"Terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat 
lidahnya"
(1Raj  11:29-32; 12:9; Mrk 7:31-37)

"Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi 
ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa 
kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia 
meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari 
orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga 
orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil 
menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", 
artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu 
terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus 
berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya 
kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka 
memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan 
segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya 
berkata-kata" (Mrk 7:31-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Orang bisu tuli memang mengalami kekurangan-kekurangan: ia tidak dapat 
mendengarkan, padahal mendengarkan merupakan salah satu indera dan keutamaan 
yang penting demi pertumbuhan dan perkembangan kita, sedangkan bisu berarti 
tidak mampu menyampaikan sesuatu dengan jelas.  Dengan kata lain orang bisu 
tuli mengalami kekurangan dalam hal menerima dan memberi. Mungkin kita tidak 
bisu tuli secara phisik, melainkan bisu tuli secara spiritual karena kedegilan, 
ketertutupan hati dan budi kita, karena kedamblegan atau egoisme kita, sehingga 
kita kurang memberikan diri bagi yang lain alias kurang sosial dan juga kurang 
kaya akan berbagai informasi dan keutamaan-keutamaan, yang mendewasakan dan 
mencerdaskan. Marilah kita sadari kebisuan dan ketulian kita dan kemudian 
dengan rendah hati siap sedia untuk dibawa orang lain untuk dididik dan dibina. 
Kita buka hati, budi dan jiwa kita; untuk itu memang kita harus siap sedia 
untuk berubah. Ingatlah bahwa segala sesuatu di dunia ini terus berubah dan 
masing-masing dari kita pun terus berubah setiap saat, jam dan hari. Kami 
harapkan tidak hanya berubah tubuhnya, anggota tubuhnya saja, tetapi juga hati, 
jiwa dan akal budi. Dengan kata lain hendaknya jangan hanya bangga atas 
kecantikan atau kegantengan secara phisik melulu!. Hendaknya kita semua siap 
sedia untuk dididik dan dibina terus menerus, maka dengan kata lain hendaknya 
kita saling mendidik dan membina, saling asah dan saling asuh.  Kepada mereka 
yang merasa sehat dan segar bugar kami harapkan tetap rendah hati dan siap 
sedia untuk terus bertumbuh dan berkembang. 
•       "Ambillah bagimu sepuluh koyakan, sebab beginilah firman TUHAN, Allah 
Israel: Sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari tangan Salomo dan 
akan memberikan kepadamu sepuluh suku" (1Raj 11:31), demikian kata nabi Ahia 
kepada Yerobeam  Karena kebisuan dan ketulian hati dan jiwa Salomo, maka 
terjadilah perpecahan kerajaan. Memang begitulah juga yang terjadi dengan 
mereka yang tuli secara phisik, yaitu pada umumnya berjalan mengikuti kemauan 
dan keinginan sendiri, karena tidak dapat mendengarkan yang lain. Tuli secara 
phisik saja ketika sedang berjalan dapat membahayakan orang lain atau yang 
bersangkutan dalam keadaan bahaya, apalagi tuli secara spiritual, yang sering 
ingin berjalan atau melangkah sendiri alias menurut selera pribadi, `sak penake 
wudhele dewe'(Jawa). Mereka yang hanya mengikuti kemauan dan selera pribadi 
pasti akan terbawa ke perpecahan, entah itu suami-isteri, perusahaan, 
organisasi, paguyuban dst.. Dengan ini kami berharap dan mendambakan agar 
anak-anak sedini mungkin dibina dan dididik dalam hal solidaritas, sosial dan 
kebersamaan hidup dengan yang lain, di dalam keluarga maupun di tempat 
belajar/sekolah. Hendaknya anak-anak dididik dalam hal `bertenggang rasa', 
yaitu "sikap dan perilaku yang mampu mengekang keinginan-keinginan dan 
kepentingan diri sendiri dalam keseimbangan dengan memperhatikan kepentingan 
orang lain" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman  Budi Pekerti Luhur, 
Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 14).  Kebersamaan hidup di dalam keluarga 
yang penuh kasih dan pengorbanan hemat saya merupakan modal dan kekuatan untuk 
membangun kebersamaan hidup yang lebih luas, maka kami berharap 
keluarga-keluarga atau suami-isteri dapat menjadi contoh dalam hal kebersamaan 
dan kesatuan. 

"Umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku.  Sebab 
itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan 
mengikuti rencananya sendiri! Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya 
Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan! Seketika itu juga musuh mereka Aku 
tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku" (Mzm 81:12-15)

Jakarta, 12 Februari 2010


Kirim email ke