Mg Prapaskah II : Kej 15:5-12.17-18; Flp 3:17-4:1; Luk 9:28b-26
"Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini."

Para pencinta olah raga mendaki gunung pada umumnya tidak banyak, hanya mereka 
yang memiliki kesehatan fisik prima dan berminat yang berhasil mendaki gunung. 
Dalam mendaki gunung pada umumnya diusahakan pagi hari, ketika matahari terbit, 
sudah sampai di puncak gunung, maka keberangkatan atau waktu mulai mendaki 
tergantung berapa lama waktu dibutuhkan untuk mendaki sampai puncak, dan pada 
umumnya dimulai setelah tengah malam, dalam kegelapan, dimana bagi banyak orang 
sedang dalam tidur nyenyak. Dalam perjalanan mendaki gunung memang orang harus 
kerja berat, sungguh melelahkan, namun ketika sampai di puncak gunung semua 
kelelahan sirna dan yang tinggal kebahagiaan luar biasa. Berada di puncak 
gunung akan merasa diri begitu kecil dalam kemegahan dan keindahan alam ciptaan 
Tuhan. Pengalaman berada di puncak gunung kiranya mirip sebagaimana dialami 
oleh tiga rasul yang diajak oleh Yesus mendaki bukit untuk berdoa, dimana 
Petrus dengan terharu mengungkapkan kegembiraannya: "Guru, betapa bahagianya 
kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk 
Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." (Luk 9:33). Kata-kata yang keluar 
dari mulut, yang mungkin tidak diketahui dampaknya atau maksudnya. Kata-kata 
senada macam itu sering keluar dari mulut para pendaki gunung ketika mereka 
berada di puncak gunung. Kita berada dalam perjalanan mengarungi masa Tobat, 
masa Prapaskah, dan kiranya dalam berbagai kesempatan beribadat atau pendalaman 
iman, kita juga akan tergerak untuk berkata-kata seperti Petrus tersebut, 
karena mengalami apa yang disebut hiburan rohani yang mempesona. 

"Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan 
sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." 
(Luk 9:33)

Di dalam psikologi agama dikenal adanya pengalaman religius yang disebut 
pengalaman termendum atau fascinosum, pengalaman yang menghentak atau 
mempesona, kesepian rohani atau hiburan rohani. Selama berpartisipasi dalam 
berbagai kegiatan masa Prapaskah, entah yang bersifat liturgis atau sosial, 
kiranya kita mengalami pengalaman religius yang mempesona atau hiburan rohani. 
Hiburan rohani antara lain berarti bertambahnya iman, harapan dan cinta, 
sehingga orang yang bersangkutan tergerak hati dan jiwanya untuk semakin 
berbakti kepada Tuhan, lebih memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan. Ketika 
orang sedang mengalami hiburan rohani pada umumnya memang tergerak untuk 
melakukan sesuatu yang mulia, luhur dan baik serta baru. Kiranya dalam 
perjalanan refleksi di masa Prapaskah ini anda juga tergerak untuk membuat niat 
yang baik, mulia dan luhur.  Mungkin kita juga menerima bisikan atau suara 
Tuhan sebagaimana diterima oleh para rasul "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, 
dengarkanlah Dia.". Marilah kita tanggapi sabda ini serentak dengan gerakan 
Aksi Puasa Pembangunan (APP).  
Tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun ini adalah "Melawan Kemiskinan", maka 
kami berharap niat-niat anda yang muncul dalam perjalanan refleksi hendaknya 
diintegrasikan dalam gerakan "melawan kemiskinan", entah kemiskinan rohani 
maupun jasmani atau phisik. Miskin secara rohani antara lain kurang beriman, 
berharap dan saling mengasihi, maka kepada mereka ini kita bantu untuk semakin 
beriman, berharap dan saling mengasihi, sehingga mereka dapat hidup dengan 
bergairah dan dinamis, meskipun harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan. 
Sedangkan miskin secara phisik berarti `lapar, haus, telanjang, tidak punya 
rumah, sakit, dst..'. Marilah kita sisihkan sebagian dari karya kekayaan atau 
uang kita untuk membantu mereka yang miskin dan berkekurangan . Kita dapat 
berseru seperti Pertus dan segera menghayatinya: "Marilah kita dirikan rumah 
sederhana bagi mereka yang tidak memiliki rumah, marilah kita beri pakaian yang 
layak kepada mereka yang telanjang, marilah kita beri makanan dan minuman bagi 
mereka yang lapar dan haus, marilah kita kunjungi dan obati mereka yang sedang 
menderita sakitÂ…dst".  Kami juga berseru dan berharap kepada para pengusaha 
atau yang memiliki kemungkinan mempekerjakan orang lain untuk memberi pekerjaan 
kepada mereka yang menganggur, dan sekiranya mereka kurang atau tidak memiliki 
keterampilan yang diharapkan hendaknya diberi kemungkinan dan kesempatan untuk 
meningkatkan keterampilan tersebut. 

"Saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, 
berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang 
kekasih!"(Flp 4:1)   

Seruan Paulus kepada umat di Filipi ini kiranya baik menjadi permenungan, 
refleksi dan pedoman hidup dan cara bertindak kita. Kiranya cukup banyak orang 
yang tidak berdiri teguh dalam Tuhan, atau mungkin kita sendiri juga tidak 
berdiri teguh dalam Tuhan. Berdiri teguh dalam Tuhan hemat saya berarti hidup 
sehat, segar bugar, suci dan cerdas beriman. Jika kita jujur mawas diri kiranya 
kita semua belum atau kurang  berdiri teguh dalam Tuhan, maka marilah kita 
bekerjasama saling meneguhkan satu sama lain sebagai saudara. Kita hendaknya 
satu sama lain saling menyapa dan memperlakukan seperti kata Paulus kepada umat 
di Filipi :"saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacita dan 
mahkotaku". 

Jika kita saling mengasihi dan merindukan, maka apa yang dijanjikan oleh Tuhan 
kepada Abram (Abraham) "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari 
sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat" (Kej 15:18), juga 
berlaku bagi kita semua. Sebagai warganegara Indonesia kiranya kita semua 
mendambakan sila kelima dari Pancasila "Keadilan sosial bagi seluruh bangsa" 
segera menjadi nyata alias terwujud. Perwujudan keadilan sosial bagi seluruh 
bangsa kiranya identik dengan tiada kemiskinan lagi di negeri ini; maka tema 
APP tahun ini "Melawan Kemiskinan" sungguh sesuai dengan seruan Paulus kepada 
Filipi di atas maupun janji Tuhan kepada Abram. 

Kita semua mendambakan tinggal di dalam keluarga, tempat kerja dan masyarakat 
dalam damai, tenteram serta gembira, dan kemudian dapat berkata seperti 
Petrus:"Betapa bahagianya kami berada di tempat ini".  Dengan kata lain 
dimanapun kita berada mendambakan pengalaman mempesona, memikat dan menarik. 
Pengalaman macam itu pada umumnya terjadi di tempat-tempat ibadat, entah 
gereja/kapel, masjid/surau, kuil, tempat ziarah dst.., maka baiklah kita tidak 
memisahkan pengalaman beribadat dan kesibukan kerja sehari-hari. Untuk itu kami 
mengajak kita semua: marilah ketika kita sedang berada di rumah, di tempat 
kerja, di perjalanan dst.. bagaikan berada di tempat ibadat, maka aneka macam 
sarana- prasarana kita sikapi dan perlakukan sebagaimana menyikapi dan 
memperlakukan sarana-prasarana ibadat, suasana rumah dan tempat kerja bagaikan 
suasana ibadat, teman kerja bagaikan teman beribadat, dst.. Secara spiritual 
kita dipanggil untuk `menemukan atau menjumpai Tuhan dalam segala sesuatu atau 
menghayati segala sesuatu dalam Tuhan'. Kami berharap mereka yang berpengaruh 
dalam hidup dan kerja bersama dimanapun dapat menjadi teladan dalam menghayati 
dan mengusahakan suasana mempesona, memikat dan menarik, serta kemudian 
mengajak dan memberdayakan yang lain untuk bersama-sama mengusahakan suasana 
yang mempesona, menarik dan memikat. 

"Dengarlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku! 
Hatiku mengikuti firman-Mu: "Carilah wajah-Ku"; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN. 
Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini 
dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah 
meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku"
 (Mzm 27:7-9)

Jakarta, 28 Februari 2010


Kirim email ke