Kebetulan ada rekan2 kita yang sedit berbagi Selamat Natal.

Salam 
Djoko



----- Forwarded Message ----
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: Pers Indonesia Milist <[email protected]>
Sent: Wednesday, December 24, 2008 10:00:23 PM
Subject: Re: [PersIndonesia] Fatwa Selamat Natal


Dear Subagyo,


Pertengahan 80an, setelah lulus SMA, sahabatku mengubah sikapnya terkait Natal 
karena derasnya bombardir seruan ketidakbolehan tsb di kampusnya di Jawa Barat 
sana. Kawan dekat loh, yang sangat kukenal. Aku mengamati semua perubahan tsb 
tanpa pernah alpa u/selalu mengucapkan selamat hari besarnya dan tak mengusik 
keputusannya. Sampai satu tahun berlalu dia pun menemui keputusan yg seperti 
kamu ambil dan aku tidak bersorak ataupun mengecam apa yg pernah dilakukannya. 

Yang kemudian dia sesali yaitu betapa dahsyatnya seruan tsb yang berpotensi 
mencabik persahabatn kami dan, menurut dia, untungnya aku tidak membalas dengan 
cara yang sama.

Dalam agam Kristen, mungkin juga di agama lainnya, juga ditemui kelompok yang 
seperti itu meski tdk terlalu banyak. Kawan kuliah saya contohnya. Manusia itu 
lucu, merasa bahwa dia yang paling benar dan harus membela Tuhannya dan 
berpikir bahwa Tuhan akan berkurang kemuliaannya jika kita tidak membela. 
Sesungguhnya buah keimanan yaitu bagaimana kita memperlakukan sesama, lepas 
dari 'baju' yg melekat pd kita.

He he he, that's life-lah, yaouw.
La vie est belle....


ED









Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS network
________________________________
From: subagyo sh 
Date: Wed, 24 Dec 2008 22:57:38 +0800 (SGT)
To: <media-jakarta@ yahoogroups. com>; Media Jatim<media-jatim@ yahoogroups. 
com>; <forum-pembaca- kom...@yahoogrou ps.com>; <PersIndonesia@ yahoogroups. 
com>
Subject: [PersIndonesia] Fatwa Selamat Natal

Pada waktu masih SMA saya menurut pada fatwa MUI yang melarang ucapan selamat 
Natal. Alasannya terkait perbedaan akidah. Beda dengan Idul Fitri yang tidak 
terkait dengan prinsip ciri-ciri Ketuhanan. Bahkan saya waktu  itu berdebat 
melalui surat-menyurat dengan seorang master teologi di Malang dan Bapak John 
Deru Moy, kepala sekolah kami yang beragama Katholik. Dengan sabar 
beliau-beliau memberikan pemahaman tentang toleransi kepada saya meski tak 
pernah bisa menundukkan hati saya yang menolak mengucap selamat Natal dengan 
alasan akidah. Mereka tidak meminta saya mengucap selamat Natal, tapi tidak 
setuju dengan larangan mengucap selamat Natal. Tetapi hubungan kami tetap 
akrab. 

Waktu berjalan. Bukan argumentasi orang-orang Kristen yang mendebat saya yang 
mengubah pendirian saya, tapi perubahan cara hidup yang semakin menyempurnakan 
akal dan takdir Tuhan, dalam jalan hidup yang terlalui. 

Kini, saya tidak patuh dengan fatwa MUI semacam itu (saya nggak tahu apakah 
fatwa itu sudah berubah atau belum).  

SELAMAT MERAYAKAN NATAL BAGI SAUDARA-SAUDARI KRISTEN. 

Biarlah hanya saya dan Tuhanku yang tahu apa di kedalaman hatiku. Aku tak 
pernah mengingkari apa yang dikandung dalam AlQuran tentang ciri-ciri Tuhanku. 
Apa yang aku ucapkan kepada saudara-saudari Kristen adalah bentuk persentuhan 
kerukunan dan perdamaian kemanusiaan, selaku sama-sama makhluk Tuhan dengan 
pemahaman dan keyakinan yang tidak sama. 

Cahaya tak akan mampu menembus tabir jiwa yang berupa kemunafikan dan 
penindasan. Cahaya akan menghilang dalam kegelapan dalam lorong yang terlalu 
panjang. 

Salam.
Subagyo
 

________________________________
Pemanasan global? Apa sih itu? 
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!  


      

Kirim email ke