Mg Paskah II /Mg Kerahiman Ilahi: Kis 5:12-16; Why 1:9-11a.12-13.17-19; Yoh 
20:19-31
"Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan 
jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." 
Dalam suatu kesempatan audiensi dengan umat katolik yang berziarah ke Roma, di 
lapangan Santo Petrus, Paus Yohanes Paulus II, berkeliling dengan berdiri di 
atas bak mobil terbuka untuk memberi salam dan memberkati umat. Tiba-tiba ada 
seorang lelaki menembak Paus, dan Paus pun  tersungkur didukung oleh para 
pengawalnya. Begitu sadar Paus langsung berkata bahwa Yang Mulia mengampuni 
penembaknya. Apa yang dikatakan tersebut menjadi kenyataan ketika Paus telah 
sembuh dari sakitnya, Paus mengunjungi penembaknya yang pada waktu itu berada 
di sel penjara. Sang penembak pun dengan menyesal mengaku dosa di hadapan Paus 
dan Paus menyampaikan kasih pengampunan atau kerahiman Ilahi kepadanya. 
Peristiwa itu kiranya layak kita kenangkan dalam rangka merayakan Hari Minggu 
Kerahiman Ilahi hari ini. Maka marilah kita renungkan sabda Yesus yang telah 
bangkit dari mati kepada para murid, kepada kita semua, di bawah ini. 

"Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan 
jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." (Yoh 
20:22-23) 
Kerahiman dalam bahasa Latin adalah `misericordia' ; sedangkan `misericordia'  
dapat berarti kasihan, belas-kasihan, kerahiman, kerelaan, kemurahan, 
kedermawanan'. Yesus mengugerahkan Roh Kudus kepada para rasul beserta para 
penerusnya masa kini yaitu para uskup beserta para pembantunya, para imam, 
serta kuasa untuk `mengampuni dosa orang atau menyatakan dosa orang tetap ada'. 
 Hemat saya apa yang lebih banyak telah diberikan dan kita terima adalah 
pengampunan atau kerahiman ilahi, maka selayaknya kita bersyukur dan berterima 
kasih dengan meneruskan pengampunan atau kerahiman Ilahi tersebut kepada 
saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Dalam menyampaikan pengampunan 
atau kerahiman ilahi kiranya secara implicit juga kita sampaikan 
keutamaan-keutamaan seperti arti dari kata misericordia diatas, yaitu 
belas-kasih,  kerelaan, kemurahan dan kedermawanan. Maka kerahiman Ilahi 
kiranya juga dapat diwujudkan dalam bentuk harta benda atau uang, lebih-lebih 
dan terutama bagi mereka yang miskin dan berkekurangan.

Masing-masing dari kita pernah tinggal penuh cintakasih dan kerahiman di rahim 
ibu kita masing-masing selama kurang lebih sembilan bulan lamanya sebelum 
dilahirkan di dunia ini, dan kiranya setelah dilahirkan juga menerima terus 
menerus kerahiman dan kasih pengampunan dari ibu kita masing-masing. Bukankah 
ketika kita masih bayi sering rewel dan mengganggu ketenangan ibu dan ibu tidak 
marah, melainkan dengan penuh kasih mesra dan kerahiman memeluk, menciumi dan 
membelai serta menimang-nimang kita? Dengan kata lain masing-masing dari kita 
telah menerima kasih pengampunan dan kerahiman secara melimpah ruah, maka 
panggilan untuk membawa dan memberitakan kasih pengampunan maupun kerahiman 
hemat saya tidak sulit asal tidak pelit, karena kita tinggal meneruskan apa 
yang telah kita miliki secara melimpah ruah. 

Rekan-rekan kaum wanita atau perempuan memiliki rahim, dan secara khusus bagi 
yang telah menjadi ibu kiranya telah mewartakan kasih pengampunan dan kerahiman 
luar biasa terutama dan lebih-lebih bagi anak yang telah dikandungnya selama 
sembilan bulan serta dilahirkan dalam derita yang membahagiakan. Maka kami 
berharap rekan-rekan wanita atau perempuan sungguh dapat menjadi saksi kasih 
pengampunan dan kerahiman Ilahi di dalam hidup sehari-hari, entah di dalam 
keluarga maupun tempat kerja, dimana setiap hari memboroskan waktu dan tenaga. 
Terutama di dalam keluarga hendaknya para ibu dapat menjadi `pahlawan kasih 
pengampunan dan kerahiman Ilahi' bagi suami maupun anak-anaknya. Pengalaman 
akan apa yang terjadi di dalam keluarga akan sangat berpengaruh bagi semua 
anggota keluarga di dalam kehidupan bersama yang lebih luas, entah di dalam 
masyarakat, tempat kerja atau dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan 
bernegara. 

"Mereka membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan raya, dan membaringkannya 
di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya 
bayangannya mengenai salah seorang dari mereka.Dan juga orang banyak dari 
kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang 
yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua 
disembuhkan" (Kis 5:15-16)       

Kerahiman Ilahi melalui Petrus sungguh luar biasa, karena melalui Petrus banyak 
orang disembuhkan dari aneka macam penyakit, bahkan mereka menerima bayangan 
Petrus yang sedang lewat pun percaya akan disembuhkan dari sakit atau gangguan 
roh jahat. Kiranya kita semua yang beriman kepada Yesus yang telah bangkit dari 
mati juga dipanggil untuk bersaksi seperti Petrus, kemanapun kita pergi atau 
dimanapun kita berada hendaknya memotivasi sesama untuk bertobat atau lebih 
bergairah dalam rangka menghayati panggilan atau melaksanakan tugas 
pengutusannya. Memang untuk itu kita sendiri diharapkan senantiasa bersama dan 
bersatu dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari alias berbudi pekerti luhur atau 
cerdas spiritual. 

Beriman pada Yesus yang telah bangkit dari mati diharapkan menjadi pribadi yang 
menarik, memikat, mempesona bagi orang lain untuk mendekat pada kita serta 
kemudian bersahabat mesra dengan kita. Mereka yang sedang menghadapi aneka 
masalah atau kesulitan, yang sedang menderita sakit atau kurang bergairah dalam 
kehidupan, dst.. tergerak untuk mendatangi kita serta mohon ditolong, maka 
baiklah kita tetap menjaga diri sebagai pribadi yang menarik, mempesona dan 
memikat. Marilah kita dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan senantiasa 
berusaha untuk `bermurah hati dan berderma' kepada saudara-saudari kita, 
terutama yang miskin dan berkekurangan. Bermurah  hati berarti menjual hati 
dengan murah kepada siapapun alias memperhatikan siapapun yang dijumpai atau 
hidup bersama dengan kita, sedangkan berderma rasanya erat kaitannya dengan 
harta benda atau uang, maka berarti memberi bantuan harta benda atau uang 
dengan sukarela dan besar hati. 

Secara kelompok atau organisatoris kita semua juga diharapkan menjadi daya 
tarik, pikat dan mempesona bagi orang lain: keluarga kita, tempat kerja/kantor 
kita, kampung atau lingkungan hidup kita, dst.. Tanda bahwa kebersamaan hidup 
atau kerja kita menarik, memikat dan mempesona, antara lain adalah bahwa mereka 
yang pernah bergabung dengan kita atau bersama dengan meskipun hanya sesaat 
saja akan menceritakan atau menyebarluaskan pengalaman yang baik dan 
membahagiakan; dengan kata lain mereka yang pernah tinggal dan bekerja bersama 
dengan kita menjadi `sarana marketing'  kebersamaan hidup maupun karya-karya 
pelayanan kita.  Maka dengan ini kami berharap kepada semua anggota, dalam 
bentuk hidup dan kerja apapun, untuk saling bekerjasama satu sama lain sehingga 
kebersamaan sungguh mempesona, menarik dan memikat. 

"Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal 
itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari 
yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! Ya 
TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! 
Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam 
rumah TUHAN. TUHANlah Allah, Dia menerangi kita."
 (Mzm 118:22-27a)

Jakarta, 11 April 2010
      


Kirim email ke