"Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya"
(Kis 13:13-25; Yoh 13:16-20)

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari 
pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau 
kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. Bukan 
tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi 
haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya 
terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, 
supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. Aku berkata 
kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, 
dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."(Yoh 
13:16-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.  
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Katarina dari Siena, 
perawan dan pujangga Gereja, hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana 
sebagai berikut:
•       Seorang hamba senantiasa dengan rendah hati berusaha untuk 
membahagiakan tuannya dalam situasi atau kondisi apapun, serta siap sedia 
setiap saat untuk melaksanakan perintah tuannya. Sebagai orang beriman kita 
sering juga disebut sebagai hamba-hamba Tuhan, dengan kata lain dipanggil untuk 
senantiasa membahagiakan Tuhan serta melaksanakan perintah atau sabdaNya; kita 
dipanggil untuk senantiasa mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui 
cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Santa Katarina yang kita 
rayakan hari ini adalah `perawan dan pujangga Gereja', yang berarti senantiasa 
hidup suci dan dengan kesucian-nya ia mewartakan Kabar Baik kepada orang lain 
dimanapun dan kapanpun. Perawan seperti St.Katarina ini sering juga disebut 
sebagai `mempelai Yesus Kristus' alias menjadi sahabat Yesus yang mesra, dan 
karena  Yesus adalah Tuhan maka mau tak mau sebagai mempelaiNya pasti akan 
dikuasai atau dirajaiNya serta harus menghayati perintah dan ajaranNya. Atribut 
`hamba' maupun `mempelai' hemat saya mengandung makna sebagai yang diutus atau 
diperintah. Secara khusus kami mengingatkan dan mengajak kita yang tidak 
menikah alias hidup wadat dengan menjadi imam, bruder atau suster untuk dapat 
menjadi teladan dalam penghayatan sebagai `hamba' atau `mempelai', hidup dan 
bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan, meneladan cara hidup dan 
cara bertindak Tuhan kita Yesus Kristus. Kepada semua umat Kristen atau Katolik 
kami ajak untuk dengan rendah hati mengusahakan agar hidup dan bertindak sesuai 
dengan janji baptis, yaitu hanya mengabdi Tuhan Allah saja dan menolak semua 
godaan setan di dalam hidup sehari-hari. 
•       "Saudara-saudara, jikalau saudara-saudara ada pesan untuk membangun dan 
menghibur umat ini, silakanlah!" (Kis 13:15), demikian kata para pengurus rumah 
ibadat di Yerusalem kepada Paulus dan kawan-kawannya. Paulus dan kawan-kawan 
memang kemana mereka pergi atau dimana berada senantiasa berusaha untuk 
`membangun dan menghibur umat'. Mereka adalah rasul-rasul, yang diutus untuk 
mewartakan Kabar Baik, apa-apa yang baik, membangun dan menghibur umat 
khususnya maupun warga masyarakat pada umumnya. Sebagai orang beriman yang 
memiliki dimensi rasuli kita semua dipanggil juga untuk senantiasa berusaha 
`membangun dan menghibur umat' dengan kata lain saling membangun dan menghibur. 
Maka baiklah kita buka mata dan hati kita terhadap lingkungan sekitar kita, 
dimana kita hidup atau bekerja, apakah ada sesuatu yang harus dibangun atau 
butuh penghiburan. Dalam berbagai berita yang disiarkan melalui aneka jenis 
media kita dapat membaca, mendengarkan atau melihat bahwa di sana-sana masih 
sering terjadi tawuran atau bentrokan yang merusak dan menghancurkan serta 
memperuncing permusuhan. Mungkin juga di dalam keluarga-keluarga kita sendiri 
juga ada ketegangan antar anggota keluarga: antar suam-isteri, antar orangtua – 
anak, antar kakak-adik, dst… Marilah di dalam keluarga kita masing-masing kita 
saling membangun dan menghibur alias memperdalam dan memperteguh persaudaraan 
atau persahabatan sejati. Kami percaya ketika masing-masing dari kita memiliki 
pengalaman mendalam akan persaudaraan atau persahabatan sejati di dalam 
keluarga, maka di dalam hidup bersama dimanapun dan kapapun pasti akan memiliki 
semangat  membangun dan menghibur. Sepak terjang atau kedatangan kita dimanapun 
dan kapanpun diharapkan `membangun dan menghibur sesama atau  saudara-saudari 
kita'. Marilah kita usahakan kebersamaan kita bagaikan sapu lidi: banyak lidi 
diikat menjadi satu dan kemudian fungsional sebagai alat pembersih. 

"Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan 
kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk 
selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit" (Mzm 89:2-3)             
Jakarta, 29 April 2010


Kirim email ke