Rekan-rekan milis
Yang di kasihi kristus
Berikut ini saya kirimkan sebuah
berita yang sangat menarik dari Vatikan mengenai keputusan Bapa Suci Paus
Benediktus XVI untuk merangkul dan menerima kembali Para klerus dan umat awam
dari
Gereja Katolik Anglikan dalam pangkuan Gereja Katolik Roma.
Keputusan Bapa Suci ini merupakan suatu
usaha yang dianggap sangat luar biasa sejak Reformasi untuk memungkinkan
kelompok-kelompok Anglikan, yang ingin menerima ajaran iman Katolik, untuk
memperoleh “persatuan kembali secara kelihatan” dengan Roma sebelum Persekutuan
Anglikan, dengan 80 juta anggota di 160
negara.
Selengkapnya mengenai berita ini, dan
alasan-alasan mengapa Gereja Katolik Roma membuka pintu bagi umat Gereja Katolik
Angklikan untuk bergabung dengan Gereja Katolik Roma, Reporter kami Gerard
O'Connell, Koresponden Khusus di
Roma menurunkannya dalam tulisannnya berikut ini...
Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati,
Hormatku,
Vitalis
Ingin mengetahui berita-berita
terkini mengenai karya dan pelayanan Gereja
di negara-negara kawasan Asia serta liputan
terkini dari Vatikan.
Silakan kunjungi UCAN website kami
di: www.ucanews.com / www.cathnewsasia.com
===================================================================
VATIKAN -
Kolom UCAN - Paus Memudahkan Persekutuan Penganut Anglikan dengan Gereja
Katolik
Oleh Gerard
O'Connell, Koresponden Khusus di Roma
21 Oktober
2009 | ZY08094.665b | 1.218 kata
KOTA
VATIKAN (UCAN) -- Dalam sebuah gebrakan yang mengejutkan dan sangat
penting, Paus Benediktus XVI lebih memudahkan klerus dan umat awam Gereja
Anglikan untuk bersatu sepenuhnya dengan Gereja Katolik Roma, dengan tetap
mempertahankan unsur-unsur warisan Anglikan mereka.
William
Kardinal Levada, prefek Kongregasi Ajaran Iman (CDF, Congregation for the
Doctrine of the Faith), mengumumkan hal ini dalam sebuah pengarahan singkat
khusus pers internasional di Vatikan
pada 20 Oktober. Ia mengungkapkan bahwa Paus akan mengeluarkan sebuah
konstitusi yang apostolik – sebuah dokumen untuk menetapkan atau meresmikan
undang-undang – tentang hal ini beberapa minggu lagi.
Keputusan
paus itu merupakan usaha luar biasa sejak Reformasi untuk memungkinkan
kelompok-kelompok Anglikan, yang ingin menerima ajaran iman Katolik, untuk
memperoleh “persatuan kembali secara kelihatan” dengan Roma sebelum Persekutuan
Anglikan, dengan 80 juta anggota di 160
negara, dan Gereja Katolik Roma mencapai kesepakatan penuh menyangkut ajaran.
Dalam
konferensi pers itu, kardinal membacakan teks ringkasan setebal dua halaman
yang dipersiapkan oleh CDF dari keputusan paus itu. Ringkasan itu secara cepat
merunut sejarah hubungan Katolik-Anglikan mulai dari abad ke-16, ketika Raja
Henry VII menyatakan Gereja Inggris lepas dari otoritas paus, hingga Konsili
Vatikan II (1962-1965).
Ringkasan
itu juga mengungkapkan bagaimana Konsili Vatikan II merintis jalan untuk dialog
ekumene antara Gereja Katolik dan Persekutuan Gereja Anglikan yang telah
terjadi lebih dari 40 tahun.
Baik
kardinal maupun nota CDF itu membeberkan betapa serius munculnya perpecahan
dalam Persekutuan Anglikan sedunia dalam setengah abad terakhir ketika
Gereja-Gereja Anglikan, yang memutuskan hubungan dengan tradisi, mulai
mentahbiskan perempuan sebagai imam dan uskup. Beberapa gereja Anglikan
belakangan ini bahkan mulai secara terbuka mentahbiskan klerus homoseksual dan
menikahkan pasangan-pasangan homoseksual. Semua ini menimbulkan krisis yang
sangat serius dan terus berlangsung, yang beresiko bisa berkembang menjadi
skisma
dalam Persekutuan Anglikan sendiri.
Dalam
situasi yang baru ini, banyak kelompok gereja Anglikan mulai mengandalkan Roma
dan meminta persekutuan penuh dengan Roma, jelas kardinal itu. Inilah yang
membuat paus mengeluarkan tanggapannya.
Uskup
Agung Augustine DiNoia, mantan wakil sekretaris CDF, yang pernah terlibat dalam
seluruh proses itu, juga berbicara dalam siaran pers itu.
Dia
mengatakan bahwa sementara adanya berbagai upaya serius untuk menyembuhkan
perpecahan Katolik Anglikan selama lebih dari setengah abad terakhir, “doa-doa
kami untuk persatuan sedang mendapat jawaban dalam berbagai cara yang tidak
kita antisipasi."
"Roh
Kudus sedang berkarya di sini, dan Takhta Suci tidak mungkin tinggal diam
terhadap gerakan Roh Kudus ini, terutama bagi mereka yang merindukan
persekutuan dan yang tradisinya harus dihargai."
Kardinal
Levada mengatakan bahwa dalam konstitusi apostolik yang akan dikeluarkan, Paus
akan mengemukakan "suatu struktur kanonik yang memungkinkan terciptanya
persatuan kembali ini dengan membentuk Personal Ordinariates" -- semacam
keuskupan -- yang "akan mengijinkan bekas umat Anglikan untuk masuk dalam
persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, dengan tetap mempertahankan warisan
liturgi dan unsur-unsur spiritual Gereja Anglikan yang bersifat
distinktif."
Konstitusi
itu menyadari bahwa "bimbingan dan pelayanan pastoral akan diberikan
kepada kelompok bekas umat Anglikan melalui sebuah Personal Ordinariate."
Setelah berkonsultasi dengan konferensi-konferensi waligereja,
"Ordinariates” seperti itu akan dibentuk "jika dibutuhkan."
Strukturnya akan "serupa dalam
beberapa hal” dengan struktur keuskupan-keuskupan militer yang ada di sejumlah
negara untuk memberi pelayanan pastoral bagi anggota pasukan militer dan
keluarga mereka.
"Ordinary"
(semacam uskup) yang memimpin suatu ordinariate, bisa seorang imam selibat atau
seorang uskup yang tidak menikah, dan “akan selalu ditunjuk dari mantan klerus
Anglikan,” kata kardinal.
Dia
mengatakan, konstitusi apostolik itu "memberi sebuah tanggapan yang lumrah
dan perlu terhadap fenomena yang tersebar luas di seluruh dunia, dengan memberi
sebuah model kanonik sederhana bagi Gereja universal. Model itu dapat
disesuaikan di berbagai situasi lokal dan cocok bagi para mantan Anglikan dalam
penerapannya yang universal."
"Konstitusi
itu menyediakan pentahbisan para mantan klerus Anglikan yang menikah menjadi
imam-imam Katolik” namun "tidak mengijinkan pentahbisan pria menikah
menjadi uskup,” lanjutnya.
Kardinal
Levada mengatakan, Paus memutuskan untuk membentuk struktur khusus ini dalam
menanggapi “banyak permintaan” yang disampaikan ke Takhta Suci dalam lebih dari
tiga tahun terakhir “dari kelompok-kelompok umat dan klerus Anglikan di
berbagai tempat yang berbeda di dunia. Mereka ingin masuk ke dalam sebuah
persekutuan yang kelihatan."
Dia
menyatakan bahwa sekitar "20 hingga 30 uskup" telah menyampaikan
permintaan, sementara "ratusan permintaan telah diterima dari banyak
kelompok umat,” bukan saja dari Komunitas Anglikan Tradisional (yang mengklaim
memiliki 500.000 anggota di seluruh dunia). Dia enggan memberi angka
keseluruhan dari jumlah para Anglikan itu.
UCA
News sejak itu melihat bahwa penolakan pentahbisan pria menikah menjadi uskup
itu sangat mengecewakan banyak uskup Anglikan yang ingin bergabung dengan Roma.
Mereka agaknya berubah pikiran untuk bergabung dengan Gereja Katolik.
Dalam
konferensi pers itu, kardinal menepis pendapat bahwa keputusan paus itu bisa
ditafsirkan sebagai perubahan radikal dalam komitmen Vatikan untuk dialog
ekumene dengan Persekutuan Anglikan. Dia menegaskan, “inisiatif ini”
sesungguhnya muncul dari "kelompok-kelompok Anglikan," bukan dari
Roma. Takhta Suci hanya menjawab permintaan mereka, katanya.
Dari
tahun ke tahun banyak umat Anglikan kembali ke Gereja Katolik, lanjutnya, namun
“kadang-kadang,” juga, kelompok-kelompok Anglikan yang menjadi Katolik itu
tetap mempertahankan “struktur yang kelihatan,” seperti terjadi dengan
Keuskupan Anglikan Amritsar di India, dan beberapa paroki di Amerika Serikat.
Kardinal
berpendapat bahwa keputusan Paus untuk menyediakan struktur yang baru ini
“memang konsisten dengan dialog ekumene, yang terus diprioritaskan oleh Gereja
Katolik, terutama melalui berbagai upaya Dewan Kepausan untuk Peningkatan
Persatuan Umat Kristen."
Ketika
ditanya mengapa tidak ada pejabat dari dewan kepausan itu pada konferensi pers
itu, Kardinal Levada mengatakan bahwa dia mengundang Walter Kardinal Kasper dan
Uskup Agung Brian Farrell, masing-masing sebagai ketua dan sekretaris kantor
Vatikan itu, namun keduanya tidak bisa hadir karena ada acara.
Ketika
ditanyakan tentang proses konsultasi yang membuat Paus mengambil keputusan itu,
kardinal itu menyatakan bahwa CDF telah membentuk sebuah kelompok kerja untuk
melihat bagaimana Takhta Suci bisa memberi tanggapan terbaik atas permintaan
dari kelompok-kelompok Anglikan yang ingin masuk dalam persekutuan dengan Roma.
Proses
keseluruhan diselenggarakan secara tertutup, dengan konsultasi di luar yang
sangat terbatas. Maka, sebagai contoh, hanya satu uskup dari Wales dan Inggris
dikonsultasi, tetapi hanya "dalam kapasitas personal."
Kelompok
kerja itu memberi laporan dalam pertemuan bulanan CDF yang terdiri dari para
uskup dan kardinal. Dalam pertemuan itu, Kardinal Casper menjadi salah satu
peserta, dan CDF menyerahkan kesimpulan pertemuan itu kepada Paus, katanya.
Menjelang
konferensi pers Vatikan itu, Kardinal Levada terbang ke London pada 19 Oktober.
Di sana, dia menanyakan para uskup Wales dan Inggris tentang konstitusi
apostolik itu. Para uskup ini telah menolak suatu proposal serupa tahun 1992.
Di
London, kardinal juga berbicara dengan Uskup Agung dari Canterbury, yang diberi
informasi dua minggu sebelumnya tentang keputusan paus itu.
Namun,
pada 20 Oktober, ketika kardinal memberi penjelasan singkat di Roma, pada waktu
bersamaan terjadi juga konferensi pers di London. Dalam peristiwa di London
itu, secara mencengangkan, Uskup Agung Canterbury Mgr Rowan Williams muncul
bersama Uskup Agung Westminister Mgr Vincent Nichols.
Mereka
mengeluarkan pernyataan bersama yang mengatakan bahwa pengumuman konstitusi
apostolik itu “mengakhiri masa ketidak-pastian untuk kelompok-kelompok seperti
itu yang telah sangat mengharapkan cara-cara baru untuk bersatu dengan Gereja
Katolik."
Kedua
uskup agung itu menafsirkan konstitusi apostolik itu sebagai "pengakuan
lebih jauh akan iman, ajaran, dan spiritualitas antara Gereja Katolik dan
tradisi Anglikan yang pada dasarnya tumpang tindih,” dan mengatakan bahwa tanpa
dialog selama 40 tahun terakhir, pengakuan ini tidak mungkin terjadi."
Mereka
melihat konstitusi apostolik itu sebagai "satu konsekuensi dialog ekumene
antara Gereja Katolik dan Persekutuan Anglikan,” dan bersama-sama menyatakan
bahwa “dialog resmi lebih lanjut antara Gereja Katolik dan Persekutuan Anglikan
itu memberi dasar untuk kelangsungan kerjasama kita."
Uskup
Agung dari Canterbury diharapkan berada di Roma bulan depan untuk sejumlah
pembicaraan di Vatikan.
-------------
Gerard O'Connell meliput Vatikan
sebagai koresponden untuk UCA News dan organisasi berita lainnya