Berbagai Karunia Roh Kudus :
Berbahasa Roh, Bernubuat, dll
Oleh:
F.X. Didik Bagiyowinadi Pr

 
Sebagian
kelompok pengikut Kristus zaman modern ini mengklaim bahwa pembaptisan
yang telah diterima orang Kristen umumnya barulah pembaptisan air,
belum pembaptisan dalam Roh. Pembaptisan dalam Roh mereka yakini
dicurahkan pada saat yang tak terduga, baik waktu maupun tempatnya. Dan
mereka mengklaim bahwa tanda seseorang telah dibaptis dalam Roh adalah
karunia bahasa Roh yang mereka terima. Maka, yang belum dianugerahi
bahasa Roh dianggap oleh mereka belum menerima pembaptisan dalam Roh.
Sementara Gereja Katolik mengajarkan bahwa Sakramen Pembaptisan kita
(KGK 1215) adalah "permandian kelahiran kembali dan pembaharuan yang dikerjakan 
oleh Roh Kudus  (Tit 3:5), karena menandakan dan melaksanakan kelahiran dari 
air dan
dari Roh, yang dibutuhkan setiap orang untuk "dapat masuk ke dalam
Kerajaan Allah" (Yoh 3:5). Melalui pembaptisan itu kita sungguh telah
menerima Roh Kudus. Maka pada kesempatan ini mari kita pelajari apa itu
bahasa Roh dan bagaimana penggunaannya, seperti ditulis oleh Rasul
Paulus dalam 1 Kor 12-14. 
  
Karunia : Pemberian Gratis dari Tuhan 
Dalam
1 Kor 12:1-14:25 Rasul Paulus menulis panjang-lebar berbagai karunia
Roh Kudus, seperti berkata-kata dengan hikmat, dengan pengetahuan,
memberikan iman, karunia untuk menyembuhkan, untuk mengadakan mukjizat,
bernubuat, membedakan macam-macam roh, berkata-kata dengan bahasa roh,
dan menafsirkan bahasa roh (1 Kor 12:8-10). Semua itu adalah karunia,
pemberian gratis dari Tuhan. Memohon boleh, tapi soal dikabulkan atau
tidak, itu urusan Tuhan. Sebab semua karunia itu dikerjakan oleh Roh
yang satu dan sama, "yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara 
khusus, seperti yang dikehendaki-Nya "
(1 Kor 12:11). Kenapa seseorang mendapat karunia ini sementara yang
lain mendapat karunia itu, hal itu sepenuhnya urusan Tuhan. Maka tak
bisa disimpulkan bahwa mereka yang mendapat karunia tertentu berarti
lebih suci daripada yang lain. Mereka yang tak bisa berbahasa roh,
bernubuat, melakukan mukjijat, ataupun menyembuhkan belum tentu kalah
suci daripada mereka yang menerima karunia tersebut. Kesucian seseorang
tidak ditentukan oleh seberapa banyak dia menerima karunia Roh Kudus,
tetapi oleh sejauhmana dia berbuat kasih (1 Kor 13:1-13). 
  
Untuk Kepentingan Bersama 
Karunia
yang berbeda-beda itu dianugerahkan kepada tiap-tiap orang "untuk
kepentingan bersama" (1 Kor 12:7)dan untuk membangun jemaat (1 Kor
14:12). Maka karunia itu tidak dimaksudkan untuk dipamerkan,
dikomersilkan, ataupun dijadikan alasan menjadi sombong. Karunia itu
dipercayakan Tuhan kepada kita dengan konsekuensi kita harus
menggunakannya untuk kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan diri
sendiri, dan untuk membangun Gereja. Kita harus senantiasa waspada akan
bahaya kesombongan rohani, terlebih mereka yang menerima
karunia-karunia "spektakuler". 
  
Bahasa Roh 
Salah
satu karunia Roh Kudus adalah berbahasa Roh. Apa sebenarnya bahasa roh
itu? Menurut Rasul Paulus, bahasa Roh adalah bahasa yang diucapkan
manusia kepada Tuhan, "tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya;
oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia" (1 Kor 14:2). Maka lebih
tepat, bila bahasa Roh digunakan dalam doa pribadi, bukan dalam doa
bersama di lingkungan ataupun di gereja. Sebab hal itu akan menimbulkan
kasak-kusuk bagi merek a yang tidak mengerti. Karena itu Rasul Paulus
meminta, agar mereka yang dikarunia bahasa Roh, juga memohon karunia
untuk menafsirkannya sehingga orang lain yang mendengarnya bisa
mengerti dan bisa menjawab "Amin" (1 Kor 14:13-17). 


Maka
daripada menimbulkan ketidakmengertian bagi umat yang lain, Rasul
Paulus berpendapat, "Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku
berkata-kata dengan bahasa roh lebih daripada kamu semua. Tetapi dalam
pertemuan jemaat, aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat
dimengerti untuk mengajar orang lain juga, daripada beribu-ribu kata
dengan bahasa roh" (1Kor 14:18-19). Mengapa Rasul Paulus menegaskan hal
itu? Apakah dia merasa iri dan kurang respek dengan bahasa roh lantaran
tidak bisa berbahasa roh? Menarik, dia mengaku bahwa dirinya bisa
berbahasa roh "lebih dari kamu semua". Dia menasihatkan agar kita yang
memohon karunia-karunia itu, mau mempergunakannya untuk membangun
jemaat. Bahasa roh yang tak diberi penjelasan, akan sia-sia diucapkan
(1 Kor 14:9). 


Bahkan
untuk mengatur agar pertemuan jemaat berlangsung dengan sopan dan
teratur (1 Kor 14:40), Rasul Paulus menasihatkan cara menggunakan
bahasa Roh dalam pertemuan jemaat, "Jika ada yang berkata-kata dengan
bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang , seorang demi 
seorang,  dan harus ada seorang lain yang menafsirkannya.  Jika tidak ada orang 
yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka
berdiam diri dalam pertemuan jemaat dan hanya boleh berkata-kata kpada
dirinya sendiri dan kepada Allah" (1 Kor 14:27-28). 
  
Bahasa Roh atau Nubuat? 
Yang
terkadang dirujuk sebagai peristiwa penganugerahan bahasa roh adalah
mukjizat pentakosta (Kis 2:1-13). Setelah mendapat pencurahan Roh
Kudus, para rasul berkata-kata dalam bahasa lain sehingga orang yang
mendengarnya bisa mengertinya dalam bahasa ibunya masing-masing. Gumam
yang menyaksikannya, "Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar
mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita
pakai di negeri asal kita" (Kis 2:8). Mereka mengertinya dalam bahasa
ibunya. Sementara menurut Rasul Paulus, bahasa roh itu "tidak ada
seorang pun yang mengerti bahasanya" (1 Kor 14:2). Jadi, apa yang
terjadi dalam mukjizat pentakosta itu bukanlah bahasa roh. Menurut
saya, apa yang terjadi dalam peristiwa pentakosta itu lebih merupakan
nubuat. Karena dengan nubuat, kita berkata-kata kepada manusia,
membangun, menasihati, dan menghibur. Dengan nubuat kita bisa membangun
jemaat (1 Kor 14:3-4). 


Menarik
apa yang diyakini rasul Paulus, "Aku suka, supaya kamu suka
berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu
bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga daripada orang
yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga
menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun (1 Kor 14:5). 


Mari
kita manfaatkan karunia yang kita peroleh untuk membangun jemaat, dan
lebih dari semua itu, mari kita lebih mengejar kasih, sebab "Kasih
tidak berkesudahan, nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, dan
pengetahuan akan lenyap" (1 Kor 13:8). 
  
Sumber: Di Tengah Berbagai Angin Pengajaran - Menjawab Kontroversi Iman (Dioma, 
2005), hlm. 99-102. 

artikel juga dapat dilihat di 
http://www.imankatolik.or.id/berbagai_karunia_roh_kudus_berbahasa_roh_bernubuat.htm


 
Salam & Doa
Alexander Yusup


      

Kirim email ke