturgi, dan masa 
liturgis.” Menegaskan usul Sinode, dia meminta agar “lagu Gregorian sebaiknya 
dicintai dan dipakai, sebagai lagu yang cocok untuk liturgi Roma." Dia juga 
menyetujui sebuah usul lain Sinode “untuk mengungkapkan lebih jelas persatuan 
dan universalitas Gereja,” dan mengusulkan agar Ekaristi dalam 
pertemuan-pertemuan internasional “sebaiknya dirayakan dalam bahasa Latin, 
kecuali untuk bacaan, kotbah, dan doa umat."
        Sekalipun diusulkan Sinode, usul untuk menggunakan bahasa Latin itu 
mendapat suara negatif terbanyak. Sekalipun demikian, paus mengatakan “doa-doa 
tradisional Gereja yang telah dikenal dengan baik hendaknya didoakan dalam 
bahasa Latin dan, jika mungkin, seleksi-seleksi lagu Gregorian hendaknya 
dinyanyikan.” Dia mengusulkan agar “para imam masa depan” dididik “untuk 
memahami dan mempersembahkan Misa dalam bahasa Latin, menggunakan teks Latin, 
dan menyanyikan lagu Gregorian.” Umat beriman, lanjutnya, bisa diajarkan “lebih 
banyak doa bersama” dalam bahasa Latin dan dilatih untuk menyanyikan 
bagian-bagian liturgi dalam lagu Gregorian.
        Mengulang kembali Paus Yohanes Paulus II dan Sinode 2005, Paus 
Benediktus mendorong umat beriman “sering melakukan pengakuan dosa.” Paus 
meminta agar para imam selalu bersedia melakukan pelayanan ini. “Tempat-tempat 
pengakuan dosa di gereja-gereja kita hendaknya secara jelas menjadi ekspresi 
yang kelihatan dari Sakramen Pengakuan Dosa,” katanya. Dia menekankan kewajiban 
Misa hari Minggu, dan mendesak agar hari Minggu tetap menjadi hari untuk 
beristirahat.
        Untuk menyoroti nilai devosi Ekaristi dalam kehidupan umat Katolik, 
paus mengesahkan sebuah usul lain yang diutarakan oleh Uskup Agung Yangon Mgr 
Charles Maung Bo dalam Sinode itu. Paus mendukung "adorasi perpetual Ekaristi, 
baik secara individual maupun komunitas” dan mengusulkan agar gereja-gereja 
mempertahankan pandangan ini. Paus juga mengesahkan devosi-devosi Ekaristi 
lain, seperti "empat puluh jam" dan perarakan-perarakan Sakramen Mahakudus.
        Juga  menanggapi  Sinode  itu,  paus  menegaskan bahwa “penempatan yang 
tepat dari tabernakel menunjang pengakuan  akan   kehadiran  nyata  Kristus  
dalam  Sakramen  mahakudus."  Paus   menasehati agar  “tempat hosti  kudus  
disimpan”  harus “ditandai  dengan  sebuah  lampu,  dan  harus t erlihat  oleh  
setiap  orang  saat memasuki gereja."
        Bapa-Bapa sinode, termasuk mereka dari Indonesia dan Jepang, menekankan 
pentingnya inkulturasi liturgi. Paus mengesahkan kebutuhan ini untuk dilakukan 
“sejumlah adaptasi yang memadai sesuai kebudayaan dan konteks yang berbeda” dan 
sesuai dengan norma dan pedoman yang ada. 
        Sinode membahas jumlah imam yang sangat terbatas “di sejumlah wilayah 
yang dulu mendapat evangelisasi pertama” dan “di banyak negara yang sudah lama 
terdapat tradisi Kristen.” Sejumlah uskup dari Asia meminta agar 
mempertimbangkan penahbisan “pria-pria yang dewasa kepribadiannya,” namun 
Sinode tidak setuju. Sebagai alternatif, Paus Benediktus mengesahkan himbauan 
Sinode agar “penyebaran klerus lebih merata,” dan adanya berbagai prakarsa 
pastoral untuk memperoleh lebih banyak panggilan religius. 
        Dalam bab ketiga dari teks itu, yang juga mencerminkan Sinode itu, paus 
menekankan keterkaitan antara Ekaristi dan kehidupan sehari-hari. Sinode 
menerima usul-usul para uskup dari Asia dan benua lain yang menekankan dimensi 
sosial Ekaristi, dan demikian juga paus. "Hubungan antara misteri Ekaristi dan 
komitmen sosial harus dibuat eksplisit,” kata paus. 
        Mengulang lagi penekanan Sinode bahwa “pengorbanan Kristus merupakan 
sebuah misteri pembebasan yang terus dan pasti menantang kita,” paus mendesak 
segenap kaum beriman “untuk menjadi pendukung keadilan dan perdamaian,” dan 
mendorong  mereka “untuk secara bertanggung jawab melindungi ciptaan." 
        Paus mengatakan, “santapan kebenaran (Ekaristi) menuntut bahwa kita 
mengutuk situasi yang tidak manusiawi yang membuat orang lapar sampai mati 
sebagai akibat ketidakadilan dan eksploitasi. Ekaristi memberi kita keberanian 
dan kekuatan baru untuk berkarya tanpa lelah dalam melayani peradaban cinta." 
Paus juga menyatakan “solidaritas seluruh Gereja dengan mereka yang kebebasan 
beribadahnya disangkal," dan menutup dengan mengesahkan usul Sinode bahwa 
keuskupan-keuskupan dan komunitas-komunitas Kristen “mengajar dan mempromosikan 
ajaran sosial Gereja." ***

----------------------------------------------------------------------

INDONESIA     (IJ02067.529b)   14 Maret 2007   48 baris   (562 kata)
KAUM AWAM DIMINTA LEBIH BERPARTISIPASI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL DAN POLITIK 
        KETAPANG, Kalimantan Barat (UCAN) -- Uskup Ketapang Mgr Blasius 
Pujaraharja meminta umat awam Katolik di Propinsi Kalimantan Barat untuk 
semakin aktif dalam berbagai isu sosial dan politik setempat. 
        “Kita mengalami banyak bencana. Manusia memporakporandakan alam, dan 
kuasa kejahatan ada di mana-mana,” kata Uskup Pujaraharja mengingatkan. 
“Sebagai awam Katolik,” tegasnya, “Saudara semua dipanggil untuk melakukan 
perbaikan.”
        Prelatus itu berbicara dengan 40 anggota Komisi Kerasulan Awam 
Keuskupan Ketapang serta wakil-wakil dari Keuskupan Agung Pontianak dan 
Keuskupan Sintang pada pertemuan regional komisi yang digelar 1-4 Maret di 
Ketapang dengan tema “Meningkatkan Peranserta Kaum Awam Katolik Dalam Kehidupan 
Sosial-Politik dan Kemasyarakatan.”
        “Injil tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak melibatkan diri kita 
di tengah masyarakat,” tegas uskup dalam homili pada Misa Kudus yang membuka 
pertemuan regional tersebut. “Awam Katolik harus masuk ke berbagai bidang 
kehidupan dan memberikan terang di sana,” tegas Uskup Pujaraharja.
        Uskup Pujaraharja ingin agar umat awam Katolik semakin terlibat dalam 
kehidupan politik dengan mencalonkan diri menjadi pejabat, bekerja di tempat 
pemungutan suara dan dalam kampanye, mendukung pemilihan dan menyebarkan 
informasi tentang para kandidat, dan memberikan suara dalam pemilihan. 
        A.  Margana  Wiratma  dan  Pastor  Yohanes Rasul Edy Purwanto, 
masing-masing wakil ketua dan sekretaris  eksekutif  Komisi  Kerasulan  Awam  
Konferensi  Waligereja  Indonesia  adalah  pembicara  utama pada pertemuan 
regional tersebut. 
        Wiratma menceritakan bahwa pada tahun 1955, seorang awam Katolik dari 
sebuah partai lokal yang sudah mati, Partai Dayak, terpilih menjadi gubernur. 
Pria awam itu, Johanes Chrisostomus Oevang Oeray, adalah satu-satunya awam 
Katolik dari komunitas Dayak yang menjadi gubernur propinsi itu. 
        Yang terakhir, Anselmus Robertus Mecer, juga orang Dayak, menjadi 
anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 1999.
        Menurut data Gereja lokal, Propinsi Kalimantan Barat memiliki 3,7 juta 
penduduk, 30 persen di antaranya Katolik dan 25 persen Protestan. Orang Suku 
Dayak terdiri atas 41 persen dari jumlah penduduk, dan 60 persen di antaranya 
beragama Katolik, 35 persen Protestan, sisanya menganut aliran kepercayaan 
tradisional.
        Untuk memperbaiki kehidupan sosial, Uskup Pujaraharja menyebut Sidang 
Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005 yang meminta semua umat Katolik, 
mulai dari Komunitas Basis Gerejani, untuk menciptakan sebuah "habitus baru" 
untuk membarui bangsa.
        Habitus baru yang dimaksud, menurut SAGKI, adalah sebuah kelompok 
“gugus” berdasarkan kebaikan, cinta, dan keadilan yang digunakan oleh individu 
dan kelompok untuk bertindak, melakukan pendekatan, melihat, merasa, berpikir, 
memahami, dan berelasi dengan individu-individu atau kelompok-kelompok lain. 
Habitus baru ini, kata para uskup, akan menjadi landasan keadaban publik baru.
        Namun, Pastor Purwanto mengingatkan peserta bahwa umat awam Katolik 
hendaknya tidak hanya terlibat dalam partai-partai politik, tapi “sungguh 
menjadi rasul di tengah masyarakat dan menyadari tugas panggilan serta punya 
ketrampilan dan keberanian,” kata imam diosesan itu.
        Sementara itu, Stefanus Sempani, seorang peserta dari Paroki St. Petrus 
 Rasul di Nanga Tayap, mengamati bahwa umat awam Katolik di daerahnya mengalami 
kesulitan mendapatkan informasi tentang kehidupan sosial dan politik di tingkat 
nasional dan lokal.
        “Kami sangat sulit mendapat bahan, jadi kami tidak bisa menjelaskan 
kepada umat awam lain di tingkat kampung tentang apa yang harus kita lakukan,” 
kata pria awam berusia 40 tahun itu.
        Norbeta Ilin, dari Paroki St. Gemma Galgani di Ketapang, mengamati 
bahwa banyak umat awam Katolik di daerahnya juga kekurangan informasi. 
        Menjelaskan bahwa propinsi itu akan mengadakan pemilihan langsung 
gubernur dan wakil gubernur pada  bulan November, wanita awam itu mengatakan: 
“Saya harap jangan sampai pemilihan tersebut membawa  konflik  di tengah  
masyarakat.”  Ia  menyinggung  kemungkinan  pertikaian  antara  para pendukung  
dari  para  kandidat.
        Pada pertemuan regional itu, peserta juga menyarankan agar anggota 
dewan legislatif setempat membuat peraturan yang tidak menyakiti 
kelompok-kelompok etnis dan agama. ***

-----------------------------------------------------------------------

INDONESIA   (IS02092.529b)    15 Maret 2007    58 baris    (701 kata)
DUTA BESAR VATIKAN DORONG UMAT KATOLIK WARTAKAN INJIL DENGAN KETELADANAN
        ATAMBUA, NTT (UCAN) -- Duta Besar Vatikan untuk Indonesia meminta para 
imam, frater, katekis, dan seluruh umat Katolik di Timor Barat untuk mewartakan 
Injil melalui kesaksian hidup sehari-hari. 
        Uskup Agung Leopoldo Girelli mengunjungi Keuskupan Atambua pada 5-6 
Maret setelah mengakhiri kunjungan pastoral ke Timor Leste, 26 Februari-4 
Maret. Uskup agung yang tinggal di Jakarta itu mengadakan kunjungan pertama ke 
wilayah itu sejak ia menjadi Duta Vatikan untuk Indonesia dan Timor Leste tahun 
2006. Ia mengunjung Keuskupan Agung Kupang, juga di Timor Barat, pada 7-8 Maret.
        Pada hari pertama sekembalinya ke Indonesia, ia bertemu 60 frater dan 
para pembina di Seminari Tinggi Lo'o Damian di Lalian. Para frater itu, yang 
telah menyelesaikan pembinaan setingkat seminari menengah, tengah mengikuti 
Tahun Orientasi Rohani (program persiapan satu tahun untuk masuk seminari 
tinggi). 
        Duta   Vatikan   mengatakan  kepada  mereka  bahwa  seminari  adalah  
tempat  yang  tepat  untuk pembinaan. “Ini  adalah  tempat  yang  tepat  untuk  
Anda  membenahi  dan  memberdayakan  diri.  Di  sinilah Anda mempunyai 
kesempatan untuk terus menerus membentuk kepribadian Anda selaku calon imam. 
Para frater kelak menjadi para imam yang baik, beriman dan saleh dan hidup 
sederhana serta memiliki semangat pengabdian yang tinggi,” katanya.
        “Kita harus menyatu dengan Yesus Kristus dalam perayaan Ekaristi yang 
kita rayakan setiap hari,” katanya. Ia juga mengingatkan para frater dan para 
imam tentang sentralitas Ekaristi dalam kehidupan para imam.
        Setiap imam, katanya, harus secara serius mempersiapkan diri untuk 
merayakan Misa bersama umat Katolik. “Anda harus mempersiapkan kotbah dengan 
baik sehingga pewartaannya sungguh ditangkap dan dihayati umat,” sarannya. 
Lebih dari itu, lanjutnya, “setiap imam hendaknya mewartakan Injil dengan 
kesaksian hidup sehari-hari.”
        Pada  hari  yang  sama,  Uskup  Agung  Girelli  mengunjungi  sebuah  
biara  Serikat  Sabda  Allah  di  Nenuk,  dekat  seminari  itu.  Duta  Vatikan  
disambut  oleh  Pastor  Feliks  Kosat  SVD,  superior  SVD  Provinsi Timor.  
Duta  Vatikan  memuji  para  misionaris  SVD  yang  telah  menjadi  “suluh”  
bagi  masyarakat  di  Timor Barat  dan  Timor  Leste.  
        “Hidup dan karya imam hendaknya menjadi panutan masyarakat,” katanya, 
seraya menekankan bahwa semua imam hendaknya hidup sederhana dan saleh. Para 
imam Serikat Sabda Allah memulai karya misi di Timor dan Pulau Flores tahun 
1913.
        Di Katedral St. Maria Imakulata di Atambua, Duta Vatikan mengungkapkan 
kekagumannya atas perkembangan Gereja Katolik di Timor, khususnya di Keuskupan 
Atambua. “Saya bangga dan kagum menyaksikan umat Katolik yang terus bertumbuh 
dan berkembang di Pulau Timor,” katanya.
        Duta Vatikan meminta umat Katolik, khususnya kaum muda, untuk terus 
menerus memperdalam iman mereka dan menjadi saksi bagi Yesus Kristus dan 
Injil-Nya di tengah masyarakat.
        Umat Katolik terdiri atas lebih dari 90 persen dari 450.000 penduduk di 
wilayah keuskupan yang mencakup Kabupaten Belu dan Kabupaten Timor Tengah Utara 
di sepanjang perbatasan dengan Timor Leste.
        Pada 6 Maret, Uskup Agung Girelli mengunjungi Seminari Menengah St. 
Maria Immaculata di Lalian, tempat ia mempersembahkan Misa yang dihadiri oleh 
para seminaris dan pengajar.
        “Mutu pendidikan calon imam harus diperhatikan,” katanya dalam homili. 
“Gereja membutuhkan imam yang baik, yang kokoh imannya, yang saleh hidupnya, 
yang rela berkorban demi orang banyak dan memiliki pengetahuan yang luas. 
Gereja membutuhkan saksi-saksi Kristus yang setia mewartakan ajaran-Nya lewat 
perilaku hidup kesehariannya.”
        Dalam sambutannya, Pastor Rosindus Tae, rektor seminari menengah, 
mengatakan bahwa ia dan para seminaris sangat bersyukur “karena tak disangka 
Duta Vatikan menginjakkan kakinya di kampus seminari ini sejak seminari ini 
didirikan tahun 1950.”
        Di  Kupang,  Uskup  Agung  Girelli  mengunjungi  Sekolah  Tinggi  
Pastoral  Keuskupan  Agung  Kupang pada 7 Maret. Uskup Agung Kupang Mgr Petrus 
Turang dan Pastor Kanisius Pen, rektor sekolah itu, menyambut  wakil  paus  
tersebut. 
        Duta Vatikan mengatakan kepada sekitar 300 mahasiswa: “Sekolah ini 
penting sebagai tempat persiapan menjadi katekis atau pewarta Sabda Allah. 
Sekolah ini didirikan untuk memperdalam ilmu, iman, melatih diri, sehingga 
semakin mampu dan matang untuk mewartakan kabar sukacita Kristus.”
        Ia meminta para mahasiswa untuk menjaga ajaran agama dan “menjadi orang 
yang memberi kesaksian kepada dunia tentang sukacita Kristus di tengah 
masyarakat.”
        Sekolah pastoral yang didirikan tahun 2001 itu telah menghasilkan 1.275 
katekis, 776 orang di antaranya program sarjana S1 dan 499 program diploma dua.
        Sore harinya, Uskup Agung Girelli memimpin Misa di Seminari Tinggi St. 
Michael di Kupang. Beberapa pejabat pemerintah beragama Katolik turut hadir.
        Mengacu pada bacaan-bacaan Misa, ia mengatakan bahwa para imam “harus 
tekun dalam tiga tugas pokok yaitu sebagai pengajar, pemimpin, dan orang yang 
menyangkal diri, semua seketika.”
        Pada 8 Maret, Duta Vatikan merayakan Misa di Katedral Kristus Raja. ***

----------------------------------------------------------------------

INDONESIA    (IJ02114.530b)    14 Maret 2007     37 baris     (467 kata)
SEKOLAH TEOLOGI PROTESTAN TOLAK TUNTUTAN KAUM MUSLIM AGAR SEKOLAH DITUTUP
        JAKARTA (UCAN) -- Sebuah sekolah teologi milik Protestan di Jakarta 
Timur menolak tuntutan sejumlah kaum Muslim agar sekolah itu ditutup, seraya 
mengatakan bahwa sekolah itu memiliki izin resmi beroperasi.
        Pada 10 Maret pagi, lebih dari 400 kaum Muslim yang mengklaim sebagai 
warga sekitar Sekolah Tinggi Teologia Setia menggelar aksi protes selama dua 
jam di depan sekolah tersebut. Mereka membawa spanduk sepanjang 20 meter yang 
menunjukkan berbagai tuntutan mereka. Sekitar 400 aparat kepolisian menjaga 
sekolah selama aksi protes yang dipimpin oleh Front Pembela Islam itu 
berlangsung.
        Aldi, seorang Muslim setempat yang ditemui UCA News pada 12 Maret, 
mengatakan bahwa warga setempat, yang kebanyakan Muslim, sering mengeluh 
tentang keributan yang dilakukan oleh para mahasiswa baik di dalam maupun di 
luar sekolah itu. Namun mereka “tidak merasa terganggu dengan kegiatan ibadah 
yang diadakan di kampus itu,” katanya mengakui.
        Menurut   Aldi,   warga   setempat  telah  menolak  kehadiran  sekolah  
itu  tiga  tahun  lalu,  tapi “baru sekarang  mereka  secara  terbuka  
melakukan  aksi  protes,  setelah  melihat  sebuah  asrama  baru  mulai 
dibangun sekitar 400 meter dari sekolah itu.” Lelaki berusia 49 tahun itu 
mengatakan, “Kami ingin sekolah itu dipindahkan  ke  tempat  lain.”
        Sekolah yang memiliki dua lantai dan berbentuk huruf U itu dibangun 
tahun 1990 di atas lahan seluas 1,5 hektare. Sekolah itu kini memiliki sekitar 
1.600 mahasiswa dari seluruh tanah air dan 80 dosen.
        Pendeta Juwanto, pembantu rektor, mengatakan kepada UCA News 12 Maret 
bahwa tuntutan kaum Muslim itu tidak mendasar. “Kampus ini sudah berdiri 17 
tahun lebih di tempat ini. Kami juga telah mendapat izin untuk mendirikan 
kampus ini. Biar bagaimanapun, kami tidak akan memenuhi tuntutan mereka,” 
tegasnya. Ia menambahkan, sekolah itu telah mendapatkan izin dari Dirjen Bimas 
Protestan, bagian dari Departemen Agama.
        Sekolah itu dibangun di sebuah lingkungan di mana warga kelas menengah 
ke bawah tinggal, katanya, karena “kami ingin mendidik para mahasiswa untuk 
hidup sederhana.”
        Berbeda dengan pendapat Aidi, Pendeta Juwanto mengklaim bahwa para 
mahasiswa dan dosen memiliki hubungan yang baik dengan warga setempat. “Kami 
tidak pernah memiliki persoalan,” katanya. “Saya yakin permintaan pembubaran 
sekolah ini bukan murni berasal dari warga sekitar.”
        Sekolah itu telah melaporkan kasus tersebut kepada walikota dan juga 
akan mengadukan kasus tersebut kepada Dewan Perwakilan Rakyat, katanya.
        Yohanes, seorang mahasiswa, sependapat dengan Pendeta Juwanto. Ia dan 
teman-temannya memiliki hubungan yang baik dengan warga setempat, katanya 
kepada UCA News. “Kami sangat menghargai mereka. Kami datang dari daerah hanya 
untuk belajar.”
        Yohanes berasal dari Nias, sebuah pulau di Indonesia bagian barat yang 
penduduknya mayoritas beragama Protestan. Ia menjelaskan bahwa kehadiran 
sekolah itu memungkinkan warga setempat untuk membuka warung nasi, tempat para 
mahasiswa biasa makan siang.
        Seorang  wanita  Muslim  berusia  38  tahun  yang  membuka  sebuah  
warung  nasi  memberi  komentar senada.  “Saya  tidak  punya  masalah  dengan  
sekolah  ini.  Justru  sekolah  ini  membantu  menghidupi keluarga  saya.  Saya 
 kira  tidak  ada  warga  di  sini  yang  masuk  agama  Kristen.  Soal  iman  
itu  urusan pribadi,”  katanya  kepada  UCA  News. ***

----------------------------------------------------------------------

INDONESIA     (IJ02122.529b)   16 Maret 2007     56 baris     (683 kata)
IMAM KAPUSIN SETEMPAT DIANGKAT MENJADI USKUP UNTUK KEUSKUPAN SIBOLGA
        JAKARTA (UCAN) -- Paus Benediktus XVI telah mengangkat Pastor Ludovikus 
Simanullang OFMCap, Provisial Kapusin Sibolga, sebagai Uskup Sibolga. 
        Uskup (terpilih) Simanullang, 51, berbicara dengan UCA News pada 15 
Maret melalui telepon dari Sibolga, mengatakan ia menerima berita 
pengangkatannya itu dari Uskup Agung Leopoldo Girelli, Duta Besar Vatikan untuk 
Indonesia pada 11 Maret di Jakarta.
        Radio Vatikan mengumumkan pengangkatan itu pada 14 Maret. “Pengumuman 
pengangkatan itu telah didengar oleh para imam dan sejumlah umat yang disiarkan 
melalui Radio Vatikan,” kata Uskup (terpilih) itu. “Saya sebenarnya merasa 
kurang mampu dan takut ketika mendengar berita penunjukan Vatikan untuk 
menjalankan tugas itu. Namun tugas itu adalah pilihan Roh Kudus maka saya 
terima dengan rela hati karena saya sadar bahwa Roh Kudus akan membimbing 
saya,” lanjutnya.
        Ditanya tentang rencana untuk keuskupan itu, katanya, ia belum punya 
rencana, namun “hal pertama yang saya lakukan adalah mengunjungi umat saya 
untuk memberikan dukungan moril kepada mereka yang menghadapi masalah gempa 
bumi.”
        Pada  28  Maret  2005,  gempa  di  bawah  laut  di  teluk  bagian  
barat  Sumatra,  mengakibatkan  kerusakan hebat di Nias dan lebih dari 500 
orang tewas. Gempa itu, yang berkekuatan 8,7 skala Richter, terjadi tiga bulan 
kemudian,  setelah  gempa  berkekuatan  9,0  skala  Richter  menghantam  
sepanjang  pesisir  barat  laut Sumatra pada 26 Desember 2004, menimbulkan 
tsunami yang menewaskan lebih dari 230.000 orang di sekitar wilayah  Samudera  
India.  Sekitar  130  dari  mereka  yang  tewas  berada  di  Propinsi  Sumatra  
Utara,  yang termasuk  wilayah  Keuskupan  Sibolga.
        Pastor Barnabas Winkler OFMCap, Administrator Keuskupan Sibolga, 
berbicara dengan UCA News pada 16 Maret melalui telepon dari Sibolga, 
mengungkapkan juga akibat bencana itu. Ia mengatakan rehabilitasi gereja yang 
rusak dan fasilitas gereja lainnya hendaknya mendapat prioritas utama. 
        Imam itu mengatakan ia dan semua umat Katolik dari keuskupan itu 
menyambut baik pengangkatan uskup baru itu. “Kami senang karena kami sudah 
menunggu begitu lama. Pastor (Uskup terpilih Simanullang) ini sederhana dan 
rendah hati dan juga ditambah pengalamannya sebagai Provinsial Sibolga,” kata 
Pastor Winkler.
        Ia  mengungkapkan  harapannya  bahwa  uskup  baru  akan  memberikan  
pelayanan  pastoral  kepada  umat  Katolik  termasuk Sakramen Krisma. Ia 
mencontohkan banyak program pastoral yang belum dijalankannya karena ia kurang 
sehat dan kekurangan tenaga imam. “Saya berharap uskup baru bisa minta tenaga  
imam  dari  keuskupan  lain  karena  tenaga  imam  yang  ada  masih  sangat  
kurang  sedangkan  umat terus  bertambah  dan  perlu juga pemekaran paroki 
karena ada paroki-paroki yang wilayahnya terlalu luas,” kata administrator 
keuskupan itu.
        Mantan Uskup Sibolga, sekarang Keuskupan Agung Koajutor Medan Mgr 
Anicetus Bongsu Sinaga OFMCap, dipindahkan ke keuskupan agung tetangganya tiga 
tahun lalu.
        Menurut Uskup (terpilih) Simanullang, tantangan utama yang dihadapinya 
dan tenaga pastoral Gereja adalah pengakaran  iman umat, karena Sibolga adalah 
sebuah Gereja yang relatif masih muda. Sibolga menjadi prefektur apostolik pada 
12 November 1959, dan diresmikan menjadi keuskupan tahun 1980. Uskup Agung 
Sinaga adalah uskup pertamanya.
        “Kalau iman umat sudah mengakar maka segala kegiatan Gereja akan 
berjalan baik,” kata uskup (terpilih) itu. Ia juga mengatakan ia berharap semua 
imam, religius, tenaga Gereja dan awam Katolik di keuskupan itu bekerja sama 
yang erat untuk membangun keuskupan itu.
        Pastor  Mikael To, kepala Dekenat Nias, mengatakan kepada UCA News pada 
16 Maret, dari Gunungsitoli, ia dan umat Katolik di dekenatnya, menyambut baik 
pengangkatan uskup baru itu. Ia berharap uskup baru akan memprioritaskan pada 
kunjungan pastoral ke seluruh paroki, secara khusus paroki-paroki yang rusak 
akibat gempa  bumi.
        Gunungsitoli terletak di Nias, sebuah pulau di sebelah barat Pulau 
Sumatra. Pulau itu berada di wilayah Keuskupan Sibolga.
        Uskup (terpilih) Simanullang lahir di Sogar, sebuah desa di Keuskupan 
Sibolga, 23 April 1955. Ia bergabung dengan Kapusin pada 12 Januari 1976, dan 
ditahbiskan menjadi imam 10 Juli 1983.
        Ia belajar Spiritualitas Fransiskan dan mendapat gelar Sarjana S3 
(doktor) dari Universitas Kepausan Antonianum yang berpusat di Roma tahun 1993. 
Setelah kembali ke Indonesia, ia melayani sebagai pemimpin postulan para frater 
Kapusin dari tahun 1994 hingga 1997 di Pematangsiantar, Sumatra Utara. Dari 
tahun 1997 hingga 2006, ia melayani sebagai Provinsial Kapusin Provinsi Sibolga 
selama dua periode, dan tahun 2006 diangkat kembali selama tiga tahun.
        Data Buku Petunjuk Gereja Katolik 2005, Keuskupan Sibolga memiliki 
197.383 umat Katolik, atau 8,6 persen total penduduk di wilayah yang mayoritas 
Muslim itu. Keuskupan itu memiliki 14 paroki, 12 imam diosesan, 44 imam 
religius, dan 184 biarawati. ***

-----------------------------------------------------------------------

Jika anda ingin mengetahui berita-berita lain tentang karya dan pelayanan 
Gereja di Asia termasuk Indonesia dan Vatikan, silakan kunjungi UCAN website 
kami di: www.ucanews.com atau anda juga dapat mengakses berita yang sama di 
website KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) di: www.mirifica.org 

Usul dan dan saran anda akan media pelayanan ini kami tunggu di: [EMAIL 
PROTECTED]

-----------------------------------------------------------------------


Kirim email ke