"Jikalau kamu menuruti perintahKu kamu akan tinggal di dalam kasihKu" (Kis 15:7-21; Yoh 15:9-11)
"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." (Yoh 15:9-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: Pertintah utama dan pertama-tama dari Yesus adalah "hendaknya kamu saling mengasihi satu sama lain, seperti Aku telah mengasihimu", maka menuruti perintahNya berarti kita senantiasa hidup dan bertindak saling mengasihi satu sama lain dimanapun dan kapanpun. Jika kita dapat saling mengasihi maka sukacita kita menjadi penuh, kita senantiasa dalam keadaan gembira, ceria dan dengan demikian memikat, mempesona dan menarik bagi siapapun. Maka pertanyaan refleksif bagi kita yang beriman kepada Yesus Kristus adalah apakah kita senantiasa dalam keadaan gembira dan ceria, bersyukur dan berterima kasih baik dalam keberhasilan maupun kegagalan. Hendaknya tidak hanya dalam keberhasilan kita gembira dan beryukur serta berterima kasih, tetapi dalam kegagalan pun hendaknya juga tetap gembira, bersyukur dan berterima kasih. Mengapa dalam kegagalan kita juga harus tetap bersyukur, berterimakasih dan gembira? Fahami dan hayati bahwa dengan kegagalan kita diingatkan bahwa kita ini adalah manusia yang lemah dan rapuh, hanya dapat hidup, tumbuh dan berkembang jika kita senantiasa tinggal di dalam Tuhan atau menuruti perintah-perintah Tuhan. Jadikan pengalaman gagal sebagai wahana untuk mendidik dan membina kita agar rendah hati, tidak sombong. Kami percaya bahwa kita semua telah mengalami aneka macam bentuk kegagalan atau keterbatasan, yang sering membuat kita frustrasi atau kecil hati atau bertindak ngawur. Kami ajak anda sekalian untuk mengenangkan berbagai macam kegagalan dan kekecewaan yang telah dialami untuk semakin menyadari dan menghayati diri sebagai yang lemah dan rapuh, sehingga semakin terbuka untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi, semakin rendah hati. Semoga berbagai macam kegagalan dan kekecewaan menjadi wahana untuk pembinaan bagi kita untuk seamakin rendah hati. "Aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah" (Kis 15:19), demikian usulan Yakobus dalam sidang para rasul dan penatua. Apa yang dikatakan oleh Yakobus ini hendaknya menjadi acuan atau pegangan kita dalam menghadapi aneka masalah yang muncul dalam kesibukan atau pelayanan kita setiap hari. Hendaknya jangan mempersulit atau menghambat siapapun untuk berbuat baik kepada saudara-saudarinya; birokrasi hendaknya memperlancar pelayanan bukan menghambat atau mempersulit pelayanan. Saya sering mendengar dari berbagai sumber bahwa di beberapa paroki untuk memberi bantuan atau sumbangan bagi mereka yang miskin dan berkekurangan sering harus dirapatkan secara berbelit-belit, demikian juga ketika ada orang ingin menjadi katolik atau ingin dibaptis. Kami berharap juga bahwa penampilan diri, entah melalui manusia, sarana-prasarana atau gedung, hendaknya tidak mempersulit orang untuk berbuat baik, beribadah, dst.. Hendaknya diusahakan penampilan diri yang menarik, mempesona dan memikat siapapun, tanpa pandang bulu, apalagi jika mengenakan atribut `katolik', yang berarti umum. Para penentu aturan atau kebijakan hidup dan kerja bersama, hendaknya tidak membuat peraturan atau kebijakan yang mempersulit orang untuk mengaktualkan dirinya atau mengembangkan dirinya sebagai pribadi beriman. Para pemimpin, atasan atau pejabat tinggi hendaknya memberi kemudahan seluas-luasnya kepada anak buah, bawahan atau rakyat untuk mengembangkan diri terus menerus sesuai dengan bakat, kemampuan dan keterampilannya atau anugerah Tuhan. Para guru atau pendidik di sekolah hendaknya memberi kemudahan bagi para peserta didik untuk semakin terampil di dalam belajar; demikian juga para orangtua hendaknya memberi kemudahan bagi anak-anaknya untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas beriman. Motto "cintakasih dan kebebasan Injili" hendaknya menjiwai hidup dan kerja kita bersama dimanapun dan kapanpun. "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa." (Mzm 96:1-3) Jakarta, 6 Mei 2010
