HR KABAR SUKACITA : Yes 7: 10-14; 8:10; Ibr 10:4-10;  Luk 1:26-38
"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu 
itu."

Dalam berbagai kesempatan menilpon beberapa orang, ada satu dua orang yang 
dengan spontan menjawab tilpon saya sungguh mengesan dan menyentuh hati saja. 
Begitu mendengarkan suara panggilan saya via tilpon orang tersebut menanggapi: 
"Matur nuwun Romo, wonten dhawuh" (Terima kasih Romo, ada perintah). Orang 
tersebut begitu siap sedia untuk dimintai tolong apapun atau secara kasar 
diperintah apapun. Bukankah hal itu sungguh menggembirakan, dan jawaban macam 
itu senada dengan tanggapan atau jawaban Bunda Maria atas sapaan dan penjelasan 
malaikat dengan berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah 
padaku menurut perkataanmu itu.". Bunda Maria adalah teladan umat beriman, maka 
marilah sebagai umat beriman kita mawas diri dengn bantuan tanggapan Bunda 
Maria atas sapaan malaikat tersebut.

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu 
itu."(Luk 1:38) 

 Tanggapan Maria atas sapaan Tuhan melalui malaikatNya ini kiranya merupakan 
bentuk penghayatan keutamaan `ketaatan', dan memang hemat saya siapapun yang 
unggul dalam penghayatan ketaatan juga merupakan kabar sukacita, kabar baik 
atau kabar gembira. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri 
perihal penghayatan ketaatan, yang sungguh mendesak dan up to date untuk kita 
hayati dan sebarluaskan, mengingat dan memperhatikan masih begitu marak aneka 
macam bentuk pelanggaran peraturan alias ketidak-taatan terhadap aneka aturan 
dan tatanan hidup bersama. Jika kita mencermati apa yang terjadi di jalanan 
nampak sekali bahwa masih cukup banyak para pengendara atau sopir maupun 
pejalan kaki yang tidak mentaati aneka aturan atau rambu-rambu lalu lintas. Apa 
yang terjadi di jalanan hemat saya merupakan cermin kwalitas masyarakat atau 
bangsa. 

Di dalam etika dikenal adanya tiga tingkatan norma atau nilai, yaitu: norma 
sopan santun, norma hukum dan norma moral. Yang pertama-tama kita kenal dan 
hayati rasanya adalah norma sopan santun, yang kita terima melalui orangtua 
kita masing-masing. Norma sopan santun berlaku bagi wilayah atau kelompok 
tertentu dan tidak jelas seberapa jauh dan lebarnya wilayah alias tidak ada 
batas jelas. Sedangkan norma hukum dikenal kemudian ketika kita mulai hidup 
bersama dengan orang lain, di luar keluarga. Norma hukum berlaku untuk wilayah 
atau daerah tertentu dan terbatas untuk wilayah atau daerah tersebut. Norma 
moral, yaitu baik atau buruk, berlaku secara universal atau umum, dimana saja 
dan kapan saja. Mentaati atau melaksanakan norma-norma tersebut dengan baik 
sungguh merupakan kabar baik, kabar gembira bagi orang lain. 

Ketaatan Maria kepada kehendak atau panggilan Tuhan bersifat moral atau 
spiritual, dan menurut kami merupakan keutamaan tertinggi, karena mengandaikan 
yang bersangkutan sungguh berbudi pekerti luhur atau cerdas secara spiritual. 
Pribadi yang bersangkutan telah sampai pada penghayatan `contemplativus in 
actione', menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu 
dalam Tuhan. .Ia akrab dengan sabda-sabda Tuhan, bergaul mesra dengan Tuhan, 
yang mahasegalanya, sehingga mau tidak mau yang bersangkutan akan dikuasai atau 
dirajai alias senantiasa melaksanakan atau menghayati perintah-perintah Tuhan. 
Taat kepada kehendak atau perintah Tuhan berarti juga rendah hati serta 
senantiasa bersikap melayani yang lain, siapapun juga. Di mana ia berada atau 
kemana ia pergi senantiasa berusaha melayani dan membahagiakan atau 
menggembirakan yang lain, maka dirinya sendiri sungguh merupakan kabar baik 
atau kabar gembira. Kita semua dipanggil untuk meneladan Bunda Maria, maka 
marilah kita saling melayani dan membahagiakan, sehingga kebersamaan hidup kita 
otomatis merupakan kabar gembira. 

"Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, 
supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah 
dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus 
Kristus." (Ibr 10:9-10) 
Kutipan dari surat Ibrani di atas ini menunjuk pada ketaatan Yesus, sebagaimana 
dikatakan oleh Paulus kepada umat di Filipi :" Kristus Yesus, yang walaupun 
dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik 
yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan 
mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam 
keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, 
bahkan sampai mati di kayu salib." (Fil 2:5-7). Marilah kita meneladan Yesus, 
sebagaimana dikatakan dalam surat Ibrani di atas : "Sungguh, Aku datang untuk 
melakukan kehendakMu".

Marilah kemanapun pergi atau dimanapun berada kita senantiasa melakukan 
kehendak Tuhan, dan hal ini secara konkret berarti senantiasa mentaati dan 
melaksanakan aneka aturan atau tatanan yang berlaku dan terkait dengan hidup 
dan kesibukan kita masing-masing, sehingga kita bersih dan bebas serta tidak 
melakukan pelanggaran apapun. Hari Raya Kabar Sukacita ini kita rayakan di 
hari-hari terakhir dalam rangka mawas diri selama Masa Prapaskah, maka baiklah 
saya mengajak kita semua untuk mawas diri apakah setelah berpartisipasi dalam 
kegiatan Prapaskah, pantang dan puasa atau matiraga kita mampu semakin 
mengenali diri, sebagai yang terpanggil dan telah dibaptis. Sejauh mana kita 
merasa telah atau tergerak untuk mempersembahkan seluruh tubuh kita kepada 
Tuhan. Mentaati sepenuhnya aturan atau tatanan hidup memang juga berarti 
mempersembahkan tubuh kita, mengerahkan seluruh tenaga, waktu, perhatian dst.. 
pada pelaksanaan aturan atau tatatan hidup, sehingga kita akan menjadi pribadi 
yang terbiasa untuk taat dan melayani.

"Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang 
anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel" (Yes 7: 14). Hidup taat dan 
melayani akan melahirkan keutamaan-keutamaan yang menyelamatkan dan 
membahagiakan. Sebagaimana melalui lambung Yesus, yang tergantung di kayu, yang 
ditusuk tombak dan dari HatiNya keluar darah dan air segar, lambang 
sakramen-sakramen Gereja yang menyelamatkan, kami berharap melalui cara hidup 
dan cara bertindak kita juga `lahir' atau keluar keutamaan-keutamaan atau 
nilai-nilai kehidupan yang menyelamatkan. Kami berharap kepada siapapun yang 
berpengaruh dalam kehidupan atau kerja bersama dapat menjadi teladan dalam hal 
ketaatan dan melayani, sehingga mereka yang terpengaruh juga tergerak untuk 
taat dan melayani. Semoga kebersamaan hidup dan kerja kita dimanapun dan 
kapanpun melahirkan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan, sehingga 
kita semua terus tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas spiritual, 
menjadi pewarta-pewarta kabar baik dimana saja dan kapan saja. 

"Pergilah, pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi, yang 
menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, 
menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api! "Diamlah dan 
ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, 
ditinggikan di bumi!"
(Mzm 46:9-11) 
Jakarta, 25 Maret 2010  




Kirim email ke