HARI RABU ABU:  Yl 2:12-18; 2Kor 5:20-6.2; Mat 6:1-6.16-18.
"Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik"

"Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat 
demi hukum ilahi; akan tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan 
tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, di mana orang-orang beriman 
kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan 
karya amalkasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan 
kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan 
berpantang" (KHK kan 1249). Setiap agama kiranya memiliki peraturan atau 
kebijakan khusus perihal pentingnya bertobat, berpuasa atau matiraga atau 
lakutapa. Maka baiklah sebagai orang beriman kristiani marilah kita hayati 
laksanakan aturan Gereja, sebagaimana saya kutipkan di atas, perihal apa yang 
harus dilakukan selama Masa Puasa, Masa Tobat, Masa Berahmat selama 40 (empat 
puluh) hari yang kita mulai pada hari Rabu Abu, hari ini. 

•       Berpuasa dan berpantang

"Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka 
mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku 
berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.Tetapi apabila 
engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat 
oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada 
di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan 
membalasnya kepadamu." (Mat 6:16-18). Orang yang bermuram mukanya berarti 
sedang dalam keadaan sedih, frustrasi, takut atau marah, padahal `berpuasa atau 
berpantang' merupakan upaya untuk semakin dekat atau mesra dengan Allah. Sabda 
Yesus perihal puasa dan pantang mengajak dan mengingatkan kita bahwa selama 
berpuasa dan berpantang atau matiraga/lakutapa hendaknya biasa-biasa saja, 
tidak pamer bahwa sedang bermatiraga atau lakutapa. . 

Berpuasa dan berpantang secara negatif berarti mengurangi apa yang biasa 
dinikmati setiap hari, entah itu makanan, minuman, perilaku/tindakan atau 
omongan dst.. alias mengendalikan nafsu anggota tubuh atau raga sedemikian rupa 
dalam rangka memperbaiki atau memperbaharui cara hidup dan cara bertindak yang 
semakin sesuai dengan kehendak Tuhan. Maka baiklah dengan ini kami mengajak 
kita semua untuk mawas diri sesuai dengan situasi dan kondisi kita 
masing-masing: dalam hal apa saya sebaiknya berpuasa atau berpantang (makanan, 
minuman, omongan, cara bertindak, seks,dst.)?, hal atau sesuatu yang 
menyebabkan saya semakin jauh dari Tuhan, semakin hidup tak bermoral atau tak 
berbudi pekerti luhur?  Berpuasa dan berpantang merupakan bentuk penyangkalan 
diri sendiri atau `menyalibkan diri' agar lebih setia pada panggilan, tugas 
utama, kewajiban atau janji-janji yang pernah diikrarkan.

•       Menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban secara 
lebih setia.

"Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan 
membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima" (2Kor 
6:1), demikian nasihat atau peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada 
kita semua orang beriman. "Kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia 
Allah, yang telah kamu terima", inilah yang baik kita renungkan atau 
refleksikan. Hidup kita serta segala sesuatu yang kita miliki atau kuasai 
sampai saat ini, seperti tubuh, kepandaian/ kecerdasan, bakat, harta 
benda/uang, pangkat/kedudukan/fungsi, jabatan dst., adalah kasih karunia Allah 
yang telah kita terima melalui sesama manusia yang telah berbuat baik kepada 
kita dalam berbagai kesempatan. Semuanya adalah kasih karunia Allah, everything 
is given, maka selayaknya kita nikmati dan fungsikan sesuai dengan kehendak 
Allah, yang bagi kita masing-masing berarti lebih setia pada panggilan, tugas 
pengutusan maupun kewajiban kita masing-masing, mengingat dan memperhatikan 
dalam perjalanan waktu sampai kita mengalami kemunduran atau erosi dalam hal 
kesetiaan. 

"Setia adalah sikap dan  perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian 
atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman 
Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Maka 
baiklah sebagai orang yang telah dibaptis marilah mawas diri perihal rahmat 
pembaptisan yang telah kita terima, sedangkan terpanggil untuk hidup 
berkeluarga hendaknya juga mawas diri perihal rahmat sakramen perkawinan, hidup 
imamat perihal janji imamat, hidup membiara perihal kaul-kaul dst… Marilah kita 
mawas diri atas janji-janji tersebut dengan sungguh-sungguh agar di Malam 
Paskah nanti kita layak memperbaharui janji-janji tersebut, dan secara khusus 
para imam akan memperbaharui janji di hari Kamis Putih. Mungkin baik secara 
bersama-sama kita mawas diri perihal rahmat pembaptisan yang mendasari hidup 
dan panggilan kita sebagai `anggota Tubuh Kristus' atau Gereja.

Tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun 2010 adalah `Melawan Kemiskinan", 
baiklah hal ini tidak hanya difahami atau dimengerti secara phisik atau 
material saja, tetapi lebih-lebih dan terutama secara spiritual, yang berarti 
`melawan kemiskinan kesetiaan atas penghayatan rahmat pembaptisan' alias kurang 
mengabdi Tuhan dan melawan godaan setan. Hemat saya yang menjadi penyebab utama 
kemiskinan secara material adalah ketidak setiaan orang dalam mengabdi Tuhan 
dan menolak godaan setan, yang menggejala dalam perilaku tak bermoral seperti 
"percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, 
perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh 
pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya"(Gal 5:19-21).  Maka 
melawan kemiskinan berarti memberantas perilaku atau perbuatan yang tak 
bermoral di atas ini. Perbuatan amoral di atas ini juga membuat orang tidak 
setia pada panggilan, tugas pengutusan maupun kewajiban. "Koyakkanlah hatimu 
dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan 
penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena 
hukuman-Nya"(Yl 2:13), demikian nasihat atau pesan nabi Yoel.   
 
•       Menjalankan ibadat dan karya amalkasih.  

Matiraga atau lakutapa kita di masa Prapaskah ini hendaknya juga ditandai lebih 
giat dalam "menjalankan ibadat dan karya amalkasih", berdoa dan berbuat baik 
kepada orang lain dimanapun dan kapanpun, lebih-lebih bagi mereka yang miskin 
dan berkekurangan. Jumlah mereka yang miskin dan berkekurangan dalam hal harta 
benda atau uang atau kebutuhan hidup sehari-hari kiranya lebih sedikit daripada 
yang berkecukupan atau berlebihan, maka jika yang berkecukupan dan berlebihan 
dengan jiwa besar dan hati rela berkorban mau membantu mereka yang miskin dan 
berkurangan, dambaan atau harapan `melawan kemiskinan' dapat menjadi kenyataan 
atau terwujud. Dengan rendah hati kami berharap kepada mereka yang berkecukupan 
dan berlebihan untuk solider terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. 
Marilah di masa Prapaskah ini kita tingkatkan penghayatan atas dua prinsip 
hidup beriman atau menggereja yaitu `solidaritas' dan `keberpihakan kepada yang 
miskin dan berkekurangan' (preferential option for/with the poor). 

"Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku 
menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan 
tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku 
senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku 
telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat" 
(Mzm 51:3-6a)

Jakarta, 17 Februari 2010


Kirim email ke