BULETIN UCAN EDISI BAHASA INDONESIA NO. 566B
  PERIODE: 26 – 30 NOVEMBER  2007
  
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
   
   
Rekan-rekan milis yang dikasihi Kristus

   
   
  Berikut kembali saya kirimkan berita-berita terbaru dari Kantor Berita 
Katolik Asia (UCAN, Union of Catholic Asian News) yang berhasil diliput dalam 
minggu lalu dan diturunkan dalam bulletin UCAN edisi Bahasa Indonesia.
   
  Berita-berita ini juga dapat rekan-rekan akses secara gratis melalui UCAN 
website kami di www.ucanews.com atau dapat juga melalui website KWI (Konferensi 
Waligereja Indonesia) di: www.mirifica.net 
   
  Demikian berita-berita UCAN edisi Bahasa Ibndonesia yang dapat saya kirimkan. 
   
  Selamat membaca. Berkat dan kasih Kristus menyertai selalu.
   
   
  Syalom.
   
   
   
  Vitalis
  ---------------
   
   
   
   
  Ket.
  (Ingin mengetahui berbagai peristiwa Gereja Asia yang terjadi saat ini dalam 
berbagai bahasa di Asia, silakan kunjungi UCAN website kami di www.ucanews.com 
lalu klik: UCAN Daily Service - klik tgl berita hari ini atau bisa langsung 
klik berita yang muncul di halaman web. Dan untuk mengetahui berita-berita UCAN 
dalam bahasa Indonesia silakan klik item: UCAN Language Service –klik Indonesia 
-- klik tanggal.)
   
  
       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.
BERBAGAI PERISTIWA GEREJA YANG BERHASIL DILIPUT OLEH KANTOR BERITA KATOLIK 
ASIA, UCAN – UNION OF CATHOLIC ASIAN NEWS == DALAM MINGGU LALU: 26 – 30 
NOVEMBER 2007
================================================================================


I. POKOK-POKOK BERITA PERISTIWA GEREJA YANG TERJADI DI INDONESIA:
   ===============================================================

1. JAKARTA - PAROKI MENUTUP GEREJANYA SETELAH DIPROTES WARGA SETEMPAT

2. PADANG - PEMERINTAH INGIN UMAT KATOLIK BERPARTISIPASI DALAM FORUM ANTARAGAMA 

   ==========================================================================


II. POKOK-POKOK BERITA BERBAGAI PERISTIWA GEREJA YANG TERJADI DI ASIA:
    ==================================================================

1. BANGLADESH - BANTUAN CARITAS UNTUK KORBAN ANGIN TARGETKAN ORANG-ORANG YANG 
PALING MENDERITA DARI YANG MENDERITA

2. KOREA - KEUSKUPAN AGUNG TEGASKAN KEMBALI KETIDAKSETUJUAN ATAS KUNJUNGAN KE 
TEMPAT ZIARAH KONTROVERSIAL MENYUSUL LAPORAN TV 

3. TAJIKISTAN - WAKIL-WAKIL PEMERINTAH DAN AGAMA BAHAS RUU AGAMA

4. VATIKAN - PAUS BENEDIKTUS BERI TANGGAPAN ATAS SURAT PARA ULAMA MUSLIM

5. VIETNAM - PARA USKUP MENGGARISBAWAHI TANGGUNG JAWAB GURU DAN SISWA PADA HARI 
GURU NASIONAL


================================================================================================================================================================


INDONESIA       (IJ03865.566b)     26 November 2007     51 baris     (619 kata)
PEMERINTAH INGIN UMAT KATOLIK BERPARTISIPASI DALAM FORUM ANTARAGAMA 
        PADANG, Sumatra Barat (UCAN) -- Sebuah kantor wilayah Departemen Agama 
propinsi mengadakan program orientasi untuk mendorong umat Katolik agar 
bergabung dengan forum antaragama yang difasilitasi pemerintah karena hanya 
sedikit umat Katolik yang berminat bergabung dengan forum antaragama tersebut. 
        Sebanyak 35 utusan dari organisasi-organisasi massa Katolik dan delapan 
paroki di Propinsi Sumatra Barat menghadiri program yang diadakan 3-4 November 
oleh Seksi Bimas Katolik dari Kantor Wilayah Departemen Agama Sumatra Barat di 
Padang itu. 
        Program itu diadakan untuk mempersiapkan umat Katolik agar 
berpartisipasi dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat, demikian 
Bonifasius Bakti Siregar, kepala kantor itu. Beberapa paroki di Keuskupan 
Padang tidak siap mengirimkan utusan untuk pembentukan FKUB di wilayah mereka, 
kata Siregar kepada UCA News, seraya menjelaskan perlunya program lagi.
        Sebuah peraturan baru pemerintah tentang pembangunan tempat ibadah yang 
dikeluarkan 21 Maret 2006 mengimbau pembentukan FKUB yang terdiri atas para 
pemimpin semua agama di sebuah wilayah. Pasal 8 dari Peraturan Bersama Menteri 
Agama Maftuh Basyuni dan Menteri Dalam Negeri Muhammad Ma'aruf meminta 
pemerintah memfasilitasi pembentukan FKUB di tingkat propinsi, kabupaten, dan 
kota. 
        Menurut peraturan tersebut, sebuah komunitas agama minoritas 
membutuhkan sedikitnya 90 orang dan persetujuan dari 60 warga setempat dari 
agama-agama lain untuk mendapatkan izin pembangunan sebuah tempat ibadah. Lurah 
atau kepala desa harus mengesahkan jumlah ini, dan FKUB kabupaten/kota serta 
kepala kantor departemen agama harus mengeluarkan rekomendasi tertulis.
        Menurut Pasal 21, sebuah rekomendasi FKUB setempat diperlukan untuk 
menyelesaikan perselisihan akibat pendirian tempat ibadah jika warga setempat 
gagal mencapai musyawarah. 
        Selain FKUB propinsi di Padang, Sumatra Barat juga memiliki FKUB Kota 
Payakumbuh, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat.
        Ketika FKUB Kota Solok dibentuk awal bulan ini, tiga umat Katolik 
diundang tapi hanya satu yang hadir. Stasi misi di sana dilayani oleh Paroki 
St. Barbara di Sawahlunto.
        Bernardus Udiyono, satu-satunya anggota FKUB Kota Solok yang beragama 
Katolik, mengatakan bahwa keengganan umat Katolik “mungkin karena perasaan 
trauma.” Menurut dia, mereka tidak melihat FKUB sebagai wadah untuk 
menyelesaikan isu antaragama. Ia menjelaskan bahwa rencana umat Katolik 
setempat untuk membangun sebuah gedung gereja mendapat halangan dan “pemerintah 
tidak pernah memberi izin.”
        Stasi misi itu melayani 90 keluarga Katolik. Oleh karena tidak adanya 
gedung gereja, umat Protestan dan Katolik secara bergantian menggunakan sebuah 
aula milik TNI-AD untuk ibadah Minggu.
        Fransiskus Asisi Heru Asmoro, anggota FKUB Kota Payakumbuh, memiliki 
pengalaman serupa. Ia adalah satu-satunya orang Katolik yang menghadiri 
pembentukan FKUB setempat tahun ini. Pemerintah juga mengundang tiga orang 
Katolik.  
        “Umat Katolik awam tidak siap untuk duduk dalam forum itu karena jumlah 
mereka yang minoritas dan kurangnya pengetahuan agama mereka,” kata umat Paroki 
St. Fidelis Sigmaringen itu.
        Menurut Siregar, jumlah umat Katolik yang sedikit di setiap kota dan 
kabupaten merupakan alasan lain mengapa mereka kurang berminat untuk bergabung 
dengan FKUB. Ia menambahkan bahwa sebuah paroki bisa melayani beberapa kota dan 
kabupaten. Paroki St. Barbara, misalnya, melayani dua kota dan empat kabupaten.
        Menurut statistik 2006, umat Katolik hanya terdiri atas 1 persen dari 
4.645.300 penduduk propinsi.
        Heribertus Soemardjono, wakil ketua FKUB Sumatra Barat yang dibentuk 14 
April, mengatakan bahwa anggota FKUB Sumatra Barat sepakat untuk membuat 
keputusan bukan melalui voting tapi selalu melalui dialog. “FKUB menekankan 
semangat dialog dan kerjasama,” tegasnya. FKUB Sumatra Barat memiliki 11 
Muslim, tiga orang Katolik, tiga orang Protestan, dua orang Buddha, dan dua 
orang Hindu.
        Pada program orientasi 3-4 November itu, Pastor Philips Rusihan Sakti, 
vikjen Keuskupan Padang, mengatakan, umat Katolik bisa memperlihatkan kehadiran 
mereka kepada masyarakat setempat dengan mengikuti FKUB setempat. FKUB, 
lanjutnya, juga bisa menjadi wadah ekumene bagi umat Kristen dari berbagai 
denominasi. “Kita harus mendukung forum ini, karena semangat dialog itu sesuai 
dengan semangat Konsili Vatikan Kedua (1962-1965),” katanya.
        Keuskupan Padang melayani Propinsi Sumatra Barat, Propinsi Jambi, dan 
Propinsi Riau.
        FKUB tingkat propinsi sudah dibentuk di 33 propinsi dan FKUB lokal 
sudah dibentuk di 210 dari 465 kota dan kabupaten di tanah air. ***

===============================================================================

INDONESIA       (IJ03896.566b)    27 November 2007     57 baris      (658 kata)
PAROKI MENUTUP GEREJANYA SETELAH DIPROTES WARGA SETEMPAT
        JAKARTA (UCAN) -- Umat Katolik dari sebuah paroki di Jakarta harus 
mencari tempat untuk merayakan Pesta Kristus Raja setelah mereka dipaksa 
menutup tempat ibadah mereka dalam sebuah aksi protes.
        Pastor Matheus Widyolestari MSC, kepala Paroki Damai Kristus, 
mengatakan kepada UCA News 25 November: “Kegiatan Misa di gereja ini dihentikan 
sementara berdasarkan surat (23 November) Camat Tambora Yanto Satyar, namun 
umat tetap menjalankan kegiatan pastoral seperti biasa.”
        Pesta Kristus Raja jatuh pada 25 November tahun ini. Paroki itu juga 
berencana merayakan ulang tahun ke-30 parokinya pada hari itu.
        Paroki itu didirikan tahun 1977, namun belum mendapatkan IMB untuk 
tempat ibadahnya, Gereja Kristus Damai, yang sesungguhnya hanyalah sebuah aula 
serbaguna di samping gedung sekolah berlantai empat.
        “Gereja,” yang berada di Kampung Duri, Jakarta Barat, itu memiliki 
3.500 umat yang tersebar di 22 lingkungan. Mereka menggunakan aula itu untuk 
merayakan Misa-Misa Minggu dan satu Misa di hari Sabtu setiap minggu. 
        Gedung sekolah TK, SD, SMP dan SMA itu dikelola oleh Yayasan Pendidikan 
Bunda Hati Kudus, milik kongregasi Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC).
        Surat Satyar meminta yayasan itu untuk tidak mengijinkan aulanya 
digunakan sebagai tempat ibadah karena ini melanggar Surat Gubernur DKI Jakarta 
perihal Penyesuaian Peruntukan Tanah dari Hunian menjadi Fasos. Surat itu juga 
mengatakan keputusan itu berdasarkan keresahan dan permintaan warga setempat 
yang diungkapkan selama protes mereka tanggal 23 November.
        Protes satu jam itu dilakukan di depan gedung sekolah dengan melibatkan 
75 warga Muslim dari Forum Kerjasama Mesjid-Musolla dan Majelis Ta’lim 
Kelurahan Duri Selatan.
        Aksi protes itu diakhiri dengan pertemuan antara para pengurus Gereja 
dan perwakilan demonstran. Camat Tambora, lurah Duri Selatan, serta Kapolres 
Jakarta Barat dan Kapolres Metro Tambora juga hadir.
        Suasana sangat menegangkan dan mencekam, kata Pastor Widyolestari. 
“Mereka meminta kami agar kegiatan peribadatan dihentikan dan ditutup untuk 
selamanya. Mereka memaksa kami untuk menerima dan menandatangani pernyataan 
sikap mereka dengan ancaman apabila tidak ditandatangani dan ibadat tidak 
dihentikan, mereka akan melakukan hukum rimba dan tidak bertanggungjawab bila 
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya. 
        Namun, disaksikan para pejabat pemerintah dan keamanan itu, “kami 
menolak menandatangani tanda setuju pernyataan sikap mereka atau pun menurunkan 
atribut-atribut keagamaan kami. Apabila hendak menghentikan kegiatan 
peribadatan kami, kami minta agar secara resmi Walikota Jakarta Barat 
memberikan surat penghentian kepada kami. Akhirnya mereka meninggalkan 
pastoran,” kata imam itu.
        Beberapa saat kemudian, kami menerima surat Satyar. Paroki itu kemudian 
merayakan Misa-Misa Kristus Raja dan ulang tahun paroki di aula provinsialat 
MSC di Kemakmuran, Jakarta Barat, sekitar lebih dari satu kilometer dari 
sekolah itu.
        Imam itu menceritakan bahwa tanggal 19 November, kelurahan dan polsek 
Tambora meminta pengurus parokinya untuk mengklarifikasi isu bahwa paroki itu 
akan mendirikan gereja.
        Ia mengatakan paroki itu berencana untuk membangun gedung serba guna 
termasuk pastoran dan kantor di belakang tempat ibadah itu, dan telah 
mengundang Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ untuk upacara 
peletakan batu pertama tanggal 25 November.
        Setelah menerima penjelasan bahwa paroki itu tidak akan membangun 
gereja, pejabat kelurahan mengizinkan paroki untuk melanjutkan pembangunan.
        Namun, tanggal 21 November kelurahan dan polsek memberitahukan kepada 
pengurus Gereja bahwa warga akan melakukan orasi damai untuk menghentikan 
pembangunan terselubung sebuah gereja.
        Sejumlah umat paroki yang ditemui UCA News 25 November di sekolah itu 
mengatakan mereka tidak mengetahui tentang penutupan itu dan mengungkapkan 
kekecewaan mereka.
        Johanes Setyanto, 56, mengatakan Misa-Misa tidak menggangu warga 
sekitar. "Kalau memang kegiataan ini mengganggu, mengapa dari dulu tidak 
diperingatkan?” tanyanya.
        Stefanus Kusuminarno, 29, menjelaskan bahwa tempat ibadah itu ada sejak 
sebelum ia dilahirkan. “Mengapa mereka baru protes sekarang?”
        Melihat hubungan yang baik antara paroki dan warga setempat, ia 
bertanya mengapa paroki itu harus menerima hadiah seperti itu pada ulang 
tahunnya yang ke-30. “Gereja ini terbuka untuk umum dan kadang-kadang 
mengadakan bakti sosial serta memberikan bantuan sembako kepada warga sekitar,” 
lanjutnya.
        Khairuddin, 47, seorang Muslim, penjual es kelapa di depan gedung 
sekolah,  mengatakan kepada UCA News: “Hubungan kami dengan sekolah maupun umat 
Katolik sangat baik. Apapun masalahnya, kita harus menghormati iman mereka,” 
ujarnya.
       Menurut data dari Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ), lebih dari 
1.000 gereja Katolik dan Protestan dirusak dan ditutup sejak rejim Orde Baru.***


================================================================================

BANGLADESH     (BA03893.566b)     28 November 2007     59 baris      (699 kata)
BANTUAN CARITAS UNTUK KORBAN ANGIN TARGETKAN ORANG-ORANG YANG PALING MENDERITA 
DARI YANG MENDERITA
        DHAKA (UCAN) -- Selama dua minggu sejak Topan Sidr menyapu Bangladesh 
bagian selatan, Gereja memfokuskan upaya bantuan pada orang-orang yang paling 
membutuhkan, termasuk orang sakit dan jompo, dan para perempuan tak bersuami 
yang tidak mampu membiayai hidup mereka.
        Direktur Eksekutif Caritas Bangladesh Benedict Alo D'Rozario melaporkan 
bahwa organisasi kesejahteraan sosial dari Gereja Katolik itu telah membantu 
sekitar 23.500 keluarga, kebanyakan dari mereka tidak menerima bantuan dari 
organisasi-organisasi bantuan lainnya karena mereka tinggal di wilayah-wilayah 
yang sulit dijangkau.
        Banyak dari daerah pesisir Bangladesh merupakan dataran rendah yang 
luas, saluran air, lahan pertanian, lahan gundul, dan hutan bakau dengan 
sedikit jalan. Saat D'Rozario menjelaskan kepada UCA News pada 27 November, 
Caritas sudah menjalankan sejumlah program dan telah membangun tempat 
penampungan di daerah-daerah pedalaman di mana transportasi sulit diakses.
        “LSM-LSM lain tidak memiliki program di sana dan tempat-tempat itu 
terpencil,” katanya, seraya menambahkan bahwa staf lapangan Caritas seringkali 
harus melakukan perjalanan dengan perahu motor ke daerah-daerah itu.
        Ia berharap paket-paket bantuan akan menjangkau 26.500 keluarga lain 
yang “paling terpengaruh.” Keluarga-keluarga ini menjadi korban angin topan 
terburuk di negeri itu dalam satu dekade.
        Topan Sidr menghantam Bangladesh pada 15 November, yang mengakibatkan 
angin kencang dan banjir bandang dan menghancurkan puluhan ribu rumah 
berpondasi lemah. Hingga saat ini, 3.243 orang dilaporkan tewas dan 34.000 
cedera, demikian laporan Prothom Alo (harian berbahasa lokal) edisi 27 
November. Bencana alam itu sangat mempengaruhi lebih dari 7 dari 140 juta orang 
di negeri yang mayoritas berpenduduk Muslim itu.
        D'Rozario mengatakan kepada UCA News bahwa Caritas telah menargetkan 
orang-orang yang paling menderita, khususnya para janda dan keluarga-keluarga 
yang dipimpin oleh perempuan, orang cacat, orang sakit dan jompo, dan para 
buruh harian.
        Paket-paket bantuan awal berisi 10 kilogram beras, dua kilogram kacang 
hijau, dan satu kilogram garam untuk setiap keluarga. Untuk menjangkau 26.500 
keluarga lainnya, Caritas merencanakan menambah minyak kedelai, terpal untuk 
tempat tinggal sementara, tempat tidur, ember, dan peralatan makan.
        Para korban yang selamat sangat membutuhkan makanan, air minum, dan 
tempat tinggal, demikian laporan media. Harian berbahasa Inggris “New Nation” 
melaporkan 27 November bahwa sejumlah helikopter Angkatan Laut Amerika Serikat 
telah mulai mengirimkan bantuan darurat untuk para korban yang selamat dalam 
kerjasama dengan operaasi bantuan pemerintah.
        Sejumlah helikopter milik USS Kearsarge, sebuah kapal amfibi yang mirip 
pesawat penumpang, mengirim makanan kering dan air kemasan botol untuk ribuan 
keluarga yang kelaparan dan kelelahan yang tinggal di distrik-distrik yang 
paling parah mengalami kehancuran, lapor New Nation.
        Caritas sedang mencari dana sebanyak US$9.438.662 untuk bantuan darurat 
dan rehabilitasi.
        Selain memimpin operasi Caritas dari kantornya di Dhaka, D'Rozario juga 
sudah mengunjungi daerah-daerah yang dilanda angin topan dengan menggunakan 
perahu motor dan berjalan kaki.
        Ia mengatakan bahwa kerusakan dan cerita yang didengarnya sangat 
menyentuh hatinya. Banyak keluarga kehilangan rumah, hasil panen, ternak, usaha 
atau toko, jala, dan perahu motor, dan kini mereka kekurangan makanan dan air 
minum. Air laut yang menyapu daratan telah merusak sumur.
        Di sebuah distrik, 14 orang termasuk dua anak terseret air laut sebelum 
mereka berhasil tiba di sebuah tempat penampungan yang dibangun Caritas.
        "Mereka terlambat pergi ke tempat penampungan itu dan tidak berhasil 
menghindari gelombang laut setinggi 25 kaki (7,5 meter),” kata D'Rozario kepada 
UCA News. "Sehari sebelum saya datang, 12 dari 14 jenazah ditemukan."
        Ia juga terkejut ketika melihat tempat tinggal yang pernah dihuni 
Pramila Rakhaine, seorang staf proyek Caritas. “Ia menunjukkan kepada saya 
rumahnya, tapi saya hanya melihat hamparan air karena semuanya tersapu air 
laut,” katanya.
        Bangladesh, yang disebut sebagai negeri berpenduduk paling padat di 
dunia, memiliki reputasi tragis untuk bencana alam. Badai besar dan angin topan 
menghantam negeri itu hampir setiap tahun. Menyusul angin topan yang menghantam 
negeri itu tahun 1991 dan menewaskan 143.000 orang, organisasi pemerintah dan 
non-pemerintah menyiapkan sistem peringatan dini dan mulai melakukan upaya 
untuk menyediakan tempat penampungan bagi para korban angin topan. 
        Caritas merupakan salah satu pelopor pembangunan tempat penampungan dua 
lantai dan telah membangun 225 tempat penampungan hingga saat ini. Selain 
bangunan khusus ini, yang juga sering digunakan sebagai pusat masyarakat atau 
sekolah, masyarakat mengungsi di gedung-gedung milik pemerintah, sekolah, pusat 
masyarakat, dan gundukan tanah, atau tanah tinggi di mana gundukan tanah berada 
di dataran rendah. 
        Ketika Topan Sidr diumumkan sudah mendekat, staf dan relawan Caritas di 
desa-desa menaikkan bendera peringatan dan menggunakan tanduk kerbau untuk 
membantu mengungsikan orang-orang ke tempat-tempat pengungsian yang aman. ***

===============================================================================

KOREA       (KO03877.566b)     27 November 2007     57 baris     (672 kata)
KEUSKUPAN AGUNG TEGASKAN KEMBALI KETIDAKSETUJUAN ATAS KUNJUNGAN KE TEMPAT 
ZIARAH KONTROVERSIAL MENYUSUL LAPORAN TV 
        SEOUL (UCAN) -- Keuskupan Agung Kwangju kembali menegaskan larangan 
terhadap umat Katolik yang mengunjungi sebuah tempat ziarah Maria, tempat 
adanya dugaan sejumlah mukjizat, setelah sebuah stasiun TV menyiarkan sebuah 
laporan tentang keragu-raguan atas keaslian klaim-klaim ini.
        Keuskupan agung mengeluarkan sebuah pernyataan 19 November setelah 
Munhwa Broadcasting Corporation (MBC) menyiarkan program “Benar atau Salah – 
Kebenaran Tempat Ziarah Naju” pada 13 November.
        Pernyataan itu, "Sikap Keuskupan Agung Kwangju Terhadap Julia Youn 
Tentang Isu Naju dan Isu Terkait," mengatakan bahwa baik jika stasiun TV itu 
mengungkap beberapa kesalahan seputar tempat ziarah di Naju, 285 kilometer 
selatan Seoul.
        Pernyataan itu mengatakan bahwa "banyak umat Katolik dan non-Katolik 
mengungkapkan kekecewaan" bahwa situasi semacam itu bisa muncul di dalam Gereja 
dan "meminta keuskupan agung untuk mengambil langkah tegas."
        Menurut website tempat ziarah itu (www.najumary.or.kr), Julia Youn 
Hong-sun, 60, telah menerima "wahyu-wahyu" ilahi sejak patung Bunda Maria 
miliknya "mulai menangis" tahun 1985.
        Ia dan para pendukungnya bersikeras bahwa patung itu meneteskan air 
mata darah dan minyak wangi. Sejak itu, selama bertahun-tahun, mereka mengklaim 
bahwa selama beberapa kali ketika Youn menerima Ekaristi, hosti berubah menjadi 
segumpal daging berdarah di mulutnya.
        Baru-baru ini, kelompok itu mengklaim bahwa sebuah patung Yesus 
meneteskan darah yang jatuh ke tubuh Youn. Mereka juga bersikeras bahwa 
penyelidikan ilmiah dari sampel darah yang diambil selama dugaan peristiwa 
ajaib mengungkapkan bahwa Yesus memiliki golongan darah AB sementara Maria 
memiliki golongan darah B. Pengungkapan ini, kata mereka, menandakan kali 
"pertama" dalam sejarah bahwa golongan darah Maria sudah teruji.
        Keuskupan agung menegaskan dalam pernyataannya bahwa keuskupan agung 
sudah menangani kasus itu secara bijaksana, seraya menyebut sejumlah instruksi 
yang dikeluarkannya tahun 1998, 2003, dan 2005 yang melarang umat Katolik untuk 
mengunjungi dan berperanserta dalam upacara-upacara liturgi di tempat ziarah 
itu. 
        "Tetapi seorang imam di keuskupan agung dan beberapa imam lainnya, 
sejumlah orang asing dan umat awam masih mendukung Youn dan ikut serta dalam 
pertemuan-pertemuan rutin," sesal pernyataan itu.
        Program MBC menyangkal klaim-klaim tertentu tentang peristiwa-peristiwa 
ajaib itu.
        Dari sebuah rekaman video yang diberikan kepada stasiun TV itu oleh 
kelompok Youn, laporan TV itu menunjukkan bagaimana Youn secara rahasia 
memegang sebuah hosti di tangannya sebelum ia "menangkapnya" seperti "jatuh 
secara misterius dari langit." 
        Dalam laporan itu, Pastor Paul Cho Ho-dong dari Incheon menceritakan 
tentang penemuan sehelai kain beraroma wangi di sebuah tas plastik kecil yang 
jelas-jelas dibuang oleh seseorang pada acara doa malam di parokinya tahun 
1994. Youn juga diundang pada acara tersebut. Kelompok Youn bersikeras bahwa 
aroma mawar muncul secara ajaib dari diri Youn sepanjang waktu.
        Pastor Cho mengatakan kepada UCA News 21 November bahwa ia yakin kain 
beraroma wangi yang ditemukannya di bawah mimbar itu adalah milik Youn.
        Website Naju mengklaim, beberapa orang di Keuskupan Ruteng, Indonesia, 
yang buta dan tuli sejak lahir disembuhkan oleh "air ajaib" dari tempat ziarah 
Naju dan doa-doa Youn ketika ia berkunjung ke sana Maret lalu. 
   Namun menurut laporan stasiun TV itu, orang-orang Indonesia ini 
mengungkapkan bahwa mereka tidak sungguh-sungguh buta atau tuli dan kondisi 
mereka tidak membaik setelah doa-doa Youn.
        Program itu juga melaporkan bahwa sejumlah rosario yang diduga berisi 
"darah Yesus" dijual masing-masing seharga 50.000 won (US$54) di tempat ziarah 
itu.
        Youn mengatakan pada program itu bahwa urinenya kini mengandung bubuk 
emas dan perak berkat intervensi Maria.
        Pastor John Chrysostom Kim Gye-hong, penasihat hukum Keuskupan Agung 
Kwangju, mengatakan kepada UCA News 21 November bahwa keuskupan agung tidak 
meminta MBC untuk menyiarkan program itu. Kenyataannya adalah stasiun TV itu 
melakukan hal tersebut atas kemauannya sendiri, lanjutnya. Ini mengindikasikan 
bahwa ada banyak "keluhan" ditujukan kepada "Youn dan kelompoknya." 
        Namun, Peter Kim Jae-seok, manajer hubungan masyarakat dari kelompok 
itu, membantah laporan TV itu. "Semua laporan tentang kami sungguh tidak 
benar," katanya.
        Kim mengatakan kepada UCA News 21 November: "Mereka mendapat keluhan 
hanya dari orang-orang yang menentang kami. Nanti kami akan mempersiapkan 
sebuah pernyataan untuk membantah laporan itu."
        Konferensi Waligereja Korea menyatakan pada 20 Maret 1998 bahwa semua 
uskup Korea telah sepakat untuk mematuhi larangan Keuskupan Agung Kwangju untuk 
mengunjungi tempat ziarah itu. 
        Namun, website Naju memuat kesaksian positif tentang tempat ziarah itu, 
dua di antaranya dari Uskup Sibu, Malaysia, Mgr Dominic Su dan Uskup Ruteng Mgr 
Eduardus Sangsun. ***

================================================================================

TAJIKISTAN       (TJ03870.566b)    26 November  2007     52 baris      (646 
kata)
WAKIL-WAKIL PEMERINTAH DAN AGAMA BAHAS RUU AGAMA
        DUSHANBE (UCAN) -- Para pejabat pemerintah telah menjelaskan perlunya 
sebuah undang-undang (UU) baru tentang agama untuk para pemimpin agama dan 
berusaha menghilangkan rasa takut mereka bahwa UU itu akan mengekang kebebasan 
untuk menghayati iman mereka.
        Sekitar 40 wakil Kristen dan Muslim, pengacara, aktivis hak asasi 
manusia, dan pejabat pemerintah mengikuti sebuah diskusi tentang usulan “UU 
tentang kebebasan hati nurani, lembaga-lembaga keagamaan, dan 
organisasi-organisasi lainnya.” Pertemuan itu diadakan di Dushanbe pada 21 
November di bawah pengawasan Organisasi Keamanan dan Kerjasama di Eropa.
        Tidak satu pun mewakili 250 umat Katolik di negeri itu atau Gereja 
Orthodoks Rusia, yang anggotanya terdiri atas sekitar 3 persen dari 6,5 juta 
penduduk Tajikistan. Umat Islam terdiri atas 96 persen.
        Pada pertemuan terakhir ini, Saidbek Makhmadulloev, ketua komisi urusan 
agama milik pemerintah, menjelaskan bahwa sebuah UU baru itu perlu karena UU 
yang berlaku saat ini tidak sesuai dengan realitas Tajikistan saat ini. 
        UU tentang agama yang berlaku saat ini dibuat tahun 1994 dan 
berdasarkan pada UU sebelumnya yang ditulis ketika Tajikistan masih menjadi 
bagian dari Uni Soviet, katanya, dan tidak sesuai dengan realitas saat ini. 
“Yang menjadi perhatian saat ini adalah isu-isu yang tidak terlalu berkembang 
di jaman Soviet,” katanya, sambil menyebut sejumlah prosedur seperti registrasi 
organisasi-organisasi keagamaan, ziarah rohani atau pendidikan agama.
        Sebelum 1991, ketika Tajikistan masih menjadi bagian dari Uni Soviet, 
atheisme secara resmi diperkenalkan dan agama-agama diremehkan.
        Seraya mengatakan bahwa ia berbicara atas nama seluruh umat Kristen 
pada pertemuan itu, Igor Samiev, ketua Asosiasi Gereja Baptis Tajikistan, 
mengatakan bahwa kaum minoritas agama mengkhawatirkan Rancangan UU (RUU) baru 
tentang agama itu. "UU baru ini hendaknya membantu kaum minoritas agama untuk 
menghayati iman mereka, tapi UU baru itu justru melarang mereka untuk melakukan 
hal ini,” katanya.
        Samiev menyinggung ketentuan RUU itu yang mengatakan bahwa sebuah 
komunitas non-Muslim harus memiliki sedikitnya 400 anggota di desa, 800 di 
sebuah kota atau 1.200 di ibukota untuk mendaftarkan diri sebagai sebuah 
organisasi keagamaan. "Ada lebih dari 80 organisasi keagamaan di Tajikistan, 
tapi hanya 10 dari mereka yang memiliki lebih dari 100 anggota," katanya, "maka 
kami berpikir bahwa pembatasan semacam itu dalam RUU tidak bisa diterima." UU 
yang ada saat ini menetapkan bahwa sebuah organisasi keagamaan non-Muslim bisa 
didaftarkan hanya dengan 10 anggota.
        Samiev juga menjelaskan bahwa RUU baru itu mengatakan bahwa orang asing 
tidak bisa memimpin atau membentuk komunitas atau organisasi keagamaan. Semua 
imam Katolik di Tajikistan saat ini adalah misionaris Sabda Inkarnasi dari 
Argentina, dan sebagian besar dari pendeta adalah juga orang asing.
        Pembatasan semacam itu hendaknya dihilangkan dari RUU itu karena ini 
melanggar hak asasi manusia, kata Samiev. Ia juga mengatakan bahwa ketentuan 
RUU tentang sumbangan pajak yang diterima organisasi-organisasi keagamaan 
melanggar sistem pendapatan Tajikistan.
        Sergei Kretov, pemimpin Gereja Rasul Baru, juga mengungkapkan 
keprihatinan tentang sebuah usulan ketentuan yang menuntut masyarakat untuk 
tinggal di sebuah lingkungan selama 10 tahun sebelum membentuk sebuah komunitas 
agama. "Ini berarti kami bisa berkotbah hanya di tempat-tempat di mana 
komunitas kami berada saat ini dan tidak bisa berkotbah di kota-kota besar dan 
kecil lainnya. Saya pikir ini merupakan pelanggaran terhadap hak saya," katanya 
kepada UCA News.
        Negmatullo Saidzoda, yang mewakili Partai Kebangkitan Islam Tajikistan, 
satu-satunya partai agama dalam parlemen, menentang ketentuan RUU itu yang 
melarang para pemimpin agama untuk jadi anggota partai politik.
        "Saya pikir ketentuan semacam itu melanggar hak para aktivis agama 
karena mereka tidak bisa menggunakan hak konstitusional mereka," kata Saidzoda 
pada pertemuan itu.
        Muktorov, pejabat Dewan Sosial Tajikistan (departemen yang menangani 
masalah sosial), menghadiri pertemuan itu. Ia kemudian mengatakan kepada UCA 
News bahwa pemerintah telah setuju untuk mempertimbangkan pernyataan-pernyataan 
dari komunitas agama dan pihak-pihak tertentu yang mengemuka pada pertemuan itu 
untuk mengembangkan RUU tersebut.
        Upaya pertama untuk mengubah UU yang berlaku saat ini muncul bulan Mei 
2006. Maret lalu komisi urusan agama menghubungi wakil-wakil komunitas dan 
organisasi agama dan memberi mereka RUU baru itu, seraya meminta mereka untuk 
mengajukan komentar tertulis dalam waktu lima hari. Sejak saat itu, para 
pemimpin agama non-Muslim berpartisipasi dalam dua pertemuan bersama komisi 
itu.***

================================================================================

VATIKAN       (ZY03913.566b)     30  November 2007     51 baris      (561 kata)
PAUS BENEDIKTUS BERI TANGGAPAN ATAS SURAT PARA ULAMA MUSLIM
Oleh Pastor Tom Michel
        ROMA (UCAN) -- Pada 29 November Vatikan mengeluarkan tanggapan yang 
sangat dinantikan terhadap surat dari 138 ulama Muslim berkenaan dengan 
pentingnya umat Kristen dan Islam memiliki “kata yang sama” mengenai hal-hal 
esensial tentang iman.
        Surat dari ulama Muslim tertanggal 13 Oktober itu menekankan 
sentralitas dua kewajiban -- cinta akan Allah dan cinta kepada sesama -- 
sebagai inti kedua agama. 
        Tanggapan dari banyak pemimpin Kristiani sangat cepat dan positif 
terhadap surat para ulama Muslim itu. Uskup Agung Rowan Williams dari 
Canterbury, ketua Persekutuan Anglikan, menanggapi pada hari yang sama saat ia 
menerima sebuah kopian surat itu. Tanggapannya itu ditujukan kepada Paus 
Benediktus, uskup agung dan para pemimpin utama Kristen lainnya dengan menyebut 
nama serta seluruh pemimpin Kristen pada umumnya.
        “Ada banyak hal di sini untuk dipelajari dan dikembangkan. Pemahaman 
akan keesaan Allah dalam surat itu memberi peluang bagi umat Kristiani dan 
Islam untuk bersama-sama menyelidiki pemahaman mereka yang unik dan cara-cara 
yang digunakan untuk membentuk dan menentukan hidup kita,” tulis prelatus 
Anglikan itu.
        Pendeta Samuel Kobia, sekretaris jenderal Dewan Gereja-Gereja se-Dunia, 
juga memuji surat itu. “Surat ini penting,” katanya, “karena ditandatangani 
oleh para pemimpin dan ulama dari kelompok-kelompok besar Muslim di seluruh 
dunia, yang membuat surat itu sendiri unik. Suatu persatuan yang jarang terjadi 
seperti itu memberikan banyak harapan akan apa yang bisa bersama-sama dicapai 
oleh umat beragama.”
        Di kalangan umat Katolik, sejumlah uskup termasuk George Kardinal Pell 
dari Sydney, Australia, dan Angelo Kardinal Scola, Uskup Venesia, Italia, 
memberikan tanggapan yang berbobot dan membesarkan hati terhadap surat para 
ulama Muslim itu.
        Namun, umat Islam menanti dengan sangat antusias untuk mendengar 
tanggapan Paus Benediktus XVI. Rupanya, paus ingin memikirkan secara serius dan 
berdoa sebelum menanggapi surat itu.
        Tanggapan paus akhirnya muncul dalam sebuah surat yang ditulis oleh 
Tarcisio Kardinal Bertone, sekretaris Negara Vatikan, atas nama paus. Tanggapan 
itu ditujukan kepada Pangeran Ghazi bin Muhammad bin Talal di Istana Raja di 
Amman.
        Kardinal Bertone menulis bahwa Paus Benediktus secara pribadi 
memintanya untuk menyampaikan rasa terima kasih atas surat para ulama Muslim 
itu dan “juga ingin mengungkapkan apresiasinya yang mendalam atas langkah para 
ulama Muslim ini, atas semangat positif yang menginspirasi teks itu, dan atas 
seruan untuk memiliki suatu komitmen bersama untuk meningkatkan perdamaian di 
dunia.”
        Kardinal itu mencatat bahwa tema kembar -- cinta akan Allah dan cinta 
kepada sesama – yang disoroti oleh para ulama Muslim itu berhubungan dengan 
topik ensiklik paus Deus Caritas Est (Allah itu Kasih). Surat itu menyarankan 
agar landasan bersama yang disuarakan para ulama Muslim “bisa memungkinkan kita 
untuk berdialog berlandaskan penghormatan yang efektif terhadap martabat setiap 
pribadi manusia, pengetahuan obyektif terhadap agama orang lain, pertukaran 
pengalaman keagamaan, dan akhirnya komitmen bersama untuk meningkatkan 
penghormatan dan penerimaan timbal-balik di kalangan generasi yang lebih muda.”
        Surat itu ditutup dengan sebuah undangan kepada Pangeran Ghazi dan 
sekelompok para penandatangan yang dipilih sendiri oleh pangeran untuk 
mengunjungi paus sebagai sebuah langkah berikut dalam dialog. Paus Benediktus 
juga mendorong studi bersama lebih lanjut – oleh para ulama Muslim dan 
institut-institut kepausan di Roma -- terhadap pandangan-pandangan iman yang 
sama dari umat Kristen dan Muslim. 

-----

Pastor Tom Michel, anggota Yesuit provinsi Indonesia, pernah menjadi ketua 
Kantor Islam dari Dewan Kepausan Dialog Antaragama selama 13 tahun, dari 
1981-1994. Kantor itu secara resmi dijadikan Sekretariat untuk Umat 
Non-Kristen. Imam yang sekarang ini menjadi sekretaris dialog antaragama Yesuit 
ini pernah beberapa tahun menjadi sekretaris eksekutif Kantor Ekumene dan 
Urusan Lintas Agama dari Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC, 
Federation of Asian Bishops' Conferences). ***

================================================================================

VIETNAM       (VT03891.566b)     29 November 2007     53 baris      (668 kata)
PARA USKUP MENGGARISBAWAHI TANGGUNG JAWAB GURU DAN SISWA PADA HARI GURU NASIONAL
        THAI BINH, Vietnam (UCAN) -- Para pemimpin Gereja mendesak para guru 
untuk mendidik para siswa menjadi orang-orang bermoral, dan para siswa untuk 
mengundang Allah ke dalam berbagai kegiatan mereka. 
        Uskup Kontum Mgr Michael Hoang Duc Oanh, dalam sebuah pesan 17 November 
untuk para siswa Katolik di keuskupannya, mendesak mereka agar “dengan penuh 
rasa hormat mengundang Allah untuk kembali ... ke dalam diri kalian, keluarga 
kalian, sekolah, dan masyarakat.”
        Uskup Oanh memerintahkan agar suratnya dibacakan pada Misa-Misa akhir 
pekan di seluruh gereja di keuskupannya pada 18 November, dua hari menjelang 
Hari Guru nasional. Keuskupannya terletak di Kota Kon Tum, 1.260 kilometer 
selatan Ha Noi.
        Prelatus itu menjelaskan bahwa para siswa tinggal di sebuah lingkungan 
sekular yang “menghasilkan orang-orang yang memiliki pikiran tetapi bukan 
hati.” Kejahatan sosial bisa berasal dari lingkungan semacam itu “tanpa Allah, 
di mana orang ingin menjadi allah bagi sesamanya,” katanya mengingatkan.
        Uskup Oanh mengatakan bahwa Gereja mengharapkan para siswa Katolik agar 
tidak hanya belajar di sekolah tapi juga memberi kesaksian akan Kabar Gembira. 
Ia meminta para siswa untuk mengunjungi dan menyampaikan ucapan selamat kepada 
para guru mereka pada Hari Guru dan membantu para guru dan teman-teman “bertemu 
Allah dengan memberi mereka Kitab Suci.”
        Pemerintah mengelola semua sekolah di Vietnam.
        Pada sebuah perayaan lain yang berlangsung di gereja katedral di Thai 
Binh, 100 kilometer tenggara Ha Noi, Uskup Francis Xavier Nguyen Van Sang 
memimpin sebuah Misa khusus untuk 100 dosen dan mahasiswa Katolik dari 
kolese-kolese keguruan.
        “Para guru memiliki peran penting dalam membantu para siswa 
menyempurnakan moralitas dan ketrampilan pendidikan mereka,” kata uskup dari 
Thai Binh itu.
        Lima imam merayakan liturgi 18 November yang diadakan menjelang Hari 
Guru, dan para guru duduk di barisan depan. Sebanyak 1.500 orang yang 
menghadiri Misa juga mencakup para pejabat dari lembaga-lembaga pendidikan 
pemerintah.
        Uskup Sang mendesak para guru untuk meneladani Yesus, yang menurutnya 
merupakan tuan atas pengampunan, kebaikan hati, kelemahlembutan, keadilan, 
pengorbanan, dan keterbukaan.
        Ajaran Kristen, katanya mengingatkan, mengajarkan bahwa para guru tidak 
hanya memberi pengetahuan praktis dan ilmiah pada para siswa tapi juga melatih 
mereka untuk menjalani hidup suci dan bermoral seturut kata-kata Yesus: 
“Haruslah kamu sempurna, seperti Bapamu di surga sempurna adanya.”
        Pastor Dominic Dang Van Cau, yang bertanggung jawab atas kantor uskup, 
mengatakan kepada UCA News bahwa ini pertama kalinya keuskupan mengadakan acara 
semacam itu untuk para pendidik Katolik setempat. Ia mengatakan bahwa surat 
gembala Pendidikan Masa Kini, Masyarakat dan Gereja Masa Depan, yang 
dikeluarkan oleh para uskup Vietnam pada pertemuan tahunan mereka yang 
diselenggarakan 8-12 Oktober di Ha Noi, mendorong perayaan khusus itu. Para 
uskup juga menyatakan Oktober 2007 hingga Oktober 2008 sebagai "Tahun 
Pendidikan Kristen."
        Pastor Cau memuji Uskup Sang, mantan rektor Seminari Tinggi Santo Yosef 
di Ha Noi, yang telah ikut mendidik empat uskup dan ribuan imam dan kaum 
religius untuk keuskupan-keuskupan bagian selatan.
        Anthony Ha Ngoc Bich, seorang guru sekolah dasar, mengatakan kepada UCA 
News, "Kami, para guru, pertama kali harus menghayati iman Katolik kami dan 
memperbaiki sikap dan perilaku kami.” Para pendidik hendaknya mengajar para 
siswa untuk menghormati keadilan dan martabat semua orang, khususnya para 
petani, yang merupakan kelompok mayoritas di keuskupan, dan semua buruh. Para 
siswa hendaknya juga belajar menentang ketidakadilan, kekerasan, korupsi, dan 
aksi kejahatan, lanjut umat Paroki Cat Dam itu. 
        Bich, 50, yang mengajar sastra, menambahkan bahwa para pendidik 
hendaknya mengajarkan para siswa untuk bekerja keras, mematuhi orang tua 
mereka, hidup untuk orang lain dan bukan hanya untuk diri mereka sendiri, dan 
untuk menghormati lingkungan alam yang diciptakan oleh Allah.
        Seorang guru lainnya, yang minta tidak disebutkan namanya, mengatakan 
pada UCA News, beberapa guru Katolik yang adalah anggota Partai Komunis dan 
tidak menghayati iman mereka, atau yang jarang mengikuti kegiatan-kegiatan 
Gereja, merasa “senang bisa datang” hari itu dan “menghargai pertemuan itu.”
        Seusai Misa, Uskup Sang bertemu para guru di aula kediaman uskup, yang 
terletak berdampingan dengan gereja katedral. Di sana mereka bersama-sama 
memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok guru Katolik. Uskup juga memberi 
para guru bunga, salinan surat gembala, dan brosur tentang katedral baru Thai 
Binh yang diresmikan bulan Oktober. Para guru menyanyikan sejumlah lagu tentang 
profesi mereka dan uskup menyiapkan makanan untuk mereka. ***

Kirim email ke