"Apa yang dikerjakan Bapa itu juga yang dikerjakan Anak"
(Yes 49:8-15; Yoh 5:17-30)

"Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun 
bekerja juga." Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk 
membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia 
mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan 
diri-Nya dengan Allah. Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata 
kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya 
sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang 
dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan 
Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia 
akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada 
pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa 
membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak 
menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, 
melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya 
semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa 
tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia." 
(Yoh 5:17-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut: 
•       Dua orang atau kelompok yang saling tidak percaya dan curiga, ketika 
salah satu pihak membuka jati diri yang sebenarnya pada umumnya relasi keduanya 
semakin tegang dan runcing. Demikianlah yang terjadi dengan Yesus dan 
orang-orang Yahudi, yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Penyelamat 
Dunia, yang telah dijanjikan bagi mereka. Setelah Yesus menyatakan bahwa 
DiriNya adalah Anak Allah, maka orang-orang Yahudi semakin tergerak untuk 
menyingkirkan Yesus. Apa yang terjadi antara Yesus dan orang-orang Yahudi ini 
rasanya dapat terjadi dalam hidup terpanggil, entah menjadi imam, bruder dan 
suster(setelah kaul akhir) atau suami-isteri/ berkeluarga. Masa lima tahun 
pertama setelah tahbisan imam, kaul akhir membiara atau hidup berkeluarga, 
adalah masa-masa dimana masing-masing mulai membuka diri dengan jujur, entah 
sadar atau tidak sadar, atau dikenali kelemahan dan kekurangannya. Ada 
kecenderungan pada masa lima tahun pertama tersebut orang hidup dan bertindak 
seenaknya sendiri, tiada sandiwara kehidupan lagi. Masa lima tahun pertama 
memang boleh dikatakan masa krisis, maka siapa dapat melewati krisis tersebut 
dengan baik ia akan semakin mantap dan setia menghayati panggilan hidupnya, 
sebaliknya ketika mereka tak mampu melewati krisis pada umumnya akan terjadi 
perceraian atau pengunduran diri dari panggilan. Maka kami berharap pada masa 
lima tahun pertama menelusuri hidup terpanggil tersebut hendaknya tidak 
melupakan peran dan karya Tuhan; dengan kata lain jangan melupakan hidup doa, 
rohani atau spiritual, dan jangan sampai mabuk kerja, dst…
•       "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak 
menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan 
melupakan engkau" (Yes 49:15). Kutipan ini menggambarkan kesetiaan Tuhan kepada 
umatNya. Perempuan atau ibu yang baik kiranya senantiasa menyayangi anak 
kandungnya dalam keadaan atau situasi dan kondisi apapun. Kasih sayang ibu 
terhadap anak kandungnya hemat saya tidak hanya terbatas pada makanan, minuman, 
uang, pakaian dst.. melainkan lebih-lebih dan terutama kebersamaan hidup maupun 
pendampingan pada saat-saat penting. Memang tidak berarti memanjakan, melainkan 
dapat berpedoman pada motto bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro, yaitu 
"ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani" 
(keteladanan, pemberdayaan dan motivasi). Yang mungkin baik saya angkat atau 
ingatkan adalah keteladanan dan pemberdayaan, karena hal ini berarti ada 
komunikasi atau relasi yang baik dan memadai, terjadi pemborosan waktu dan 
tenaga bagi yang terkasih. Hendaknya anak-anak jangan merasa kurang kasih 
sayang dari orangtuanya, maka dengan ini kami berharap para ibu sungguh 
memperhatikan anak-anak kandungnya pada masa/usia balita, memboroskan waktu dan 
tenaga bagi anak-anak kandung yang masih berumur di bawah lima tahun. 
Kecenderungan keluarga-keluarga atau ibu-ibu muda masa kini dengan mudah 
meninggalkan anak balitanya demi karier atau gengsi, bahkan tidak menyusui 
anaknya secara memadai. Jika terjadi demikian ada kemungkinan anak-anak merasa 
dilupakan, kurang disayangi oleh ibunya, namun Tuhan tidak akan melupakannya, 
tetap menyayangi melalui orang-orang yang baik hati dan penuh pengorbanan 
menyayangi anak-anak yang kurang kasih sayang. 

"TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. 
TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang 
dijadikan-Nya. TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia 
dalam segala perbuatan-Nya. TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru 
kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan." (Mzm 
145:8-9.17-18) 

Jakarta, 17 Maret 2010    .        


Kirim email ke