Leo Rijadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Setuju, Bung Robert!

Saya setuju dengan misa gunung, padang, pantai, danau, dll.
Ziarah juga sudah lazim kita dengar.

Tapi apakah koleksi tempat misa di atas ditambah dengan
mall? ha ha ha... tidak salah toh????menambahkan mall sebagai alternatif tempat 
misa.Ini suatu hal yang perlu dicermati bahwa
ada sebagian kaum muda (tua juga) yang merasa LEBIH NYAMAN
berada di mall daripada gunung, padang, pantai, danau.
Berarti kerinduan mereka yang terdalam adalah.... (jawab
sendiri). Koq bisa gitu ya...?nyaman di mall dr pada di gunung wajar2  saja 
saya pikir kenapa harus jadi suatu pertanyaan yg sepertinya aneh????

Leo.

--- "Prihantoko, Robertus" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Mau sedikit urun rembug.
> 
> Saya kebetulan berdomisili di Cijantung dan masuk Paroki Cijantung.
> Bicara tentang Liturgi bagi Mudika baik saat ini maupun jaman saya
> Mudika dulu pada dasarnya sama saja. Mudika selalu tidak ingin berada
> pada situasi yang sedikit sacral. Jika misapun kalau ada misa yang
> membuat daya ketertarikan lumayan menyentuh pasti antusias juga.
> Masalahnya adalah tidak semua Gereja memberikan ruang yang pas bagi
> Mudika untuk mencoba mengembangkan iman mereka dengan versi dan gaya
> yang khas layaknya Mudika. Lebih-lebih, ketika Sacrosanctum Consillium 
> begitu ketat mengatur tata cara liturgy yang Latin minded, yang nota
> bene, ngga semua orang mampu melaksanakannya, membuat ruang bagi mudika
> semakin sempit. Padahal bagi umat beriman, termasuk Mudika, Ekaristi
> adalah pokok iman kita. Lalu dimana Gereja bisa membuat ruang bagi
> Mudika untuk misa dengan gaya mereka.
> 
> 
> 
> Kita tidak bisa menuntut mudika untuk ikut berkarya bagi Gereja sesuai
> dengan aturan main yang telah di-PAKEM-kan, tetapi dengan memberikan
> ruang itu tadi, boleh percaya boleh tidak ini sudah berarti membekali
> mereka.
> 
> 
> 
> Lagi-lagi ini tergantung kepada Romonya, jika Romo moderatornya cukup
> terbuka dalam memberi wawasan baru sekaligus memberi ruang bagi mudika
> maka kegiatan mudika yang semula boleh dibilang sedikit menyalahi pakem
> lama kelamaan bisa diarahkan kepada hal-hal yang bersifat sacral. Yang
> terpenting adalah mudika sudah enjoy lebih dahulu.
> 
> 
> 
> Contoh yang bisa diambil berdasarkan pengalaman saya beberapa puluh
> tahun yang lalu misalnya :
> 
> - Misa gunung (misanya di gunung)
> 
> - Misa padang (misanya di lapangan terbuka yang sejuk –
> misalnya di Cibodas)
> 
> - Misa pantai (misanya di pinggir pantai)
> 
> - Ziarek (kalau ini sangat umum dilaksanakan)
> 
> - Ziarah hening (dilakukan tengah malam berjalan dari satu stasi
> ke stasi lain tanpa bicara satu katapun dan dilaksanakan secara
> bersama-sama – kalau jaman dulu mungkin ngga masalah, tapi ngga tahu
> jika sekarang yach)
> 
> 
> 
> Demikian urun rembug dari saya. Semoga bisa membantu membangkitkan
> semangat orang muda.
> 
> 
> 
> 
> 
> Regards,
> 
> R.Prihantoko
> 
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of edi prabowo
> Sent: Monday, May 07, 2007 7:57 PM
> To: [email protected]
> Subject: Balasan: Re: [StThomas_Kelapa2] Liturgi dan Ekonomi
> 
> 
> 
> boleh dong nimbrung, sekedar menyampaikan pendapat, sepertinya ada 2
> topik nih yang lagi di bahas kebetulan saya wakil ketua Lektor St.
> Thomas dan masih muda kata rekan ono eh maksud saya kris. menyikapi
> bagaimana atau dimana kita beribadah saya rasa sudah baku ya! maksud
> saya untuk misa hari sabtu/ minggu itu pasti digereja terkecuali diluar
> tema hari minggu atau yang disamakan dengan hari minggu sesuai dengan
> penanggalan liturgi gereja. diluar tema itu kita bisa saja lakukan
> dimana kita inginkan atau kita kreasikan sesuai yang kita inginkan
> tetapi kita harus konsultasikan kepada Romo yang memimpin misa pada saat
> itu agar kita tidak merusak hal-hal yang baku, yang tidak bisa di rubah
> susunannya dalam perayaan liturgi. kalau soal kaum muda ini sungguh
> kompleks bagi saya karena didalam masa pencarian jatidirinya, mereka
> dihadapkan pada banyak tantangan dimasa sekarang ini mungkin, saya tidak
> perlu menjelaskan nya karena saya yakin anda semua pasti mengerti dengan
> yang terjadi pada jaman sekarang ini. yang pada intinya sekarang adalah
> bagaimana kita yang perduli dengan kaum muda dan kaum muda yang perduli
> pada dirinya mencari Solusi yang terbaik agar ada tempat bagi kaum muda
> untuk mengekspresikan diri nya sesuai dengan minat dan bakatnya serta
> jamannya tetapi tidak meninggalkan jati dirinya sebagai kaum muda
> katolik yang penuh dengan Iman, Pengharapan, dan Kasih.
> Di kelompok lektor sendiri 99 % nya adalah kaum muda, disinilah kami
> kaum muda memaknai arti dari peranan kami sebagai umat gereja yaitu ikut
> ambil bagian dalam karya pelayanan kami di gereja sebagai pembaca firman
> Allah, tidak hanya menyanyi walaupun kebetulan saya juga aktif di paduan
> suara mudika paroki "Favorabilis" ataupun parkir walaupun tampak remeh
> tetapi bagi saya peran itu pun cukup penting, anda mungkin akan
> bermasalah dengan parkir jika tidak ada yang mengaturnya bukan? oleh
> karena itu kita jangan pandang apa peranan kita tetapi apakah kita
> bertanggungjawab dengan apapun peran kita sekarang? atau apakah kita
> sudah punya peran yang aktif di gereja sekalipun itu hanya sebagai umat
> katolik yang baik, saya berharap untuk para orang tua jangan pandang
> kami kaum muda dengan sebelah mata, untuk para pastor jangan batasi kami
> tetapi bimbinglah kami, untuk para kaum muda kita harus sadari bahwa
> pengalaman kita itu masih sedikit jadi tidak ada salahnya jika kita mau
> dibimbing dan diarahkan dan juga kita harus menjaga kepercayaan yang
> sudah diberikan oleh orangtua kita dengan berprestasi disegala bidang
> yang kita minati dan jangan lupakan pendidikan formal (sekolah, kuliah
> dsb). 
> semoga shering ini berguna bagi kita semua.
> 
> [EMAIL PROTECTED] wrote:
> 
> 
> Terima kasih sudah memanggil saya dengan sebutan rekan. 
> 
> klo ditanya: apakah org muda yg di posisikan pada sie itu cukup
> mewakili suara org muda? saya kan menjawab hampir 50% kira-kira (karena
> tiap Sie akan berbeda-beda prosentasenya, karena masing2 Sie tersebut
> sangat unik, tergantung kebutuhan gereja,). 
> 
> saya akan ambil kasus di MUDIKA saja : 
> - Untuk kegiatan mudika bisa 100% di pegang keputusannya oleh MUDIKA
> sendiri....pihak DPP dan Romo hanya sebagai pengamat saja (karena
> struktur Mudika sudah lumayan rapi), nah..tugas saya untuk menjembatani
> dan bernegosiasi dengan DPP dan Romo, agar 100% itu bisa terus berjalan.
> 
> jika ada ketidakcocokan jenis kegiatam MUDIKA dengan DPP dan
> ROMO...bisa di debat kok .....dan pihak DPP terbuka dengan debat
> tersebut (karena kebanyakan dari anggota DPP dulunya bekas MUDIKA yang
> aktif berorganisasi). 
> - Dari Tahun 2005 sampai sekarang, Paroki Santo Thomas memberikan pokok
> perhatian yang lebih kepada ORANG MUDA KATOLIK untuk berperan di Gereja,
> maka banyak hal kegiatan gereja di delegasikan ke MUDIKA atau ORANG
> MUDA. 
> - Banyak pekerjaan yang seharusnya bisa di handle oleh ORANG MUDA,
> beberapa tawaran pernah disampaikan kepada saya. misalnya saja WARTA
> PAROKI. selama ini warta paroki dikerjakan oleh sie. komsos dan
> sekretariat DPP. Pihak DPP pernah menawarkan pekerjaan: pembuatan,
> penerbitan, pencetakan warta paroki ini di handle seluruhnya oleh
> mudika. namun saya melihat saat ini MUDIKA belum siap untuk itu
> (terbatas SDM yang punya waktu luang yang banyak). 
> 
> Hasil Pertemuan saya dengan KOMISI KEPEMUDAAN KEUSKUPAN BOGOR juga
> banyak menelorkan keputusan-keputusan yang berpihak kepada ORANG MUDA.
> saking banyak-nya saya nggak hapal (atau memang saya nggak bisa hapalin
> banyak, maklum memori-nya terbatas, belum di upgrade). saai ini saya
> coba negosiasi dengan webmaster-nya keuskupanbogor.or.id untuk dapat
> memuat keputusan2 itu di internet, sehingga semua orang (ROMO+DPP+UMAT)
> bisa mendapat-kan informasi dan berita yang benar dan mungkin bisa
> berguna di paroki masing-masing. doaiin yaa ..supaya lancar .....:) 
> 
> rgsd, 
> kristiyono
> 
> 
> 
> 
> 
> Theresia Yuliwati <[EMAIL PROTECTED]> 
> Sent by: [email protected] 
> 
> 07-05-2007 17:02 
> 
> Please respond to
> [email protected]
> 
> To
> 
> [email protected] 
> 
> cc
> 
> 
> 
> Subject
> 
> Re: [StThomas_Kelapa2] Liturgi dan Ekonomi
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> rekan Kris (sesuai dengan permintaan ), menempatkan orang muda di
> setiap Sie adalah sangat SAH dan HARUS..hihihi, maaf sedikit memaksa. 
> 
> Karena hal ini sangat penting untuk sebuah regenerasi, kapan lagi org
> muda kalo tidak dimulai dr sekarang tuk diikutsertakan dlm gereja?? 
> mjd pertanyaan apakah org muda yg di posisikan pada sie itu cukup
> mewakili suara org muda????? 
> saya sebagai org muda tidak juga lantas ingin me-negasi setiap ritual
> Liturgi yg ada di gereja. ritual tetap harus ada cuma perlu penyesuaian
> toh???? ketika saya menkritik ritual gereja yg membosankan, toh saya
> juga masih merasa membutuhkan ritual2 tsb untuk perkembangan iman saya. 
> apa yg saya sampaikan terkait dgn apa sih yg org muda katolik lakukan
> dewawa 
=== message truncated ===

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

         

 
---------------------------------
Finding fabulous fares is fun.
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel 
bargains.

Kirim email ke