"Kamu akan Kujadikan penjala manusia."
(Rm 10:9-18; Mat 4:18-22) 

"Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang 
bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka 
sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata 
kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala 
manusia."Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan 
setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu 
Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, 
sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka 
segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.(Mat 4:18-22), 
demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Andreas, 
rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•       Ada tiga jenis karya pelayanan pastoral utama dalam Gereja, yaitu: 
pendidikan, sosial dan kesehatan. "Stake-holder' atau yang menjadi subyek utama 
dalam ketiga pelayanan pastoral tersebut ialah manusia, namun dalam kenyataan 
di lapangan sering lebih diutamakan harta benda atau uang, dengan kata lain 
mengelola dan mengurus karya-karya pendidikan, sosial dan kesehatan dengan 
semangat materialistis atau bisnis. Dalam rangka mengenangkan pesta St.Andreas, 
rasul, ini kita diingatkan bahwa dalam berbagai pelayanan pastoral hendaknya 
diutamakan manusia, bukan harta benda atau uang, maka mayoritas dana atau beaya 
hendaknya tercurah pada kepentingan manusia, demikian juga karya-karya 
pelayanan tersebut dikelola dan diurus secara manusiawi. Maka hendaknya 
siapapun yang mempercayakan diri untuk dilayani dalam pelayanan-pelayanan 
pastoral tersebut diperhatikan sedemikian rupa, sehingga mereka terkesan, 
terharu dan terpikat pada pelayanan kita, dan dengan demikian setelah mereka 
menikmati pelayanan akan menjadi `tenaga marketing atau pemasaran' sukarela 
karya-karya pelayanan kita. Sebagai contoh: mereka yang telah belajar di 
sekolah yang kita kelola setelah lulus akan berceritera kepada sahabat dan 
kenalannya perihal pelayanan yang telah diterima dan pasti menganjurkan mereka 
untuk belajar di sekolah kita, para pasien yang dirawat di rumah sakit dan 
keluarganya setelah menerima pelayanan kesehatan yang baik akan berceritera 
kepada sahabat dan kenalan serta mengajak mereka jika berobat hendaknya di 
rumah sakit yang kita kelola, dst..Untuk itu memang rekan-rekan pegawai (guru, 
staf kependidikan, dokter, perawat dst..) diharapkan hidup dan bertindak 
dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga cara pelanannnya dijiwai keutamaan-keutamaan 
"kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, 
kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23) 
•       "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik" (Rm 10:15). 
Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, entah apapun 
pekerjaan atau yang kita lakukan. Kemana kita pergi atau dimana kita berada 
diharapkan menjadi `kabar baik' dan menjadikan lingkungan hidup yang kita 
datangi atau dimana kita berada semakin baik, damai sejahtera, menarik dan 
memikat banyak orang. Memang untuk itu berarti masing-masing dari kita harus 
baik, menarik, memikat  dan mempesona,  bukan karena kecantikan atau 
ketampanan, bukan karena pakaian dan assosori yang kita kenakan, melainkan 
karena kita sungguh berbudi pekerti luhur, yang antara memiliki ciri-ciri: 
"bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, 
berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, 
bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang 
rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, 
berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai 
karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, 
pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih 
sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap 
adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, 
tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet " (Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman 
Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997).Maka dengan ini kami 
mendambakan agar anak-anak sedini mungkin didalam keluarga dibina dan 
dibiasakan dalam hal ciri-ciri budi pekerti luhur tersebut dan tentu saja 
dengan teladan konkret orangtua; demikian juga di sekolah-sekolah hendaknya 
ciri-ciri budi pekerti luhur di atas menjadi perhatian utama. 

"Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan 
tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan 
pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka 
tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan 
mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari"(Mzm 
19:2-5) 
Jakarta, 30 November 2009

 


Kirim email ke