"Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah supaya kamu dapat 
memelihara adat istiadatmu sendiri".
(1Raj 8:22-23.27-30; Mrk 7:1-13)

"Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa 
murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi 
makan dengan tangan najis?" Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya 
tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini 
memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma 
mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah 
manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat 
manusia." Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu 
mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu 
sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa 
yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau 
seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat 
digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban -- yaitu 
persembahan kepada Allah --, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu 
pun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak 
berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu 
yang kamu lakukan." (Mrk 7:5-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Apa yang disebut adat istiadat memang begitu mengikat erat suku atau 
bangsa tertentu, sehingga sangat menentukan cara hidup dan cara bertindaknya. 
Demi atau alasan adat istiadat orang dapat mencelakakan orang lain atau membuat 
orang lain menderita. Cukup banyak orang lebih mengikuti adat istiadat daripada 
perintah Allah dalam menentukan hari maupun jam pernikahan anak-anaknya. Maka 
sabda Yesus yang cukup keras terhadap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat 
"Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat 
memelihara adat istiadatmu sendiri", kiranya juga terarah kepada kita semua. 
Dengan kata lain sikap mental Farisi masih hidup dalam diri kita masing-masing, 
yang nampak dalam cara hidup dan cara bertindak lebih mengikuti adat istiadat 
daripada perintah Allah. Marilah kita bertobat atau memperbaharui diri: lebih 
mengutamakan perintah Allah daripada adat istiadat, dengan kata lain jika ada 
adat istiadat yang sesuai dengan perintah atau kehendak Allah hendaknya kita 
teguhkan dan perdalam, sedangkan yang bertentangan dengan perintah atau 
kehendak Allah kita singkirkan atau kesampingkan. Kehendak atau perintah Allah 
yang utama dan pertama adalah saling mengasihi, maka segala bentuk adat 
istiadat yang melanggar cintakasih hendaknya disingkirkan, yaitu cara hidup 
atau cara bertindak yang melecehkan harkat martabat manusia atau melanggar hak 
asasi manusia. Adat istiadat memang terbatas, hanya berlaku di tempat atau 
daerah tertentu saja, sedangkan perintah Allah, saling mengasihi berlaku secara 
universal, dimana saja dan kapan saja. 
•       "Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun 
tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. Maka 
berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya TUHAN Allahku, 
dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu pada hari 
ini"(1Raj 8:27-28), demikian kata atau doa Salomo. Tuhan hadir dan berkarya 
dimana saja dan kapan saja, tak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu; Ia tidak 
hanya hadir dan berkarya di tempat yang disebut suci seperti gereja, kapel, 
masjid, pura, dst.. atau tempat-tempat peziarahan. Sebagaimana karya Tuhan tak 
berbatas, demikian juga perintah utamanya `cintakasih'. Untuk mengimani dan 
menghayati Tuhan yang hidup dan berkarya dimana saja dan kapan saja ini, antara 
lain hidup dan bertindak dijiwai oleh cintakasih alias saling mengasihi satu 
sama lain tanpa membedakan SARA, usia, pangkat, kedudukan atau jabatan dan 
fungsi. Secara sederhana marilah kita imani dan hayati karya Tuhan di tempat 
tidur kita, di kamar mandi kita, di dapur kita, di tempat kerja/tugas kita, 
dst..  Kita lihat dan imani apa yang baik, indah, luhur dan mulia di dunia ini 
sebagai karya Tuhan, entah itu manusia, tanaman, binatang, panorama, dst.. Kami 
berharap dan mendambakan pada umat beragama, entah agamanya apa, untuk 
menggalang dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati, dengan saling 
memperdalam penghayatan apa yang sama di antara kita, sama-sama manusia, 
sama-sama ciptaan Tuhan, sama-sama beriman, dst.. serta `mengesampingkan' 
perbedaan-perbedaan yang ada. Ketika apa yang sama di antara kita dihayati 
secara mendalam dan penuh, maka apa yang berbeda akan semakin memperteguh dan 
memperdalam persaudaraaan sejati. 

"Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku 
bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat 
sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh 
anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan 
Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus 
memuji-muji Engkau." 
(Mzm 84:3-5)

Jakarta, 9 Februari 2010 


Kirim email ke