Berita dari: Kantor Berita Katolik Asia Union of Catholic Asian News (UCAN)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ASIA - WAKIL-WAKIL AGAMA, LSM, PEJABAT PEMERINTAH BAHAS ISU MIGRAN DI
ASIA
TAIPEI (UCAN) -- Migrasi bisa meningkatkan "sebuah dialog antara
kebudayaan-kebudayaan yang berbeda" dan turut menciptakan perdamaian dunia,
kata seorang pejabat Vatikan pada sebuah konferensi regional tentang pekerja
migran.
"Pertukaran antarbudaya dan antaragama turut menciptakan
perdamaian karena mereka memungkinkan komunikasi antara orang-orang di
level-level yang sangat mendasar," kata Renato Kardinal Raffaele Martino dalam
sambutannya pada konferensi 16-19 Maret tentang "Gereja Katolik di Asia
memperhatikan kaum migran di Taiwan."
Sekitar 100 pekerja Gereja dari Taiwan dan negara-negara Asia
lainnya, wakil-wakil pemerintah setempat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan
anggota berbagai agama berkumpul untuk membahas isu-isu yang berkaitan dengan
pekerja migran dari perspektif negara penerima dan negara pengirim. Komisi
untuk Pastoral Pengungsi dan Orang Dalam Perjalanan di Taiwan mengadakan
konferensi tersebut.
Kardinal Martino adalah ketua Dewan Kepausan untuk Pastoral
Pengungsi dan Orang Dalam Perjalanan dan Dewan Kepausan untuk Keadilan dan
Perdamaian.
Menyinggung instruksi Gereja 2004 Erga migrantes caritas
Christi (kasih Kristus kepada kaum migran), kardinal mengatakan bahwa
membedakan antara bantuan jangka pendek dan sambutan dalam arti kata yang
sesungguhnya, yang bertujuan untuk mengintegrasikan kaum migran ke dalam
komunitas lokal, itu "bermanfaat dan tepat."
Ia mengatakan, pola-pola migrasi dewasa ini membutuhkan sebuah
"visi ekumenis" dan "dialog antaragama" dalam pelayanan pastoral, karena ada
peningkatan jumlah kaum migran dari agama-agama lain di negara-negara Katolik
dan sebaliknya.
Ia juga menjelaskan perlunya mengatasi akar penyebab migrasi,
termasuk "nasionalisme yang terlalu besar ... bahkan sampai (pada batas)
kebencian dan penyingkiran yang sistematis atau keras terhadap kaum minoritas
etnis atau agama dari masyarakat."
Ketua komisi, Uskup Tainan (Taiwan bagian selatan) Mgr Bosco Lin
Chi-nan, membuka konferensi itu dengan menyampaikan harapan bahwa pertemuan
itu, yang pertama di Asia, bisa mengembangkan sebuah rencana aksi "untuk
orang-orang yang kita cintai dan sayangi," serta "kerjasama yang lebih erat dan
koordinasi yang lebih baik" di antara Gereja-Gereja di Asia.
Dalam sambutan pembukaan, Monsignor Ambrose Madtha, charge
d'affaires Nunsiatur Apostolik di Cina yang berbasis di Taipei, mengutip Injil
untuk menunjukkan bahwa masyarakat sudah berpindah-pindah selama beberapa abad,
dan bahwa Gereja memahami "misinya untuk memperhatikan orang-orang ini." Ia
mendorong peserta untuk memperhatikan kebutuhan spiritual dan material dari
kaum migran, tanpa mempedulikan agama mereka.
Lorna Kung Yu-chien dari Jaringan Migrasi Internasional
Scalabrini di Taiwan menyampaikan sambutan singkat kepada peserta tentang trend
migrasi di Asia, khususnya dari Filipina, Indonesia, Mongolia, Taiwan,
Thailand, dan Vietnam.
Ia menjelaskan bahwa Filipina dan Indonesia adalah dua negara
pengirim pekerja migran terbesar di Asia, menyusul pendatang baru Mongolia.
Hong Kong, Jepang, Singapura, dan Taiwan adalah negara paling banyak dituju di
Asia, sementara Thailand dan Malaysia menerima dan mengirim pekerja migran.
Kung juga mengidentifikasi beberapa perbedaan migrasi orang-orang
Asia, seperti dominasi tenaga kerja perempuan dan tenaga kerja sementara,
keterlibatan sektor publik dan swasta dalam industri tenaga kerja migran, dan
ketergantungan yang sangat kuat terhadap negara-negara pengirim tentang
pengiriman uang dari para pekerja migran mereka.
Konferensi itu juga mendengar presentasi dari sejumlah pekerja
Gereja lokal tentang pengalaman mereka dalam menangani isu-isu kaum migran,
sebuah pengenalan sistem tenaga kerja di Taiwan, dan pengalaman sejumlah LSM
yang dikelola Gereja dalam melayani kaum migran dari berbagai kelompok etnis.
Dua pejabat pemerintah Taiwan menjelaskan kebijakan teritori
untuk pekerja migran dan para istri yang berasal dari luar negeri.
Para pemimpin Buddha dan Muslim juga berbicara tentang karya
mereka dalam melayani kaum migran. Menurut Uskup Lin, yang baru-baru ini juga
diangkat sebagai ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, para pemimpin
ini diundang untuk meningkatkan kerjasama antaragama.
"Menjalin kerjasama semacam itu tidak mudah jika kita bicara
dengan setiap agama secara terpisah," jelasnya. "Pertemuan itu memungkinkan
mereka untuk mempelajari situasi yang sesungguhnya dan melihat apa yang sedang
dikerjakan oleh agama-agama lain. Hasilnya, mereka akan semakin bersedia untuk
bergabung," katanya kepada UCA News, 17 Maret.
Keesokan harinya, peserta mengunjungi komunitas kaum migran di
berbagai keuskupan.
Para pemimpin Gereja Asia lainnya yang terlibat dalam pelayanan
pekerja migran di negara mereka masing-masing juga menghadiri pertemuan itu:
Uskup Agung Tharae-Nongseng (Thailand) Mgr Louis Chamniern Santisukniran, Uskup
Koajutor Can Tho (Vietnam) Mgr Stephanus Tri Buu Thien, Uskup Amboina
(Indonesia) Mgr Petrus Canisius Mandagi, Uskup Maasim (Filipina) Mgr Precioso
Cantillas, dan Uskup Isabela (Filipina) Mgr Martin Jumoad.
-END-
AS02124.530b 20 Maret 2007 76 baris (663 kata)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ingin mengetahui berita-berita Gereja tentang karya dan pelayanannya di Asia
termasuk Vatikan, silakan kunjungi UCAN website kami di: www.ucanews.com.
Anda juga dapat mengakses berita-berita UCAN pada website KWI di:
www.mirifica.org
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SELAMAT MEMBACA.
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos?
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.