"Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutusNya 
memberitakan Injil"
(1Sam 24:3-21; Mrk 3:13-19)

"Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang 
dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang 
untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya 
kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: 
Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara 
Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, 
selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, 
Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia." (Mrk 
3:13-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.  
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Fungsi duabelas rasul yang dipilih oleh Yesus untuk masa kini diemban 
oleh para uskup, yang jumlahnya melebihi dua belas. Para uskup dipilih oleh 
Paus, penerus karya Yesus, pengganti Santo Petrus, dan proses pemilihannya 
memang cukup lama, antara lain dengan minta masukan atau informasi dari 
pribadi-pribadi yang dinilai mengenal dengan baik `calon uskup' yang 
bersangkutan. Jabatan Uskup pada dasarnya tidak terbatas, artinya sampai mati, 
namun karena alasan keterbatasan diri, entah karena sakit atau lanjut usia, ada 
kemungkinan untuk mengundurkan diri. "Untuk dinilai cakap sebagai calon Uskup, 
seseorang harus: 1) unggul dalam iman, hidup baik, kesalehan, semangat merasul, 
kebijaksanaan, kearifan dan dalam keutamaan-keutamaan manusiawi….2) mempunyai 
nama baik, 3) sekurang-kurangnya berusia tiga puluh lima tahun, 4) 
sekurang-kurangnya sudah lima tahun ditahbiskan imam, 5) mempunyai gelar doktor 
atau sekurang-kurangnya lisensiat dalam Kitab Suci, teologi atau hukum kanonik 
yang diperolehnya pada lembaga pendidikan lanjut yang disahkan Takhta 
Apostolik, atau sekurang-kurangnya mahir sungguh-sungguh dalam 
matakuliah-matakuliah itu" (KHK kan 378). Syarat-syarat tersebut diandaikan 
agar yang bersangkutan dapat `memberitakan Injil' dengan baik dalam berbagai 
kesempatan dan kemungkinan, termasuk menggembalakan atau melayani umat Allah. 
Mengingat tugas berrat dan mulia tersebut, maka kita sebagai umat Allah 
dipanggil untuk senantiasa mendoakannya, antara lain dalam setiap Perayaan 
Ekaristi. Dukungan konkret terhadap para uskup kiranya juga dapat kita wujudkan 
dalam cara hidup dan cara bertindak kita yang ditandai atau dijiwai oleh iman, 
hidup baik, kesalehan, semangat merasul, kebijaksanaan, kearifan dan dalam 
keutamaan-keutamaan manusiawi. 
•       "Engkau lebih benar dari pada aku, sebab engkau telah melakukan yang 
baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu. Telah kautunjukkan 
pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN 
telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku" (1Sam 
24:18-19), demikian kata Saul kepada Daud, pengakuan jujur Saul terhadap Daud. 
Entah Daud atau Saul kiranya dapat menjadi teladan kita. Meneladan Saul berarti 
mereka yang berfungsi sebagai pembesar atau petinggi hendaknya jujur terhadap 
diri sendiri, jika salah hendaknya mengakui kelasahannya dengan rela dan besar 
hati, meskipun hal itu dilakukan kepada anggota, bawahan atau anak buah. 
Sebaliknya kita semua hemat saya dipanggil untuk meneladan Daud, yang tidak 
mencelakakan atau melukai orang lain sedikitpun, meskipun secara rational 
maupun faktual dapat dilakukan, dengan kata lain hendaknya kita senanitiasa 
berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. Ingat dan hayati bahwa sebagai 
orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Pewarta Kabar Baik, kita dipanggil 
untuk senantiasa menjadi pewarta-pewarta kabar baik.  Hendaknya apa yang 
tersiarkan atau terkabarkan dari diri kita masing-masing adalah apa yang baik, 
membahagiakan dan menyelamatkan, maka masing-masing dari kita hendaknya 
senantiasa hidup baik. Untuk hidup baik pada masa kini hemat saya kita tak 
dapat berusaha sendirian, melainkan harus bekerjasama dengan orang lain, 
sebagaimana para rasul maupun penerusnya, para uskup, senantiasa juga hidup dan 
berkarya dalam kolegialitas. Maka hendaknya sering diselenggarakan pertemuan, 
curhat atau diskusi, entah secara formal atau informal, antar kita. Kami 
percaya pertemuan antara orang-orang atau pribadi-pribadi yang berkehendak baik 
pasti akan menghasilkan buah yang tak terduga, yang lebih baik. 

"Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku 
berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu 
penghancuran itu. Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang 
menyelesaikannya bagiku. Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan 
menyelamatkan aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. S el a Kiranya 
Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya." 
(Mzm 57:2-4)        
Jakarta, 22 Januari 2010


Kirim email ke