"Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya"
(2Raj 5:1-15a; Luk 4:24-30)

"Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang 
dihargai di tempat asalnya.Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: 
Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit 
tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang 
hebat menimpa seluruh negeri.Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari 
mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.Dan 
pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun 
dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu." 
Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka 
bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, 
tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.Tetapi Ia 
berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi" (Luk 4:24-30), demikian 
kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Mutu atau kwalitas pendidikan di Indonesia pada umumnya masih kalah 
dibandingkan dengan beberapa Negara tetangga, misalnya Singapura atau 
Australia, maka tidak mengherankan jika berberapa orang kaya berambisi untuk 
mengirimkan anak-anaknya belajar di Negara tersebut setelah lulus SD atau SMP. 
Tentu saja hanya anak-anak yang cerdas atau pandai dapat belajar di luar 
negeri. Jika anak orang kaya dan pandai belajar di luar negeri, maka berarti 
anak-anak pandai/cerdas dan kaya kurang atau tidak menghargai pendidikan di 
negeri sendiri, maka kwalitas pendidikan di Indonesia begitu-begitu saja alias 
tidak bertambah. Maklum uang dan anak-anak pandai/cerdas meninggalkan 
Indonesia. Kami merasa mereka ini kurang  atau tidak menghargai pendidikan di 
Indonesia, terlibat untuk meningkatkan kwalitas pendidikan di Indonesia. Maka 
benarlah sabda Yesus bahwa "sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat 
asalnya". Jika orang tidak dapat menghargai dan mengasihi mereka yang dekat 
dengannya setiap hari, maka ia tak mungkin mengasihi orang lain atau yang jauh, 
sebaliknya jika orang dengan mudah dan terampil mengasihi mereka yang dekat, 
mengasihi yang jauh akan lebih mudah. Tidak mampu mengasihi yang dekat, maka 
mengasihi yang jauh pasti akan menindas, sedangkan mampu mengasihi yang dekat, 
maka mengasihi yang jauh akan melayani. Dengan ini kami berharap kepada kita 
semua: marilah di dalam keluarga atau komunitas kita masing-masing, kebersamaan 
hidup terkecil dan dasar, kita saling mengasihi dan menghargai. Pengalaman 
saling mengasihi dalam hidup bersama di dalam keluarga akan menjadi kekuatan 
dan modal untuk saling mengasihi dalam hidup dan kerja bersama yang lebih luas 
di masyarakat. 
•       "Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, 
sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti 
tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir" (2Raj 5:14), demikian berita perihal 
penyembuhan Naaman, raja Aram, orang asing bagi bangsa Israel.  Begitulah yang 
terjadi: orang-orang asing percaya kepada `abdi Allah'/nabi, sedangkan 
bangsanya sendiri tidak percaya. Pada masa kini cukup ramai ditemukan dan 
dipakai aneka macam jenis obat tradisional, entah berupa buah atau tanaman atau 
daun daripada aneka jenis tablet buatan pabrik. Memang kebanyakan orang lebih 
percaya pada tablet-tablet atau kemasan makanan dan minuman, produksi pabrik, 
padahal semuanya itu berasal dari aneka buah atau daun yang ada di sekitar 
lingkungan hidup kita. Kami mengharapkan kita semua untuk `kembali ke alam atau 
lingkungan hidup' kita masing-masing dalam rangka mengusahakan dan menjaga 
kesehatan dan kebugaran diri kita. Di sekitar lingkungan hidup kita kiranya 
cukup banyak jenis buah dan daun, yang nampak biasa-biasa saja, tetapi sungguh 
fungsional demi kesehatan. Mungkin jika buah atau daun yang dimaksud tidak ada, 
kiranya dapat diusahakan dari tempat lain dan kemudian kita menanam jenis 
tanaman yang daun atau buahnya dapat fungsional sebagai obat atau penyehat diri 
kita. Yang tidak kalah penting adalah menghargai dan menikmati aneka jenis 
makanan dan minuman yang telah disediakan di dalam keluarga atau komunitas, 
tidak mencari di tempat lain. Ketika kita dapat saling menikmati makanan atau 
minuman yang tersedia atau disediakan di keluarga atau komunitas, maka kita 
juga akan dapat saling mengasihi dan menghargai. 

"Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke 
gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu! Maka aku dapat pergi ke mezbah 
Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur 
kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!" (Mzm 43:3-4)       
Jakarta, 8 Maret 2010


Kirim email ke