Mg Biasa V : Yes 6:1-2a.3-8; 1Kor 15:1-11; Luk 5:1-11
"Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." 
Dalam derap langkah gerakan Reformasi yang antara lain ditandai dengan gerakan 
`desentralisasi' dan `demokorasi' yang telah berlangsung beberapa tahun 
belakangan ini, ada dampak atau akibat sampingan orang/kelompok/suku hidup dan 
bertindak mengikuti selera pribadi/kelompok alias seenaknya sendiri. Sebagai 
contoh daya milyardan rupiah untuk proyek pembangunan daerah (jalan, jembatan 
dll.) tidak digunakan untuk membangun sebagaimana dimaksudkan, melainkan 
`dimakan ramai-ramai' alias dikorupsi oleh para pejabat setempat beserta 
jajaran atau pembantunya.  Pada tingkat kehidupan pribadi pun juga terjadi, 
yaitu orang hidup dan bertindak seenaknya sendiri dengan mengabaikan aneka 
ikatan, aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup dan panggilannya, misalnya 
suami atau isteri, masing-masing mengikuti selera pribadi akhirnya berakhir 
dengan perceraian, pelajar atau mahasiswa belajar seenaknya sendiri akhirnya 
tidak naik kelas atau tidak lulus ujian, dst.. Pendek kata hidup dan berindak 
hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri atau seenaknya sendiri pasti akan 
mengalami kegagalan, sebagaimana dialami oleh Simon, penjala ikan, yang bekerja 
semalaman tak seekor ikanpun diperoleh. "Guru, telah sepanjang malam kami 
bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau 
menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."(Luk 5:5), demikian jawabannya atas 
perintah Yesus :"Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk 
menangkap ikan.". Setelah menebarkan jala sesuai perintah Tuhan Yesus, Simon 
berhasil menangkap ikan dalam jumlah besar. 

"Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."
 (Luk 5:4)  
Perintah Yesus kepada Simon ini untuk kita masa kini berarti perintah untuk 
menghayati atau melaksanakan apa yang menjadi charisma/spiritualitas atau visi 
hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita secara mendalam. Maka marilah kita 
mawas diri perihal charisma/spiritualitas atau visi kita masing-masing. Sebagai 
contoh kami sampaikan kutipan dan refleksi sebagai berikut:
1)      "Kaum beriman kristiani ialah mereka yang dengan baptis menjadi 
anggota-anggota tubuh Kristus, dijadikan umat Allah dan dengan caranya sendiri 
mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi dan raja, dan oleh 
karena itu sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing dipanggil untuk 
menjalankan pengutusan yang dipercayakan Allah kepada Gereja untuk dilaksanakan 
di dunia" (KHK kan 204). Sebagai orang beriman, yang telah dibaptis, kita semua 
memiliki tugas pengutusan di dunia ini, dengan hidup mendunia, berpartisipasi 
dalam seluk-beluk duniawi. Marilah dalam melaksanakan tugas apapun kita bekerja 
keras, meneladan Paulus yang memberi kesaksian  bahwa "aku telah bekerja lebih 
keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia 
Allah yang menyertai aku" (1Kor 15:10), serentak menghayati tritugas kita 
sebagai `imam, nabi dan raja'. Sebagai `imam' berarti cara hidup dan cara 
bertindak kita senantiasa menyalurkan kasih karunia Allah kepada sesama, 
sebagai `nabi' berarti cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa memberi 
kesaksian akan kebenaran, sedangkan sebagai `raja' berarti cara hidup dan cara 
bertindak kita senantiasa memotivasi diri kita sendiri maupun sesama semakin 
dikuasai atau dirajai oleh Allah, semakin hidup dan bertindak sesuai dengan 
kehendak Allah.
2)      "Dalam hidupnya para klerikus berwajib mengejar kesucian atas dasar 
alasan istimewa, yakni karena mereka dalam menerima tahbisan dikuduskan dengan 
alasan baru dan menjadi pembagi-pembagi misteri-misteri Allah dalam mengabdi 
umatNya" (KHK kan 276). Kutipan ini secara khusus terarah bagi para 
klerus/imam/pastor, yang dipanggil untuk `mengejar kesucian'. Suci berarti 
dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan, dan dengan demikian cara hidup dan cara 
bertindaknya meneladan Yesus, Sang Imam Agung. Dengan dan melalui kesuciannya 
seorang imam menjadi penyalur rahmat atau berkat Tuhan kepada sesama manusia 
atau umat Allah dan penyalur dambaan, kerinduan, doa umat Allah kepada Tuhan. 
Seorang penyalur yang baik memang harus bersih, tidak pernah melakukan korupsi 
sekecil apapun dalam bentuk apapun. Meneladan Yesus, Imam Agung, antara lain: 
menyembuhkan mereka yang sakit, membuka mata orang buta, mengusir roh jahat 
atau setan,dst…serta menyampaikan berkat kepada mereka yang membutuhkannya. 
Maka marilah kita sebagai imam/pastor atau klerus saling membantu dan mendukung 
dalam mengusahakan atau mengejar kesucian. Hendaknya semakin melayani juga 
semakin suci hidupnya.   
3)      "Hidup religius, sebagai pembaktian seluruh pribadi, menampakkan di 
dalam Gereja pernikahan yang mengagumkan yang diadakan oleh Allah, pertanda 
dari jaman yang akan datang. Demikianlah hendaknya biarawan menyempurnakan 
penyerahan dirinya yang tuntas bagaikan korban yang dipersembahkan kepada 
Allah; dengan itu seluruh eksistensi dirinya menjadi ibadat yang terus-menerus 
kepada Allah dalam cintakasih" (KHK kan 607). Kutipan ini terarah bagi para 
biarawan dan biarawati, para anggota Lembaga Hidup Bakti. Kepada rekan-rekan, 
para anggota Lembaga Hidup Bakti kami ajak untuk memperdalam pembaktian diri 
kepada Tuhan melalui penghayatan trikaul, yang pernah diikrarkan: keperawanan, 
ketaatan dan kemiskinan, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita "menjadi 
ibadat yang terus-menerus kepada Allah dalam cintakasih". Para anggota Lembaga 
Hidup Bakti pada umumnya berkarya dalam pelayanan bagi masyarakat umum, seperti 
pendidikan/sekolah, kesehatan dan sosial, dengan berpartisipasi sepenuhnya 
dalam seluk-beluk duniawi. Dengan kata lain para anggota Lembaga Hidup Bakti 
sungguh `memboroskan waktu dan tenaganya' bagi seluk-beluk duniawi alias 
mendunia. Maka kami berharap semakin mendunia berarti semakin beriman, semakin 
berbakti kepada Tuhan, semakin suci, dan dengan demikian apapun atau siapapun 
yang kena dampak cara hidup dan cara bertindak para anggota Lembaga Hidup Bakti 
juga semakin tergerak untuk membaktikan hidupnya kepada Tuhan di dalam 
mendunia.      
4)      "Dengan perjanjian perkawinan pria dan wanita membentuk antar mereka 
kebersamaan seluruh hidup, dari sifat kodratinya perjanjian itu terarah pada 
kesejahteraan suami-isteri serta kelahiran dan pendidikan anak; oleh Kristus 
Tuhan perjanjian perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke 
martabat Sakramen" (KHK kan 1055). Kutipan ini terarah bagi mereka yang hidup 
berkeluarga, para suami-isteri, yang telah saling bernjanji untuk saling 
mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit, sampai mati. Ada 
dua hal yang baik direnungkan bagi para suami-isteri, yaitu: kebersamaan 
seluruh hidup dan pendidikan anak. Sebagai tanda atau gejala bahwa suami-isteri 
semakin saling mengasihi adalah mereka berdua akan semakin nampak bagaikan 
manusia kembar karena kesatuan atau kebersamaan seluruh hidup. Sebagai contoh 
kesatuan atau kebersamaan antara lain: satu tempat tidur, satu pemegang 
kas/keuangan..dst sebagai wujud kesatuan hati, budi, jiwa dan tubuh. Buah 
saling mengasihi antar suami-isteri antara lain adalah anak, sebagai buah 
kasih. Maka kami berharap hendaknya anak-anak dididik dan dibina dalam semangat 
atau jiwa cintakasih dan kebebasan Injili. Anak adalah buah kasih dan hanya 
dapat tumbuh berkembang menuju ke kedewasaan pribadi, cerdas beriman, jika 
dididik dan didampingi dalam dan oleh cintakasih, dan "kasih itu sabar; kasih 
itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. 
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.Ia tidak bersukacita 
karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, 
percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala 
sesuatu" (1Kor 13:4-7)
 "Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah 
aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan 
memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat 
nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun 
menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku. Semua raja di bumi akan 
bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu; 
mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN" 
(Mzm 138:1-5).
 
Jakarta, 7 Februari 2010


Kirim email ke