PENGALAMAN DALAM SEBUAH PERJALANAN
Rm. Yohanes Gani CM

Suatu hari saya naik bis dari Surabaya menuju ke Malang .
Saat itu saya sangat mengantuk, sebab baru  selesai memberi  rekoleksi
pada murid-murid sebuah SMA swasta di Prigen.
Pada malam terakhir rekoleksi, anak-anak  tidak mau tidur   pada jamnya.
Mereka ingin begadang sambil mengobrol berbagai  macam topik.
Saya pikir ini adalah kesempatan untuk  memasukkan ajaran  Gereja
secara Lebih mendalam,  sebab menjawab berbagai macam pertanyaan
kongkrit tentang  masalah  remaja.
Maka dengan makan kacang dan kue-kue yang  mereka bawa, kami
ngobrol  sampai nyaris pagi.

Ketika naik bis, saya berharap bisa langsung  tidur. Kebetulan  ada
tempat kosong, maka langsung saya duduk dengan  harapan tidak akan
ada orang yang duduk di  sebelah saya.
Apalagi  orang yang ingin mengajak ngobrol.  Saya ingin segera
memejamkan mata. Tapi,  beberapa saat sebelum  bis  berangkat, seorang
bapak duduk di sebelah saya.

Bapak ini berpakaian sangat rapi. Baju putih  lengan panjang,  dipadu
dengan celana coklat kehitaman.  Sebuah tas yang cukup bagus ada
dalam  genggamannya.  Usia bapak ini kira-kira 50 tahun. Saya  menduga
dia  seorang  eksekutif Atau pegawai yang telah punya
kedudukan lumayan.  Pendek kata penampilannya jauh sangat rapi
dan perlente, sangat  berbeda dengan saya yang hanya memakai blue
jeans, kaos oblong  dan bersandal jepit.

Setelah melirik sejenak padanya, saya bersiap  memejamkan mata,
sebab pria di sebelah saya tampaknya juga tidak ingin  diganggu.
Dia mulai membaca koran yang dibawanya.  'Koran kok isinya hanya
tentang  kekerasan,' katanya seperti  mengeluh.  'Apakah sudah tidak
ada kasih di dunia  ini?' tanyanya pada saya.  Sebagai basa basi saya
hanya tersenyum. Saya  malas untuk  menjawab, sebab mata sudah tidak
bisa diajak kompromi.

'Apakah mahasiswa itu tidak bosan  mengadakan demonstrasi? '
  tanyanya  lagi. Sekali lagi saya hanya tersenyum.
'Adik ini kuliah atau sudah kerja?'  Mau tidak mau saya harus
menjawab  pertanyaan ini.

'Saya masih kuliah, Pak,' jawab saya  singkat. 'Dimana?' tanyanya
mendesak. ' Malang ' jawab saya singkat  lagi.

Saya berharap orang itu tidak bertanya-tanya lagi. Orang itu
mengangguk-anggukka n kepalanya.  Ternyata dia tidak berhenti bicara.
Dia bicara  lagi yang isinya  nasehat-nasehat agar saya tidak
>
ikut-ikutan demonstrasi  dan  melakukan kejahatan. Saya terpaksa
mendengarkan  dan sebentar-sebentar  menganggukan kepala menyetujui
semua  pendapatnya. Dengan harapan dia merasa puas.

Tampaknya dia pun senang melihat saya  setuju dengan pendapatnya.
Sesaat  bapak itu diam, tiba-tiba dia bertanya lagi.  'Maaf dik,
kalau boleh tahu adik ini  beragama apa?'  'Katolik.'    'Oh......
Katolik,' serunya dengan menantapku lebih seksama.

'Kalau saya seorang gembala jemaat  Kristen.' Dia lalu mengulurkan
tangannya.Saya pun menjabat uluran tangannya.  'Dik, maaf ya,'
katanya setelah  berhenti sejenak. 'Mengapa  orang  Katolik memuja
Maria?'

'Entahlah, Pak,' jawab saya seenaknya saja.  'Apa adik tidak pernah
berdoa pada  Maria?'
'Sering.'
'Mengapa berdoa saja harus berbelit-belit melalui birokrasi yang
panjang.'

'Maksud bapak?' tanya saya bodoh.
' Kan seharusnya orang berdoa langsung saja pada Yesus, mengapa
harus  melalui Maria baru ke Yesus?' tanyanya mempertegas.

Sebetulnya saya enggan berdiskusi soal  iman seperti ini, sebab
biasanya diskusi seperti ini tidak menemukan kata akhir.
Semua akan bertahan pada pendapatnya dan hanya mencari
pembenaran bagi apa yang diyakininya.  Bagi saya iman itu tidak perlu
didiskusikan. Iman itu  dijalani, diaktualisasikan dalam hidup.
Selain itu, percuma saya berbicara tentang Maria, kalau orang
yang  saya ajak bicara sudah tidak percaya bahkan  menolak peran  Maria.

'Ya memang orang Katolik bodoh,' jawab  saya seenaknya. Saya
berharap  bapak ini puas dan tidak tanya-tanya lagi.
Tapi dugaan saya salah. Bapak ini seperti mendapat angin.
Dia semakin bersemangat untuk menjelekan Maria.
  Dia mencoba meyakinkan saya bahwa ajaran Katolik salah. Lama-lama
saya jengkel juga mendengar bapak ini dengan seenaknya  menjelekkan
Maria.

'Pak,' kata saya tenang.  'Apakah di Gereja bapak ada  kebiasaan,
misalnya ada jemaat yang sakit, lalu dia  meminta tolong agar
pendeta  mendoakannya? '

' Ada ,' jawabnya cepat, 'Jika ada jemaat saya yang sakit, maka
saya  dengan beberapa jemaat mengunjunginya. Lalu  kami berdoa
mohon  kesembuhan baginya.'

'Misalnya, Pak,' tanya saya mencoba mencari ketegasan, 'Jika
saya  adalah salah satu jemaat bapak, bolehkah  saya mengatakan,
Pak  Pendeta, tolong doakan saya, sebab saya sedang dalam kesulitan.'

'Ya... ya.... bisa saja,' jawabnya  dengan  mengangguk-anggukan
kepalanya.

Saya tersenyum. Jebakan yang saya buat   ternyata cukup bagus,
sehingga  Bapak tua ini masuk dalam perangkap.

'Pak,' kata saya perlahan, tapi  tegas, 'Jemaat bapak jauh  lebih  tolol
dari pada umat Katolik!'

Bapak disamping saya itu tampak terkejut dan  marah.

'Seandainya Yesus duduk di depan sana ,' kata saya cepat  dengan
menunjuk pada sopir,  'Lalu bapak datang dengan membawa
permohonan dari jemaat bapak  dan  Maria juga datang dengan membawa
permohonan  saya. Permohonan siapakah kira-kira yang akan dikabulkan
oleh Yesus?
Apakah permohonan bapak? Apakah bapak lebih  hebat dari ibuNya?'

Bapak di sebelah saya itu semakin tampak  jengkel dengan perkataan
saya.  Tapi sebelum dia bicara langsung  saya cecar dengan
pertanyaan-pertanya an yang tidak membutuhkan  jawaban.
'Siapakah yang memaksa Yesus untuk membuat mujijat di Kana?
Maria, Pak!
Siapakah yang setia pada Yesus sampai di  bawah kaki salib?
Maria, Pak!' kata saya dengan nada yang semakin  meninggi,
'Tapi siapakah yang menyalibkan Yesus?  Para imam-imam kepala,
kaum Farisi dan ahli-ahli kitab, Pak!  Saya rasa kalau kejadian itu
terjadi saat ini, mungkin bapak  adalah  salah satu yang ikut
mengadili dan
menfitnah Yesus agar  Dia  disalibkan!'

Saya lihat wajah bapak itu memerah, entah marah  atau malu saya
tidak  tahu. Tapi setelah itu dia diam tidak  bertanya-tanya lagi.
Apalagi menjelekkan Maria. Saya bisa tidur  dengan tenang  sampai
Malang .  Untung bapak itu tidak tahu bahwa saya juga  seorang imam.

Maka berdoalah melalui Maria, sebab dia  adalah ibu yang baik  yang
akan  membawa permohonan-permohon an kita  pada Yesus, putranya.

GBU,


      

Kirim email ke