Mg Prapaskah I : Ul 26:4-10; Rm 10: 8-13; Luk 4:1-13
"Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis"

Padang gurun di daerah Timur Tengah sungguh luas: di siang hari panas terik dan 
di malam hari dingin, ada perbedaan suhu begitu tajam antara siang dan malam. 
Di padang gurun juga tidak ada pohon, tidak ada air. Sebatas mata memandang 
hanya melihat hamparan pasir dan debu di bawah dan di atas langit membentang 
luas bagaikan atap. Selama kurang lebih 40(empat puluh) hari Yesus berada di 
padang gurun macam itu untuk berpuasa. Sebagaimana dialami banyak orang  selama 
berpuasa pasti akan menghadapi aneka godaan atau rayuan untuk menggagalkan 
puasanya, demikian juga dialami oleh Yesus. Baiklah kita refleksikan bersama 
godaan setan terhadap Yesus, yang mungkin juga kita alami atau hadapi dalam 
perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita. , sebagaimana dikisahkan 
dalam Warta Gembira hari ini. 

"Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti."(Luk 4:3)

Harta benda, uang, makanan dan minuman merupakan rahmat sekaligus godaan. Cukup 
banyak orang jatuh, kurang beriman, kurang setia pada panggilan dan tugas 
pengutusan karena harta benda, uang, makanan dan minuman.  Demi atau karena 
gila akan `harta benda, uang, makanan dan minuman' orang melakukan korupsi, 
entah korupsi uang, waktu maupun tenaga. Untuk menjadi `yang terpilih dan 
terkasih' orang membagi-bagikan harta benda atau uang, yang mungkin diperoleh 
melalui korupsi, kepada orang lain, misalnya dalam rangka pemilu, entah di 
tingkat daerah maupun pusat.  Dan  banyak orang pun dengan mudah taat dan setia 
kepada mereka yang suka memberi harta benda atau uang. 

Harta benda atau uang memang dapat menjadi `jalan ke sorga' atau `jalan ke 
neraka', untuk semakin beriman dan suci atau semakin berdosa dan tak 
bermoral/jahat. Sebagai orang beriman kiranya kita mendambakan bahwa harta 
benda atau uang dapat menjadi `jalan ke sorga' bagi kita, maka  baiklah kita 
memfungsikan atau memanfaatkan harta benda atau uang dengan benar, sesuai 
dengan tujuannya atau `ad intentio dantis' (=maksud pemberi). Harta benda pada 
dasarnya bersifat sosial, maka semakin memiliki banyak harta benda atau uang 
berarti semakin sosial, semakin memiliki banyak sahabat atau saudara sejati, 
dan dengan demikian juga semakin bersahabat dengan Tuhan: cara hidup dan cara 
bertindaknya dijiwai oleh syukur dan terima kasih serta rendah hati. Dengan ini 
kami berharap kepada kita semua: janganlah `gila harta atau uang', karena 
ketika tiada harta atau uang lagi, maka tinggal `gila'nya alias anda akan 
menjadi gila. 

"Manusia hidup bukan dari roti saja."(Luk 4:4), demikian tanggapan Yesus 
terhadap godaan setan. Ketika digodai setan perihal harta benda atau uang atau 
untuk menghindari jatuh ke semangat materialistis, marilah kit meneladan Yesus. 
Hendaknya kita tidak hanya mengandalkan hidup kita kepada harta benda, uang, 
makanan dan minuman, tetapi juga kepada sabda-sabda Tuhan. Dengan kata lain 
marilah memgfungsikan atau memanfaatkan harta benda, uang, makanan dan minuman 
sesuai dengan aturan dan tatanan yang terkait dengan harta benda, uang, makanan 
dan minuman tersebut.       

"Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya 
itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang 
kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi 
milik-Mu."(Luk 4:6-7)

Orang kaya akan harta benda atau uang akan memiliki kecenderungan untuk 
disembah dan dipuji, alias gila kuasa atau kehormatan duniawi. Memang melalui 
atau dengan harta benda dan uang orang dapat menghendaki apapun demi kepuasan 
dan kenikmatan di dunia ini: beli ini dan itu sesuai selera pribadi, bahkan 
termasuk `beli orang' alias pelacur. Cita-cita atau dambaan hatinya adalah 
`seluruhnya itu akan menjadi milikku'.  Para pejabat tinggi atau pemimpin pada 
umumnya memiliki kecenderungan untuk selalu dihormati, dan menghayati 
kepempinannya dengan menguasai bukan melayani. 

"Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau 
berbakti!" (Luk 4:8), demikian tanggapan Yesus atas godaan setan perihal kuasa 
dan kehormatan duniawi. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menyembah 
atau berbakti kepada Tuhan. Tanda bahwa kita sungguh menyembah atau berbakti 
kepada Tuhan antara lain kita hidup dan bertindak dengan semangat pelayanan, 
dan dengan demikian kita hidup saling melayani. Maka kami berharap kepada 
mereka yang menjadi pemimpin, pejabat tinggi atau atasan untuk hidup dan 
bertindak dengan semangat pelayanan. Hayatilah kedudukan dan jabatan anda 
dengan melayani sesama atau saudara-saudari kita. Tuhan hidup dan berkarya di 
dalam saudara-saudari kita, maka berbakti kepada Tuhan berarti juga membaktikan 
diri bagi saudara-saudari kita.      
"Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada 
tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk 
melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya 
kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." (Luk 4:9-11) 
Orang kaya akan harta benda dan uang serta berkedudukan akan dengan mudah untuk 
menjadi sombong. Kesombongan itulah sasaran godaan setan; ia menggoda kita 
semua untuk sombong. Orang sombong pada umumnya begitu percaya pada diri 
sendiri dan melecehkan atau merendahkan yang lain, dan dengan demikian juga 
kurang beriman atau percaya kepada Tuhan, Penyelenggaraan Ilahi. Ia merasa diri 
paling hebat, dan tanpa dia orang lain tidak dapat berbuat apa-apa, begitulah 
sikap mental orang sombong. 

"Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (Luk 4:12), demikian tanggapan Yesus 
atas godaan setan untuk menjadi sombong. Kebalikan dari sombong adalah rendah 
hati, dan orang yang rendah hati akan menghayati apa yang dikatakan oleh Paulus 
ini: "Tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah 
yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru 
kepada-Nya" (Rm 10:12), dan dengan demikian hidup dan bertindak dengan penuh 
persaudaraan atau persahabatan sejati.  Kita sama-sama ciptaan Tuhan, sama-sama 
beriman, sama-sama manusia, sama-sama mendambakan hidup damai, bahagia dan 
sejahtera, maka dengan rendah hati kita sama-sama menghayati apa yang sama di 
antara kita secara mendalam. 
Manusia diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan, maka mencobai dan 
melecehkan sesama manusia berarti mencoba dan melecehkan Tuhan. Orang sombong 
memang juga berarti menjadikan dirinya `tuan' atas sesamanya, sebaliknya orang 
rendah hati akan menjadikan dirinya `pelayan' bagi sesamanya.  Marilah kita 
saling rendah hati dan saling melayani, agar tidak jatuh ke kesombongan. 

"TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat 
perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat 
kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu 
untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas 
tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu. Singa dan ular tedung 
akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga" 
(Mzm 91:9-13).  . 
Jakarta, 21 Januari 2010    


Kirim email ke