"Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!"
(Sir 47:2-11; Mrk 6:14-29)

"Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan 
orang mengatakan: "Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan 
itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia." Yang lain mengatakan: 
"Dia itu Elia!" Yang lain lagi mengatakan: "Dia itu seorang nabi sama seperti 
nabi-nabi yang dahulu." Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata: "Bukan, 
dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi." Sebab 
memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di 
penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena 
Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. Karena Yohanes pernah menegor 
Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" Karena itu Herodias 
menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak 
dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah 
orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia 
mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang 
juga mendengarkan dia."(Mrk 6:14-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Agatha, perawan dan 
martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•       "Seorang gadis Kristen nan cantik bernama Agatha hidup di Sisilia pada 
abad ketiga. Gubernur mendengar kabar tentang kecantikan Agatha dan menyuruh 
orang untuk membawa gadis itu ke istananya. Ia menghendaki Agatha melakukan 
dosa melanggar kesuciannya, tetapi Agatha seorang gadis pemberani dan pantang 
menyerah. "Yesus Kristus, Tuhanku," ia berdoa, "Engkau melihat hatiku dan 
Engkau mengetahui kerinduanku. Hanya Engkau saja yang boleh memilikiku, oleh 
sebab aku sepenuhnya adalah milik-Mu. Selamatkanlah aku dari orang jahat ini. 
Bantulah aku agar layak untuk menang atas kejahatan."(www.indocell.net/yesaya). 
Gadis cantik memang sering menjadi godaan bagi mereka yang berkuasa dan 
memiliki banyak kekayaan, seperti Herodes yang merebut isteri saudaranya atau 
gubernur yang merayu Agatha. Yohanes Pembaptis yang menegor Herodes dan 
Herodias akhirnya menjadi korban, martir, demikian juga Agatha yang 
mempertahankan keperawanan atau kesuciannya. Hidup suci maupun membela kesucian 
hidup, panggilan dan tugas pengutusan pada masa kini kiranya merupakan salah 
satu bentuk kemartiran yang layak kita hayati dan sebarluaskan. Pertama-tama 
kami mengingatkan generasi muda atau muda-mudi, hendaknya tidak tergoda 
melanggar kesucian hidup dengan melakukan hubungan seks bebas. Kami juga 
mengingatkan rekan-rekan laki-laki untuk ikut menjaga kesucian atau kemurnian 
remaja putri, gadis-gadis maupun hidup berkeluarga, jauhkan perbuatan 
selingkuh. 
•       "Ia memberikan kemeriahan kepada segala perayaan, dan hari-hari raya 
diaturnya secara sempurna. Maka orang memuji-muji Nama Tuhan yang kudus, dan 
mulai pagi-pagi benar suara orang bertalun-talun di tempat kudus-Nya.Tuhan 
mengampuni segala dosanya serta meninggikan tanduknya untuk selama-lamanya. 
Iapun memberinya perjanjian kerajaan, dan menganugerahkan kepadanya takhta yang 
mulia" (Sir 47:10-11), demikian pujian yang dikenakan pada raja Daud. Kutipan 
di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi siapapun yang 
merasa berkuasa, menjadi pemimpin atau atasan di tingkat manapun dan bidang 
apapun. Pertanyaannya adalah apakah mereka yang dipimpin, menjadi bawahan atau 
anggotanya `memuji-muji Nama Tuhan yang kudus', artinya tidak melakukan 
kejahatan, tidak korupsi dst.. melainkan hidup baik dan berbudi pekerti luhur. 
Memang untuk itu sebagai pemimpin atau atasan hendaknya dapat menjadi teladan, 
dan jangan berbuat jahat seperti Herodes yang merebut isteri orang lain atau 
gubernur yang merayu Agatha, melainkan setia pada panggilan dan tugas 
pengutusan alias memiliki nama baik yang tak dapat diragukan. Pemimpin atau 
atasan hendaknya unggul dalam hal keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai 
kehidupan, sehingga menghayati kepemimpinan atau fungsi dan jabatan dengan 
semangat melayani, bukan menguasai. Gaya hidup sederhana rasanya merupakan 
pasangan dari unggul dalam keutamaan atau nilai, maka kami harapkan para 
pemimpin atau atasan dapat menjadi teladan dalam hal kesederhanaan dalam hidup, 
jauhkan aneka bentuk kemewahan, pesta pora maupun keserakahan. 

"Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi 
perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya… TUHAN hidup! Terpujilah 
gunung batuku, dan mulialah Allah Penyelamatku" 
(Mzm 18:31.47) 
Jakarta, 5 Februari 2010       


Kirim email ke