Fyi
 
Pendidikan Politik Orang Muda Katolik, Bahan dan Modul untuk Fasilitator
Judul: Pendidikan Politik Orang Muda Katolik, Bahan dan Modul untuk Fasilitator 
Tebal         : 110 halaman 
Ukuran       : 17 X 24 cm 
Penerbit     : Komisi Kepemudaan KWI  
Th. Terbit   : 2008 
Editor         : Felix Iwan Wijayanto 
Pengantar   : Y. Dwi Harsanto Pr 
Sambutan   : Mgr. Y. Harjosusanto MSF 
Harga         : Rp 15.000,- 
Pemesanan : Komkep KWI 
                    Jl Cikini II no 10 Jakpus 
Telp           : 21-31924487 
Fax.           : 21-31909804
----
 
Keadaan masyarakat Indonesia sepuluh tahun terakhir pasca reformasi 1998 secara 
kasat mata terlihat memprihatinkan. Ini diawali oleh gerakan mahasiswa yang 
melakukan kritik terhadap pemerintahan Orde Baru dan akhirnya berhasil 
menurunkan Presiden Soeharto. 
Perubahan ini diwarnai oleh situasi sosial politik yang tidak menentu terutama 
jika masyarakat membandingkan dengan masa Orde Baru yang terlihat tenang dan 
kurang terjadi permasalahan besar. Hal ini bisa terjadi karena tindakan 
represif penguasa dalam hampir setiap sendi kehidupan masyarakat dan tekanan 
untuk "membungkam" media massa agar tidak ada berita yang negatif mengenai 
pemerintah. 
Sesuai dengan semangat reformasi untuk melakukan demokratisasi kehidupan 
bernegara maka masyarakat dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Pemilu 
di era reformasi tahun 1999, 2004 dan pemilihan kepala daerah merupakan usaha 
untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik meskipun kita dapat merasakan 
hasil pemilu dan pilkada tersebut sejauh ini belum berdampak optimal bagi 
kesejahteraan masyarakat. 
Secara umum meningkatnya jumlah orang yang tidak memilih dalam Pemilihan Umum 
(Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) seakan menjadi suatu kejadian 
biasa yang kita baca, dengar dan tonton melalui media massa. Terlebih masih 
besarnya kecenderungan orang muda Katolik (OMK) untuk menjauhi segala sesuatu 
yang berkaitan dengan politik. 
Asumsi bahwa politik itu kotor, tidak penting, merugikan, dan memusingkan 
memberi jarak semakin lebar antara OMK dan panggilan untuk mewujudkan iman di 
tengah situasi konkret masyarakat di sekitarnya, tak terkecuali dalam bidang 
sosial politik (bdk. "PKPM" Unika Atma Jaya, 2004). Kondisi itu diperburuk 
dengan betapa membosankan dan monotonnya cara pembelajaran politik yang 
dilakukan oleh institusi pemerintah dan Gereja selama ini. 
Banyak pengalaman pendampingan OMK menunjukkan betapa para pendamping serba tak 
mudah menyapa dan menggerakkan OMK untuk mengenal, mempelajari, dan 
berpartisipasi dalam bidang sosial politik. Bahkan dalam kegiatan-kegiatan 
Komisi Kepemudaan (Komkep) Keuskupan yang bertujuan mendekatkan pemikiran, olah 
rasa, dan perilaku OMK pada seluk-beluk kehidupan bidang sosial politik pun tak 
banyak OMK berminat menghadirinya.
Kondisi tersebut mungkin banyak terjadi pula dalam pastoral kemahasiswaan 
Katolik. Lantas, bagaimana menggulirkan pendidikan politik dalam pendampingan 
OMK dan mahasiswa Katolik sebagai gerakan bersama antara Komkep 
Keuskupan-Keuskupan dan Komkep KWI ? 
Berdasarkan monitoring Komkep KWI selama ini, banyak Komkep Keuskupan yang 
berupaya menyiasati masalah tersebut dengan beragam model, bentuk, metode, dan 
kegiatan kreatif. Banyak Komkep Keuskupan menyadari bahwa titik berangkat 
pendampingan OMK adalah memahami kebutuhan, minat, dan permasalahan yang mereka 
alami sendiri. Oleh karena itu, bisa jadi banyak model, bentuk, metode, dan 
kegiatan pendidikan politik yang menurut persepsi para pendamping terhitung 
efektif, mau tak mau harus dirumuskan dan dikemas ulang agar selalu sesuai 
dengan kondisi kebutuhan, minat, dan permasalahan OMK yang mereka dampingi. 
Tanpa upaya "masuk dari pintu mereka" semacam ini, mustahil pendamping bisa 
mengajak OMK "keluar dari pintu kita". 
Dalam rangka itu pulalah, Komkep KWI ingin lebih konkret melibatkan diri dalam 
pergumulan pendampingan OMK di Keuskupan-Keuskupan se-Indonesia dalam konteks 
situasi keprihatinan tersebut. Komkep KWI bersama sejumlah relawan OMK di 
Jakarta dan sekitarnya berinisiatif memikirkan dan menyusun sebuah paket bahan 
pendidikan politik OMK, lalu membagikannya kepada Komkep Keuskupan-Keuskupan 
se-Indonesia.
Bahan ini terdiri dari tiga bagian pokok. Bagian pertama berisi narasi dan 
modul sejumlah metode alternatif yang bisa dimanfaatkan untuk menyelenggarakan 
atau memproses program pendidikan politik OMK. Bagian kedua berisi narasi 
tentang pemanfaatan riset aksi partisipatoris (RAP) dalam pengelolaan program 
pendidikan politik OMK dan sejumlah modul penerapannya. Sedangkan bagian ketiga 
berisi uraian pembangunan database pendidikan politik OMK, khususnya yang 
berbasis atau memanfaatkan fasilitas website. 
Sementara itu, perkara teoritis-informatif, mengenai prinsip-prinsip panggilan 
kerasulan awam Katolik dan pendidikan politik pada umumnya, sebagai penjaga 
arah bagi keterlibatan OMK dalam masyarakat tidak dibahas secara khusus dalam 
bahan ini, melainkan menjadi lampiran.
 




Everytime you smile at someone, it is an action for love, 
a gift to that person, a beautiful thing.
(Mother Teresa)
 
DITTO SANTOSO
Email : [email protected] , [email protected]
Mobile : 62 81 311 420 720
 


      

Kirim email ke