Rabu Abu tanggal 25 Februari 2009 (2Kor 5:20-6:2 dan Mat
6:1-6; 16-18)
Rekan-rekan yang baik!
Dalam 2Kor 5:20-6:2 yang dibacakan pada hari Rabu Abu tanggal 25 Februari 2008
ini, Paulus mengimbau umat agar membiarkan diri didamaikan dengan Yang Ilahi
oleh pengorbanan Kristus. Orang Korintus diajak Paulus agar tidak lagi
menganggap kehadiran ilahi sebagai ganjalan dalam hidup mereka. Itulah yang
dimaksud dengan berdamai denganNya. Bagaimana penjelasannya?
TEOLOGI REKONSILIASI PAULUS
Dalam kesadaran Paulus, berdamai dengan Allah bukan semata-mata mencari
pengampunan dari pelbagai perbuatan yang salah. Bila hanya demikian, maka tidak
akan tercapai perdamaian atau rekonsiliasi yang utuh. Lebih-lebih, bukan bagi
pengampunan seperti itulah kurban Yesus Kristus terjadi. Paulus melihat
permasalahannya dalam ukuran yang jauh lebih besar. Ia bertolak pada pelbagai
kenyataan yang ada dalam kehidupan manusia dan alam yang menunjukkan bahwa
ciptaan ini bukanlah barang yang sempurna. Banyak cacatnya. Besar kekurangannya.
Terasa kerapuhannya. Ada
macam-macam ketimpangannya. Dan semua ini memang menjadi bagian dari kehidupan.
Akan tetapi, bagi Paulus, keliru bila orang membiarkan keadaan ini berlangsung
terus. Hanya mereka yang tidak mempercayai maksud baik Pencipta akan beranggapan
demikian. Mereka itu sebetulnya tidak mau menerima bahwa Ia tetap bekerja
memperbaiki dan menyempurnakan ciptaanNya. Allah belum beristirahat. Lebih
tepat bila dikatakan, Ia belum dapat beristirahat karena karyaNya belum
selesai. Hari ketujuh belum sepenuhnya tercapai. Hari ketujuh pada Kitab
Kejadian itu dipaparkan untuk menegaskan bahwa hari itu nanti sungguh akan
tercapai. Sementara itu yang kini sedang terlaksana ialah penciptaan dunia,
isinya dan manusia yang menjadi gambar dan rupa Pencipta di jagat ini
Dunia beserta isinya masih terus berkembang. Berarti juga ada kemungkinan
melawan maksud Pencipta. Ada
kemungkinan menolak menjadi semakin sempurna. Inilah keberdosaan. Inilah yang
membuat ciptaan, khususnya manusia belum ada dalam keadaan berdamai dengan
Penciptanya. Bahkan menjadi pesaing. Atau merasa diperlakukan tidak semestinya.
Atau kurang membiarkan diri semakin dijadikan gambar dan rupaNya.
Manusia tetap akan mengalami kematian. Dan bila direnggut maut, ia tidak akan
kembali lagi dan habislah kehidupannya. Inilah kendala terbesar dalam kehidupan
manusia. Juga alam semesta ini pada kenyataannya akan tidak berlangsung tanpa
akhir. Dalam pikiran Paulus, hanya keberanian Allah untuk mengatasi kerapuhan
ciptaanNya sendirilah yang akan membuat ciptaan dapat menjadi sesuai dengan
kehendakNya. Peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus itulah yang ada dalam
pusat gagasan Paulus. Dengan membangkitkanNya dari kematian, Allah
"mempercepat" perjalanan seorang manusia menuju kesempurnaan tadi. Ada satu
dari yang tak
sempurna yang kini telah utuh: Yesus Kristus. Keberanian Allah tadi bukan tanpa
risiko. Ia memberanikan diri masuk dalam dunia untuk menjadikannya sempurna.
Tetapi seketika masuk ke situ, ia ikut menjadi terbatas. Hanya kesediaan orang
yang dipilihNyalah yang membuatNya dapat bertindak leluasa. Dan memang terjadi
demikian. Yesus menjadi Yang Terurapi - menjadi Mesias - ketika ia
membiarkan diri disempurnakan oleh Allah sendiri, membiarkan diri direnggut
dari maut. Dengan demikian ia menjadi bagian keilahian sendiri, dan tetap satu
dari ciptaan yang tadinya rapuh. Oleh karena itu ia menjadi yang pertama dari
ciptaan yang telah utuh dan menjadi jaminan akan utuhnya seluruh ciptaan.
Inilah yang diungkapkan dengan padat dalam 2Kor 5:21 "Dia yang tidak
mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam dia kita
dibenarkan oleh Allah."
LALU?
Dengan uraian tadi kiranya tidak sulit dimengerti mengapa Paulus mengimbau
orang Korintus agar membiarkan diri didamaikan oleh Allah. Paulus mengajak
orang agar menjadi seperti Yesus, membiarkan diri menjadi tempat Allah
menyempurnakan ciptaanNya. Tidak banyak yang dituntut. Cukup bila tidak
menghalang-halangiN ya. Tentunya tak banyak yang sengaja begitu. Bila diam saja
dan membiarkan diri terbawa kerapuhan manusiawi maka sebenarnya orang
menghalangi karya ilahi sendiri.
Baru-baru ini orang mengalami dari dekat macam-macam bencana: tsunami, gunung
meletus, gempa bumi. Dan paling akhir, banjir. Semuanya itu gerakan alam.
Menjadi bencana karena ada manusia yang terkena. Memang manusia belum seutuhnya
selaras dengan gerakan alam. Ini bukan mistik alam, tetapi kenyataan. Bencana
yang disebut paling belakangan itu menunjukkan hal ini. Yang terjadi di Jakarta
dan sekitarnya
bukan hanya gerakan alam belaka, tetapi gerakan yang dikacaukan oleh
macam-macam tindakan manusia yang membuat perputaran alam tidak lagi mengikuti
irama dan keadaan yang lumrah. Air hujan tak teresap oleh tanah tapi mengalir
terus ke bawah. Sungai di hilir makin sempit karena banyak himpitan-himpitan
bangunan. Para ahli lingkungan akan dapat
menjelaskan keadaan ini dengan lebih runut. Tetapi apa hubungan ini semua
dengan "berdamai" dengan Allah tadi?
Bencana ialah kenyataan yang menunjukkan kerapuhan ciptaan, khususnya manusia.
Keadaan inilah yang menyebabkan manusia belum bisa dikatakan berdamai dengan
Pencipta. Lalu apa imbauan membiarkan diri didamaikan akan membuat manusia
sempurna? Akan tidak lagi kena bencana? Tentunya tidak ke arah itu
pemikirannya. Yang justru dapat menjadi pemikiran ialah bagaimana
"membiarkan diri didamaikan" itu bisa diterjemahkan dalam kenyataan
hidup sehari-hari di dalam masyarakat. Salah satunya ialah mengusahakan agar
lingkungan semakin serasi dengan pemukiman dan pemukiman semakin melestarikan
lingkungan. Artinya, orang sebaiknya paham tanda-tanda gerakan alam. Perlu ada
sistem peringatan dini akan gempa dan tsunami. Sebaiknya dibuat perencanaan
untuk menangani keadaan darurat. Tatakota hendaknya diatur sehingga menjamin
penyaluran air. Penggundulan hutan perlu dikendalikan. Dan seterusnya. Hal-hal
itu tidak bergantung pada maksud baik saja melainkan juga pada
perencanaan serta pelaksanaannya. Banyak akan ditentukan oleh strategi
pemerintahan dan koordinasi badan-badan yang mengurus masing-masing wilayah.
Ini semua sebenarnyalah yang dalam bahasa teologis terungkap sebagai
"membiarkan diri didamaikan dengan Allah."
MENDENGARKAN INJIL
Injil Rabu Abu (Mat 6:1-6; 16-18) termasuk salah satu dari rangkaian pengajaran
Yesus kepada murid-muridnya di sebuah bukit (Mat 5-7). Dalam petikan bagi
Rabu Abu ini terdapat ajakan untuk mengamati cara bersedekah (ay. 1-4), berdoa
(ay. 5-6), dan berpuasa (ay. 16-18). Para
murid dihimbau agar tidak seperti "orang munafik" yang bersedekah
dengan tujuan agar dipuji orang, yang berdoa dengan di tempat-tempat umum agar
dilihat, dan yang berpuasa dengan memasang wajah muram. Sebaliknya dianjurkan
memberi sedekah dengan diam-diam, berdoa kepada Bapa yang ada di tempat yang
tak segera kelihatan, dan menjalankan puasa dengan penampilan biasa. Demikian
ibadah tadi ditujukan kepada Dia Yang Tersembunyi dan bukan untuk
dipertontonkan kepada orang-orang lain. Bila begitu maka pahala akan datang
dari Dia, dan bukan sekedar "wah" yang diucapkan orang.
Spiritualitas sejati? Boleh dikatakan demikian. Namun ada yang lebih mendalam
yang hendak diutarakan di dalam petikan itu. Orang diajak mencari Dia Yang
Tersembunyi, yang juga dapat disebut Bapa. KeadiranNya itu nyata walau tidak
selalu terasa jelas. Dan bersedekah, doa, puasa itu ialah ibadat untuk mendekat
kepadaNya dan menemukanNya.
Bacaan Injil ini diperdengarkkan untuk mengantar orang memasuki Masa Prapaskah,
yaitu masa berpuasa menyongsong peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus yang
menjadi misteri paling besar dalam iman umat kristiani. Misteri tidak bakal
ditembus sepenuhnya, hanya dapat didekati dan diakrabi. Dan tindakan berpuasa,
berdoa, berbuat baik bukan demi dipuji dan dilihat orang melainkan demi
membangun hubungan rohani dengan keilahan ialah cara menghayati misteri iman
itu.
MASA PRAPASKAH
Rabu Abu mengawali Masa Prapaskah - masa puasa untuk menemukan kembali kuatnya
arus-arus yang membawa kita mendekat pada Allah dan menjauhi ganasnya
tarikan-tarikan menjauhiNya. Rabu Abu juga dijalani dengan menerima tanda abu
di dahi atau kepala. Kita diingatkan bahwa kita akan menjadi hancuran seperti
abu. Tapi kita tidak akan tetap di situ bila kita mau membiarkan diri
disempurnakan Allah sendiri...dengan percaya kepada Kabar Gembira. Khususnya
bahwa Allah berani memperbaiki ciptaanNya dengan upaya khusus. Tinggal
menerima. Tinggal ikut serta. Tinggal membiarkanNya semakin leluasa bertindak.
Tinggal mengajak orang lain rela demikian.
Satu wilayah dapat dikembangkan dalam ukuran kecil tapi akan luas dampaknya,
yakni menumbuhkan kesadaran lingkungan. Pendidikan kesadaran lingkungan, baik
alami maupun sosial. Juga di situ akan dapat terjadi apa itu "membiarkan
diri didamaikan dengan Allah." Ini juga persiapan menyambut Paskah -
peristiwa utama yang mendamaikan manusia dengan Allah.
TENTANG PENERIMAAN ABU
Penerimaan abu pada Rabu Abu ini berasal dari kebiasaan yang ada pada abad
pertengahan dalam menjalani denda dosa muka umum (penitensi umum). Mereka
berpakaian berpakaian bahan kasar/bagor, dan menaburkan abu di atas kepala
mereka. Dalam Perjanjian Lama ada kebiasaan menjalankan upacara menyesali dosa
(juga upacara berkabung) dengan duduk bersimpuh di atas debu dan menaburi diri
dengan abu itu, lihat Yes 58:5; 61:3; Yer 6:26 (menarik di baca, gulung
koming!) Rabu Abu yang mengawali Masa Prapaskah (=masa puasa) ini ditandai
dengan upacara pemberian abu di dahi (atau di bagian kepala yang dibotaki,
ditonsur, bagi kaum klerus) seperti yang sekarang. Abu-nya diperoleh dari abu
bakaran daun palem kering dari Minggu Palem tahun sebelumnya.
Kebiasaan ini sudah dikenal sejak abad ke-8. Pada zaman itu mulai dipakai
kata-kata yang dibisikkan imam ketika menandai dahi dengan abu "Ingatlah,
hai manusia, kamu dari debu dan akan kembali menjadi debu". (Rujukannya
ialah Kej 3:19; kini sering lebih dibisikkan kutipan Mrk 1:15 "Bertobatlah
dan percayalah kepada Injil!") Abu atau debu? Barangnya memang berbeda,
tetapi dalam perkara upacara orang tidak pertama-tama memikirkan barangnya,
tapi lambang serta yang diperlambangkan. Pemikiran simboliknya begini: baik abu
maupun debu itu barang yang remeh, tak ada bobotnya, ditiup saja terhambur ke
mana-mana dan akhirnya diinjak-injak. Dalam perkembangannya, diingat dua
hal. Manusia menurut Kej 2:7 dibentuk dari debu tanah yang dihembusi nafas
kehidupan Tuhan. Nah, kalau nafas kehidupan ini kembali ke Tuhan, maka manusia
ya kembali ke debunya tanah tadi. Lebih lanjut, debu dan abu ini membuat orang
menyadari betapa lemahnya manusia; ia dekat pada dosa (Ay 30:19, Kej 18:27).
Itulah yang dapat diingat bila menerima tanda abu pada hari Rabu Abu.
Salam,
Januar