Menyimak dan Mengkritisi
Film The  Messiah
Oleh:
F.X.  Didik Bagiyowinadi, Pr
 
Iman kristiani akan Yesus Kristus dari Nazareth bersifat apostolik 
(apostolos=rasul), artinya berdasarkan kesaksian iman para rasul Yesus
yang menjadi saksi mata akan pengajaran, karya, wafat, dan kebangkitan
Kristus. Iman apostolik ini tercermin dalam keempat injil kanonik.
Namun, dalam perjalanan waktu, Gereja sebagai persekutuan iman para
pengikut Kristus, berhadapan dengan munculnya berbagai injil lain yang
menampilkan Yesus Kristus yang berbeda dari kesaksian Injil Kanonik.
Pada abad II-IV misalnya, muncul pelbagai injil Gnostik, yang
menampilkan Yesus sebagai pembawa gnosis (pengetahuan
rahasia), misalnya Injil Yudas, Injil Maria Magdalena, dll. Pada abad
VII muncul Yesus versi lain dalam Al Quran. Sementara pada abad XVI
muncul injil Barnabas yang menampilkan figur Yesus yang lebih sesuai
dengan penggambaran-Nya dalam Al Quran. 


Dan di zaman modern ini, bermunculan novel dan film yang menampilkan
figur Yesus yang berbeda dengan kesaksian Injil kanonik, seperti Da
Vinci Code dan film The Messiah ini. Berhadapan dengan aneka sosok
Yesus yang lain ini, pegangan seorang Kristen adalah kesaksian iman
para rasul yang terungkap dalam keempat injil kanonik. Maka pada bagian
ini kita akan menyimak dan mengkritisi film The Messiah dan mencoba
melihat apa yang sesungguhnya diwartakan oleh keempat Injil Kanonik. 


Seputar Film The Messiah 
            Film The Messiah diproduksi di Iran pada 2007 dan telah dirilis 
sebagai seri TV pada
2008. Film kolosal yang melibatkan lebih dari seribu pemain ini
disutradarai oleh Nader Talebzadeh dan dibintangi oleh Ahmad Soleimani
Nia sebagai Nabi Isa atau Yesus. Diakui oleh sang sutradara bahwa filmnya,  “as 
an Islamic answer to Western productions like Mel Gibson’s 2004 blocbuster The 
Passion of the Christ, which he  praised as admirely but quite simple ‘wrong’.” 
Maka tidaklah mengherankan bila film ini menyuguhkan figur Yesus yang
berbeda dengan kesaksian Injil kanonik, yakni keempat Injil yang diakui
dan diimani oleh umat Kristiani. 


Apakah Sekedar Dua  Versi Penyaliban Yesus?
            Umumnya dideskripsikan bahwa film ini menggambarkan figur
Yesus dari kacamata Islam dan pada akhir film diberikan dua versi
berbeda soal penyaliban Yesus, yakni versi Kristen dan versi Islam.
Dalam The 2007 Religion Today Film Festival di Italia, film the Messiah 
mendapatkan penghargaan dari Vatikan karena dinilai telah ikut
mempromosikan dialog antar iman, yakni melukiskan pemahaman Islam
terhadap Yesus. Dalam film ini Yesus digambarkan sebagai nabi, utusan
Allah, dan mampu melakukan banyak mukjizat.

           
Tentu saja dengan penghargaan tersebut tidaklah berarti bahwa pihak
Gereja menyetujui isi film tersebut, sebab sesungguhnya film ini tidak
menggambarkan figur Yesus seperti dalam Injil kanonik, yang detailnya
akan kita lihat pada bab ini.  Sejak dari awal film pemirsa akan
disuguhi tayangan figur Yesus menurut perspektif Islam, yang konon
berdasarkan Al Quran dan ‘injil’ Barnabas, dan pada bagian akhir
disuguhi dua versi penyaliban Yesus. Maka niscaya sikap pemirsa akan:
pertama, tetap memilih versi sesuai dengan keyakinan imannya, kedua,
akan mengikuti salah satu kesimpulan yang telah diarahkan oleh sang
Sutradara, atau ketiga, justru akan terbuka mata dan mempertanyakan 
teologi yang diusung oleh film ini, termasuk mempertanyakan validitas
sumber penyusunan skenario film ini. 


Karena film The Messiah ini juga bisa dijadikan sebagai sarana untuk berdialog 
iman, maka dalam
paparan bab ini deskripsi atas film ini akan dilengkapi dengan
perspektif Injil kanonik sehingga pemirsa bisa mendapatkan gambaran dan
pemahaman yang berimbang antara figur Yesus dalam film The Messiah dan figur 
Yesus dalam Injil kanonik yang diimani oleh para pengikut
Kristus sejak 2000 tahun lalu. Selanjutnya pada bab ini akan
dideskripsikan alur cerita atau plot dari film ini dan pada
masing-masing scene atau bagian akan diberikan catatan kritis dan
perbandingannya dalam perspektif Injil kanonik. 


B. Figur Yesus dalam  Film the Messiah
            Mari sekarang kita menyimak  penggambaran figur Yesus dalam film 
the Messiah.

Yesus adalah Roh Allah
            Adegan film ini diawali dengan sosok Yesus yang berjalan
menembus kabut bersama para murid-Nya. Divisualkan Yesus ini berjenggot
dan berambut panjang, berjubah khas Yahudi, dan memegang tongkat. Sang
narrator memperkenalkan Yesus, sang protagonis, sebagai Sang Roh Allah, the 
Spirit of God.
           
Sementara kesaksian Injil kanonik, Yesus adalah Sabda atau Kalam Allah
yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:1-3.14). Bila pada masa Perjanjian
Lama Tuhan dengan pelbagai cara telah menyampaikan Sabda-Nya melalui
para nabi, kini Sabda Allah itu sendiri menjadi manusia dalam diri
Yesus dari Nazaret (bdk. Ibr 1:1-4; Yoh 1:1-14). Yesus inilah Injil,
dari kata Yunani euanggelion, artinya kabar baik dari Allah
yang mencintai manusia dan hendak menebus dosa-dosa manusia.  Injil
bukanlah sebuah kitab atau diktat yang diberikan Tuhan kepada Yesus,
melainkan seluruh pribadi Yesus Kristus inilah Injil atau kabar baik
dari Tuhan untuk manusia. Injil bukan hanya kata-kata Yesus, melainkan
juga seluruh karya dan hidup-Nya.  Melalui seluruh pribadi Yesus ini
Tuhan hendak menyampaikan kabar baik kepada kita semua.

Sebuah Laporan untuk Pontius  Pilatel
            Selanjutnya film the Messiah menampilkan setting tiga tahun karya 
Yesus di depan umum, ketika
wilayah Yudea dijajah oleh kekaisaran Romawi.  Divisualkan Barnabas
bersama kelompok Zelot sedang mendiskusikan kapan waktu yang tepat
untuk memberontak melawan penjajah. Murid Yohanes Pembaptis juga diajak
bergabung. Disebutkan bahwa Yohanes telah dibunuh oleh mereka, yakni
oleh penjajah Romawi. Namun, timing untuk memberontak belum tepat,
karena Jendral Pontius Pilatel (demikian teks terjemahan
Inggrisnya) baru kembali dari Roma. Begitu tiba di Yerusalem, dia
segera mendapat laporan dari sidang pemimpin agama Yahudi bahwa ada
gerakan yang kelak bisa membahayakan pemerintahan penjajah Romawi di
Yudea, yakni gerakan Yesus dari Nazaret. 


           
Kesaksian Injil kanonik bahwa Yohanes pembaptis dipenggal kepalanya
atas perintah Raja Herodes (Mat 14:1-12) dalam film ini digantikan
dengan pembunuhannya oleh pihak Romawi. Dari sejak awal film ini memang
menyuguhkan keterlibatan langsung Pontius Pilatus dan para prajuritnya
dalam gerakan Yesus dari Nazaret, seperti akan kita lihat nanti.
Sementara dalam Injil kanonik, gerakan Yesus dari Nazaret hanya
berinteraksi langsung dengan umat Israel dan para pemimpin Yahudi,
termasuk golongan Farisi, Saduki, maupun Raja Herodes. Sementara
Pontius Pilatus baru “dilibatkan” dalam  pengadilan Yesus karena para
pemimpin agama Yahudi tidak mempunyai wewenang untuk menjatuhkan
hukuman mati yang hanya direservir pada procur penjajah Romawi (bdk.
Yoh 18:31). Maka mereka pun mempolitisasikan Yesus dengan tuduhan palsu
agar bisa dijatuhi hukuman mati oleh pemerintahan Romawi. Bahkan dalam
Mat 27:15-26, justru digambarkan bagaimana Pontius Pilatus berusaha
membebaskan Yesus dan akhirnya cuci tangan atas desakan vonis hukuman
mati untuk Yesus.

Barnabas termasuk dalam daftar ke-12 murid Yesus
            Dalam laporan kepada Pontius Pilatel  ini, film the Messiah mulai 
flashback dengan menampilkan karya Yesus di muka umum, mulai
dengan pemanggilan para muridnya yang pertama, disusul dengan daftar
ke-12 murid yang dipilih untuk menyertai-Nya. Yang menarik, di antara
daftar ke-12 murid Yesus ini terdapat “Yosef, si Lewi, alias Barnabas
yang berasal dari Siprus”. Beberapa kali juga akan ditampilkan adegan
si Barnabas ini sedang menuliskan semua peristiwa dan pengajaran Yesus.
Seakan film ini mau menyatakan, bahwa kisah Yesus dalam film ini
berasal dari penginjil yang menjadi saksi mata dan termasuk dalam
kelompok ke-12 murid Yesus.

Mari  sekarang kita mencermatinya dengan lebih teliti dan meng-cross cek dengan 
kesaksian Injil Kanonik. Dalam Injil kanonik, Lewi adalah nama
lain untuk Matius, yang dalam film ini juga disebut sebagai pemungut
cukai. Sementara nama Yusuf atau Yosef tidak ada dalam daftar ke-12
rasul dalam Injil kanonik (lih. Mat 10:2-4). Nama Yusuf, atau Yustus
alias Barsabas [bukan Barnabas] adalah salah satu
kandidat pengganti Yudas Iskariot yang telah berkhianat dan mati tragis
(Kis 1:23). Bila dalam film ini disebutkan bahwa Barnabas berasal dari
Siprus, barangkali mau dikonotasikan bahwa dia adalah Barnabas yang
disebut dalam Kis 4:36, dan yang kemudian diutus para rasul di
Yerusalem untuk meneguhkan iman umat Kristen di Antiokhia (Kis
11:22-24). Namun, dalam Perjanjian Baru nama Barnabas baru disebut pada
Kis 4:36. Barnabas tidak termasuk kelompok 12 murid Yesus.

           
Dengan tiap kali menampilkan adegan si Barnabas sedang menulis aneka
peristiwa dan pengajaran Yesus, film ini mau memberikan penjelasan
bahwa Yesus versinya memang bersumber pada Injil Barnabas. Mungkin
banyak pemirsa awam akan dengan mudah mempercayai bahwa ‘injil’
Barnabas ini lebih asli karena langsung ditulis oleh ‘saksi mata’ dari
kelompok ke-12 murid Yesus. Tetapi dari uraian di atas, jelas bahwa
Barnabas bukanlah termasuk kelompok 12 murid Yesus. Klaim Barnabas
termasuk ke-12 murid Yesus hanya ada dalam Injil Barnabas dan film The Messiah 
ini.

           
Mungkin ada yang tetap beranggapan bahwa Injil Barnabas ini lebih asli
daripada keempat Injil kanonik. Pada artikel lainnya saya telah
membahas secara singkat tentang ‘injil’ Barnabas ini dan apakah Injil
Barnabas memberikan bukti-bukti yang meyakinkan sebagai sebuah dokumen
dari sudut sejarah. Di sini cukup ditegaskan dulu bahwa dari hasil penelitian 
ilmiah, yang
disebut dengan ‘injil’ Barnabas itu tak lain adalah injil yang disusun
pada abad XVI yang mengisahkan figur Yesus yang selaras dengan isi Al
Quran dan meletakkan nubuat kedatangan nabi “Ahmad” dari tanah Arab
pada mulut Yesus sendiri. Suatu nubuat yang tak pernah ada dalam
kesaksian Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. 


Khotbah di bukit
            Selanjutnya ditampilkan adegan khotbah di bukit dengan
mengutip cuplikan sabda bahagia. Divisualkan pula banyak orang
berdatangan untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Yesus mengajak
pendengar belajar dari peristiwa yang terjadi saat itu. Lalu,
ditampilkan peristiwa penyaliban pemberontak dari golongan Zelot oleh
prajurit Romawi. Tidak jelas keterkaitannya, apakah mau dikatakan bahwa
Yesus dalam film ini mau mengingatkan pendengar-Nya untuk tidak
ikut-ikutan memberontak seperti mereka. Dalam film ini akan ditampilkan
banyak tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kaum Zelot, bukan hanya
memberontak dan membunuh prajurit Romawi. Kita lihat pada scene
berikutnya. 

            Bagi saya pribadi, film ini sangat minim menampilkan ajaran
Yesus. Dalam scene Khotbah di bukit hanya disitir satu-dua kalimat dari
Sabda Bahagia. Sementara ajaran kasih Yesus yang begitu agung, seperti
kasih Allah yang mahapengampun (Mat 18:21-35), ajaran kasih terhadap
sesama manusia tanpa pandang suku dan agama (Luk 10:25-37), termasuk
yang memusuhi kita (Mat 5:38-48), kasih kepada mereka yang hina dan
menderita (Mat 25:40), dan juga kasih yang tanpa pamrih (Luk 14:12-24),
bahkan sampai berani mempertaruhkan nyawa (Yoh 15:13), justru sama
sekali tidak disinggung dalam film ini. Ajaran kasih hanya disebut
secara implisit saat Yesus dijebak untuk menghakimi wanita yang
kedapatan berzinah, dimana bila Yesus menyetujui hukuman rajam sesuai
Taurat Musa, maka Dia akan bertentangan dengan doktrinnya sendiri
tentang Allah yang berbelaskasih. Sementara fokus film ini pada
identitas Yesus, Yesus itu Anak Allah ataukah “sekedar” nabi, dan tentu
saja menempatkan pada mulut Yesus nubuat tentang datangnya nabi
berikutnya yang akan bernama ‘Ahmad’.
 
Mukjizat sebagai Bukti Perutusan  Yesus
Adegan berikutnya Yesus bersama para murid-Nya hendak masuk ke Bait
Allah di Yerusalem. Di tengah jalan Dia bertemu dengan seorang wanita
yang membawa saudarinya yang bisu-tuli sejak lahir. Yesus dimohon untuk
menyembuhkannya. Setelah Yesus berdoa dalam hati, si bisu-tuli itu pun
segera sembuh dan mulai berkata-kata. Maka banyak orang yang melihat
kejadian ini terheran-heran.

Ketika berada di Bait Allah Yesus mulai mengecam para imam dan kaum
Farisi karena telah salah menginterpretasikan Taurat Musa. Dan untuk
menunjukkan otentisitas dan otoritas perutusan-Nya, saat berada di luar
Bait Allah, Yesus pun menyembuhkan seorang wanita yang bungkuk. Tentu
saja mukjizat-mukjizat Yesus ini, termasuk penyembuhan Maria Magdalena
dari roh-roh jahat, membuat para pemimpin Yahudi khawatir. Tapi
Gamaliel menasihati para anggota Mahkamah Yahudi agar bersabar, sebab
bila Yesus berkata benar, bisa jadi mereka justru akan melawan Tuhan.

Dalam Injil Kanonik motivasi  Yesus mengadakan mukjizat penyembuhan
agak berbeda. Yesus hanya menyembuhkan mereka yang datang dan
memohonnya dengan percaya. Mukjizat bukan untuk menunjukkan kuasa
ataupun otoritas Yesus. Yesus tidak (banyak) mengadakan mukjizat di
kampung halamannya sendiri karena mereka justru tidak percaya kepadanya
(Mat 13:53-58). Demikian pula kepada orang-orang Farisi yang menuntut
Dia memberikan tanda dan mukjizat, Yesus sama sekali tidak
memberikannya karena mereka tidak mau percaya kepada-Nya (Mat
12:38-42).  Sebaliknya kepada mereka yang percaya kepada-Nya, termasuk
kedua orang asing, yakni perwira Romawi di Kapernaum (Mat 8:5-13) dan
wanita Kanaan (Mat 15:21-28), Yesus berkenan mengadakan mukjizat. Jadi,
mukjizat tidak dipakai untuk “membujuk” orang untuk percaya kepada
Yesus.
 

        * selanjutnya dapat di baca di link 
:http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest&note_id=368832888945&id=240317874343#!/notes/imankatolikorid/menyimak-dan-mengkritisi-film-the-messiah-fx-didik-bagiyowinadi-pr/368832888945
        * atau 
linkhttp://www.facebook.com/notes/imankatolikorid/menyimak-dan-mengkritisi-film-the-messiah-fx-didik-bagiyowinadi-pr/368832888945#!/imankatolik.or.id
Salam & Doa
Alexander Yusup


      

Kirim email ke