Pesta Keluarga Kudus: 1Sam 1:20-22.24-28; 1Yoh 3: 1-2.21-24; Luk 2:41-52
"Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin 
dikasihi oleh Allah dan manusia"

"Saya berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat 
maupun sakit sampai mati', demikian kurang lebih janji calon suami-isteri 
ketika saling menerimakan Sakramen Perkawinan, mengawali hidup baru, hidup 
berkeluarga sebagai suami isteri' Mereka juga berjanji untuk mendidik anak-anak 
yang akan dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka secara katolik/kristiani. Pada 
saat yang berbahagia macam itu pada umumnya masing-masing, baik mempelai 
laki-laki maupun perempuan, saling menghayati pasangan hidupnya sebagai 
anugerah Tuhan, kado dari Tuhan. Jika mereka, suami-isteri baru, ini setia 
menghayati janji tersebut maka keluarga mereka pasti akan berbahagia, damai 
sejahtera dan anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka akan 
meneladan Yesus, "makin bertambah besar dan bertambah hikmatnya dan besarnya, 
dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia". Maka pada pesta Keluarga Kudus, 
Yesus, Maria dan Yusuf, hari ini saya mengajak para bapak-ibu atau suami-isteri 
untuk mawas diri: sejauh mana setia pada janji perkawinan sampai kini? Salah 
satu tanda bahwa suami-isteri atau bapak-ibu setia pada janji perkawinan adalah 
`buah'nya, yaitu anak-anak yang dianugerahkan Tuhan tumbuh berkembang menjadi 
pribadi dewasa yang cerdas beriman atau cerdas spiritual. 

"Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin 
dikasihi oleh Allah dan manusia" (Luk 2: 52)   

Keluarga merupakan dasar hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maupun 
beriman/ menggereja; keluarga bahagia maka masyarakat juga bahagia dst.. 
Pengalaman dan pencermatan kami: para tokoh masyarakat maupun beragama yang 
sungguh hidup dan bertindak melayani demi kepentingan atau kesejahteraan umum 
pada umumnya berasal dari keluarga-keluarga yang baik, bahagia, dikasihi oleh 
Allah maupun sesamanya. Hidup berkeluarga sangat ditentukan oleh cara hidup 
suami-isteri: apakah baik suami maupun isteri makin dikasihi oleh Allah dan 
sesamanya? Orang dikasihi oleh Allah dan sesamanya karena ia juga senantiasa 
mengasihi Allah dan sesamanya.

Hidup dan segala sesuatu yang menyertainya berarti yang kita miliki, nikmati 
dan kuasai sampai kini adalah anugerah Allah atau kasih Allah, yang kita terima 
melalui mereka yang telah berbuat baik kepada kita. Masing-masing dari kita 
telah menerima kasih begitu melimpah ruah sehingga dapat hidup, tumbuh dan 
berkembang sebagaimana adanya saat ini, maka tanggapan kita tidak lain adalah 
berterimakasih dan bersyukur. Terima kasih dan syukur ini hendaknya tidak 
berhenti di bibir atau dalam wacana saja, tetapi pertama-tama dan terutama 
harus menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku, yaitu hidup saling mengasihi 
dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap 
kekuatan/tubuh. Di dalam kasih juga tersirat secara inklusif 
keutamaan-keutamaan seperti "sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan 
diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari 
keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang 
lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran, menutupi 
segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar 
menanggung segala sesuatu" (lih 1Kor 3:4-7)        

"Makin dikasihi oleh manusia" hendaknya menjadi pedoman atau acuan hidup 
berkeluarga, jangan hanya dikagumi atau dipuji saja. "Dikasihi"  berarti siap 
sedia dan rela untuk didatangi, dinasihati, ditegor, dipuji, diberi, di…dst..; 
dengan kata lain orang yang siap sedia dan rela untuk dikasihi senantiasa 
rendah hati. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan 
diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya 
lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan diri" 
(Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai 
Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Ingat dan renungkan bahwa kita baru saja 
mengenangkan Pesta Natal, kenangan akan kelahiran Penyelamat Dunia, "Yesus, 
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu 
sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya 
sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan 
dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai 
mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-8)  Kerendahan hati dibutuhkan 
bagi siapapun yang mendambakan agar dirinya semakin berhikmat dan dengan 
demikian semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Marilah kita renungkan 
sapaan Yohanes dalam suratnya di bawah ini.   

"Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka 
kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, dan apa saja yang kita 
minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala 
perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Dan inilah perintah-Nya 
itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita 
saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita" 
(1Yoh 3:21-23)

"Saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita"  
inilah yang hendaknya kita renungkan dan hayati. Perintah Kristus dalam hal 
kasih antara lain "mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal 
budi dan segenap tubuh", sehingga menjadi sehati, sejiwa, seakal budi dan 
setubuh (bersetubuh). Perintah kasih ini rasanya dengan mudah dapat diindrai 
atau dilihat dalam diri suami-isteri yang saling mengasihi, yang antara lain 
secara konkret ada langkah bersetubuh atau hubungan seks (persetubuhan). 
Hubungan seks atau persetubuhan merupakan perwujudan saling mengasihi dan ada 
kemungkinan menghasilkan buah, yaitu `janin'/anak, sebagai buah kasih atau yang 
terkasih. Dalam relasi antara suami-isteri yang saling mengasihi kiranya ada 
keberanian percaya untuk saling mendekati yang terkasih/pasangannya, karena 
pasangannya merupakan anugerah Allah. 

Perintah untuk saling mengasihi terarah kepada kita semua sebagai orang 
beriman. Kasih mungkin mudah dikatakan namun sering sulit dilaksanakan, 
mengingat dan memperhatikan masih maraknya aneka pertentangan, permusuhan, 
tawuran, saling membenci, dst.. Yang sering menjadi penyebab adalah aneka 
perbedaan yang ada, entah beda selera, agama, pendapat, pengalaman, suku, dst.. 
Pesta Keluarga Kudus hari ini mengingatkan saya untuk mengajak anda sekalian 
perihal perbedaan yang sering menimbulkan masalah tersebut. Ingat bahwa 
laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tetapi saling tertarik, memikat, 
mendekat dan tergerak untuk bersahabat dan bersatu. Dengan kata lain apa yang 
berbeda menjadi daya tarik, daya pikat dan daya pesona untuk lebih mengenal, 
mendekat dan bersahabat, itulah misteri ilahi, karya agung Allah. Maka dengan 
ini kami mengajak kita semua: marilah kita sikapi dan hayati apa yang berbeda 
di antara kita sebagai daya tarik, daya pikat dan daya pesona untuk saling 
mengenal dan bersahabat. Hendaknya perbedaan yang ada tidak menjadi motivasi 
atau dorongan untuk saling menuduh, merendahkan atau melecehkan. Perihal 
perbedaan kiranya baik saya angkat kembali di sini: dalam ilmu phisika/listrik 
unsur minus (-) dan plus (+) bertemu menjadi sinar terang yang fungsional dan 
membahagiakan, sebaliknya plus bertemu plus atau minus bertemu minus terjadilah 
musibah atau kebakaran yang mencelakakan. Kebenaran ilmiah ini hendaknya 
menjadi inspirasi juga dalam hal saling mengasihi antar kita yang berbeda satu 
sama lain ini.  

"Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur 
karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai 
kepada Allah yang hidup. Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang 
terus-menerus memuji-muji Engkau.  Berbahagialah manusia yang kekuatannya di 
dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!" (Mzm 84:2-3.5-6) 

Jakarta, 27 Desember 2009     


Kirim email ke