"Janda ini memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."
(Dan 1:1-6.8-20; Luk 21:1-4)

"Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan 
persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda 
miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: "Aku berkata 
kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua 
orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi 
janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya." 
(Luk 21:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrfleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana 
sebagai berikut:
•       Suatu pengalaman konkret terjadi dalam pelayanan di rumah duka 
St.Carolus – Jakarta: ada orang kaya dan orang yang dilayani dalam hal 
pemakaman salah seorang anggota keluarganya. Si kaya begitu penuh perhitungan 
kalau tidak boleh dikatakan pelit dalam hal uang, padahal minta pelayanan 
sebaik mungkin, serta cukup rewel alias merepotkan para pegawai. Sementara itu 
si miskin memang harus dibantu dalam hal beaya atau keuangan, meskipun ia telah 
menguras kekayaannya bahkan masih punya pinjaman, dan ia senantiasa bersyukur 
dan berterima kasih atas pelayanan yang telah diterimanya. Jika diukur secara 
nominal jumlah uang yang dikeluarkan oleh si kaya memang lebih besar dari si 
miskin, namun jika dilihat secara faktual si miskin lebih besar pengorbanannya 
daripada si kaya. Itulah kenyataan yang mengesan bagi saya, dan mungkin contoh 
tersebut boleh menjadi cermin kehidupan masyarakat kita: semakin kaya semakin 
penuh perhitungan dan pelit serta ada kecenderungan untuk sombong dan egois. 
Sabda hari ini mengingatkan kita semua perihal persembahan atau pengorbanan 
diri bagi Allah dan sesama. Persembahan yang benar adalah `memberi dari 
kekurangan', bukan kelebihan; sedangkan memberi dari kelebihan berarti membuang 
sampah alias menjadikan si penerima sebagai tempat sampah alias melecehkan atau 
merendahkan yang lain. Sabda hari ini mungkin baka kita refleksikan dalam hal 
pemafaatan waktu: orang yang merasa kaya akan waktu pada umumnya pelit 
membaktikan diri pada yang lain dan kurang setia melaksanakan tugas utamanya, 
sebaliknya orang yang merasa kurang waktu pada umumnya lebih membaktikan diri 
kepada orang lain maupun tugas utamanya. Semakin merasa kurang waktu pada 
umumnya orang dengan sungguh-sungguh mengerjakan tugasnya, sehingga yang 
bersangkutan juga semakin banyak tugas yang harus dikerjakan, meskipun demikian 
semuanya selesai atau suskses. Maka marilah kita tidak pelir dalam hal waktu, 
tenaga maupun harta benda/uang: semuanya adalah anugerah Allah, maka semuanya 
selayaknya difungsikan secara sosial.
•       "Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan 
dengan mereka selama sepuluh hari. Setelah lewat sepuluh hari, ternyata 
perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua 
orang muda yang telah makan dari santapan raja" (Dan 1:14-15). Kutipan ini 
berbicara masalah makanan dan minuman yang sehat dan baik. Ada rumor: 
orang-orang desa umurnya lebih panjang daripada orang-orang kota, meskipun 
orang-orang desa miskin. Mengapa? Orang-orang desa pada umumnya cukup banyak 
berjalan kaki setiap hari, menyantap jenis makanan yang sehat dan segar alias 
alami, dst.., sebaliknya orang-orang kota dan kaya pada umumnya malas berjalan 
kaki, menyantap jenis makanan yang berkolesterol tinggi, mengandung obat 
pengawet yang mematikan, dst… Baiklah saya tidak akan terlalu membedakan desa 
dan kota atau kaya dan miskin, tetapi marilah kita semua memperhatikan 
kesehatan dan kebugaran tubuh kita masing-masing, antara lain dengan menyantap 
makanan dengan pedoman "empat sehat lima sempurna", cukup berolahraga yang 
sesuai dengan usia, bekerja dan istirahat teratur, dst.. Ketika tubuh kita 
sehat dan segar bugar, maka kita juga akan lebih mudah membaktikan diri bagi 
orang lain serta  banyak tugas pekerjaan, sebaliknya jika kita sakit-sakitan 
dengan sendirinya akan menjadi beban bagi orang lain serta kurang dapat 
membaktikan diri bagi sesama..  Kami berharap agar anak-anak sedini mungkin di 
dalam keluarga dibiasakan hidup sehat dan tentu saja dengan teladan konkret 
dari orangtua/bapak-ibu.  Gerakan preventif lebih murah daripada gerakan 
kuratif, memang gerakan preventif lebih membutuhkan pengorbanan dan perjuangan 
terus menerus, sehingga pengorbanan dan perjuangan menjadi kenikmatan bukan 
beban.  

"Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang patut dihormati dan 
ditinggikan selama-lamanya. terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus, yang patut 
dihormat dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau dalam Bait-Mu yang 
mulia dan kudus, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya. 
Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu, Engkau patut dinyanyikan dan 
ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau yang mendugai samudera raya dan 
bersemayam di atas kerub-kerub, Engkau patut dihormat dan ditinggikan 
selama-lamanya.Terpujilah Engkau di bentangan langit, Engkau patut dinyanyikan 
dan dimuliakan selama-lamanya"(Dan 3:52-56)

Jakarta, 23 November 2009


Kirim email ke