"Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa 
terhadap aku?"
(Dan 3:15.34-43; Mat 18:21-35)

"Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali 
aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh 
kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai 
tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." (Mat 18:21-22), 
demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Kebencian dan balas dendam masih marak dalam kehidupan kita 
sehari-hari. Karena ketidaksesuaian selera atau keinginan, orang dapat saling 
membenci; disakiti sedikit saja kemudian membalas dendam lebih berat atau lebih 
sakit daripada yang telah diterimanya. Kebencian dan balas dendam ini dapat 
terjadi antar pribadi, kelompok atau golongan. Maka sabda atau ajaran Yesus 
perihal hidup saling mengampuni rasanya sungguh mendesak dan up to date  untuk 
kita hayati dan sebarluaskan dalam kehidupan dan kerja kita sehari-hari, 
dimanapun dan kapanpun. Yesus mengingatkan kita untuk mengampuni minimal `tujuh 
puluh kali tujuh kali', dengan kata lain terus menerus mengampuni, karena 
rasanya tak ada orang yang sempat atau sanggup menghitung sampai 490 (empat 
ratus sembilan puluh) kali. Sebenarnya hidup saling mengampuni tidak sulit, 
jika masing-masing dari kita dengan rendah hati bersedia menyadari dan 
menghayati bahwa diri kita telah menerima kasih pengampunan Allah secara 
melimpah ruah melalui orang-orang yang mengasihi dan telah berbuat baik kepada 
kita, misalnya orangtua, kakak-adik, teman, guru/pendidik, dst… Karena kita 
telah menerima kasih pengampunan secara melimpah ruah, maka mengampuni berarti 
tinggal menyalurkan atau meneruskan apa yang telah kita miliki; memang kita 
dituntut untuk bermurah hati dalam meneruskan kasih pengampunan tersebut. 
Selama masa Prapaskah ini kepada kita kiranya juga tersedia kesempatan untuk 
menerima kasih pengampunan secara pribadi dalam upacara pengakuan pribadi. 
Hendaknya kesempatan untuk mengaku dosa ini sekaligus dijadikan kesempatan 
untuk mengenangkan atau mengingat-ingat kasih pengampunan yang telah kita 
terima sejak dilahirkan di dunia ini., sehingga kita dapat menghayati diri 
sebagai orang berdosa yang telah menerima kasih pengampunan Allah dan dipanggil 
untuk menjadi pewarta kasih pengampunan dalam hidup sehari-hari. 
•       "Kini kami mengikuti Engkau dengan segenap jiwa dan dengan takut 
kepada-Mu, dan wajah-Mu kami cari. Janganlah kami Kaupermalukan, melainkan 
perlakukankanlah kami sesuai dengan kemurahan-Mu dan menurut besarnya belas 
kasihan-Mu.Lepaskanlah kami sesuai dengan perbuatan-Mu yang ajaib, dan 
nyatakanlah kemuliaan nama-Mu, ya Tuhan" (Dan  3:41-43). Marilah kita mengikuti 
kehendak Tuhan dengan segenap jiwa, yang berarti gairah, dambaan, kerinduan dan 
cita-cita sepenuhnya dipersembahkan kepada Tuhan atau diintegrasikan ke dalam 
kehendak Tuhan. Hendaknya kita juga mohon agar tidak dipermalukan di muka umum 
karena perbuatan atau perilaku kita yang jahat alias tidak baik. Kehendak Tuhan 
antara lain dapat kita temukan dalam aneka aturan atau tatanan yang dibuat dan 
diundangkan demi kesejahteraan kehidupan bersama, maka baiklah kita kenangkan 
dan ingat-ingat kembali aturan atau tatanan mana saja yang terkait dengan 
panggilan, pekerjaan dan tugas-tugas kita. Tuhan telah memperlakukan kita 
sesuai dengan kemurahan hatiNya, maka marilah kita saling bermurah hati dalam 
rangka menghayati atau melaksanakan aturan dan tatanan yang terkait dengan 
hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita. Bermurah hati berarti menjual hati 
dengan murah, artinya terus memperhatikan siapapun, sehingga kita saling 
memperhatikan. Nama Tuhan sungguh dimuliakan jika kita saling memperhatikan dan 
mengasihi serta mengampuni. Kita juga diingatkan pentingnya senantiasa mencari 
wajah Tuhan dalam hidup kita sehari-hari, yang berarti senantiasa melihat dan 
mengakui apa yang baik dalam diri kita sendiri  maupun sesama kita serta dalam 
lingkungan hidup kita. Dengan kata lain hendaknya kita senantiasa `berpikiran 
positif' daripada `berpikiran negatif', sehingga kita akan menjadi mahir atau 
terampil dalam pembedaan roh atau `spiritual discernment', suatu keterampilan 
yang sungguh dibutuhkan pada masa kini. Semoga di masa Prapaskah ini anda juga 
belajar dan memperdalam keterampilan pembedaan roh. 

"Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. 
Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah 
yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. Ingatlah segala 
rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak 
purbakala.Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah 
Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena 
kebaikan-Mu, ya TUHAN. TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan 
kepada orang yang sesat" (Mzm 25:4-8)

Jakarta, 9 Maret 2010


Kirim email ke