Mg Paskah III : Kis 5:27b-32.40b-41; Why 5:11-14; Yoh 21:1-14
"Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh."

Beberapa tahun lalu pesawat `Adam Air' jatuh di perairan/laut antara pulau 
Kalimantan dan Sulawesi, dalam rangka penerbangan dari Jakarta ke Manado. Konon 
salah satu sebab mengapa pesawat tersebut kena musibah karena tidak mengikuti 
jalur atau lintas yang telah ditentukan, dengan kata lain pesawat Adam Air 
mengambil jalan pintas, yang memang dalam perhitungan waktu dan jarak lebih 
cepat akan sampai, tetapi ancaman atau resiko lebih besar, karena jalur yang 
ditempuh Adam Air katanya rawan dengan badai yang sungguh membahayakan 
keselamatan perjalanan pesawat. Musibah tersebut membuka tabir bahwa memang 
pengelolaan perusahaan Adam Air tidak beres, dan beberapa waktu kemudian memang 
Adam Air gulung tikar.  Jika analisa itu benar rasanya memang menunjukkan masih 
cukup banyak orang di Indonesia ini, yang berjalan atau melangkah tidak 
mengikuti aturan atau tatanan yang berlaku, melainkan berjalan atau melangkah 
seenaknya sendiri, hanya mengikuti selera pribadi. Jika kita sungguh 
memperhatikan dan mencermati aneka macam musibah atau kecelakaan, hemat saya 
salah satu sebab terjadinya musibah atau kecelakaan adalah ketidak-taatan atau 
ketidak-setiaan pada aturan atau tatanan yang terkait. Begitulah kiranya yang 
terjadi dengan Petrus dan kawan-kawannya, para rasul: mereka telah dibina 
selama tiga tahun bersama dan oleh Yesus, ternyata kurang berhasil juga. 
Sebelum mengikuti Yesus mereka adalah nelayan atau penjala ikan, dan setelah 
Yesus wafat di kayu salib alias mereka ditinggalkan oleh Yesus, merasa kesepian 
dan untuk mengisi kesepiannya mereka kembali ke pekerjaan atau hobby lama, 
mencari ikan. Semalaman tak seekor ikanpun ditangkap, tetapi begitu mereka 
menebarkan jala sesuai perintah Yesus, mereka menangkap ikan banyak sekali. 
Maka marilah kita renungkan perintah Yesus kepada para rasul tersebut. 

"Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." (Yoh 
21:6)   

Bagi para rasul menebarkan jala merupakan pekerjaan sehari-hari mereka sebelum 
mengikuti Yesus, maka sabda Yesus di atas ini rasanya merupakan peringatan agar 
dalam rangka melaksanakan tugas pekerjaan sehari-hari hendaknya kita senantiasa 
sesuai dengan perintah Tuhan, tidak mengikuti selera pribadi atau seenaknya 
sendiri. Perintah Tuhan antara lain dapat kita temukan dalam aneka macam 
rumusan janji, peraturan atau tatanan hidup, yang pada umumnya dibuat dalam 
Tuhan dan sebagai bantuan bagi mereka yang melaksanakannya untuk semakin 
berbakti kepada Tuhan, semakin beriman atau semakin suci. Maka baiklah saya 
mengajak dan mengingatkan kita semua untuk hidup dan bertindak sesuai dengan 
janji, aturan atau tatanan yang terkait dengan hidup dan panggilan kita 
masing-masing. 

Pertama-tama dan terutama sebagai orang yang telah dibaptis marilah kita mawas 
diri sejauh mana kita setia pada janji baptis, yaitu `hanya mau mengabdi Tuhan 
saja serta menolak semua godaan setan'. Mengabdi Tuhan antara lain berarti 
hidup dan bertindak senantiasa membahagiakan Tuhan melalui saudara-saudari kita 
serta ciptaan-ciptaan lainnya di dunia ini. Salah satu cara membahagiakan 
antara lain dengan hidup dan bertindak sesuai dengan aturan dan tatanan hidup 
alias setia pada janji yang pernah kita ikrarkan. "Setia adalah sikap dan 
perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah 
dibuat" (Prof Dr. Edi Sedyawati: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai 
Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Meskipun ada aneka macam godaan yang nampaknya 
menguntungkan, orang yang setia tak akan mengikuti godaan tersebut, melainkan 
tetap berpegang teguh pada janji yang telah dibuat atau diikrarkan. Godaan 
setan masa kini dapat menggejala dalam rayuan berupa harta benda/uang, 
jabatan/kedudukan atau kehormatan duniawi, sebagaimana terjadi dalam berbagai 
departemen atau sektor pemerintahan di Negara kita, misalnya makelar kasus 
dalam aneka macam proses pengadilan, bocoran ujian nasional, dst.. 
Saya juga tergerak mengingatkan dan mengajak para pengguna jalan, pengemudi 
aneka macam jenis kendaraan bermotor maupun pejalan kaki untuk mentaati dan 
melaksanakan aneka macam aturan lalu lintas maupun rambu-rambu dan penunjuk 
jalan yang terpampang dengan jelas di jalanan. Korban kecelakaan lalu lintas 
terus berjatuhan dan rasanya terus bertambah setiap tahun, yang menunjukkan 
masih sungguh memprihatinkan ketaatan berlalu lintas. Setiap kendaraan kiranya 
dilengkapi dengan buku petunjuk perawatan kendaraan maupun cara menjalankan 
kendaraan yang benar, maka kami berharap buku tersebut sungguh dipelajari dan 
arahan atau tuntunan yang ada di dalamnya dihayati. Apa yang terjadi di jalanan 
menurut kami merupakan cermin kwalitas bangsa dalam hal taat dan setia pada 
aneka aturan dan tatanan hidup. 

"Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka 
mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan. Rasul-rasul itu 
meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap 
layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus " (Kis 5:40-41)     

"Bergembira karena telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama 
Yesus", itulah yang dialami oleh para rasul. Taat atau setia pada aneka aturan 
dan tatanan hidup pada masa kini mungkin juga akan menghadapi aneka kesulitan, 
tantangan, hambatan atau bahkan ejekan atau penghinaan. Jika karena taat dan 
setia pada aturan atau tatanan hidup kita harus menghadapi yang demikian itu 
hendaknya tetap bergembira dan ceria. Percaya dan hayatilah bahwa dalam 
kegembiraan dan keceriaan kita akan mampu mengatasi aneka kesulitan, tantangan, 
hambatan maupun penghinaan, karena dalam kegembiraan dan keceriaan berarti 
organ-organ tubuh kita, termasuk syaraf, dalam keadaan baik atau bahkan prima 
dan dengan demikian kondusif untuk menghadapi kesulitan, tantangan, hambatan 
atau masalah.    

Secara sosiologis dan kwantitatif jumlah yang percaya kepada Yesus di Negara 
kita rasanya sedikit dan tidak jarang di tempat-tempat tertentu, entah tempat 
tinggal atau tempat kerja, kita sebagai yang percaya kepada Yesus sering 
mendapat ancaman, terror atau hinaan melalui aneka cara. Ada kenalan saya, yang 
bekerja di sebuah kantor, dimana hanya dia sendiri yang katolik, menceriterakan 
bahwa hampir setiap hari dirinya merasa bagaikan berada di ujung tanduk, karena 
selalu diawasi dan dilihat oleh rekan-rekan kerja yang bukan katolik. Yang 
bersangkutan merasa hendak didepak atau disingkirkan dari tempat kerja 
tersebut. Menanggapi hal itu saya justru bangga dan mengucapkan proficiat 
kepadanya, sambil berkata: "Bergembira dan berbahagialah karena dengan demikian 
anda memperoleh dukungan konkret, yaitu pengawasan, sehingga anda tidak tergoda 
untuk menyeleweng serta senantiasa berusaha bekerja sebaik mungkin. Kami 
mengajak dan mengingatkan anda sekalian yang mungkin merasa sendirian di tempat 
tertentu untuk tetap setia pada iman maupun tugas pekerjaan; jadikan aneka 
sapaan dari orang lain dalam bentuk apapun merupakan perwujudan kasih mereka 
terhadap diri kita yang lemah, rapuh dan hina dina. Marilah kita gembira dan 
ceria ketika harus menderita, dilecehkan atau direndahkan karena kesetiaan iman 
kita pada Yesus Kristus. 

"Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan 
tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku.TUHAN, Engkau mengangkat aku 
dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke 
liang kubur. Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, 
dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus! Sebab sesaat saja Ia 
murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, 
menjelang pagi terdengar sorak-sorai" (Mzm 30:2.4-6).

Jakarta, 18 April 2010


Kirim email ke