Jadi romo, siapakah yang mau?
 
 
Diri sendiri?
“Mari!  Datanglah ke Seminari! Siapa tau engkau memang terpilih untuk 
melayani...”
 
Jangan aku!
Lalu siapa?
Kalau sudah dipanggil, lalu mbelot
Kalau sudah dipilih malah melarikan diri....
Lalu, siapa yang jadi romo?
 
Terserah!
Yang penting bukan aku!
 
Bila kelak tidak ada lagi romo...
Sehingga kita hanya bisa ibadat sabda....
AHA!!!! Emang enak, kalo jadi Katolik tapi gak pernah Ekaristi?!?!?!?!
Katolik apa itu?!?!?!
 
Kalau begitu anak orang lain sajalah!
Mungkin mereka mau tapi belum tentu cukup biaya....
 
Poro sedulur,
Seperti yang dikatakan oleh mo Sam, bahwa Seminari Palembang (SemPal) – yang 
pernah jadi sekolahnya mang Iyus - pada saat ini sangat memerlukan bantuan 
dana. Sesungguhnya adalah kabar gembira bahwa semakin tahun semakin banyak yang 
masuk ke SemPal.  Oleh karenanya SemPal memerlukan dana untuk perluasan gedung 
Seminari, menambah sarana pendidikan: buku, alat musik, dll.
 
Untuk itu, MARI!
Kita bersama memikirkan bagaimana mengembangkan Seminari!
Di Jakarta Rm H. Wardjito SCJ melayani segala yang intensi untuk keperluan 
Seminari.
Hubungi beliau di [EMAIL PROTECTED]
Atau rumah SCJ di 021 819 8125 ato: 081-7273-689
 
Kalo mau langsung nyumbang silakan ke:
Nomor Rekening Bank:
Bank BCA,
KCP Otista Jakarta
No. Rekening: 5530292454
Atas nama: HADRIANUS WARDJITO


Atau kita mau ketemuan untuk memulai aktifitas ini bersama?
 
Ayo aja!
Sapa berani ketemu aku.... eh, mo Djito?!  
 
 
 
 

Re: Perlunya Seminari Menengah (I) 
Posted by: "Yohanes Samiran SCJ" [EMAIL PROTECTED]   ysamiran30152 
Sun Aug 3, 2008 5:41 pm (PDT) 
Para Apikers, 
Baru saja saya pulang dari Salamanca, Spanyol untuk mengikuti pertemuan para 
pendidik (yang mendidik dan menjalankan sekolah) yang berspiritualitas 
Dehonian. (NB. Pater Leo Yohannes Dehon adalah pendiri Kongregasi SCJ). Hadir 
dalam pertemuan internasional itu 95 orang perwakilan dari berbagai negara: 
Canada, USA, Brazilia, Chili, Venezuela, Argentina, Jerman, Spanyol, Portugal, 
Italia, Polandia, Inggris, Afrika selatan, Congo/Zaire, Madagaskar, India dan 
Indonesia. 

Salah satu sekolah yang dikelola di Spanyol adalah Seminari Menengah st 
Yohanes. Namanya memang masih seminari, dan masih dipertahankan bahwa yang 
sekolah di sekolah itu hanya pria saja. Tetapi jangan pikir itu adalah seminari 
seperti di Indonesia, yang semua anaknya tahu bahwa seminari itu adalah sekolah 
calon pastor. Bahkan seorang ibu guru dalam share di kelompok cerita bahwa 
kadang sempat heran dan frustrasi dengan latar belakang anak. Misalnya: banyak 
anak yang masuk dan datang tidak mempunyai pengetahuan keagamaan katolik 
seperti yang mereka andaikan. Berdoa Bapa Kami pun ada yang belum bisa. Ada 
juga tahun ini 3 anak yang datang dari latar belakang broken home, dan ortunya 
cerai. 
Saat ini siswanya (rata-rata pertahun sama) sekitar 70 orang. 

Heeeeeeee .......... berapa persen yang jadi imam? Kalau dari setiap angkatan 
ada SATU saja yang akhirnya mau jadi imam adalah berkat besar bagi Gereja 
Katolik dan seminari itu. 

Lalu untuk apa masih dipertahankan? Namanya tetap dipertahankan seminari. Visi 
utama mendukung pelayanan kehidupan GK masih. Tetapi mereka tidak akan mundur 
karena prosentase yang jadi imam menurun tajam atau malah kadang tidak ada. 
Jaman telah berubah. Dan perubahan itu bisa menyangkut semangat dan minat anak 
untuk masuk seminari.

Di Indonesia sampai hari ini, setidaknya di Jawa dan Sumatera yang namanya 
sekolah Seminari - ya sekolah calon pastor. 
Sekitar tahun 80-an, ketika program KB Indonesia menunjukkan hasil yang 
signifikan, pernah muncul ketakutan dari kami para pendidik di Seminari 
Menengah Palembang, kalau akan segera kehilangan calon, karena setiap keluarga 
hanya punya dua anak, dan pasti semakin sedikit kerelaan orangtua atau minat 
anak untuk masuk pendidikan itu. 
Kedua, dengan perubahan kondisi sosial ekonomi dan kenyamanan hidup, juga kami 
sempat yakin bahwa peminat akan segera menurun. 

Tetapi ternyata ketakutan dan analisis sosial kami tadi keliru. Penyelenggaraan 
ilahi berjalan di luar hukum dan prinsip sosial ekonomi melulu. Ada faktor lain 
yang ikut menentukan, antara lain kehidupan religius atau kekatolikan pada 
umumnya dan kedekatan para imam kepada umatnya. 
Jumlah peminat ke Seminari Palembang, masih tetap menggembirakan sampai hari 
ini. Yang ikut testing masuk per tahun masih di atas 70 calon, gabungan dari 
lulusan SMP dan SMA ke atas. Sehingga jumlah siswa yang real diterima dan 
menjalani pendidikan di setiap awal tahun masih di atas angka 100-an. Itulah 
sebabnya Romo Titus Waris Widodo SCJ dan staf Seminari Palembang saat ini 
sedang bingung mencari sponsor atau donatur untuk membangun ruang kelas 
belajar, karena memang dibutuhkan ruang kelas baru yang memadai dan kondusif. 
Semuanya tahu dan dituntut untuk menghidupi komitment bahwa seminari adalah 
pendidikan calon pastor dan biarawan. Tuntutan disiplin tinggi dan keras. Masih 
berlaku sistem gugur, siapa tidak naik atau nilai tidak memenuhi standar 
(karena sekolah sekarang pasti anak naik) harus pulang ke rumah. 

Dan hasilnya? Dari pengamatan dan perhitungan kasar prosentase yang tuntas 
sampai menjadi imam atau biarawan tetap, berkisar antara 15 sd 35 %; entah itu 
dari saat kondisi tahun 60-an atau pun tahbisan sesudah tahun 2000-an. 
Jadi sekali lagi kondisi sosial ekonomi dan tingkat kesejahteraan hidup 
keluarga secara keseluruhan tidak mengubah prosentase keberhasilan atau kalau 
pabrik ya outputnya. 

Maka, rasanya memperhitungkan, menilai, dan menyimpulkan, perlu dan tidaknya 
Seminari Menengah khususnya di Indonesia saat ini, hanya dinilai dari soal 
perbandingan yang tuntas jadi dan yang gugur di jalan, rasanya tidak menjawab 
persoalan dan tidak menyelesaikan persoalan ketenagaan imamat dalam GK. Karena 
itu dari dulu sampai sekarang saya pribadi amat yakin akan: pertama Sabda Yesus 
sendiri: "Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih" ... dan Sabda 
senada. 
Kedua, juga yakin bahwa prosentase umum keberhasilan Seminari memang di kisaran 
itu. 
Jadi kita tidak bisa memperlakukan perhitungan bisnis dalam konteks pendidikan 
imamat dan seminari. 
Artinya, kalau kita menghitung secara bisnis, dari duluuuu sekali saya dengan 
para staf di Seminari Palembang, amat mengerti dengan mudah bahwa itu rugi. 
Tetapi untuk masa depan dan pelayanan Gereja Katolik secara keseluruhan, kami 
melihat bahwa perhitungannya tidak bisa menggunakan tolok ukur itu. 
Bisa kita menggunakan kacamata lain: secara umum mereka yang pernah mengenyam 
pendidikan Seminari, walau ada banyak kekurangan yang perlu dievaluasi, tetapi 
dalam praktik selanjutnya, walau tidak jadi pastor, umumnya tetap aktif 
menghidupi dan melayani gereja menurut kondisi masing-masing. 

(Supaya tidak panjang .... lihat tulisan atau tanggapan saya seri II)

salam dan doa,

Yohanes Samiran SCJ 
------------ --------- --------- --------- --------- --- 
*** Semoga Hati Yesus merajai hati kita *** 



      

Kirim email ke