Mg Biasa IV : Yer 1:4-5.17-19; 1Kor 12:31-13:13; Luk 4:21-30
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat 
asalnya"

 Sebut saja namanya "Yosep" dan "Maria" (nama samaran). Mereka saat ini sedang 
dalam masa tunangan dan beberapa bulan lagi akan saling menerimakan Sakramen 
Perkawinan untuk hidup bersama sebagai suami-isteri, membangun keluarga baru. 
Dan memang akhirnya hari "H" yang dinanti-nantikan sungguh terjadi, pada hari 
yang telah mereka tentukan dan pilih mereka saling menerimakan Sakramen 
Perkawinan dalam Perayaan Ekaristi yang dihadiri oleh segenap anggota keluarga, 
kenalan dan sahabat dalam jumlah yang cukup besar. Tahun pertama dan kedua 
hidup bersama sebagai suami-isteri nampak mesra dan bahagia, antara lain juga 
ditandai dengan kelahiran anak mereka yang pertama. Namun memasuki tahun ketiga 
dan seterusnya, dimana mereka semakin mengenal satu sama lain lebih mendalam, 
sering terjadi pertengkaran atau percekcokan yang mengancam kebersamaan hidup 
mereka sebagai suami-isteri. Memang suatu kebenaran yang menarik untuk menjadi 
bahan refleksi kita: ketika mereka masih berjauhan satu sama lain, yaitu masa 
pacaran dan tunangan, kasih mereka sungguh membara dan menggairahkan, namun 
setelah berdekatan menjadi satu (satu rumah, satu tempat tidur, dst..) kasih 
mereka mulai pudar. Rasanya apa yang terjadi sesuai dengan sabda Yesus "Aku 
berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya" 
. 

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat 
asalnya" (Luk 4:24) 

Yang ideal adalah semakin dekat, hidup bersama setiap hari dalam satu rumah, 
bekerja bersama setiap hari dalam satu tempat kerja atau kantor berarti semakin 
mengasihi satu sama lain, namun dalam kenyataan sering terjadi kebalikannya. 
Semakin dekat yang memang berarti semakin mengenal kelebihan dan kekurangan 
yang lain sering orang lebih membesar-besarkan kekurangan yang sebenarnya lebih 
sedikit daripada kelebihan, sehingga semakin dekat semakin sulit untuk saling 
mengasihi. Jika kita tidak dapat saling mengasihi dengan mereka yang dekat 
dengan kita setiap hari, maka mengasihi orang lain/yang jauh berarti pelarian 
tanggungjawab dan menindas atau menguasai yang lain. Sebaliknya jika kita mampu 
dan terampil mengasihi mereka yang dekat dengan kita setiap hari, maka terhadap 
yang lain/jauh akan lebih mudah mengasihi dan kasihnya bersifat melayani. 

Kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk mawas diri: apakah saya dengan 
mudah mengasihi dan menghargai hasil karya saudara-saudari kita yang dekat 
dengan kita. Apakah sebagai suami-isteri semakin lama semakin mengasihi dengan 
mesra, sehingga semakin sehati, sejiwa, seakal budi dan setubuh (tidak hanya 
bersetubuh, melainkan wajah suami-isteri semakin nampak sebagai manusia 
kembar). Apakah seluruh anggota keluarga saling mengasihi satu sama lain. Hidup 
berkeluarga yang baik, mesra dan penuh kasih merupakan dasar dan modal hidup 
bersama yang lebih luas, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 
Bagaimana hidup bersama kita dengan rekan-rekan tetangga dalam satu RT atau 
kampung/desa? Bagaimana kerjasama kita dengan rekan kerja se kantor atau se 
tempat kerja? Untuk lebih membantu kita semua dalam berrefleksi, marilah kita 
renungkan sapaan atau ajaran kasih Paulus di bawah ini. 

"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan 
diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari 
keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang 
lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.Ia 
menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, 
sabar menanggung segala sesuatu" (1Kor 13:4-7) . 

Penulis buku "Spiritual Quotient" (SQ), perihal kecerdasan spiritual, Ian 
Marshall dan Danah Zohar, mengatakan bahwa kutipan surat Paulus di atas 
merupakan puisi cintakasih yang terbesar, yang pernah ada, tidak ada puisi 
cintakasih yang melebihinya. Maka baiklah secara singkat dan sederhana 
perkenankan saya mencoba menguraikan beberapa ciri-ciri kasih sebagaimana 
diajarkan oleh Paulus di atas, sebagai berikut:
1) Sabar. "Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam 
mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam 
menghadapi berbagai rangsangan atau masalah" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: 
Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). 
Berbagai gejala dan peristiwa seperti gadis hamil karena pergaulan bebas, 
kecelakaan lalu lintas, terjatuh, dst.. hemat saya terjadi karena 
ketidak-sabaran orang. Generasi muda atau muda-mudi tidak mampu mengendalikan 
gejolak diri dan menghadapi rangsangan seksual, para pengemudi tidak mampu 
menghadapi gejolak diri untuk ngebut di jalanan, orang-orang tidak dapat antri 
akhir saling menginjak dan jatuh. Maka sabar hemat saya merupakan keutamaan 
yang mendesak untuk dihayati dan disebar-luaskan. 
2) Murah hati. Murah hati berarti hatinya dijual murah, maksudnya dengan mudah 
memberi perhatian kepada siapapun yang sungguh membutuhkan perhatiannya sesuai 
dengan fungsi dan jabatan maupun jati diri sebagai manusia yang pada dasarnya 
dipanggil untuk hidup bersama dengan yang lain. Maka marilah kita cermati dan 
perhatikan sungguh-sungguh siapa saja dalam hidup dan kerja kita bersama yang 
membutuhkan perhatian. Perhatian yang murah meriah antara lain adalah 
mendatangi dan mendengarkan dambaan, keluh kesah, kerinduan dari yang 
didatangi. 
3) Tidak sombong. Tidak sombong berarti rendah hati, yaitu "sikap dan perilaku 
yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang 
perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat 
menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (..ibid..hal 24). Kami berharap 
mereka yang berkuasa dan berpengaruh dalam kehidupan bersama dimanapun dan 
kapanpun untuk dapat menjadi teladan atau contoh dalam hal rendah hati atau 
tidak sombong. Orangtua, pemimpin, atasan, petinggi dst. kami harapkan dapat 
menjadi teladan dalam penghayatan kerendahan hati dalam hidup dan pelayanannya. 
Ingat pepatah: "guru kencing berdiri, murid kencing berlari" atau "kacang 
mongso tinggalo lanjaran". 
4) Tidak melakukan yang tidak sopan. Sopan antara lain berarti menghadirkan 
diri di hadapan sesama sedemikian rupa, sehingga tidak melecehkan pribadi 
sesamanya atau menjadi batu sandungan bagi sesama untuk berbuat dosa. Kehadiran 
kita dapat berupa kata-kata atau hanya secara phisik saja tanpa berkata 
sedikitpun. Dalam berkata-kata hendaknya dengan tutur kata yang baik sehingga 
tidak menyakiti hati orang lain. Menghadirkan diri secara phisik hendaknya 
berpakaian pantas dan layak, tidak merangsang orang lain untuk berbuat dosa. 
5) Tidak mencari keuntungan diri sendiri. Orang yang selalu mencari keuntungan 
diri sendiri pada umumnya berada di pasar dan akan tahan lama tinggal di pasar, 
dengan kata orang tersebut berarti bersikap mental bisnis atau materialistis. 
Semoga keluarga-keluarga, paguyuban-paguyuban, lembaga swadaya masyarakat, 
aneka pelayanan pastoral dan sosial, dst.. tidak menjadi `pasar'. 
6) Tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Marah berarti 
menghendaki yang lain/ yang dimarahi agar tidak ada alias musnah. Bentuk 
kemarahan yang paling lembut adalah mengeluh, sedangkan yang paling kasar 
adalah membunuh. Memang yang sering mudah menimbulkan kemarahan adalah 
kesalahan orang lain, entah yang baru saja dilakukan atau yang telah lama 
dilakukan dan diangkat kembali. Kebalikan `tidak pemarah dan tidak menimpan 
kesalahan orang lain' adalah pengasih dan pengampun. Maka baiklah sebagai 
penghayatan kasih marilah kita hidup saling mengampuni, sebagaimana sering kita 
katakan dalam doa Bapa Kami "Ampunilah kami, seperti kamipun juga mengampuni 
yang bersalah terhadap kami". 

Kita semua ada dan diadakan dalam dan oleh kasih, dan hanya dapat tumbuh 
berkembang seperti ini karena kasih; masing-masing dari kita adalah `buah 
kasih' atau `yang terkasih', maka selayaknya kapanpun dan dimanapun kita hidup 
saling mengasihi jika kita mendambakan hidup bahagia, damai sejahtera lahir dan 
batin. 

"Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. 
Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah 
telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku! Jadilah bagiku gunung batu, tempat 
berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku 
dan pertahananku. Ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik, dari 
cengkeraman orang-orang lalim dan kejam. Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, 
kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH." (Mzm 71:1-5)
Jakarta, 31 Januari 2010


Kirim email ke