"Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia".
(1Sam 18:6-9; 19:1-7; Mrk 3:7-12)

"Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang 
dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari 
seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang 
kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya.Ia menyuruh 
murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, 
supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, 
sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak 
menjamah-Nya. Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di 
hadapan-Nya dan berteriak: "Engkaulah Anak Allah."Tetapi Ia dengan keras 
melarang mereka memberitahukan siapa Dia." (Mrk 3:7-12), demikian kutipan Warta 
Gembira hari ini.  
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Agnes, perawan dan 
martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•       "`Agnes' dalam bahasa Latin berarti `anak domba' atau `kurban', 
sementara dalam bahasa Yunani berarti `murni, suci'. Agnes seorang gadis remaja 
yang cantik jelita dan berasal dari keluarga kaya. Banyak pemuda bangsawan 
Romawi terpikat padanya; mereka saling bersaing agar dapat memperisteri Agnes. 
Tetapi Agnes menolak mereka semua dengan halus dan mengatakan bahwa ia telah 
mengikatkan diri pada seorang Kekasih yang tidak dapat dilihat dengan mata 
telanjang." (www.indocell.net/yesaya). Yang disebut `seorang Kekasih' disini 
tidak lain adalah Tuhan, maka terikat mesra dengan Tuhan tak akan terpengaruh 
oleh aneka macam rayuan kenikmatan duniawi, yang didambakan banyak orang. 
Menghayati semangat kemartiran masa kini kiranya dapat berupa kesetiaan dan 
keterikatan sepenuhnya kepada Tuhan, yang menjadi nyata dalam hidup 
sehari-hari; bersatu mesra dengan Tuhan akan mampu mengalahkan aneka macam 
godaan dan rayuan setan yang menggejala dalam tawaran-tawaran kenikmatan 
duniawi ini serta mampu menangkal aneka macam penyakit maupun menyembuhkan 
mereka yang sakit. Persatuan mesra dengan Tuhan ini pertama-tama nampak dalam 
cara hidup dan cara bertindak atau perilaku, bukan kata-kata atau omongan; 
pewartaan kabar baik melalui dan dengan parilaku bukan dengan omongan. Orang 
yang hidup baik, berbudi pekerti luhur dan suci kiranya akan menarik, memikat 
dan mempesona, dan siapapun yang berdekatan atau bersama dengannya pasti akan 
merasa sungguh hidup, segar bugar, bergairah serta semakin tergerak untuk 
membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui cara hidup dan cara 
bertindak setiap hari. Marilah meneladan St.Agnes, yang bersatu mesra dengan 
Tuhan, sehingga tetap tegar, segar, ceria dan bergembira meskipun harus 
menghadapi siksaan, tantangan dan hambatan.  
•       "Janganlah raja berbuat dosa terhadap Daud, hambanya, sebab ia tidak 
berbuat dosa terhadapmu; bukankah apa yang diperbuatnya sangat baik bagimu! Ia 
telah mempertaruhkan nyawanya dan telah mengalahkan orang Filistin itu, dan 
TUHAN telah memberikan kemenangan yang besar kepada seluruh Israel. Engkau 
sudah melihatnya dan bersukacita karenanya. Mengapa engkau hendak berbuat dosa 
terhadap darah orang yang tidak bersalah dengan membunuh Daud tanpa 
alasan?"(1Sam 19:4-5), demikian kata Yonatan kepada Saul, yang hendak membunuh 
Daud., dan Saul pun melaksanakan peringatan tersebut. Kita semua dipanggil 
untuk meneladan Yonatan, yaitu tanpa takut dan gentar untuk mengingatkan apa 
yang benar dan baik yang harus dilakukan dalam berbagai kesempatan dan 
kemungkinan. Marilah kita ingatkan dan tegor dengan rendah hati mereka yang 
sering dengan mudah ingin menghabisi `orang yang tak bersalah', demi gengsi, 
kedudukan, jabatan atau kehormatan duniawi. Mengingat dan mempertimbangkan 
masih maraknya aneka bentuk kekerasan terhadap anak-anak, yang tak bersalah, 
yang dilakukan oleh orangtuanya, marilah kita bersama-sama mengingatkan dan 
menegor mereka. Ketika anak-anak dibiarkan menerima kekerasan dari orangtuanya 
atau orang dewasa, maka kelak kemudian hari ketika anak-anak menjadi dewasa 
pasti juga dengan mudah melakukan kekerasan terhadap sesamanya. Dengan ini kami 
mengingatkan dan mengajak para orangtua, ayah dan ibu, untuk tidak bertindak 
keras apalagi sampai melukai hati anak-anak; hendaknya janji saling mengasihi 
baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit, juga dihayati dalam 
mengasihi anak-anaknya, yang mungkin merepotkan dan nakal. Ingat anak kalau 
tidak nakal bukan anak lagi, dengan kata lain anak nakal atau kurangajar adalah 
biasa, yang tidak biasa adalah orangtua/dewasa nakal atau kurangajar. 

"Kasihanilah aku, ya Allah, sebab orang-orang menginjak-injak aku, sepanjang 
hari orang memerangi dan mengimpit aku! Seteru-seteruku menginjak-injak aku 
sepanjang hari, bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan sombong ….. 
Kepada Allah, firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya kupuji, kepada Allah 
aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap 
aku?. Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan 
kubayar kepada-Mu."
(Mzm 56:2-3.11-13) 
Jakarta, 21 Januari 2010


Kirim email ke