BULETIN UCAN EDISI BAHASA INDONESIA NO. 566B
PERIODE: 26 30 NOVEMBER 2007
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rekan-rekan milis yang dikasihi Kristus
Berikut kembali saya kirimkan berita-berita terbaru dari Kantor Berita
Katolik Asia (UCAN, Union of Catholic Asian News) yang berhasil diliput dalam
minggu lalu dan diturunkan dalam bulletin UCAN edisi Bahasa Indonesia.
Berita-berita ini juga dapat rekan-rekan akses secara gratis melalui UCAN
website kami di www.ucanews.com atau dapat juga melalui website KWI (Konferensi
Waligereja Indonesia) di: www.mirifica.net
Demikian berita-berita UCAN edisi Bahasa Ibndonesia yang dapat saya kirimkan.
Selamat membaca. Berkat dan kasih Kristus menyertai selalu.
Syalom.
Vitalis
---------------
Ket.
(Ingin mengetahui berbagai peristiwa Gereja Asia yang terjadi saat ini dalam
berbagai bahasa di Asia, silakan kunjungi UCAN website kami di www.ucanews.com
lalu klik: UCAN Daily Service - klik tgl berita hari ini atau bisa langsung
klik berita yang muncul di halaman web. Dan untuk mengetahui berita-berita UCAN
dalam bahasa Indonesia silakan klik item: UCAN Language Service klik Indonesia
-- klik tanggal.)
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.BERBAGAI PERISTIWA GEREJA YANG BERHASIL DILIPUT OLEH KANTOR BERITA KATOLIK
ASIA, UCAN UNION OF CATHOLIC ASIAN NEWS == DALAM MINGGU LALU: 26 30
NOVEMBER 2007
================================================================================
I. POKOK-POKOK BERITA PERISTIWA GEREJA YANG TERJADI DI INDONESIA:
===============================================================
1. JAKARTA - PAROKI MENUTUP GEREJANYA SETELAH DIPROTES WARGA SETEMPAT
2. PADANG - PEMERINTAH INGIN UMAT KATOLIK BERPARTISIPASI DALAM FORUM ANTARAGAMA
==========================================================================
II. POKOK-POKOK BERITA BERBAGAI PERISTIWA GEREJA YANG TERJADI DI ASIA:
==================================================================
1. BANGLADESH - BANTUAN CARITAS UNTUK KORBAN ANGIN TARGETKAN ORANG-ORANG YANG
PALING MENDERITA DARI YANG MENDERITA
2. KOREA - KEUSKUPAN AGUNG TEGASKAN KEMBALI KETIDAKSETUJUAN ATAS KUNJUNGAN KE
TEMPAT ZIARAH KONTROVERSIAL MENYUSUL LAPORAN TV
3. TAJIKISTAN - WAKIL-WAKIL PEMERINTAH DAN AGAMA BAHAS RUU AGAMA
4. VATIKAN - PAUS BENEDIKTUS BERI TANGGAPAN ATAS SURAT PARA ULAMA MUSLIM
5. VIETNAM - PARA USKUP MENGGARISBAWAHI TANGGUNG JAWAB GURU DAN SISWA PADA HARI
GURU NASIONAL
================================================================================================================================================================
INDONESIA (IJ03865.566b) 26 November 2007 51 baris (619 kata)
PEMERINTAH INGIN UMAT KATOLIK BERPARTISIPASI DALAM FORUM ANTARAGAMA
PADANG, Sumatra Barat (UCAN) -- Sebuah kantor wilayah Departemen Agama
propinsi mengadakan program orientasi untuk mendorong umat Katolik agar
bergabung dengan forum antaragama yang difasilitasi pemerintah karena hanya
sedikit umat Katolik yang berminat bergabung dengan forum antaragama tersebut.
Sebanyak 35 utusan dari organisasi-organisasi massa Katolik dan delapan
paroki di Propinsi Sumatra Barat menghadiri program yang diadakan 3-4 November
oleh Seksi Bimas Katolik dari Kantor Wilayah Departemen Agama Sumatra Barat di
Padang itu.
Program itu diadakan untuk mempersiapkan umat Katolik agar
berpartisipasi dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat, demikian
Bonifasius Bakti Siregar, kepala kantor itu. Beberapa paroki di Keuskupan
Padang tidak siap mengirimkan utusan untuk pembentukan FKUB di wilayah mereka,
kata Siregar kepada UCA News, seraya menjelaskan perlunya program lagi.
Sebuah peraturan baru pemerintah tentang pembangunan tempat ibadah yang
dikeluarkan 21 Maret 2006 mengimbau pembentukan FKUB yang terdiri atas para
pemimpin semua agama di sebuah wilayah. Pasal 8 dari Peraturan Bersama Menteri
Agama Maftuh Basyuni dan Menteri Dalam Negeri Muhammad Ma'aruf meminta
pemerintah memfasilitasi pembentukan FKUB di tingkat propinsi, kabupaten, dan
kota.
Menurut peraturan tersebut, sebuah komunitas agama minoritas
membutuhkan sedikitnya 90 orang dan persetujuan dari 60 warga setempat dari
agama-agama lain untuk mendapatkan izin pembangunan sebuah tempat ibadah. Lurah
atau kepala desa harus mengesahkan jumlah ini, dan FKUB kabupaten/kota serta
kepala kantor departemen agama harus mengeluarkan rekomendasi tertulis.
Menurut Pasal 21, sebuah rekomendasi FKUB setempat diperlukan untuk
menyelesaikan perselisihan akibat pendirian tempat ibadah jika warga setempat
gagal mencapai musyawarah.
Selain FKUB propinsi di Padang, Sumatra Barat juga memiliki FKUB Kota
Payakumbuh, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat.
Ketika FKUB Kota Solok dibentuk awal bulan ini, tiga umat Katolik
diundang tapi hanya satu yang hadir. Stasi misi di sana dilayani oleh Paroki
St. Barbara di Sawahlunto.
Bernardus Udiyono, satu-satunya anggota FKUB Kota Solok yang beragama
Katolik, mengatakan bahwa keengganan umat Katolik mungkin karena perasaan
trauma. Menurut dia, mereka tidak melihat FKUB sebagai wadah untuk
menyelesaikan isu antaragama. Ia menjelaskan bahwa rencana umat Katolik
setempat untuk membangun sebuah gedung gereja mendapat halangan dan pemerintah
tidak pernah memberi izin.
Stasi misi itu melayani 90 keluarga Katolik. Oleh karena tidak adanya
gedung gereja, umat Protestan dan Katolik secara bergantian menggunakan sebuah
aula milik TNI-AD untuk ibadah Minggu.
Fransiskus Asisi Heru Asmoro, anggota FKUB Kota Payakumbuh, memiliki
pengalaman serupa. Ia adalah satu-satunya orang Katolik yang menghadiri
pembentukan FKUB setempat tahun ini. Pemerintah juga mengundang tiga orang
Katolik.
Umat Katolik awam tidak siap untuk duduk dalam forum itu karena jumlah
mereka yang minoritas dan kurangnya pengetahuan agama mereka, kata umat Paroki
St. Fidelis Sigmaringen itu.
Menurut Siregar, jumlah umat Katolik yang sedikit di setiap kota dan
kabupaten merupakan alasan lain mengapa mereka kurang berminat untuk bergabung
dengan FKUB. Ia menambahkan bahwa sebuah paroki bisa melayani beberapa kota dan
kabupaten. Paroki St. Barbara, misalnya, melayani dua kota dan empat kabupaten.
Menurut statistik 2006, umat Katolik hanya terdiri atas 1 persen dari
4.645.300 penduduk propinsi.
Heribertus Soemardjono, wakil ketua FKUB Sumatra Barat yang dibentuk 14
April, mengatakan bahwa anggota FKUB Sumatra Barat sepakat untuk membuat
keputusan bukan melalui voting tapi selalu melalui dialog. FKUB menekankan
semangat dialog dan kerjasama, tegasnya. FKUB Sumatra Barat memiliki 11
Muslim, tiga orang Katolik, tiga orang Protestan, dua orang Buddha, dan dua
orang Hindu.
Pada program orientasi 3-4 November itu, Pastor Philips Rusihan Sakti,
vikjen Keuskupan Padang, mengatakan, umat Katolik bisa memperlihatkan kehadiran
mereka kepada masyarakat setempat dengan mengikuti FKUB setempat. FKUB,
lanjutnya, juga bisa menjadi wadah ekumene bagi umat Kristen dari berbagai
denominasi. Kita harus mendukung forum ini, karena semangat dialog itu sesuai
dengan semangat Konsili Vatikan Kedua (1962-1965), katanya.
Keuskupan Padang melayani Propinsi Sumatra Barat, Propinsi Jambi, dan
Propinsi Riau.
FKUB tingkat propinsi sudah dibentuk di 33 propinsi dan FKUB lokal
sudah dibentuk di 210 dari 465 kota dan kabupaten di tanah air. ***
===============================================================================
INDONESIA (IJ03896.566b) 27 November 2007 57 baris (658 kata)
PAROKI MENUTUP GEREJANYA SETELAH DIPROTES WARGA SETEMPAT
JAKARTA (UCAN) -- Umat Katolik dari sebuah paroki di Jakarta harus
mencari tempat untuk merayakan Pesta Kristus Raja setelah mereka dipaksa
menutup tempat ibadah mereka dalam sebuah aksi protes.
Pastor Matheus Widyolestari MSC, kepala Paroki Damai Kristus,
mengatakan kepada UCA News 25 November: Kegiatan Misa di gereja ini dihentikan
sementara berdasarkan surat (23 November) Camat Tambora Yanto Satyar, namun
umat tetap menjalankan kegiatan pastoral seperti biasa.
Pesta Kristus Raja jatuh pada 25 November tahun ini. Paroki itu juga
berencana merayakan ulang tahun ke-30 parokinya pada hari itu.
Paroki itu didirikan tahun 1977, namun belum mendapatkan IMB untuk
tempat ibadahnya, Gereja Kristus Damai, yang sesungguhnya hanyalah sebuah aula
serbaguna di samping gedung sekolah berlantai empat.
Gereja, yang berada di Kampung Duri, Jakarta Barat, itu memiliki
3.500 umat yang tersebar di 22 lingkungan. Mereka menggunakan aula itu untuk
merayakan Misa-Misa Minggu dan satu Misa di hari Sabtu setiap minggu.
Gedung sekolah TK, SD, SMP dan SMA itu dikelola oleh Yayasan Pendidikan
Bunda Hati Kudus, milik kongregasi Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC).
Surat Satyar meminta yayasan itu untuk tidak mengijinkan aulanya
digunakan sebagai tempat ibadah karena ini melanggar Surat Gubernur DKI Jakarta
perihal Penyesuaian Peruntukan Tanah dari Hunian menjadi Fasos. Surat itu juga
mengatakan keputusan itu berdasarkan keresahan dan permintaan warga setempat
yang diungkapkan selama protes mereka tanggal 23 November.
Protes satu jam itu dilakukan di depan gedung sekolah dengan melibatkan
75 warga Muslim dari Forum Kerjasama Mesjid-Musolla dan Majelis Talim
Kelurahan Duri Selatan.
Aksi protes itu diakhiri dengan pertemuan antara para pengurus Gereja
dan perwakilan demonstran. Camat Tambora, lurah Duri Selatan, serta Kapolres
Jakarta Barat dan Kapolres Metro Tambora juga hadir.
Suasana sangat menegangkan dan mencekam, kata Pastor Widyolestari.
Mereka meminta kami agar kegiatan peribadatan dihentikan dan ditutup untuk
selamanya. Mereka memaksa kami untuk menerima dan menandatangani pernyataan
sikap mereka dengan ancaman apabila tidak ditandatangani dan ibadat tidak
dihentikan, mereka akan melakukan hukum rimba dan tidak bertanggungjawab bila
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, katanya.
Namun, disaksikan para pejabat pemerintah dan keamanan itu, kami
menolak menandatangani tanda setuju pernyataan sikap mereka atau pun menurunkan
atribut-atribut keagamaan kami. Apabila hendak menghentikan kegiatan
peribadatan kami, kami minta agar secara resmi Walikota Jakarta Barat
memberikan surat penghentian kepada kami. Akhirnya mereka meninggalkan
pastoran, kata imam itu.
Beberapa saat kemudian, kami menerima surat Satyar. Paroki itu kemudian
merayakan Misa-Misa Kristus Raja dan ulang tahun paroki di aula provinsialat
MSC di Kemakmuran, Jakarta Barat, sekitar lebih dari satu kilometer dari
sekolah itu.
Imam itu menceritakan bahwa tanggal 19 November, kelurahan dan polsek
Tambora meminta pengurus parokinya untuk mengklarifikasi isu bahwa paroki itu
akan mendirikan gereja.
Ia mengatakan paroki itu berencana untuk membangun gedung serba guna
termasuk pastoran dan kantor di belakang tempat ibadah itu, dan telah
mengundang Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ untuk upacara
peletakan batu pertama tanggal 25 November.
Setelah menerima penjelasan bahwa paroki itu tidak akan membangun
gereja, pejabat kelurahan mengizinkan paroki untuk melanjutkan pembangunan.
Namun, tanggal 21 November kelurahan dan polsek memberitahukan kepada
pengurus Gereja bahwa warga akan melakukan orasi damai untuk menghentikan
pembangunan terselubung sebuah gereja.
Sejumlah umat paroki yang ditemui UCA News 25 November di sekolah itu
mengatakan mereka tidak mengetahui tentang penutupan itu dan mengungkapkan
kekecewaan mereka.
Johanes Setyanto, 56, mengatakan Misa-Misa tidak menggangu warga
sekitar. "Kalau memang kegiataan ini mengganggu, mengapa dari dulu tidak
diperingatkan? tanyanya.
Stefanus Kusuminarno, 29, menjelaskan bahwa tempat ibadah itu ada sejak
sebelum ia dilahirkan. Mengapa mereka baru protes sekarang?
Melihat hubungan yang baik antara paroki dan warga setempat, ia
bertanya mengapa paroki itu harus menerima hadiah seperti itu pada ulang
tahunnya yang ke-30. Gereja ini terbuka untuk umum dan kadang-kadang
mengadakan bakti sosial serta memberikan bantuan sembako kepada warga sekitar,
lanjutnya.
Khairuddin, 47, seorang Muslim, penjual es kelapa di depan gedung
sekolah, mengatakan kepada UCA News: Hubungan kami dengan sekolah maupun umat
Katolik sangat baik. Apapun masalahnya, kita harus menghormati iman mereka,
ujarnya.
Menurut data dari Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ), lebih dari
1.000 gereja Katolik dan Protestan dirusak dan ditutup sejak rejim Orde Baru.***
================================================================================
BANGLADESH (BA03893.566b) 28 November 2007 59 baris (699 kata)
BANTUAN CARITAS UNTUK KORBAN ANGIN TARGETKAN ORANG-ORANG YANG PALING MENDERITA
DARI YANG MENDERITA
DHAKA (UCAN) -- Selama dua minggu sejak Topan Sidr menyapu Bangladesh
bagian selatan, Gereja memfokuskan upaya bantuan pada orang-orang yang paling
membutuhkan, termasuk orang sakit dan jompo, dan para perempuan tak bersuami
yang tidak mampu membiayai hidup mereka.
Direktur Eksekutif Caritas Bangladesh Benedict Alo D'Rozario melaporkan
bahwa organisasi kesejahteraan sosial dari Gereja Katolik itu telah membantu
sekitar 23.500 keluarga, kebanyakan dari mereka tidak menerima bantuan dari
organisasi-organisasi bantuan lainnya karena mereka tinggal di wilayah-wilayah
yang sulit dijangkau.
Banyak dari daerah pesisir Bangladesh merupakan dataran rendah yang
luas, saluran air, lahan pertanian, lahan gundul, dan hutan bakau dengan
sedikit jalan. Saat D'Rozario menjelaskan kepada UCA News pada 27 November,
Caritas sudah menjalankan sejumlah program dan telah membangun tempat
penampungan di daerah-daerah pedalaman di mana transportasi sulit diakses.
LSM-LSM lain tidak memiliki program di sana dan tempat-tempat itu
terpencil, katanya, seraya menambahkan bahwa staf lapangan Caritas seringkali
harus melakukan perjalanan dengan perahu motor ke daerah-daerah itu.
Ia berharap paket-paket bantuan akan menjangkau 26.500 keluarga lain
yang paling terpengaruh. Keluarga-keluarga ini menjadi korban angin topan
terburuk di negeri itu dalam satu dekade.
Topan Sidr menghantam Bangladesh pada 15 November, yang mengakibatkan
angin kencang dan banjir bandang dan menghancurkan puluhan ribu rumah
berpondasi lemah. Hingga saat ini, 3.243 orang dilaporkan tewas dan 34.000
cedera, demikian laporan Prothom Alo (harian berbahasa lokal) edisi 27
November. Bencana alam itu sangat mempengaruhi lebih dari 7 dari 140 juta orang
di negeri yang mayoritas berpenduduk Muslim itu.
D'Rozario mengatakan kepada UCA News bahwa Caritas telah menargetkan
orang-orang yang paling menderita, khususnya para janda dan keluarga-keluarga
yang dipimpin oleh perempuan, orang cacat, orang sakit dan jompo, dan para
buruh harian.
Paket-paket bantuan awal berisi 10 kilogram beras, dua kilogram kacang
hijau, dan satu kilogram garam untuk setiap keluarga. Untuk menjangkau 26.500
keluarga lainnya, Caritas merencanakan menambah minyak kedelai, terpal untuk
tempat tinggal sementara, tempat tidur, ember, dan peralatan makan.
Para korban yang selamat sangat membutuhkan makanan, air minum, dan
tempat tinggal, demikian laporan media. Harian berbahasa Inggris New Nation
melaporkan 27 November bahwa sejumlah helikopter Angkatan Laut Amerika Serikat
telah mulai mengirimkan bantuan darurat untuk para korban yang selamat dalam
kerjasama dengan operaasi bantuan pemerintah.
Sejumlah helikopter milik USS Kearsarge, sebuah kapal amfibi yang mirip
pesawat penumpang, mengirim makanan kering dan air kemasan botol untuk ribuan
keluarga yang kelaparan dan kelelahan yang tinggal di distrik-distrik yang
paling parah mengalami kehancuran, lapor New Nation.
Caritas sedang mencari dana sebanyak US$9.438.662 untuk bantuan darurat
dan rehabilitasi.
Selain memimpin operasi Caritas dari kantornya di Dhaka, D'Rozario juga
sudah mengunjungi daerah-daerah yang dilanda angin topan dengan menggunakan
perahu motor dan berjalan kaki.
Ia mengatakan bahwa kerusakan dan cerita yang didengarnya sangat
menyentuh hatinya. Banyak keluarga kehilangan rumah, hasil panen, ternak, usaha
atau toko, jala, dan perahu motor, dan kini mereka kekurangan makanan dan air
minum. Air laut yang menyapu daratan telah merusak sumur.
Di sebuah distrik, 14 orang termasuk dua anak terseret air laut sebelum
mereka berhasil tiba di sebuah tempat penampungan yang dibangun Caritas.
"Mereka terlambat pergi ke tempat penampungan itu dan tidak berhasil
menghindari gelombang laut setinggi 25 kaki (7,5 meter), kata D'Rozario kepada
UCA News. "Sehari sebelum saya datang, 12 dari 14 jenazah ditemukan."
Ia juga terkejut ketika melihat tempat tinggal yang pernah dihuni
Pramila Rakhaine, seorang staf proyek Caritas. Ia menunjukkan kepada saya
rumahnya, tapi saya hanya melihat hamparan air karena semuanya tersapu air
laut, katanya.
Bangladesh, yang disebut sebagai negeri berpenduduk paling padat di
dunia, memiliki reputasi tragis untuk bencana alam. Badai besar dan angin topan
menghantam negeri itu hampir setiap tahun. Menyusul angin topan yang menghantam
negeri itu tahun 1991 dan menewaskan 143.000 orang, organisasi pemerintah dan
non-pemerintah menyiapkan sistem peringatan dini dan mulai melakukan upaya
untuk menyediakan tempat penampungan bagi para korban angin topan.
Caritas merupakan salah satu pelopor pembangunan tempat penampungan dua
lantai dan telah membangun 225 tempat penampungan hingga saat ini. Selain
bangunan khusus ini, yang juga sering digunakan sebagai pusat masyarakat atau
sekolah, masyarakat mengungsi di gedung-gedung milik pemerintah, sekolah, pusat
masyarakat, dan gundukan tanah, atau tanah tinggi di mana gundukan tanah berada
di dataran rendah.
Ketika Topan Sidr diumumkan sudah mendekat, staf dan relawan Caritas di
desa-desa menaikkan bendera peringatan dan menggunakan tanduk kerbau untuk
membantu mengungsikan orang-orang ke tempat-tempat pengungsian yang aman. ***
===============================================================================
KOREA (KO03877.566b) 27 November 2007 57 baris (672 kata)
KEUSKUPAN AGUNG TEGASKAN KEMBALI KETIDAKSETUJUAN ATAS KUNJUNGAN KE TEMPAT
ZIARAH KONTROVERSIAL MENYUSUL LAPORAN TV
SEOUL (UCAN) -- Keuskupan Agung Kwangju kembali menegaskan larangan
terhadap umat Katolik yang mengunjungi sebuah tempat ziarah Maria, tempat
adanya dugaan sejumlah mukjizat, setelah sebuah stasiun TV menyiarkan sebuah
laporan tentang keragu-raguan atas keaslian klaim-klaim ini.
Keuskupan agung mengeluarkan sebuah pernyataan 19 November setelah
Munhwa Broadcasting Corporation (MBC) menyiarkan program Benar atau Salah
Kebenaran Tempat Ziarah Naju pada 13 November.
Pernyataan itu, "Sikap Keuskupan Agung Kwangju Terhadap Julia Youn
Tentang Isu Naju dan Isu Terkait," mengatakan bahwa baik jika stasiun TV itu
mengungkap beberapa kesalahan seputar tempat ziarah di Naju, 285 kilometer
selatan Seoul.
Pernyataan itu mengatakan bahwa "banyak umat Katolik dan non-Katolik
mengungkapkan kekecewaan" bahwa situasi semacam itu bisa muncul di dalam Gereja
dan "meminta keuskupan agung untuk mengambil langkah tegas."
Menurut website tempat ziarah itu (www.najumary.or.kr), Julia Youn
Hong-sun, 60, telah menerima "wahyu-wahyu" ilahi sejak patung Bunda Maria
miliknya "mulai menangis" tahun 1985.
Ia dan para pendukungnya bersikeras bahwa patung itu meneteskan air
mata darah dan minyak wangi. Sejak itu, selama bertahun-tahun, mereka mengklaim
bahwa selama beberapa kali ketika Youn menerima Ekaristi, hosti berubah menjadi
segumpal daging berdarah di mulutnya.
Baru-baru ini, kelompok itu mengklaim bahwa sebuah patung Yesus
meneteskan darah yang jatuh ke tubuh Youn. Mereka juga bersikeras bahwa
penyelidikan ilmiah dari sampel darah yang diambil selama dugaan peristiwa
ajaib mengungkapkan bahwa Yesus memiliki golongan darah AB sementara Maria
memiliki golongan darah B. Pengungkapan ini, kata mereka, menandakan kali
"pertama" dalam sejarah bahwa golongan darah Maria sudah teruji.
Keuskupan agung menegaskan dalam pernyataannya bahwa keuskupan agung
sudah menangani kasus itu secara bijaksana, seraya menyebut sejumlah instruksi
yang dikeluarkannya tahun 1998, 2003, dan 2005 yang melarang umat Katolik untuk
mengunjungi dan berperanserta dalam upacara-upacara liturgi di tempat ziarah
itu.
"Tetapi seorang imam di keuskupan agung dan beberapa imam lainnya,
sejumlah orang asing dan umat awam masih mendukung Youn dan ikut serta dalam
pertemuan-pertemuan rutin," sesal pernyataan itu.
Program MBC menyangkal klaim-klaim tertentu tentang peristiwa-peristiwa
ajaib itu.
Dari sebuah rekaman video yang diberikan kepada stasiun TV itu oleh
kelompok Youn, laporan TV itu menunjukkan bagaimana Youn secara rahasia
memegang sebuah hosti di tangannya sebelum ia "menangkapnya" seperti "jatuh
secara misterius dari langit."
Dalam laporan itu, Pastor Paul Cho Ho-dong dari Incheon menceritakan
tentang penemuan sehelai kain beraroma wangi di sebuah tas plastik kecil yang
jelas-jelas dibuang oleh seseorang pada acara doa malam di parokinya tahun
1994. Youn juga diundang pada acara tersebut. Kelompok Youn bersikeras bahwa
aroma mawar muncul secara ajaib dari diri Youn sepanjang waktu.
Pastor Cho mengatakan kepada UCA News 21 November bahwa ia yakin kain
beraroma wangi yang ditemukannya di bawah mimbar itu adalah milik Youn.
Website Naju mengklaim, beberapa orang di Keuskupan Ruteng, Indonesia,
yang buta dan tuli sejak lahir disembuhkan oleh "air ajaib" dari tempat ziarah
Naju dan doa-doa Youn ketika ia berkunjung ke sana Maret lalu.
Namun menurut laporan stasiun TV itu, orang-orang Indonesia ini
mengungkapkan bahwa mereka tidak sungguh-sungguh buta atau tuli dan kondisi
mereka tidak membaik setelah doa-doa Youn.
Program itu juga melaporkan bahwa sejumlah rosario yang diduga berisi
"darah Yesus" dijual masing-masing seharga 50.000 won (US$54) di tempat ziarah
itu.
Youn mengatakan pada program itu bahwa urinenya kini mengandung bubuk
emas dan perak berkat intervensi Maria.
Pastor John Chrysostom Kim Gye-hong, penasihat hukum Keuskupan Agung
Kwangju, mengatakan kepada UCA News 21 November bahwa keuskupan agung tidak
meminta MBC untuk menyiarkan program itu. Kenyataannya adalah stasiun TV itu
melakukan hal tersebut atas kemauannya sendiri, lanjutnya. Ini mengindikasikan
bahwa ada banyak "keluhan" ditujukan kepada "Youn dan kelompoknya."
Namun, Peter Kim Jae-seok, manajer hubungan masyarakat dari kelompok
itu, membantah laporan TV itu. "Semua laporan tentang kami sungguh tidak
benar," katanya.
Kim mengatakan kepada UCA News 21 November: "Mereka mendapat keluhan
hanya dari orang-orang yang menentang kami. Nanti kami akan mempersiapkan
sebuah pernyataan untuk membantah laporan itu."
Konferensi Waligereja Korea menyatakan pada 20 Maret 1998 bahwa semua
uskup Korea telah sepakat untuk mematuhi larangan Keuskupan Agung Kwangju untuk
mengunjungi tempat ziarah itu.
Namun, website Naju memuat kesaksian positif tentang tempat ziarah itu,
dua di antaranya dari Uskup Sibu, Malaysia, Mgr Dominic Su dan Uskup Ruteng Mgr
Eduardus Sangsun. ***
================================================================================
TAJIKISTAN (TJ03870.566b) 26 November 2007 52 baris (646
kata)
WAKIL-WAKIL PEMERINTAH DAN AGAMA BAHAS RUU AGAMA
DUSHANBE (UCAN) -- Para pejabat pemerintah telah menjelaskan perlunya
sebuah undang-undang (UU) baru tentang agama untuk para pemimpin agama dan
berusaha menghilangkan rasa takut mereka bahwa UU itu akan mengekang kebebasan
untuk menghayati iman mereka.
Sekitar 40 wakil Kristen dan Muslim, pengacara, aktivis hak asasi
manusia, dan pejabat pemerintah mengikuti sebuah diskusi tentang usulan UU
tentang kebebasan hati nurani, lembaga-lembaga keagamaan, dan
organisasi-organisasi lainnya. Pertemuan itu diadakan di Dushanbe pada 21
November di bawah pengawasan Organisasi Keamanan dan Kerjasama di Eropa.
Tidak satu pun mewakili 250 umat Katolik di negeri itu atau Gereja
Orthodoks Rusia, yang anggotanya terdiri atas sekitar 3 persen dari 6,5 juta
penduduk Tajikistan. Umat Islam terdiri atas 96 persen.
Pada pertemuan terakhir ini, Saidbek Makhmadulloev, ketua komisi urusan
agama milik pemerintah, menjelaskan bahwa sebuah UU baru itu perlu karena UU
yang berlaku saat ini tidak sesuai dengan realitas Tajikistan saat ini.
UU tentang agama yang berlaku saat ini dibuat tahun 1994 dan
berdasarkan pada UU sebelumnya yang ditulis ketika Tajikistan masih menjadi
bagian dari Uni Soviet, katanya, dan tidak sesuai dengan realitas saat ini.
Yang menjadi perhatian saat ini adalah isu-isu yang tidak terlalu berkembang
di jaman Soviet, katanya, sambil menyebut sejumlah prosedur seperti registrasi
organisasi-organisasi keagamaan, ziarah rohani atau pendidikan agama.
Sebelum 1991, ketika Tajikistan masih menjadi bagian dari Uni Soviet,
atheisme secara resmi diperkenalkan dan agama-agama diremehkan.
Seraya mengatakan bahwa ia berbicara atas nama seluruh umat Kristen
pada pertemuan itu, Igor Samiev, ketua Asosiasi Gereja Baptis Tajikistan,
mengatakan bahwa kaum minoritas agama mengkhawatirkan Rancangan UU (RUU) baru
tentang agama itu. "UU baru ini hendaknya membantu kaum minoritas agama untuk
menghayati iman mereka, tapi UU baru itu justru melarang mereka untuk melakukan
hal ini, katanya.
Samiev menyinggung ketentuan RUU itu yang mengatakan bahwa sebuah
komunitas non-Muslim harus memiliki sedikitnya 400 anggota di desa, 800 di
sebuah kota atau 1.200 di ibukota untuk mendaftarkan diri sebagai sebuah
organisasi keagamaan. "Ada lebih dari 80 organisasi keagamaan di Tajikistan,
tapi hanya 10 dari mereka yang memiliki lebih dari 100 anggota," katanya, "maka
kami berpikir bahwa pembatasan semacam itu dalam RUU tidak bisa diterima." UU
yang ada saat ini menetapkan bahwa sebuah organisasi keagamaan non-Muslim bisa
didaftarkan hanya dengan 10 anggota.
Samiev juga menjelaskan bahwa RUU baru itu mengatakan bahwa orang asing
tidak bisa memimpin atau membentuk komunitas atau organisasi keagamaan. Semua
imam Katolik di Tajikistan saat ini adalah misionaris Sabda Inkarnasi dari
Argentina, dan sebagian besar dari pendeta adalah juga orang asing.
Pembatasan semacam itu hendaknya dihilangkan dari RUU itu karena ini
melanggar hak asasi manusia, kata Samiev. Ia juga mengatakan bahwa ketentuan
RUU tentang sumbangan pajak yang diterima organisasi-organisasi keagamaan
melanggar sistem pendapatan Tajikistan.
Sergei Kretov, pemimpin Gereja Rasul Baru, juga mengungkapkan
keprihatinan tentang sebuah usulan ketentuan yang menuntut masyarakat untuk
tinggal di sebuah lingkungan selama 10 tahun sebelum membentuk sebuah komunitas
agama. "Ini berarti kami bisa berkotbah hanya di tempat-tempat di mana
komunitas kami berada saat ini dan tidak bisa berkotbah di kota-kota besar dan
kecil lainnya. Saya pikir ini merupakan pelanggaran terhadap hak saya," katanya
kepada UCA News.
Negmatullo Saidzoda, yang mewakili Partai Kebangkitan Islam Tajikistan,
satu-satunya partai agama dalam parlemen, menentang ketentuan RUU itu yang
melarang para pemimpin agama untuk jadi anggota partai politik.
"Saya pikir ketentuan semacam itu melanggar hak para aktivis agama
karena mereka tidak bisa menggunakan hak konstitusional mereka," kata Saidzoda
pada pertemuan itu.
Muktorov, pejabat Dewan Sosial Tajikistan (departemen yang menangani
masalah sosial), menghadiri pertemuan itu. Ia kemudian mengatakan kepada UCA
News bahwa pemerintah telah setuju untuk mempertimbangkan pernyataan-pernyataan
dari komunitas agama dan pihak-pihak tertentu yang mengemuka pada pertemuan itu
untuk mengembangkan RUU tersebut.
Upaya pertama untuk mengubah UU yang berlaku saat ini muncul bulan Mei
2006. Maret lalu komisi urusan agama menghubungi wakil-wakil komunitas dan
organisasi agama dan memberi mereka RUU baru itu, seraya meminta mereka untuk
mengajukan komentar tertulis dalam waktu lima hari. Sejak saat itu, para
pemimpin agama non-Muslim berpartisipasi dalam dua pertemuan bersama komisi
itu.***
================================================================================
VATIKAN (ZY03913.566b) 30 November 2007 51 baris (561 kata)
PAUS BENEDIKTUS BERI TANGGAPAN ATAS SURAT PARA ULAMA MUSLIM
Oleh Pastor Tom Michel
ROMA (UCAN) -- Pada 29 November Vatikan mengeluarkan tanggapan yang
sangat dinantikan terhadap surat dari 138 ulama Muslim berkenaan dengan
pentingnya umat Kristen dan Islam memiliki kata yang sama mengenai hal-hal
esensial tentang iman.
Surat dari ulama Muslim tertanggal 13 Oktober itu menekankan
sentralitas dua kewajiban -- cinta akan Allah dan cinta kepada sesama --
sebagai inti kedua agama.
Tanggapan dari banyak pemimpin Kristiani sangat cepat dan positif
terhadap surat para ulama Muslim itu. Uskup Agung Rowan Williams dari
Canterbury, ketua Persekutuan Anglikan, menanggapi pada hari yang sama saat ia
menerima sebuah kopian surat itu. Tanggapannya itu ditujukan kepada Paus
Benediktus, uskup agung dan para pemimpin utama Kristen lainnya dengan menyebut
nama serta seluruh pemimpin Kristen pada umumnya.
Ada banyak hal di sini untuk dipelajari dan dikembangkan. Pemahaman
akan keesaan Allah dalam surat itu memberi peluang bagi umat Kristiani dan
Islam untuk bersama-sama menyelidiki pemahaman mereka yang unik dan cara-cara
yang digunakan untuk membentuk dan menentukan hidup kita, tulis prelatus
Anglikan itu.
Pendeta Samuel Kobia, sekretaris jenderal Dewan Gereja-Gereja se-Dunia,
juga memuji surat itu. Surat ini penting, katanya, karena ditandatangani
oleh para pemimpin dan ulama dari kelompok-kelompok besar Muslim di seluruh
dunia, yang membuat surat itu sendiri unik. Suatu persatuan yang jarang terjadi
seperti itu memberikan banyak harapan akan apa yang bisa bersama-sama dicapai
oleh umat beragama.
Di kalangan umat Katolik, sejumlah uskup termasuk George Kardinal Pell
dari Sydney, Australia, dan Angelo Kardinal Scola, Uskup Venesia, Italia,
memberikan tanggapan yang berbobot dan membesarkan hati terhadap surat para
ulama Muslim itu.
Namun, umat Islam menanti dengan sangat antusias untuk mendengar
tanggapan Paus Benediktus XVI. Rupanya, paus ingin memikirkan secara serius dan
berdoa sebelum menanggapi surat itu.
Tanggapan paus akhirnya muncul dalam sebuah surat yang ditulis oleh
Tarcisio Kardinal Bertone, sekretaris Negara Vatikan, atas nama paus. Tanggapan
itu ditujukan kepada Pangeran Ghazi bin Muhammad bin Talal di Istana Raja di
Amman.
Kardinal Bertone menulis bahwa Paus Benediktus secara pribadi
memintanya untuk menyampaikan rasa terima kasih atas surat para ulama Muslim
itu dan juga ingin mengungkapkan apresiasinya yang mendalam atas langkah para
ulama Muslim ini, atas semangat positif yang menginspirasi teks itu, dan atas
seruan untuk memiliki suatu komitmen bersama untuk meningkatkan perdamaian di
dunia.
Kardinal itu mencatat bahwa tema kembar -- cinta akan Allah dan cinta
kepada sesama yang disoroti oleh para ulama Muslim itu berhubungan dengan
topik ensiklik paus Deus Caritas Est (Allah itu Kasih). Surat itu menyarankan
agar landasan bersama yang disuarakan para ulama Muslim bisa memungkinkan kita
untuk berdialog berlandaskan penghormatan yang efektif terhadap martabat setiap
pribadi manusia, pengetahuan obyektif terhadap agama orang lain, pertukaran
pengalaman keagamaan, dan akhirnya komitmen bersama untuk meningkatkan
penghormatan dan penerimaan timbal-balik di kalangan generasi yang lebih muda.
Surat itu ditutup dengan sebuah undangan kepada Pangeran Ghazi dan
sekelompok para penandatangan yang dipilih sendiri oleh pangeran untuk
mengunjungi paus sebagai sebuah langkah berikut dalam dialog. Paus Benediktus
juga mendorong studi bersama lebih lanjut oleh para ulama Muslim dan
institut-institut kepausan di Roma -- terhadap pandangan-pandangan iman yang
sama dari umat Kristen dan Muslim.
-----
Pastor Tom Michel, anggota Yesuit provinsi Indonesia, pernah menjadi ketua
Kantor Islam dari Dewan Kepausan Dialog Antaragama selama 13 tahun, dari
1981-1994. Kantor itu secara resmi dijadikan Sekretariat untuk Umat
Non-Kristen. Imam yang sekarang ini menjadi sekretaris dialog antaragama Yesuit
ini pernah beberapa tahun menjadi sekretaris eksekutif Kantor Ekumene dan
Urusan Lintas Agama dari Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC,
Federation of Asian Bishops' Conferences). ***
================================================================================
VIETNAM (VT03891.566b) 29 November 2007 53 baris (668 kata)
PARA USKUP MENGGARISBAWAHI TANGGUNG JAWAB GURU DAN SISWA PADA HARI GURU NASIONAL
THAI BINH, Vietnam (UCAN) -- Para pemimpin Gereja mendesak para guru
untuk mendidik para siswa menjadi orang-orang bermoral, dan para siswa untuk
mengundang Allah ke dalam berbagai kegiatan mereka.
Uskup Kontum Mgr Michael Hoang Duc Oanh, dalam sebuah pesan 17 November
untuk para siswa Katolik di keuskupannya, mendesak mereka agar dengan penuh
rasa hormat mengundang Allah untuk kembali ... ke dalam diri kalian, keluarga
kalian, sekolah, dan masyarakat.
Uskup Oanh memerintahkan agar suratnya dibacakan pada Misa-Misa akhir
pekan di seluruh gereja di keuskupannya pada 18 November, dua hari menjelang
Hari Guru nasional. Keuskupannya terletak di Kota Kon Tum, 1.260 kilometer
selatan Ha Noi.
Prelatus itu menjelaskan bahwa para siswa tinggal di sebuah lingkungan
sekular yang menghasilkan orang-orang yang memiliki pikiran tetapi bukan
hati. Kejahatan sosial bisa berasal dari lingkungan semacam itu tanpa Allah,
di mana orang ingin menjadi allah bagi sesamanya, katanya mengingatkan.
Uskup Oanh mengatakan bahwa Gereja mengharapkan para siswa Katolik agar
tidak hanya belajar di sekolah tapi juga memberi kesaksian akan Kabar Gembira.
Ia meminta para siswa untuk mengunjungi dan menyampaikan ucapan selamat kepada
para guru mereka pada Hari Guru dan membantu para guru dan teman-teman bertemu
Allah dengan memberi mereka Kitab Suci.
Pemerintah mengelola semua sekolah di Vietnam.
Pada sebuah perayaan lain yang berlangsung di gereja katedral di Thai
Binh, 100 kilometer tenggara Ha Noi, Uskup Francis Xavier Nguyen Van Sang
memimpin sebuah Misa khusus untuk 100 dosen dan mahasiswa Katolik dari
kolese-kolese keguruan.
Para guru memiliki peran penting dalam membantu para siswa
menyempurnakan moralitas dan ketrampilan pendidikan mereka, kata uskup dari
Thai Binh itu.
Lima imam merayakan liturgi 18 November yang diadakan menjelang Hari
Guru, dan para guru duduk di barisan depan. Sebanyak 1.500 orang yang
menghadiri Misa juga mencakup para pejabat dari lembaga-lembaga pendidikan
pemerintah.
Uskup Sang mendesak para guru untuk meneladani Yesus, yang menurutnya
merupakan tuan atas pengampunan, kebaikan hati, kelemahlembutan, keadilan,
pengorbanan, dan keterbukaan.
Ajaran Kristen, katanya mengingatkan, mengajarkan bahwa para guru tidak
hanya memberi pengetahuan praktis dan ilmiah pada para siswa tapi juga melatih
mereka untuk menjalani hidup suci dan bermoral seturut kata-kata Yesus:
Haruslah kamu sempurna, seperti Bapamu di surga sempurna adanya.
Pastor Dominic Dang Van Cau, yang bertanggung jawab atas kantor uskup,
mengatakan kepada UCA News bahwa ini pertama kalinya keuskupan mengadakan acara
semacam itu untuk para pendidik Katolik setempat. Ia mengatakan bahwa surat
gembala Pendidikan Masa Kini, Masyarakat dan Gereja Masa Depan, yang
dikeluarkan oleh para uskup Vietnam pada pertemuan tahunan mereka yang
diselenggarakan 8-12 Oktober di Ha Noi, mendorong perayaan khusus itu. Para
uskup juga menyatakan Oktober 2007 hingga Oktober 2008 sebagai "Tahun
Pendidikan Kristen."
Pastor Cau memuji Uskup Sang, mantan rektor Seminari Tinggi Santo Yosef
di Ha Noi, yang telah ikut mendidik empat uskup dan ribuan imam dan kaum
religius untuk keuskupan-keuskupan bagian selatan.
Anthony Ha Ngoc Bich, seorang guru sekolah dasar, mengatakan kepada UCA
News, "Kami, para guru, pertama kali harus menghayati iman Katolik kami dan
memperbaiki sikap dan perilaku kami. Para pendidik hendaknya mengajar para
siswa untuk menghormati keadilan dan martabat semua orang, khususnya para
petani, yang merupakan kelompok mayoritas di keuskupan, dan semua buruh. Para
siswa hendaknya juga belajar menentang ketidakadilan, kekerasan, korupsi, dan
aksi kejahatan, lanjut umat Paroki Cat Dam itu.
Bich, 50, yang mengajar sastra, menambahkan bahwa para pendidik
hendaknya mengajarkan para siswa untuk bekerja keras, mematuhi orang tua
mereka, hidup untuk orang lain dan bukan hanya untuk diri mereka sendiri, dan
untuk menghormati lingkungan alam yang diciptakan oleh Allah.
Seorang guru lainnya, yang minta tidak disebutkan namanya, mengatakan
pada UCA News, beberapa guru Katolik yang adalah anggota Partai Komunis dan
tidak menghayati iman mereka, atau yang jarang mengikuti kegiatan-kegiatan
Gereja, merasa senang bisa datang hari itu dan menghargai pertemuan itu.
Seusai Misa, Uskup Sang bertemu para guru di aula kediaman uskup, yang
terletak berdampingan dengan gereja katedral. Di sana mereka bersama-sama
memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok guru Katolik. Uskup juga memberi
para guru bunga, salinan surat gembala, dan brosur tentang katedral baru Thai
Binh yang diresmikan bulan Oktober. Para guru menyanyikan sejumlah lagu tentang
profesi mereka dan uskup menyiapkan makanan untuk mereka. ***