--- On Sun, 1/3/10, Ditto S :-D <[email protected]> wrote:


From: Ditto S :-D <[email protected]>
Subject: Artikel: UCapan Selamat Natal dan Umat Islam Indonesia
To: "D D Ditto lagi" <[email protected]>
Date: Sunday, January 3, 2010, 8:04 PM







Tulisan bagus nihh...
 
 
Ucapan Selamat Natal dan Umat Islam Indonesia
(Seputar Indonesia, 24 Desember 2009)
 
 
 
Sejak 1980-an tiap hari raya Natal ada keganjilan di masyarakat Indonesia. 
Hampir setiap pejabat publik, presiden, gubernur, menteri, dan lain-lain yang 
agamanya Islam terlihat mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani.

Bahkan tidak sedikit di antara para pejabat publik tersebut menghadiri perayaan 
Natal. Amien Rais yang sering dikelompokkan sebagai seorang tokoh muslim 
militan yang anti-Natal, misalnya, ketika menjabat ketua MPR sering terlihat 
menghadiri acara-acara Natal dan berbicara akrab dengan para pendeta dan 
pastor. Sikap Amien Rais ini semakin jelas ketika mencalonkan diri jadi 
presiden RI pada 2004. Amien Rais sering hadir dalam acara-acara yang diadakan 
umat Kristiani, baik itu di acara Natal, Paskah, maupun lainnya. Amien juga 
sering terlihat berada dalam lingkaran para pemimpin Kristiani.

Tidak demikian halnya dengan Hidayat Nur Wahid ketika menjadi ketua MPR. 
Hidayat, belum pernah terlihat muncul dalam acara Natal. Hidayat tampaknya 
konsisten terhadap ”larangan” mengucapkan Natal–apalagi menghadiri—acara 
perayaan Natal. Hidayat rupanya termasuk tokoh yang patuh terhadap fatwa MUI 
yang melarang umat Islam merayakan Natal. Bagi MUI, umat Islam yang ikut 
merayakan Natal, bahkan mengucapkan selamat Hari Raya Natal pun hukumnya haram 
karena merusak akidah. Merayakan dan mengucapkan selamat Natal, bagi MUI, sama 
artinya dengan mendukung keimanan umat Kristiani bahwa Isa (Yesus) adalah Tuhan.

Padahal bagi umat Islam, Isa Al-Masih seorang rasul Allah yang kedudukannya 
sama dengan rasul lain. Kenapa Amien dan Hidayat– untuk melihat dua ikon tokoh 
Islam yang berasal dari ”rumah” yang sama, Muhammadiyah–mempunyai perbedaan 
sikap? Mungkin karena Amien adalah tokoh muslim yang meski dibesarkan oleh 
Muhammadiyah (yang awalnya berbau wahabisme), tapi mengenyam pendidikan sekuler 
di UGM Yogyakarta dan Chicago University, AS. Sedangkan Hidayat, yang juga 
orang Muhammadiyah, besar dengan pendidikan di IAIN Yogyakarta dan Universitas 
Islam Madinah, Arab Saudi.

Latar belakang inilah barangkali yang membedakan sikap Amien dan Hidayat dalam 
memandang Natal dan umat Kristen. Amien, meski dikenal seorang muslim 
militan–sama dengan Hidayat–tapi bisa menghayati makna pluralisme dalam 
kehidupan beragama dan bernegara. Jika pun Muhammadiyah disebut-sebut aliran 
yang mengadopsi wahabisme, tapi belakangan Muhammadiyah kelihatan makin condong 
ke ahlus-sunnah waljamaah.

Bahkan di kalangan muda Muhammadiyah–seperti ditunjukkan dalam aktivitas 
Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), pola-pola wahabisme (yang 
puritan dan anti-Natal) mulai dijauhi. Sikap Muhammadiyah ini– sebagaimana 
dikatakan AM Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Nasional, dalam 
Terorisme: Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam (2009)–sangat positif bagi 
perkembangan kehidupan beragama di Indonesia.

Wahabisme dan Natal

Wahabisme adalah paham dan gerakan Islam yang didirikan Muhammad bin Abdul 
Wahab di abad ke-18. Abdul Wahab disebut-sebut sebagai founding fathers 
Kerajaan Arab Saudi. Paham ini mengembangkan puritanisme, militanisme, dan 
ekstremisme.

Menurut wahabisme, umat Islam saat ini telah menyimpang dari ajaran Islam yang 
murni, sehingga diperlukan gerakan untuk memurnikannya dengan jalan kembali 
kepada Alquran dan hadis. Pernyataan bahwa umat Islam harus kembali kepada 
Alquran dan hadis memang tidak ada yang salah, sebab keduanya merupakan sumber 
primer dalam Islam. Tapi slogan tersebut menjadi masalah karena dimodifikasi 
sedemikian rupa untuk membentuk sebuah nalar keagamaan yang bersifat puritan 
absolut. Wahabisme menganggap hanya doktrinnyalah yang benar, yang lain salah 
dan kafir.

Wahabisme menolak tasawuf, tawassul, rasionalisme, dan pandangan lain yang 
dianggap tidak berasal dari Islam. Dalam melakukan misinya, wahabisme 
menggunakan istilah bidah, bagi perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap yang tidak 
ada padanannya dalam Alquran dan sunah Nabi Muhammad. Siapa pun yang melakukan, 
berbuat dan bersikap seperti itu, dia telah melakukan bidah, dan setiap bidah 
adalah sesat. Lebih jauh lagi, wahabisme tidak hanya menganggap bidah terhadap 
orang-orang non-Islam, tapi juga menganggap salah terhadap ulama-ulama lain 
yang pandangannya bertentangan dengannya.

Tidak hanya ajaran tasawuf yang dianggap bidah, ajaran-ajaran lain yang 
menyimpang dari doktrin wahabisme pun dianggap bidah (Misrawi, 2009). Jika di 
Arab Saudi ada ulama terkenal, Imam Fakhruddin al-Razi, yang dianggap sesat; di 
Indonesia pun Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid serta orang-orang yang 
mempunyai pandangan keislaman yang sama dengan keduanya dianggap sesat. Kaum 
wahabi terkenal sangat anti terhadap orang-orang non-Islam (kafir). Salah satu 
fatwanya, jangan berteman dengan orang-orang kafir dan mengikuti kebiasaan 
mereka.

Orang-orang Islam yang berteman dan mengikuti kebiasaan orang-orang kafir sudah 
termasuk kafir, bahkan lebih buruk dari orang kafir itu sendiri. Dari poin 
seperti inilah, kemudian muncul fatwa larangan merayakan Natal dan mengucapkan 
selamat Natal kepada umat Kristiani. Merayakan Natal dan saling mengucapkan 
selamat Natal, menurut pandangan Wahabisme, adalah kebiasaan orang-orang kafir 
yang sesat. Pandangan ini jelas sangat mengganggu toleransi antarumat beragama 
dan meruntuhkan sendi-sendi pluralisme yang membentuk kehidupan modern.

Wahabisme menihilkan ayat Alquran surat Ali Imran ayat 113–114 ini, ”Di antara 
orang-orang ahli kitab terdapat umat yang bangun di tengah malam membaca 
ayat-ayat Tuhan dan mereka bersujud kepada Tuhan. Mereka beriman kepada Allah 
dan hari akhir, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, serta 
berlomba-lomba dalam kebaikan, dan mereka adalah orang-orang yang saleh. Nabi 
Muhammad pernah bersabda, ”Orang Islam yang paling baik adalah yang menebar 
salam perdamaian dan memberikan makanan, baik kepada orang yang dikenal maupun 
tidak.”

Alquran dan hadis tersebut jelas jauh dari paradigma wahabisme. Wahabisme 
melihat sesuatu dengan sikap hitam dan putih; kawan dan lawan. Pandangan inilah 
yang akhirnya memunculkan benih-benih terorisme. Hampir semua organisasi yang 
mengusung terorisme, ideologi dasarnya–meminjam tesis AM Hendropriyono–berasal 
dari wahabisme itu tadi. Ciri-ciri wahabisme, misalnya, bisa tercium dari 
ceramah dan buku-buku Imam Samudera dan Abu Bakar Ba’asyir. Setelah menyadari 
”ancaman” terorisme yang muncul dari ideologi wahabisme ini, Pemerintah Arab 
Saudi, yang semula sangat mendukung perkembangan wahabisme, kini mulai 
”berpikir lain”.

Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz, misalnya, kini mulai bersikap terbuka 
dan mau berkunjung ke Vatikan. Anehnya pula, keamanan Arab Saudi pun kini 
sangat tergantung dari keberadaan tentara-tentara AS. Kekerasan dan ekstremisme 
wahabisme kini tampaknya mulai membahayakan ”tuannya” sendiri, sehingga perlu 
dijaga oleh tentara AS. Benar-benar sebuah dilema yang unik. Padahal semua itu 
adalah konsekuensi hukum alam belaka: siapa yang memelihara macan, jiwanya pun 
akan terancam terkaman macan itu sendiri.

Dari perspektif inilah, kita– kaum muslim Indonesia–hendaknya mulai mengkaji 
kembali fatwa larangan merayakan Natal dan mengucapkan selamat Natal. Fatwa 
tersebut jelas tidak relevan dan mengganggu terwujudnya kerukunan beragama di 
negara yang penduduknya sangat plural seperti Indonesia. Para ulama Indonesia 
yang mengharamkan memberikan ucapan selamat Natal hendaknya melihat bagaimana 
ulama-ulama besar Al-Azhar di Mesir dan Iran. Mereka, tidak hanya memberikan 
ucapan selamat Natal kepada warga Kristiani di negaranya, tapi juga biasa ikut 
merayakan Natal di gereja.

Sri Paus, misalnya, pernah mengakui bahwa orang pertama di dunia yang 
mengucapkan selamat Natal tiap tahun kepadanya adalah Ayatullah Ruhullah 
Khomeini. Ulama besar Mesir, Sayyid Muhammad Thanthawi, tak hanya membolehkan 
seorang muslim turut merayakan Hari Raya Natal, tapi juga menghadiri undangan 
Natal umat Kristen (Koptik) di gereja-gereja di sana. Itulah Islam yang penuh 
toleransi dan rahmat. Selamat Natal, semoga Tuhan memberkahi kita semua!(*)

M Bambang Pranowo
Guru Besar Sosiologi Agama UIN Jakarta
Opini Okezone 24 Desember 2009 


Read more: 
http://artikel-media.blogspot.com/2009/12/ucapan-selamat-natal-dan-umat-islam.html#ixzz0bbKOvdOH

http://artikel-media.blogspot.com/2009/12/ucapan-selamat-natal-dan-umat-islam.html

 
 

 
Bring love into your home for this is our love for each other must start.
( Mother Teresa )
 
Ditto Santoso 
Email : [email protected], [email protected]

Blog : www.rumahditto.blogspot.com, www.facebook.com/ditto.santoso
Mobile : 62 81 311 420 720



      

Kirim email ke