Terima kasih, Pak Paul. Saya jadi ingin ikut nimbrung.

Saya kira kesulitan membina mudika adalah fenomena umum di banyak wilayah.
Dari sudut pandang orang dewasa, mudika itu cenderung tertutup dan malu
berkomunikasi. Hal ini tidak berarti mudika (orang-perorang / pribadi) pemalu.
Bisa saja mereka sangat aktif di sekolah ataupun di klub hobi. Tapi kenapa
kalau sudah dikaitkan dengan kegiatan menggereja (mudika) mereka jadi
enggan?

Pengalaman saya sebagai mantan mudika, mereka kurang menyukai arahan
dari orang dewasa. Mereka ingin diberi kesempatan berkreasi tanpa intervensi,
termasuk risiko keliru sewaktu-waktu. Sebaliknya orang dewasa tidak memberi
kesempatan mudika untuk berbuat kesalahan (maunya serba perfect, gitu).
Orang dewasa juga kurang kreatif dalam urusan menggereja. Apa arti menggereja
bagi orang dewasa? Paling2 cuma jadi pengurus lingkungan, wilayah, DP, doa
rosario, koor.

Orang dewasa punya kesibukannya sendiri2 (kerja). Mudika juga sibuk (kuliah,
sekolah, atau cari kerja). Bagaimana orang dewasa bisa punya waktu berkreasi
pikiran untuk mudika? Bagaimana mudika berkreasi memikirkan nasibnya
sendiri? Kegiatan apa yang cocok untuk mudika (yang menggereja tapi tidak
membosankan)?

Leo.


----- Original Message ----
From: paul sutaryono <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, June 11, 2008 8:28:42 AM
Subject: Re: [StThomas_Kelapa2] Peran Pengurus Wilayah dalam pembinaan kaum muda


Yang Terkasih Rekan-rekan,
 
Senang mengikuti spirit, pesan dan renungan Mas Kristiyono ini.
 
Tetapi rupanya banyak pengurus gereja (a.l. DPP, Stasi, Wilayah dan Lingkungan) 
tidak sempat memberikan tanggapan. Sungguh saya menyadari kesibukan mereka 
masing-masing. Sepi. 
 
Sebaiknya tinggalkan pola pikir (paradigma) lama bahwa Mudika itu tugasnya 
tukang parkir. Tugas itu hampir selalu melekat pada misa-misa besar Natal dan 
Paskah.Hitung saja dari 12 Mudika Wilayah, berapa yang memiliki koor? Mungkin 
hanya Mudika Wil VII Mekarsari, Cimanggis. Bagaimana yang lain?
 
Mudika selain harus mengembangkan diri juga dikembangkan oleh Wilayahnya. 
Bahkan oleh siapa saja yang bersedia. Mudika mestinya juga diberi kiat-kiat 
mengenai leadership (ini memang pernah tetapi mestinya terus menerus karena 
Mudika juga terus berganti), magement secara umum, komunikasi, tata nilai, 
bagaimana membuat surat lamaran yang tajam, menarik dan terpercaya, bagaiamana 
menghadapi wawancara pekerjaan dll sebagai bekal mereka untuk memasuki dunia 
kerja yang sebenarnya.
 
Mudika bukan hanya asyik mengurusi parkir, koor, piknik tetapi juga wajib 
menyiapkan diri menyongsong masa depannya sendiri. Mudika bukan pos nongkrong 
sehingga kalau sudah lulus kuliah ya cari pekerjaan. Mudika bukan balai bengong!
 
Monggo ... kita mulai diskusi.
 
Salam sukses,
Paul Sutaryono
 
--- On Fri, 6/6/08, kristiyono <[EMAIL PROTECTED] edu> wrote:
From: kristiyono <[EMAIL PROTECTED] edu>
Subject: [StThomas_Kelapa2] Peran Pengurus Wilayah dalam pembinaan kaum muda
To: SantoThomas_ [EMAIL PROTECTED] ups.com
Date: Friday, June 6, 2008, 1:25 PM


Apakah peran pembinaan dan pendampingan terhadap kaum muda hanya dilakukan oleh 
Seksi Kepemudaan di DPP ?
Apakah Pengurus Wilayah punya peran ?

Bagaimana bisa berperan ? sedangkan organisasi kaum muda (misalnya: Mudika/OMK) 
terpisah dari struktur kepengurusan wilayah ?
Jawabannya tertuang dalam Buku Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki Pastoral Paroki 
(DPP) Santo Thomas, BAB IV WILAYAH, Tugas Pengurus WIlayah, halaman 35, huruf 
g, yang tertulis :
"Melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap kaum muda Wilayah (Mudika dan 
Rekat)"
sumber: Buku Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki Pastoral Paroki (DPP) Santo 
Thomas - Dewan Pastoral Paroki Santo Thomas 2006
http://akudanomk. wordpress. com/2008/ 06/06/peran- pengurus- wilayah-dalam- 
pembinaan- kaum-muda/ 
    


      

Kirim email ke