"Kata mereka Ia tidak waras lagi"
(2Sam 1:1-4.11-12.19.23-27; Mrk 3:20-21)

"Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun 
pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar 
hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras 
lagi" (Mrk 3:20-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Jika membaca dan merengkan kutipan Warta Gembira yang singkat di atas, 
saya pribadi senantiasa teringat pada pengalaman pribadi yang sudah cukup lama 
namun mengesan sampai kini. Pengalaman itu adalah ketika saya sebagai Ekonom 
Keuskupan Agung Semarang terlibat dalam kepanitiaan menyambut kedatangan Paus 
Yohanes Paulus II di Yogyakarta, antara lain saya berpartisipasi dalam hal 
keuangan atau pendanaan, dll.. Dua bulan menjelang hari H saya memang harus 
bekerja keras, selain tugas pelayanan sebagai ekonom KAS harus tetap berjalan, 
saya harus rapat ke sana kemari sampai larut malam, bahkan seminggu terakhir 
menjelang hari H paling banyak saya tidur selama 3 jam per hari. Salah seorang 
pejabat atasan Tarekat saya mengingatkan: "Nanti setelah selesai kegiatan 
kunjungan Paus, kamu hendaknya istirahat/liburan", hal itu dikatakan agar saya 
tidak jatuh sakit. Kenyataannya saya tidak mengambil istirahat atau liburan, 
dan meskipun harus bekerja keras juga tidak jatuh sakit. Bekerja dengan gembira 
serta menikmati pekerjaan itulah yang saya hayati, sehingga tak terasa lelah 
atau bosan. Memang orang yang gembira, ceria dan dapat menikmati apa yang berat 
atau dalam iman menghadapi segala sesuatu  sering dipandang gila oleh orang 
lain  Dengan ini kami mengharapkan anda semua: hadapi dan sikapi segala 
sesuatu, termasuk yang berat dan penuh tantangan, dengan gembira, ceria dan 
nikmat, maka akan enak dan nikmat adanya, tak akan merasa lelah atau bosan. 
Orang yang gembira dan ceria memang menarik orang lain untuk mendekat dan 
mengerumuni, sebagaimana terjadi pada diri orang gila yang senyum gembira terus 
menerus. Hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan sepenuhnya pada masa 
kini mungkin dipandang gila oleh banyak orang, mengingat dan mempertimbangkan 
cukup banyak orang tidak setia pada kehendak dan panggilan Tuhan. 
•       "Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah 
kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan. Betapa gugur 
para pahlawan dan musnah senjata-senjata perang!" (2Sam 1:26-27), demikian 
kutipan ratapan Daud akan kematian Yonatan. Mungkin kita berpikir: "Ya pada 
umumnya memberi sambutan pada upacara penguburan orang mati pasti akan 
mengatakan apa yang baik tentang yang bersangkutan". Apa yang dihayati Daud 
kiranya tidak sekedar sopan santun atau formalitas belaka, melainkan sungguh 
keluar dari lubuk hati dan pengalaman hidupnya. "Cintamu lebih ajaib dari pada 
cinta perempuan", itulah kutipan ratapan yang selayaknya menjadi permenungan 
atau refleksi kita, yaitu cinta para pahlawan bangsa.. Para pahlawan bangsa 
pada umumnya lebih memperhatikan kepentingan bangsa atau umum daripada 
kelurganya, pasangan hidupnya sendiri, dan memang keluarga dan pasangan 
hidupnya juga mendukung dan mendampinginya. Untuk mewujudkan cita-cita 
kemerdekaan maupun menghayati dasar Negara, Pancasila, hemat saya dibutuhkan 
pribadi-pribadi yang berjiwa pahlawan, entah laki-laki atau perempuan. Maka 
kami mengharapkan jiwa pahlawan ini sedini mungkin dibinakan atau dididikkan 
pada anak-anak kita di dalam keluarga maupun sekolah, dan tentu saja dengan 
teladan konkret dari para orangtua dan para guru/pendidik. Didik dan binalah 
anak-anak untuk tumbuh berkembang menjadi `man or woman with/for others', 
pribadi-pribadi yang memiliki kepekaan sosial tinggi, peka terhadap lingkungan 
hidupnya, senantiasa fungsional yang menyelamatkan bagi lingkungan hidupnya 
dimanapun dan kapanpun. Kina didik dan bina anak-anak kita sehingga kelak 
sungguh menjadi kader, dan untuk itu gerakan kaderisasi sedini mungkin 
dilaksanakan mulai dalam dan melalui keluarga. Fungsikan anak-anak sedini 
mungkin sesuai dengan kemampuan dan perkembangan kepribadiannya bagi 
keselamatan dan kesejahteraan keluarga; jauhkan aneka bentuk pemanjaan pada 
anak-anak. 

"TUHAN, Allah semesta alam, berapa lama lagi murka-Mu menyala sekalipun umat-Mu 
berdoa? Engkau memberi mereka makan roti cucuran air mata, Engkau memberi 
mereka minum air mata berlimpah-limpah, Engkau membuat kami menjadi pokok 
percederaan tetangga-tetangga kami, dan musuh-musuh kami mengolok-olok kami." 
(Mzm 80:5-7) 
Jakarta, 23 Januari 2010 


Kirim email ke