MG PALMA : Yes 50: 4-7; Flp 2:6-11; Luk 23:1-49
"Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu 
salib". 
Ketika ada seorang pemimpin atau kepala Negara berkunjung ke tempat tertentu, 
entah dinegaranya sendiri atau Negara lain, pada umumnya jauh sebelumnya 
dipersiapkan lebih-lebih dalam hal pengamanan. Kendaraan atau mobil yang 
digunakan sang pemimpin pada umumnya mewah serta anti peluru. Jalan-jalan yang 
akan dilalui disterilkan dari berbagai macam gangguan, pada saat sang pemimpin 
melintas semua kendaraan lain harus menyingkir atau berhenti. Pengawalan pada 
saat dalam perjalanan pun sangat ketat. Semuanya itu dilakukan demi keselamatan 
sang pemimpin, yang mungkin sedang dalam ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh 
orang atau oknum yang tidak suka kepadanya. Pada hari ini kita mengenangkan 
Yesus, Sang Raja, memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai keledai dan di 
dalam perjalananNya dielu-elukan oleh rakyat/orang banyak secara spontan. Tidak 
ada sterilisasi jalan yang akan dilewatiNya, bahkan orang kebanyakan atau 
rakyat merapat di samping dan dibelakang Yesus, sambil mengelu-elukan Yesus apa 
adanya. Hari ini kita masuki Pekan Suci, untuk `menyertai perjalanan Yesus 
menuju Kalvari, mempersembahkan diri dengan wafat di kayu salib, dan kemudian 
pada hari ketiga dibangkitkan dari mati', maka baiklah kita juga mawas diri 
`sejauh mana kita siap sedia mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan 
sesama' demi kebahagiaan dan keselamatan bersama.

"Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan 
dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,melainkan telah 
mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi 
sama dengan manusia.Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan 
diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:6-8)  

KedatanganNya di dunia ini dijiwai oleh kerendahan hati, Ia "menjadi sama 
dengan manusia", dan tugas pengutusanNya juga dimahkotai dengan kerendahan 
hati, "Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di 
kayu salib".  Maka baiklah dalam memasuki Pekan Suci ini kami mengajak kita 
semua untuk mawas diri dengan mengumpulkan atau mengenangkan aneka pengalaman 
selama bermatiraga sejak Rabu Abu: sejauh mana kita telah belajar rendah hati 
dan kemudian tergerak untuk memperdalam, memperkuat dan memperteguh penghayatan 
kerendahan hati dalam hidup sehari-hari. 

Dalam perjalanan memahkotai tugas pengutusanNya, Yesus harus menghadapi aneka 
tantangan yang datang dari aneka kelompok masyarakat, termasuk petinggi 
wilayah, seperti Pilatus. Orang-orang Yahudi menghadapkan Yesus kepada Pilatus 
dengan tuduhan bahwa Yesus menghasut rakyat untuk tidak membayar pajak dan 
menyatakan DiriNya sebagai Raja. Yesus juga dihadapkan pada raja Herodes. Baik 
Pilatus maupun Herodes merasa tidak menemukan kesalahan apa-apa yang dilakukan 
oleh Yesus, tetapi orang-orang Yahudi tetap terus dengan gencar menghendaki 
agar Yesus dihukum mati. Ia menjadi `kambing hitam', harus mati demi 
keselamatan seluruh bangsa/dunia. Orang baik dan benar di dalam hidup bersama 
di masyarakat memang dapat menjadi `kambing hitam', mengemban tanggungjawab dan 
beban sangat besar demi keselamatan atau kebahagiaan umum, siap menderita dan 
mati bagi sesamanya. 

Marilah kita meneladan Yesus yang rendah hati sampai mati. "Rendah hati adalah 
sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu 
dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari 
orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi 
Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 
1997, hal 24). Kami berharap mereka atau siapapun yang menjadi tokoh atau 
berpengaruh dalam hidup bersama dapat menjadi teladan dalam penghayatan 
kerendahan hati. Semakin tambah usia/tua, semakin kaya akan berbagai hal, 
semakin pandai/cerdas, semakin memiliki aneka jabatan dan fungsi dst.. 
hendaknya juga semakin rendah hati, sebagaimana dikatakan oleh sebuah pepatah 
"bulir-bulir padi atau keladi semakin berisi membuat batangnya semakin 
menunduk". 

"Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan 
tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu" (Luk 23:28)    

Jika ada orang akan meninggal dunia, pada umumnya rekan-rekan perempuan lebih 
terasa penderitaan-nya dan jika yang akan meninggal dunia adalah yang terkasih, 
maka meledaklah tangisan mereka. Para perempuan atau puteri Yerusalem menangisi 
Yesus, yang menderita sambil memanggul salib menuju puncak Kalvari untuk 
disalibkan atau dihukum mati, namun dalam penderitaanNya Yesus berkata kepada 
mereka :"Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan 
tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu". Apa maksud perkataan Yesus ini? 
Baiklah sabda Yesus ini kita renungkan atau refleksikan bersama dalam rangka 
memasuki Pekan Suci ini.

"Tangisilah dirimu dan anak-anakmu"; perintah ini kiranya baik menjadi 
permenungan atau refleksi bagi para orangtua atau bapak-ibu. Suatu ajakan untuk 
melihat diri sendiri maupun anak-anak dengan benar dan jujur serta untuk 
bersama-sama berjuang dan berkorban demi keselamatan atau kebahagiaan 
umum/bersama. Pertama-tama marilah kita, seluruh anggota keluarga, bersama-sama 
merenungkan kisah sengsara Yesus, dan kiranya baik diselenggarakan atau 
diadakan sharing pengalaman perihal perjuangan dan pengorbanan masing-masing 
dalam rangka menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan. 

Marilah kita bersama-sama menghayati iman, sebagaimana dihayati oleh Yesaya ini 
: "Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan 
perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap 
pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan 
ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke 
belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan 
pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan 
mukaku ketika aku dinodai dan diludahi" (Yes 50:4-6). Kita meneladan Yesus, 
yang tidak mengeluh, menggerutu atau marah ketika harus memanggul salib ke 
puncak Kalvari. Dengan kata lain hendaknya kita senantiasa siap sedia untuk 
`dikasihi'. Ingat dikasihi berarti juga dikritik, diberi saran, dituntun, 
diberi nasihat, diejek, dst..alias direndahkan atau dilecehkan. Hemat saya pada 
masa kini banyak orang sulit untuk dikasihi, maunya hanya mengasihi saja. 
Marilah kita sadari dan hayati bahwa ketika kita masih kanak-kanak/bayi, kita 
sungguh siap sedia untuk dikasihi, dan hendaknya pengalaman tersebut 
dikenangkan dan diteguhkan kembali dalam perjalanan mengarungi samodera 
kehidupan masa kini. 

"Anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka 
menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, 
mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan 
mereka membuang undi atas jubahku. Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya 
kekuatanku, segeralah menolong aku " 
(Mzm 22:17-20)

Jakarta, 28 Maret 2010


Kirim email ke