Http://www.pondokrenungan.com 
   
  Teks Pidato Paus Benediktus untuk Universitas La Sapienza, Roma (Bagian 2)
   
  Berikut adalah sambungan dari teks pidato yang seharusnya dibacakan oleh Bapa 
Suci Benediktus XVI dalam kunjungannya ke universitas La Sapienza, yang 
dijadwalkan hari Kamis, 17 Januari, dan kemudian dibatalkan sehari sebelumnya. 
   
  VATIKAN-ITALIA
   
   
  Tetapi sekarang kita harus bertanya pada diri kita sendiri: Apakah sebuah 
universitas? Apakah tujuannya? Ini adalah pertanyaan yang besar yang dapat saya 
jawab sekali lagi dalam cara yang hampir telegrafis dengan hanya membuat 
beberapa pengamatan. Saya percaya bahwa dapat dikatakan bahwa keaslian mendalam 
yang benar dari universitas terletak pada kebutuhan manusia akan ilmu 
pengetahuan.  Ia ingin mengetahui apa yang ada disekelilingnya. 
Dalam hal ini pertanyaan Sokrates adalah denyut nadi yang melahirkan 
universitas Barat. Saya berpikir untuk menyebutkan satu teks, sebuah perkara, 
yang menyebabkan Euthyphro, yang membela agama mistik dan devosinya itu, 
melawan Sokrates.
Sebaliknya Sokrates bertanya kepada Euthyphro: "engkau percaya, bahwa ada 
perang antara dewa-dewa, juga permusuhan dan perkelahian.... haruskah kita 
bilang bahwa itu semua benar?" (Euthyphro, 6: b dan c). Dari pertanyaan ini 
Sokarates yang kelihatan tidak sopan, tidak saleh, tetapi sesungguhnya muncul 
dari kesalehan Sokrates yang dalam, orang-orang Kristiani abad pertama telah 
mengenal diri dan jalan mereka. Mereka tidak menerima iman mereka secara 
positivistis, bukan sebagai sebuah jalan keluar dari keinginan-keinginan yang 
tak terpenuhi, melainkan sebagai sebuah jalan tembus dari kabut agama mitologis 
menuju Allah, Ratio pencipta dan sekaligus Ratio yang adalah cinta. 
Karena itu pertanyaan Ratio akan  Allah yang lebih besar dan tentang apa 
manusia sebenarnya, bagi mereka (Gereja) bukanlah bentuk ketidaksalehan 
melainkan termasuk dalam hakekat dari cara kesalehan itu. Mereka (Gereja jaman 
abad pertama) karenanya tidak perlu membuang pertanyaan macam ini atau 
mengesampingkannya, melainkan boleh bahkan harus menerimanya dan mengakui 
pergumulan Rasio untuk memperoleh pengetahuan akan seluruh kebenraan sebagai 
bagian dari identitasnya. Maka mestilah dalam ruang iman kristiani, dalam dunia 
Kristiani, universitas muncul. Kita harusmengambil langkah lainnya. Orang ingin 
tahu; ia menginginkan kebenaran. Kebenaran merupakan yang pertama-tama dan yang 
terpenting untuk melihat dan memahami teori seperti yang ada dalam tradisi 
Yunani. Tapi kebenaran bukan hanya sebuah teori. Santo Agustinus menegaskan 
hubungan timbal-balik antara ilmu pengetahuan dan kebenaran. Baginya hanya 
mengetahui adalah sumber kesedihan. Bahkan mereka yang hanya melihat dan
 mengetahui semua yang terjadi di dunia berakhir dengan kesedihan. Tapi 
kebenaran berarti 
lebih daripada ilmu. Tujuan untuk mengetahui kebenaran adalah untuk mengetahui 
apa yang baik. Ini juga makna dari pertanyaan Sokrates: Hal baik apa yang 
membuat kita benar? 
Kebenaran menjadikan kita baik dan kebaikan adalah benar. Ini optimisme yang 
hidup dalam iman Kristiani, karena dia sang Logos, Rasio pencipta telah menjadi 
jelas, yang sendiri dalam penjelmaan Allah telah menunjukkan dirinya sebagai 
Yang Baik.
   
   
  Dalam teologi abad pertengahan ada sebuah perkara seputar hubungan antara 
teori dan praktek, seputar hubungan antara ilmu dan tindakan, sebuah perkara 
yang tidak harus kita bahas di sini. Mari kita mulai dengan kedokteran, 
fakultas urutan ke empat menurut 
pemahaman saat itu. Meski dilihat lebih sebagai suatu "seni" daripada sebuah 
ilmu, pencantumannya dalam dunia universitas mengartikannya sebagai kepunyaan 
dari rasionalitas.  
Seni menyembuhkan dilihat sebagai sesuatu yang dibimbing oleh rasio dan oleh 
karena itu melampaui sihir. Menyembuhkan adalah sebuah tugas yang selalu 
membutuhkan lebih dari rasio sederhana tapi tepatnya untuk rasio ini dibutuhkan 
koneksi antara ilmu dan kekuasaan dan harus berada dalam alam rasio. Tak 
terelakkan dalam fakultas hukum hubungan antara 
praktek dan teori, antara mengetahui dan mengambil langkah terdepan karena 
menyangkut memberikan kebebasan manusia, bentuknya yang benar yang selalu 
merupakan kebebasan dalam persatuan timbal-balik.  Hukum adalah landasan dimana 
kebebasan dibangun. Namun ini menimbulkan pertanyaan lain. Bagaimana kita dapat 
menentukan apakah standar keadilan, yang membuat kebebasan sebagai bagian dari 
seluruh kemungkinan dan memberikan kebaikan umat manusia?
  Mari kita kembali ke masa kini. Bagaimana kita dapat menemukan 
peraturan-peraturan hukum yang dapat memimpin kebebasan, martabat manusia dan 
hak-hak manusia. Isu ini berhubungan dengan proses demokrasi yang membentuk 
opini-opini tapi juga yang dapat 
membebaskan kita sejauh hubungannya dengan masa depan umat manusia. Jürgen 
Habermas melemparkan pandangan, yang diterima secara luas dalam ide-ide saat 
ini, di mana kelayakkan sebuah konstitusi sebagai dasar untuk apa yang legal 
didasarkan dari dua sumber: keikusertaan yang sama dari seluruh warga dalam 
proses politik dan mekanisme penyelesaian konflik yang masuk akal dalam 
politik. 
Dalam hal mekamisme yang berasio ia mengatakan isu itu tidak dapat diartikan 
hanya sebagai pergulatan untuk siapa yang mendapatkan suara yang lebih banyak 
namun harus berarti sebuah "proses dari argumentasi yang responsif kepada 
kebenaran". Ini teori yang benar namun sulit untuk dipraktekkan. Respon 
terhadap kebenaran selalu menjadi yang terbelakang bagi keinginan partisan. 
Bagi saya Habermas harus mengatakan bahwa respon terhadap kebenaran adalah 
sebuah komponen yang perlu bagi argumentasi politik, karena memperkenalkan 
kembali konsep dari kebenaran dalam debat-debat filosofi dan politik.
Pertanyaan Pilatus tak terelakkan: Apakah kebenaran? Bagaimana kita 
mengenalinya? Jika kita melihat "rasio publik", pertanyaan lain timbul: Apakah 
kelayakkan?  Bagaimana sebuah rasio terbukti menjadi rasio yang layak? Dalam 
kehidupan universitas abad pertengahan, bersamaan dengan hukum, ada juga 
fakultas filosofi dan teologi   dengan tugas mempelajari kemanusiaan dalam 
totalitasnya dan menghidupkan respon terhadap kebenaran. Orang dapat berkata 
ini adalah arti yang sesungguhnya dan berat dari kedua fakultas -mereka menjaga 
respon terhadap kebenaran dan menghindarkan orang untuk tidak buyar dalam 
meraih kebenaran. Bagaimana mereka dapat melakukan ini? Ini adalah pertanyaan 
yang harus kita kerjakan dan yang tidak dapat diangkat dan dijawab sekaligus. 
Pada tahap ini bahkan sayapun tidak dapat memberikan jawaban. Namun saya dapat 
mengundang kalian untuk tetap mempertanyakannya, orang yang merangkul semua 
pemikir besar dalam sejarah, muncul dengan jawabannya sendiri dan memikul
 ketakutannya sendiri, selalu melampaui jawaban orang lain.
   
   
  Teologi dan filosofi adalah pasangan yang aneh; mereka tidak dapat saling 
dipisahkan, bahkan keduanya harus menjaga tujuan dan identitas mereka. Santo 
Thomas Aquinas menampilkan otonomi filosofi sebagaimana hukum. Ia menampilkan 
tanggungjawab dari rasio saat mempertanyakan dirinya atas dasar kekuatannya 
sendiri. Tidak seperti ide-ide neo-platonis yang melihat agama dan filosofi tak 
terpisahkan, para Bapa Gereja telah menunjukkan iman Kristiani sebagai filosofi 
yang benar, menegaskan bahwa iman ini korespon terhadap kebutuhan Rasio dalam 
meraih kebenaran, yaitu sebuah iman yang adalah sebuah "Ya" kepada kebenaran 
saat dibandingkan dengan agama-agama mistik yang telah berakhir sebagai 
kebiasaan saja. Namun demikian, saat universitas-universitas dibangun di dunia 
Barat agama-agama itu tidak ada lagi - hanya Kristianitas yang ada. Ini berarti 
menampilkan dalam cara yang baru tanggungjawab dari sebuah rasio, yang tidak 
ditangkap oleh iman. Thomas hidup di masa itu. Untuk
 pertama kalinya tulisan-tulisan filosofis Aristotel tersedia sama halnya 
dengan teks Yahudi dan Arab yang memperluas filosofi Yunani. Sebagaimana 
Kristianitas berinteraksi dengan yang lain dan mengaitkan rasio mereka dalam 
sebuah dialog baru ia harus berjuang bagi kelayakannya. 
   
   
  Fakultas Filosofi , sebagai contoh, yang dinamakan fakultas para seniman, 
saat itu masih sebagai sebuah tingkat persiapan sebelum masuk ke teologi. 
Kemudian menjadi sebuah fakultas sendiri, sebuah partner otonomi bagi teologi 
dan iman yang terefleksi. Ide Santo Thomas tentang hubungan antara filosofi dan 
teologi dapat digambarkan dengan formula yang diberikan oleh Konsili Chalcedon 
tentang Kristologi, menyebutkan bahwa filosofi dan teologi harus saling 
berhubungan "tanpa kebingungan dan tanpa perpisahan". "Tanpa kebingungan" 
dimaksudkan dalam arti bahwa masing-masing akan menjaga identitasnya sehingga 
filosofi adalah sungguh-sungguh sebuah penelitian yang bebas dan 
bertanggungjawab akan rasio dan sadar akan keterbatasannya dan akan kebesaran 
dan keleluasaannya. Teologi sebaliknya harus terus menarik diri dari sumber 
ilmu pengetahuan yang tidak ditemukannya dan yang selalu lebih besar darinya, 
dan yang selalu memperbaharui proses berpikir karena tidak pernah lelah oleh
 refleksi. "Tanpa kebingungan" tidak berdiri sendiri karena ada "tanpa 
perpisahan", itulah ide bahwa filosofi adalah bagian dari dialog besar yang 
ditemukan dalam ilmu terakumulasi yang telah diwariskan oleh sejarah dan yang 
selalu diterima dan dibangun secara kritis namun tanpa perlawanan. Namun tidak 
boleh keluar dari yang agama-agama, terutama iman Kristiani, telah terima dan 
berikan kepada manusia sebagai sebuah tanda bagi jalan yang ditempuh. Tentu 
saja sejarah telah menunjukkan bahwa banyak hal yang telah dikatakan oleh para 
teolog sejalan dengan waktu atau yang telah dipraktekkan oleh otoritas Gereja 
telah dibuktikan palsu dan sekarang membingungkan kita. 
Tetapi juga benar bahwa sejarah dari para orang kudus dan sejarah dari 
kemanusiaan yang telah dibangun berdasarkan iman Kristiani adalah bukti atas 
kebenaran dari iman ini dalam intinya yang esensial yang dibutuhkan oleh rasio 
publik. Apa yang dikatakan oleh teologi dan iman hanya dapat dilihat dalam iman 
dan sebaliknya tidak sebagai sebuah kebutuhan bagi mereka kepada siapa iman ini 
tetap tidak dapat diraih. Pesan dari iman Kristiani tidak pernah hanya sebagai 
"doktrin agama yang dimengerti", namun sebaliknya sebuah kekuatan yang 
memurnikan rasio sendiri, kemudian membantunya menjadi rasio sendiri. Pesan 
Kristiani harus selalu mendorong pencarian akan kebenaran dan menjadi sebuah 
kekuatan terhadap tekanan-tekanan oleh kekuasaan dan kepentingan-kepentingan. 
   
   
  Baiklah, sejauh ini saya hanya berbicara tentang universitas di Abad 
Pertengahan, mencoba menunjukkan sifatnya dan  tujuannya yang tetap sama. Dalam 
dunia modern ilmu telah menjadi lebih dari berbagai segi, terutama dalam dua 
bidang besar yang ada di universitas. Yang pertama, ada ilmu alam yang telah 
membangun rasionalitas atas dasar percobaan. Yang kedua, ada ilmu sosial dan 
kemanusiaan dalam mana orang berusaha memahami dirinya dengan melihat 
sejarahnya dan membuka sifatnya sendiri. Kemanusiaan bukan hanya memerlukan 
sebuah ilmu yang besar dan kekuasaan tapi juga sebuah pemahaman dan pengakuan 
atas hak-hak dan martabat manusia. Tapi perjalanan manusia tidak berakhir dan 
bahaya untuk jatuh ke dalam ketidakperikemanusiaan tidak pernah hilang seperti 
yang kita lihat dalam sejarah saat ini. Bahaya yang dihadapi oleh dunia Barat, 
adalah manusia, yang memiliki ilmu dan kekuasaan yang besar, dapat putus asa 
atas pertanyaan tentang kebenaran. Ini berarti rasio pada akhirnya
 dapat tunduk pada tekanan-tekanan kepentingan-kepentingan partisan dan nilai 
instrumental, dipaksa untuk mengakuinya sebagai standar terakhir. Dalam 
pandangan dunia akademis, ini berarti ada bahaya yang filosofi, merasa tak 
mampu menjalankan tugasnya, dapat memburuk menjadi positivisme, sebuah bahaya 
yang teologi dan pesan yang dimilikinya untuk rasio dapat menjadi milik pribadi 
dari sebuah kelompok yang besar. 
   
   
  Lalu kembali ke pertanyaan awal.  Apa yang harus dikatakan Paus pada 
universitas? Tentu dia tidak boleh berusaha seturut kekuasaan autoritasnya 
untuk mendesak orang lain untuk sampai kepada iman, yang cuma merupakan 
anugerah. Di luar tugas kegembalaannya dan atas dasar hakekat tugas kembalaan 
ini, tanggungjawabnya adalah, untuk menjaga agar sensibilitas akan kebenaran 
tetap terjaga. Ia harus mengundang terus rasio untuk terus 
mencari Yang Benar, yang baik, mencari Allah, dan dalam jalan ini mendorongnya 
untuk melihat cahaya-cahaya penolong yang dalam sejarah iman Kristiani telah 
ada dan dalam kaitan itu juga menanggapi Kristus sebagai cahaya, yang menerangi 
sejarah dan dan membantu orang menemukan jalan menuju masa depan.
   
   
  Dari Vatikan, 17 Januari 2008
   
  BENEDIKTUS XVI
   
  
(Ditulis dan diterjemahkan oleh Shirley Hadisandjaja, dari sumber: ASIANEWS)
  
 
  Shirley Hadisandjaja
  Via dei Martiri, 1,
  20020, Cesate (MI)
  http://www.pondokrenungan.com 

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke