Kesaksian Yang sungguh Indah‏
From: Lia([email protected])  
Sent: 04 February 2009 09:42:18 
To:   
 
            
Temen2, saudara2 en siapa saja yg menerima email ini. Sempatkan membaca kisah 
singkat ini. kisah nyata kehidupan seorang gadis kecil yg benar2 dan sungguh 
mengimani Yesus.
Kejadian ini baru saja terjadi. dan kisah ini baru selesai saya buat dan akan 
dimuat di Warta Gereja Regina Caeli minggu ini. Slamat membaca, semoga cerita 
ini menguatkan kita semua. kalau tidak keberatan bantu saya menyebarkan ke 
teman2, saudara atau kerabat anda...
semoga Olive kecil tambah tersenyum bahagia disurga...
 
 
 
 
Sang Malaikat Kecil telah Menyelesaikan Tugasnya
Kisah nyata tentang kehidupan gadis kecil yang bernama Olivia
_____________________________________________________________
Pengantar Redaksi: Dalam terbitan Warta RC minggu lalu dimuat suatu ucapan 
belasungkawa atas berpulangnya Olivia Laurencia, 10 tahun, keponakan dari Jelly 
Lim,  anggota Dewan Paroki Regina Caeli. Banyak Warga RC yang menyempatkan diri 
melayat di rumah duka ikut menitikkan air mata tapi sekaligus diteguhkan iman 
mereka mendengar  kisah hidup Olivia  yang berjuang melawan penyakitnya sejak 
usia satu setengah tahun. Berikut adalah kesaksian yang ditulis oleh salah 
seorang kerabatnya. Semoga kesaksian ini membawa kita pada permenungan yang 
mendalam tentang makna hidup kita masing-masing. 
______________________________________________________________________________________________
 
       Tiga Juli 1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke 
dunia membawa kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih 
kemerah-merahan, mata yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh yang 
cukup besar dibandingkan ukuran normal bayi yang baru lahir. Semua orang yang 
melihat memuji sang bayi cantik yang kemudian diberi nama Olivia Laurencia 
dengan nama kecil Ping Ping ini. Yah, ini adalah mahakarya yang sungguh indah 
dari Tuhan bagi keluarga muda itu. 
       Sang bayi mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. 
Babak baru kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota 
keluarga yang lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil, segera 
mereka memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka harus menerima 
kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata, atau istilah 
kedokterannya penyakit Retina Blastoma. "Biasanya untuk penyakit begini umurnya 
paling sekitar 2 tahun lagi," demikian kata sang dokter yang terus 
terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya. 
 
Bergelut dengan Pengobatan
      Berbagai pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar 
negeri. Dokter menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera 
diangkat. Namun sang papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu. "Dia 
seorang anak gadis, bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan mata 
palsunya. Jalan ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu hilang begitu 
saja. Mata dia sungguh indah, semua orang juga mengakuinya," berontak sang papa.
Akhirnya dipakailah cara kemotherapy untuk mematikan sel-sel kanker yg tlh 
tumbuh itu. Saat sang putri kesayangan teriak menahan sakit yang dideritanya, 
sang papa tidak kuat menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya 
sendiri ke dinding.
       Menurut pengakuannya meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, 
Jimmy dan Aiwan belum menjadi pengikut Kristus yg sesungguhnya. Untuk pergi ke 
gereja pun kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat yg 
biasa-biasa saja. Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh malaikat yg 
membawa sebuah maklumat berisi hanya satu kata 'BAPTIS'. Setelah menceritakan 
kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan masukan "baptis berarti kamu mesti 
bertobat!". Sambil tetap menjalani pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa 
dan mamanya lebih rajin dalam berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih 
berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh 
dalam iman di tengah penyakit yang diderita Olivia.
       Di sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Allah mendatangkan 
penghibur di keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah mereka. 
Sang adik kecil itu kemudian diberi nama Yohanes Natanael. Setidaknya ini 
adalah suatu penghiburan di tengah kesedihan mereka.          
       Olivia sempat menjalani dua kali kemotherapy yg membuat kondisi fisiknya 
drop. Saat ia drop dan trombosit dalam tubuhnya turun, sang papa dan pamannya 
dgn kondisi was-was musti siap mengantri sepanjang hari utk mendapatkan bantuan 
darah di PMI. Demikian sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan. Biasanya 
setelah therapy ia mengalami kerontokan rambut hingga botak sama sekali. Dgn 
fisik yg demikian Olivia tidak pernah merasa rendah diri. Ia tetap menjadi anak 
yg periang. Bahkan di sekolah ia termasuk salah satu murid yg memiliki prestasi 
yg cemerlang. Seluruh keluarga besar sangat menyayangi dan memberi perhatian 
penuh kepadanya. Saat ilmu kedokteran sudah angkat tangan dan hanya memberikan 
harapan kosong atas kesembuhannya, seluruh keluarga tidak berputus asa. 
Berbagai pengobatan alternatif dijalani. Pantangan-pantangan makanan selalu 
dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan dari berbagai bentuk dan rasa yang 
sungguh merusak indra
 pengecapan juga dilahap dengan pasrah. 
 
Membawa kepada Kristus
       Dalam kondisi demikian, Oliv kecil sungguh bergantung pada Tuhan Yesus. 
Setiap pagi saat jam dinding baru menunjukkan pukul 04.00, bagai jam weker 
Olivia membangunkan orangtuanya utk mengajak doa pagi. Ketika melihat papanya 
bersedih hati, Olivia selalu berujar "Smile". Dengan polosnya Olivia berujar 
dan mengajarkan papanya "Dalam masalah apa pun kita harus selalu smile." 
Imannya kpd Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal 
penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit itu. 
       Iman Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum 
mengenal Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran Olivia membuat mereka 
semua merasakan bhw Yesus sungguh ada bersama Olivia. Hal itu pula yg kemudian 
mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada Yesus. Bahkan mereka 
kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di lingkungannya. Sungguh inilah 
karya besar yang ditinggalkannya. 
       Bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yg luar 
biasa kpd keluarganya, terutama kpd adik kecilnya. Ia berujar kpd sang mama 
"Kan Oliv mau jadi peri yg baik hati". Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 
2008, meskipun menahan sakit kepala yg belakangan selalu menyerangnya, ia 
berusaha tetap ceria. Saat acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga 
masih selalu bercanda dgn semua orang. Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009, 
saat sakit kepala yg semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah, keluarga 
memutuskan utk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama kondisi fisiknya semakin 
parah. Tubuhnya bahkan sudah sulit utk menerima asupan makanan. Hal yg 
ditakutkan pun terjadi. Hasil MRI menunjukkan sel kanker yg sudah membutakan 
mata kirinya tlh menjalar sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya. 
 
"Terimakasih Tuhan Yesus"
       Setiap hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia 
terbangun, kesakitan yg sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak, 
"Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…".  Sang mama yg tidak kuat melihat penderitaan 
putrinya mengatakan, "Kalau sakit sekali, menangis saja Oliv," tapi anak ini 
sungguh kuat. Dia tidak pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya kembali 
dikuatkan dan diajarkan utk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun itu 
tidak mengenakkan. Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit yg 
diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua malam 
menjelang ajalnya, Oliv yg bulan Juli mendatang genap berumur 10 tahun berdoa 
penuh iman. "Terima kasih Tuhan atas kasih karuniaMu, Oliv percaya Oliv sudah 
sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak ada satu penyakit apa pun di badan Oliv, 
dari ujung rambut sampai ujung kaki Oliv, karena sudah Engkau tebus di kayu 
salib. Tuhan berkati Oliv, Tuhan
 ampuni semua dosa Oliv, terima kasih Tuhan, Haleluya, Amin..." Sebuah doa yang 
sungguh indah dan penuh makna. Doa seorang anak yg sungguh mencintai dan 
mengimani Yesus.
       Saat malam terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang 
sangat dekat dengannya untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan 
memangkunya. Dia meminta kepada semua orang dan keluarga yang mengunjunginya 
untuk senantiasa  berdoa dan mendoakannya sepanjang malam itu. Detik-detik maut 
semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah tidak tertahan, kalimat 
terakhir yang keluar dari mulutnya "Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak 
tahan lagi…" kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap "Terima kasih 
Tuhan Yesus" . Kemudian ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai 
kejang-kejang. Saat sang papa membisikkan ke telinganya "Papa merelakan Oliv 
pergi, karena papa percaya di surga penuh damai sejahtera dari pada di dunia 
dengan menanggung penderitaan. Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus ingin 
memegang tangan Oliv, segeralah sambut tangan-Nya. Selamat jalan Oliv kami 
semua merelakan Oliv."  Dalam kondisi yang sudah
 'koma' Olivia meneteskan airmata. 
       Sesaat setelah itu, bergantian istri pendeta memegang tangan Oliv sambil 
membisikkan di telinganya, "Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv genggam 
kencang tangan tante yah.." Dalam keadaan 'koma' itu ia benar2 menggenggam 
tangan itu dan tak lama kemudian Oliv kecil pun pergi untuk selamanya dengan 
perlahan, tenang dan damai. Dua belas Januari 2009, pukul 15.45. 
 
Tugasnya sudah selesai
       Kedua orang tuanya tentu sedih dgn kepergiannya. Tapi mereka mengimani 
bahwa Olivia sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan tetesan 
airmata dan merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani apa yg selalu 
dikatakan Olivia selama hidupnya, bhw "Segala sesuatu ada waktunya; selalu 
tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat dan tegar dalam pergumulan;  berserah 
dirilah kepada Tuhan Yesus, karena Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu 
mengasihi kita".
       Jasadnya sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. 
Semua pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang 
tertidur pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya menyunggingkan 
senyum kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak cekung karena sel 
kanker sudah menggerogoti dan membutakan mata kirinya bahkan terlihat normal 
kembali. Ia benar-benar seperti tertidur. Semua mengimani, saat ajal 
menjemputnya Tuhan terlebih dahulu memulihkan fisiknya. Keluarga besarnya juga 
mengimani bahwa Olivia adalah penolong yang diberikan Tuhan di tengah-tengah 
keluarga mereka. Melalui sakit yang dideritanya satu persatu anggota keluarga 
besarnya bertobat dan menerima Kristus. Tugas malaikat kecil ini sudah selesai, 
maka ia kembali dipanggil Bapa ke surga. 
       Bahkan saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari 
dipenuhi hujan deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang 
pemimpin Ibadat menyerukan "Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan cuaca 
cerah… Tuhan, walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami tapi kami 
yakin Tuhan hadir di tempat ini," detik itu juga, gemuruh guntur berbunyi 
seakan langit menjawab. Dan hujan yang sepanjang hari menyelimuti bumi, 
seketika berhenti. Semua yang menghantar ke pemakaman ini dengan tertegun 
berujar dalam hati, "Sungguh ia benar-benar dikasihi Tuhan". 
       Segalanya berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan 
dan dihantar oleh beratus-ratus pelayat. Walaupun Olivia sudah tidak ada di 
dunia, tapi karyanya dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Karena bukan 
diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup 
yang kita jalani.
       Selamat jalan Olivia, doa kami menyertaimu selalu. Dan kami percaya, 
engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana. (sanz)
 
 
 
 
 
 Semoga bermanfaat,
 
GBU  all,
 
Paul
www.krching.com/paulucky
                
 
 
________________________________
Share your photos with Windows Live Photos – Free Find out more!


      

Kirim email ke