Apakah
Merokok = Mencemari
Bait Roh Kudus?!
Oleh:
F.X.
Didik Bagiyowinadi, Pr
Kebiasaan
merokok sering menimbulkan pro dan kontra. Yang mendukungnya beralasan: serasa
“kecut” bila tidak merokok, sebagai
pengikat pergaulan dan persahabatan, ataupun menambah devisa negara. Sementara
yang menolaknya, berdalih soal kesehatan, penghematan, dsb. Bahkan kadang kita
mendengar orang melarang merokok dengan alasan religius, tidak mau mencemari
Bait Roh Kudus. Benarkah alasan religius ini?
Tafsiran
yang Berbeda
Kita
mendapati bahwa beberapa pastor malahan perokok berat. Sementara kalangan
Pantekosta menentang kebiasaan merokok dengan dalih religius di atas. Mana yang
benar? Suatu ketika saya menjumpai seorang pendeta GKJW sedang merokok. Maka
saya guyoni, “Pendeta kok merokok, nanti mencemari Bait Roh Kudus?” Eh, dia
malah berseloroh, “Lho, ini justru kurban bakaran bagi Tuhan.”
Memang,
tidak semua Gereja menafsirkan merokok sebagai pencemaran Bait Roh Kudus.
Bagaimana logikanya sampai ada yang menyimpulkan demikian? Menurut Rasul
Paulus, tubuh kita yang telah ditebus oleh darah mulia Kristus ini adalah Bait
Roh Kudus (1 Kor 3:16, 1 Kor 6:19, 2 Kor 6:16). Sementara merokok itu
menimbulkan pencemaran/polusi terhadap
tubuh. Maka disimpulkan bahwa merokok itu mencemari Bait Roh Kudus, yakni tubuh
kita ini.
Benarkah
kesimpulan di atas? Konteks pencemaran Bait Roh Kudus dalam 1 Kor 6:12-20 ini
adalah pencemaran tubuh melalui
percabulan, bukan soal pencemaran dengan rokok. Tindakan percabulan itulah yang
mencemari kesucian tubuh kita yang telah ditebus dengan darah mulia Kristus.
Sementara kebiasaan merokok baru dikenal sekitar tahun 1300-an ketika
orang-orang Eropa melihat orang-orang Indian merokok. Kebiasaan orang Indian
inilah yang “diekspor” ke Eropa dan akhirnya mendunia. Maka, penafsiran merokok
sebagai pencemaran Bait Roh Kudus adalah kesimpulan yang dipaksakan. Gereja
Katolik dan Gereja Protestan tidak mengartikan kebiasaan merokok sebagai
pencemaran terhadap Bait Roh Kudus.
Kewajiban
Memelihara Kesehatan
Kendati
demikian, moral Katolik menganjurkan kita untuk mengurangi bahkan sama sekali
tidak merokok. Apa alasannya? Apa dasar biblis-nya? Dasarnya adalah Tuhan telah
memberikan kehidupan kepada kita, maka kita harus menjaga dan memeliharanya
dengan sebaik-baiknya. Perintah “Jangan membunuh” bila dirumuskan secara
positif berarti “peliharalah kehidupan”. Bukankah kebiasaan merokok yang
jelas-jelas merugikan kesehatan itu
termasuk kebiasaan yang berlawanan dengan semangat memelihara kesehatan?
Upaya
memelihara kehidupan itu juga mesti diterjemahkan dengan istirahat cukup, makan
sehat dan teratur, serta berolahraga. Meskipun demikian, agaknya banyak orang
mengabaikan “tips-tips” untuk memelihara kehidupan ini. Banyak orang modern
selalu sibuk, hidup dalam ketegangan dikejar “deadline”, aktivitas tinggi
sehingga mesti ditambah dengan berbagai
suplemen. Yang buntut-buntutnya justru mempunyai efek samping. Hidup sehat,
seimbang dan teratur itulah terjemahan konkret memelihara hidup.
Terserah
Hati Nurani
Kendati anjuran di atas cukup jelas dan
terjemahan konkretnya mudah dipahami, tetapi untuk menjalaninya tidaklah
mudah. Taruhlah contoh olahraga, tahu bahwa
itu baik untuk kesehatan, tetapi tidak semua orang melakukannya. Tidak berdosa
memang. Demikian juga dengan merokok. Tahu, bahwa hal itu merugikan kesehatan
(setidaknya saat membaca peringatan pemerintah yang tercantum pada bungkus
rokok) dan menguras kocek, toh orang tetap merokok juga. Apalagi kalau orang
punya dalih bahwa dengan merokok dia
justru membantu negara: meningkatkan devisa negara, menguntungkan para pekerja
dan distributor rokok, dst. Akhirnya, apakah Anda mau merokok atau tidak, itu
pilihan sepenuhnya di tangan Anda. Yang pasti, lebih sehat dan lebih untung
kalau orang tidak merokok.
Mesti
Ingat Orang Lain
Meskipun
kita bebas menentukan sendiri mau merokok atau tidak, kita tetap harus ingat
akan orang lain. Tidak semua orang tahan dengan asap rokok, bahkan ada yang
alergi begitu mencium baunya saja. Maka peringatan “No Smoking” di
tempat-tempat tertentu mesti diindahkan; di tempat yang penuh dan sesak orang,
sebaiknya tidak merokok, demikian juga orang mesti peka, apakah mereka yang di
sekitarnya itu alergi atau tidak dengan asap rokok. Semoga catatan singkat ini
ada manfaatnya.
Sumber: F.X. Didik Bagiyowinadi Pr, Di
Tengah Berbagai Angin Pengajaran. Menjawab Kontroversi Iman (Malang: Dioma,
2005) hlm.
113-116.
Salam & Doa
Alexander Yusup