Terima kasih atas undangan untuk menyaksikan "concerto polifonico", demikian 
istilahnya dalam bahasa italia. Saya sendiri begitu terbiasa dengan nyanyian 
Sakral Polifonia 4 suara tahun 1400-1700 karena di sini saya aktif menyanyi di 
dalam 2 paduan suara polifonia, 1 di Corale Comunione e Liberazione di Pavia 
dan 1 lagi di Corale Santa Croce di Mortara. Saya bergabung sebagai anggota 
Sopran. 
Nama-nama seperti Palestrina, T.L. de Victoria, Arcadelt, Mozart, dan masih 
banyak lagi sudah tidak asing di telinga saya. Jadi, saya sangat gembira bahwa 
di Indonesia di Jakarta sudah mulai ada Corale (Paduan suara) yang menyanyikan 
lagu-lagu Sakral Polifonia. Saya berharap melalui Cappella Victoria semakin 
banyak lagi paduan-paduan suara yang tertarik untuk menyanyikan lagu Sakral 
Polifonia. Lagu-lagu jenis inilah yang sepantasnya mewarnai tradisi dan 
liturgia Gereja Katolik.
 
Apabila kalian tertarik untuk menambah koleksi partitur lagu-lagu Polifonia, 
saya dengan senang hati membantu men-supply dengan koleksi-koleksi yang saya 
miliki bersama Corale di sini. 
 
Tetaplah berlatih dan banyaklah melakukan konser-konser untuk menarik minat 
umat, siapa tahu suatu saat kalian dapat datang ke Italia dan melakukan 
konser bersama Corale kami. 
 
Tidak ada yang lebih indah daripada musik dan nyanyian Sakral Polifonia.
 
Salam hangat dan salam perkenalan dan persahabatan dalam Kristus.
 
Shirley Hadisandjaja Mandelli
Italy
 
PS. Saya sebarkan juga undangan ini kepada rekan-rekan di milis lainnya, supaya 
mereka juga dapat menyaksikan konser Sakral kalian ini.


--- On Wed, 6/24/09, [email protected] <[email protected]> 
wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: KONSER: "Music written for the Sistine Chapel" - Missa Papæ Marcelli 
(Palestrina) & Miserere (Allegri)
To: 
Date: Wednesday, June 24, 2009, 7:33 PM












Cappella Victoria Jakarta
mempersembahkan
Konser Musik Gereja
Nyanyian Polifoni Sakra
 
 
 
Music written for
the Sistine Chapel
 
 
Giovanni Pierluigi da Palestrina
Missa Papæ Marcelli
 
 
Gregorio Allegri
Miserere mei, Deus 
(The Top C Version)
 
 
Sabtu, 25 Juli 2009 | Pukul 20.00 WIB
Gereja Katolik Santa Theresia, Jakarta 
 
 
GRATIS – dengan tanda masuk

Informasi:
Riani (0815.920.4114)
Siska (021-68664168)
Yustina (0815.810.3096) 
 
 
 
Cappella Victoria Jakarta
 
Didirikan oleh beberapa anak muda dari Paroki St. Theresia pada akhir tahun 
2005, Cappella Victoria kemudian berkembang menjadi paduan suara (cappella) 
yang lebih sering menekuni nyanyian polifoni sakra (sacred polyphony) abad XVI, 
khususnya karya-karya Giovanni Pierluigi da Palestrina dan Tómas Luis de 
Victoria. 
 
Sejak tahun 2006, Cappella Victoria secara rutin menyanyikan polifoni sakra 
dalam perayaan ekaristi di Gereja Katolik St. Theresia dan beberapa Gereja 
Katolik di Jakarta. Cappella Victoria berharap, melalui suasana yang tercipta 
dari nyanyian polifoni sakra, umat dapat terbantu dalam beribadat kepada Sang 
Pencipta.
 
Selama tiga tahun terakhir, Cappella Victoria terus meperkaya repertoar 
polifoni sakra hingga kini telah mencapai lebih dari 40 nyanyian; sebagian 
besar di antaranya merupakan karya dari komposer utama Gereja Katolik, seperti: 
Palestrina (Missa Papæ Marcelli dan sejumlah motet), Gregorio Allegri (Miserere 
mei, Deus), Victoria (Feria VI in Parasceve ad Matutinum dan sejumlah motet), 
serta Domenico Bartolucci (Missa de Angelis dan beberapa madah).
 
Dengan semboyan “tetap semangat” (adaptasi dari: “estote fortes et pugnate), 
Cappella Victoria terus menggiatkan anggotanya untuk turut serta dalam 
menghidupkan kegiatan menggereja di tempat masing-masing, khususnya dalam 
bidang paduan suara. Saat ini Cappella Victoria beranggotakan 33 orang yang 
berasal dari 15 paroki di Keuskupan Agung Jakarta.
 
 
Nyanyian Polifoni Sakra
 
Polifoni sakra (sacred polyphony) merupakan sebutan untuk nyanyian gereja yang 
diciptakan pada jaman renaissance (periode 1450-1600). Umumnya nyanyian 
polifoni sakra berupa misa (missa) dan motet (motécta), yang biasanya 
dinyanyikan tanpa iringan alat musik (a cappella). Nyanyian polifoni sakra 
memiliki lebih dari satu suara (part) – terdiri atas nyanyian pokok (cantus 
firmus) dan motif imitasinya – di mana setiap suara secara independen bergerak 
maju secara horisontal menurut interval (“fugal”); berbeda dengan nyanyian 
homofon, di mana dalam ritme yang sama semua suara bergerak maju bersama secara 
vertikal menurut akord (“familiar”). 
 
Nyanyian polifoni sakra lazimnya menggunakan nyanyian pokok (maupun teks) dari 
nyanyian Gregorian (Gregorian chant), dan disusun menggunakan tangga nada 
(modus) tertentu  (biasanya menyesuaikan dengan tangga nada nyanyian pokoknya) 
untuk mengekspresikan suasana nyanyian. Imitasi dekoratif dipasangkan pada 
nyanyian pokok menggunakan variasi spesies kontrapung (counterpoint), dan dapat 
bergerak sejajar maupun berlawanan terhadap nyanyian pokok. Pada nyanyian 
polifoni sakra sering ditambahkan pula aksen (accidentals) maupun variasi nada 
disonan (dissonance) untuk membuat pergerakan setiap suara makin dinamis. 
Tekstur musik polifoni sakra disusun lebih menyatu (blend) agar kaya harmoni; 
berbeda dengan tekstur musik organum – nyanyian yang menjadi awal mula lahirnya 
nyanyian polifoni – pada jaman medieval (periode sebelum 1450), yang dibuat 
kontras.
 
Lazimnya, kombinasi komposisi fugal-familiar disesuaikan dengan 
pendek-panjangnya teks nyanyian. Tipe komposisi fugal banyak dijumpai dalam 
nyanyian yang memiliki teks relatif pendek, misalnya Kyrie, Sanctus, dan Agnus 
Dei dari Missa Papæ Marcelli (Palestrina); sedangkan tipe komposisi familiar 
dapat dijumpai pada nyanyian yang memiliki teks relatif panjang, misalnya 
Glória dan Credo dari Missa Papæ Marcelli (Palestrina).
 
Selain Palestrina dan Allegri, ada banyak komposer lain yang menciptakan 
nyanyian polifoni sakra, antara lain: Victoria, Guerrero, Lassus dan Byrd. 
Mereka merupakan kelompok komposer nyanyian gereja (school) di Roma (Italia), 
Spanyol, Franco-Flemish dan Inggris. Melalui penggunaan teks dan tangga nada 
yang seusai, serta variasi teknik kontrapung, mereka menghasilkan banyak 
nyanyian polifoni sakra yang berbobot. Nyanyian polifoni sakra mencapai 
puncaknya pada era Palestrina, dan kemudian diteruskan oleh Victoria 
(1548-1611). 
 
 
Missa Papæ Marcelli | Giovanni Pierluigi da Palestrina (1525-1594)
 
Missa Papæ Marcelli merupakan karya Giovanni Pierluigi da Palestrina yang 
paling terkenal, yang paling banyak dinyanyikan dan direkam. Missa Papæ 
Marcelli merupakan karya agung (masterpiece) Palestrina dan kerap dinyanyikan 
pada saat pelantikan Paus (misalnya pada saat inagurasi Paus Yohanes XXIII dan 
Paus Paulus VI). Belum lama ini Missa Papæ Marcelli dinyanyikan di hadapan Paus 
Benedictus XVI dalam suatu acara konser di Kapel Sistina. Missa Papæ Marcelli 
sering diajarkan sebagai acuan dalam pelajaran stile antico pada polifoni jaman 
renaissance. Missa Papæ Marcelli digubah pada tahun 1562 untuk menghormati Paus 
Marcellus II yang memimpin selama tiga minggu pada tahun 1555.
 
Diperkirakan bahwa latar belakang digubahnya Missa Papæ Marcelli oleh 
Palestrina adalah adanya kontroversi mengenai “kelayakan” musik polifoni 
dinyanyikan di Gereja akibat unsur tumpang-tindihnya teks pada musik polifoni. 
Diyakini bahwa gaya deklamasi pada Missa Papæ Marcelli telah meyakinkan para 
kardinal bahwa dalam musik polifoni teks nyanyian dapat saja terdengar dengan 
jelas, dan musik gubahan Palestrina terlalu indah untuk tidak dinyanyikan di 
Gereja. Selanjutnya diceritakan bahwa para kardinal itu menganjurkan Palestrina 
untuk terus menggubah dengan gaya seperti itu dan mengajarkan gaya itu kepada 
murid-muridnya. Berkat Missa Papæ Marcelli, polifoni sakra karya Palestrina 
diterima menjadi salah satu bentuk musik khas Gereja Katolik Roma, selain tentu 
saja Gregorian chant (bdk. “Instruction on Sacred Music and Sacred Liturgy” 
yang diterbitkan oleh Sacred Congregation for Rites pada Pesta St. Pius X 
tanggal 3 September 1958).
 
Pada tahun 1607, komposer Agostino Agazzari mengatakan bahwa musik yang lebih 
kuno-lah yang teksnya relatif membingungkan dan terkesan menggumam. Kesan itu 
disebabkan karena imitasi yang rumit dan panjang pada musik-musik sebelum era 
Palestrina (terutama abad XV – jaman early renaissance). Namun Palestrina telah 
menemukan solusinya dengan membuktikan bahwa kesalahan bukan terletak pada 
musiknya, namun pada penggubah musik tersebut. Untuk menegaskan teorinya, 
Palestrina menggubah Missa Papæ Marcelli.
 
Missa Papæ Marcelli disusun pada tangga nada ionian-myxolidian. Missa ini 
merupakan gubahan bebas, yang tidak didasari pada sebuah nyanyian pokok (cantus 
firmus). Walau berkomposisi enam suara, kekuatan penuh dari keenam suara itu 
hanya muncul pada beberapa bagian untuk menunjukan puncak dari teks dan 
musikalitas dalam missa ini. Kombinasi suara amat bervariasi di seluruh bagian 
missa ini. Sebagian missa ini berbentuk homorhytmic layaknya deklamasi dengan 
penataan kata-kata yang amat presisi (Glória dan Credo), sedangkan bagian 
dengan teks yang tumpang tindih atau fugal (Kyrie, Sanctus–Benedíctus, Agnus 
Dei) disusun mengikuti kaidah Palestrina Style sehingga (walau secara matematis 
amat kompleks) teks missa ini tetap dapat didengar dengan jelas saat 
dinyanyikan.
 
 
Miserére mei, Deus | Gregorio Allegri (1582-1652)
 
Miserére mei, Deus merupakan karya agung (masterpiece) Allegri. Disusun pada 
tangga nada Phrygian (kecuali ayat 20b: Aeolian), Miserére dinyanyikan oleh dua 
kelompok paduan suara (CCATB-CCAB); masing-masing diselingi kantus resitatif 
pada saat perpindahan dari/ke kelompok-kelompok tersebut. Kantus resitatif 
dapat dinyanyikan oleh satu atau beberapa penyanyi pria (biasanya dari kelompok 
pertama) sebagai cantor. Edisi Miserére yang dipersembahkan adalah “The Top C 
Version”; walau diklaim bukan merupakan edisi otentik, versi ini yang paling 
banyak digemari, terutama karena nada C tinggi (top C) yang dinyanyikan oleh 
suara Cantus pada bagian soli/ensembel. Menurut Pietro Alfieri, karya ini 
diperkirakan disusun pada tahun 1638 karena di dalamnya terdapat kombinasi ciri 
late renaissance (abad XVI) dan gaya polychoral (yang berkembang di Venezia 
pada akhir abad XVI dan menjadi permulaan jaman baroque). Sejak ratusan tahun 
lalu, Miserere merupakan Mazmur
 Pertobatan (Psalmus Pœnitentialis) yang lazim dilagukan pada Pekan Suci di 
lingkungan Kapel Sistina. Teks: Mazmur 51 (Vulgata: 50).
 
 
“Music is not man's invention, but his heritage from the blessed spirits... 
Music, because instinct with rhythm and harmony, describes the very being of 
God... Music can affect for good or ill the body as well as the mind... 
Nowadays, unfortunately, music does often serve depraved ends.” - Tomás Luis de 
Victoria
 
 
“I had a dream, the music of Palestrina and Gregory the Great had come back.” - 
Maestro Domenico Bartolucci
 
 
"The training in singing, to sign in a chorus, is not olny an exercise of 
external listening and of the voice; it is also training for interior 
listening, listening with heart, an exercise in training for life and for 
peace." - Paus Benedictus XVI
 
 



      

Kirim email ke