Mg Paskah IV / Mg Panggilan : Kis 13:14.43-52; Why 7:9.14b-17; Yoh 10:27-30
"Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan 
binasa sampai selama-lamanya"

"Tugas seluruh jemaat kritianilah untuk membina panggilan, agar 
kebutuhan-kebutuhan akan pelayanan suci di seluruh Gereja terpenuhi dengan 
cukup; kewajiban ini terutama mengikat keluarga-keluarga kristiani, para 
pendidik dan dengan alasan khusus para imam, terutama para Pastor paroki. Para 
Uskup diocesan yang paling berkepentingan untuk memajukan panggilan, hendaknya 
mengajar umat yang dipercayakan kepadanya tentang pentingnya pelayanan suci dan 
kebutuhan akan pelayan-pelayan dalam Gereja, dan hendaknya mereka membangkitkan 
serta mendukung usaha-usaha untuk membina panggilan, terutama dengan 
karya-karya yang diadakan untuk itu" (KHK kan 233.1). Kutipan dari Hukum Gereja 
ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita semua dalam 
Minggu Panggilan hari ini. Kemerosotan kwantitas maupun kwalitas para pelayan 
suci, para imam/pastor,  pada masa kini cukup memprihatinkan, antara lain 
sebagaimana diberitakan melalui aneka macam media massa dengan terjadinya 
pelecehan seksual yang dilakukan oleh para imam/pastor di negara-negara 
tertentu. Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh para imam/pastor tersebut 
dijadikan `senjata' oleh kelompok tertentu yang tidak suka terhadap aneka 
kebijakan Gereja Katolik untuk `menyerang' Gereja Katolik, dan dengan demikian 
kepercayaan kepada Gereja Katolik digerogoti.

"Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan 
binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari 
tangan-Ku" (Yoh 10:28)

Yesus, Sang Imam Agung, telah menganugerahkan hidup kekal dengan 
mempersembahkan hidupNya, wafat di kayu salib dan kemudian dibangkitkan dari 
mati , kepada siapapun yang percaya kepadaNya. Kita yang percaya kepadaNya 
antara lain ditandai dengan pembaptisan, dimana kita disucikan atau 
dipersembahkan kepada Tuhan seutuhnya. Maka setelah menerima rahmat pembaptisan 
kita dipanggil untuk senantiasa melaksanakan kehendak Tuhan atau 
mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan melalui sesama dengan berbuat baik. 
Jika kita senantiasa setia kepada rahmat pembaptisan, maka ketika dipanggil 
Tuhan kita akan hidup mulia selamanya di sorga. Kita semua yang telah dibaptis 
juga memiliki tugas untuk membina panggilan hidup imamat atau membiara, 
sebagaimana tertulis dalam Kitab Hukum Kanonik, yang saya kutipkan di atas, 
maka perkenankan dengan rendah hati saya sampaikan catatan-catatan di bawah ini.

1)      Keluarga-keluarga. Keluarga katolik sering disebut sebagai `Gereja 
mini',dan tentu saja sebagai `gembala' adalah orangtua atau bapak-ibu. Maka 
dengan ini kami berharap para orangtua atau bapak-ibu memberi perhatian perihal 
hidup terpanggil sebagai imam, bruder atau suster bagi anak-anaknya. Berilah 
anak-anak pengetahuan agama, ajarilah mereka berdoa, bimbinglah mereka untuk 
hidup baik, berbudi pekerti luhur dan sosial, dan tentu saja terutama dan 
pertama-tama dengan teladan konkret dari bapak-ibu. Bapak-ibu hendaknya juga 
menjadi teladan dalam saling mengasihi dan menyerahkan diri. Berdoa bersama 
setiap hari di dalam keluarga juga merupakan cara baik untuk membangun 
kebersamaan dan kepedulian kepada yang lain; hendaknya anak-anak dilatih untuk 
mendoakan orang lain, mereka yang miskin dan berkekurangan serta menderita.    
2)      Para guru/pendidik. Guru atau pendidik di sekolah adalah pembantu 
orangtua dalam mendidik anak-anak mereka,  maka hendaknya ada kerjasama antara 
guru/pendidik dan orangtua yang mempercayakan anak-anaknya untuk dididik di 
sekolah. Tiap sekolah kiranya memiliki motto, visi atau misi,  maka sebagai 
contoh saya ketengahkan motto pendidikan di sekolah-sekolah Yesuit atau sekolah 
yang dipercayakan kepada para Yesuit, yaitu "competence, conscience, 
compassion" , yang secara sederhana dapat diterjemahkan menjadi `kompetensi, 
suara hati, kepedulian sosial'.  Hendaknya pertama-tama dan terutama yang 
diusahakan dalam proses pendidikan adalah agar para peserta didik tumbuh 
berkembang menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur atau cerdas 
secara spiritual, yang antara lain memiliki ciri-ciri sebagai berikut: mampu 
untuk fleksibel (adaptasi aktif dan spontan), memiliki kesadaran diri yang 
tinggi, mampu menghadapi dan menggunakan penderitaan, menghadapi dan mengatasi 
rasa sakit, hidup dijiwai oleh visi dan nilai-nilai, enggan untuk menyakiti 
orang lain, melihat hubungan dari yang beragam (berpandangan holistik), 
bertanya `mengapa' dan `apa jika' untuk mencari jawaban mendasar, 
kemampuan/kemudahan untuk `melawan perjanjian'.  
3)      Para imam, bruder dan suster. Kita yang terpanggil untuk hidup menjadi 
imam, bruder atau suster hendaknya dapat menjadi teladan konkret dalam 
menghayati panggilan. Kesaksian atau keteladan hidup terpanggil merupakan cara 
utama dan pertama dalam promosi panggilan. Hendaknya hidup sederhana serta 
penuh perhatian terhadap umat atau mereka yang harus dilayani, terutama mereka  
yang miskin dan berkekurangan atau menderita. Sabda Yesus dan keteladanan 
hidupNya, sebagaimana Ia sabdakan ini hendaknya menjadi acuan dan pedoman cara 
hidup dan cara bertindak : "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku 
mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal 
kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan 
seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku." (Yoh10:27-28)    
"Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak 
mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi." (Kis 
13:47) 
Kutipan di atas ini merupakan kesadaran dan penghayatan Paulus, Rasul Agung, 
yang terpanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal 
Allah, dan membawa keselamatan sampai ke ujung bumi. Dimensi rasuli menjadi 
cirikhas kita sebagai orang beriman, maka marilah kita meneladan Paulus.  Hidup 
dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun hendaknya menjadi `terang' bagi 
orang lain, sehingga kehadiran dan sepak terjang kita dapat menjadi petunjuk 
jalan bagi orang lain untuk semakin mengenal Allah, semakin beriman, semakin 
suci, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Yang Ilahi melalui hidup 
sehari-hari. Untuk itu kita sendiri hendaknya senantiasa dalam `terang' alias 
hidup baik dan berbudi pekerti luhur, sehingga menarik, memikat dan mempesona 
orang lain untuk semakin berbakti kepada Tuhan dan sesama manusia.  

Kita dipanggil untuk membawa keselamatan sampai ke ujung bumi. Mungkin secara 
geografis kita tidak akan berpergian mengelilingi bumi, dan tinggal di suatu 
tempat saja. Maka baiklah panggilan untuk membawa keselamatan tersebut kita 
hayati demikian: Dimana ada bagian dari lingkungan hidup kita yang tidak 
selamat kita selamatkan, yang tidak sejahtera kita sejahterakan, yang tidak 
bahagia kita bahagiakan, dst.. Ingat dan sadari bahwa setiap berjumpa dengan 
orang lain kita senantiasa mengawali dengan kata `selamat': selamat datang, 
selamat pagi, selamat bertemu, dst… , maka hendaknya hal itu tidak hanya 
menjadi sopan santun atau basa-basi belaka, tetapi sungguh dihayati dalam cara 
hidup dan cara bertindak. Memberi salam atau selamat selamat berarti kita siap 
sedia untuk menyelamatkan apa yang tidak selamat. 

"Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan 
sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan 
punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya… Sebab TUHAN itu 
baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap 
turun-temurun" (Mzm 100:2-3.5)

Jakarta, 25 April 2010


Kirim email ke