HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS:  Yeh 34:11-16; Rm 5:5b-11; Luk 15:3-7
"Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah 
kutemukan." 
Suatu pengalaman dan kenyataan yang sungguh konkret kita hayati atau alami 
setiap hari: ketika ada saudara atau saudari kita sedang sakit serta dirawat di 
rumah sakit pada umumnya kita sungguh memberi perhatian, apalagi ketika ada 
sahabat, kenalan atau saudara kita mati alias dipanggil Tuhan. Sebaliknya 
ketika mereka dalam keadaan baik alias biasa-biasa saja pada umumnya kita 
kurang memberi perhatian. Hal yang senada terjadi dalam diri kita, tubuh kita 
sendiri: ketika anggota tubuh kita sehat semuanya pada umumnya kita hidup 
seenaknya, sebaliknya ketika ada anggota tubuh kita atau bagian tubuh kita yang 
sakit kita akan memberi perhatian luar biasa; mau mandi diperhatikan, mau tidur 
diperhatikan, dstÂ… Beaya perawatan yang sedang sakit untuk menjadi sembuh pada 
umumnya mahal, lebih mahal dari hidup biasa jika dihitung per hari, namun 
demikian dengan segala upaya dan daya, termasuk cari pinjaman jika perlu, kita 
akan menyediakan beaya perawatan tersebut. Kegembiraan luar biasa terjadi 
ketika yang sakit menjadi sembuh. Pengalaman manusiawi tersebut di atas kiranya 
baik sebagai jembatan untuk merenungkan Hati Yesus Yang Mahakudus, yang kita 
rayakan hari ini. 

"Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah 
kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga 
karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena 
sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." (Luk 
15:6-7). 

Hati Yesus yang tergantung di kayu salib ditusuk tombak, dan dari 
HatiNya/lambungNya mengalirlah air dan darah segar, lambang sakramen-sakramen 
Gereja yang menyelamatkan. Hati yang terluka dan terbuka juga melambangkan 
penyerahan Diri Yesus secara total kepada kehendak Allah demi keselamatan 
seluruh dunia/umat manusia. Hati yang terbuka mengundang dan memanggil semua 
orang berdosa untuk masuk ke dalam HatiNya guna mohon kasih pengampunan, `minum 
air dan darah segar', yang menghidupkan dan menyegarkan. 

Jika kita jujur mawas diri, kami percaya kita semua adalah orang-orang berdosa 
yang membutuhkan kasih pengampunan atau pertobatan, maka marilah kita 
bersembah-sujud kepada Hati Yesus yang tergantung di kayu salib. Percayalah 
dengan sepenuh hati bahwa jika kita bersembah-sujud kepadaNya pasti akan 
menerima kasih pengampunan, dan dengan demikian kita sungguh hidup, segar bugar 
baik secara jasmani maupun rohani. Kita dikuasai atau dirajai oleh HatiNya Yang 
Mahakudus dan dengan demikian kita juga dipanggil untuk meneladan HatiNya, yang 
mengalirkan air dan darah segar. Meneladan Hati Yesus Yang Mahakudus berarti 
sepak terjang, perilaku, cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan 
kapanpun menggairahkan dan menyegarkan orang lain; cara hidup dan cara 
bertindak kita mengundang dan memberdayakan orang lain untuk bertobat atau 
memperbaharui diri, semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya 
kepada Tuhan. 

"Akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari 
pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan 
pertobatan". Sabda Yesus ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi 
kita semua, entah sebagai orang berdosa atau merasa diri sebagai orang baik. 
Yang merasa berdosa kami harapkan dengan rendah hati mohon kasih pengampunan 
Tuhan, sedangkan yang merasa diri baik hendaknya hidup penuh dengan syukur dan 
terima kasih seraya menghayati bahwa semua kebaikan yang ada adalah anugerah 
Tuhan. Berdevosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus memanggil kita untuk hidup 
dan bertindak dengan rendah hati, penuh syukur dan terima kasih, karena 
perhatian Tuhan yang luar biasa kepada kita orang-orang yang lemah, rapuh dan 
berdosa ini. 
"Waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada 
waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk 
orang yang benar -- tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani 
mati" (Rm 5:6-7)

Yesus yang baik `berani mati' bagi kita semua orang berdoa, demi keselamatan 
dan kebahagiaan kita semua, orang-orang durhaka dan berdosa. Ia datang ke dunia 
untuk menyelamatkan dunia dengan mempersembahkan diri seutuhnya, wafat di kayu 
salib; Ia menjadi pemenuhan ramalan para nabi, sebagaimana juga dikatakan oleh 
nabi Yeheskiel ini :"Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, 
yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang 
kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya" 
(Yeh 34:16). Kita semua yang berbakti atau berdevosi kepada Hati Yesus Yang 
Mahakudus dipanggil untuk meneladan Dia, memenuhi ramalan atau apa yang 
dikatakan oleh nabi Yeheskiel tersebut, maka marilah apa yang dikatakan nabi 
Yeheskiel tersebut juga menjadi kata-kata kita serta kita wujudkan ke dalam 
tindakan konkret. 

Marilah kita cari yang hilang, kita bawa pulang yang tersesat, kita balut yang 
luka, kita kuatkan atau sembuhkan yang sakit, kita lindungi yang gemuk dan 
kuat, dst..dengan kata lain kita gembalakan mereka semua, lebih-lebih mereka 
yang setiap hari hidup atau bekerja bersama dengan kita. Meneladan Hati Yesus 
yang Mahakudus antara berarti bersikap mental sorang gembala yang baik  Gembala 
baik pada umumnya berani mati bagi yang digembalakan, karena sangat mengasihi 
mereka yang harus digembalakan. Gembala baik mengasihi yang digembalakan dengan 
segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh. 

Para orangtua, guru/pendidik atau pemimpin kami harapkan bersikap mental 
gembala baik dalam rangka menghayati panggilan atau melaksanakan tugas 
kewajiban. Orangtua menjadi gembala bagi anak-anaknya, guru/pendidik menjadi 
gembala bagi para peserta didik, dan seorang pemimpin menjadi gembala bagi para 
anggotanya.  Sebagai gembala pertama-tama memang harus baik, dikasihi oleh 
Tuhan maupun sesamanya; kemanapun pergi dan dimanapun berada senantiasa 
mempesona, menarik dan memikat bagi yang lain untuk mendekat dan mengasihinya. 
Gembala yang baik mengenal yang digembalakan, menuntun keluar ke padang hijau 
domba-dombanya, dst.. Para orangtua hendaknya sungguh mengenal anak-anaknya dan 
kemudian mendidik dan mendampinginya menuju ke kedewasaan sejati, menjadi 
pribai yang cerdas spiritual. Para guru/pendidik hendaknya sungguh mengenal 
para peserta didik sehingga dapat mendampingi dengan baik, menolong mereka 
untuk menemukan jalan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Sang pemimpin 
hendaknya mengenal semua anak buahnya dan kemudian mengusahakan kebersamaan 
hidup dan kerja sedemikian rupa sehingga semua orang merasa kerasan, bahagia 
dan nikmat tinggal dan bekerja di dalamnya.  Baik orangtua, guru/pendidik 
maupun pemimpin hendaknya juga bersikap mental untuk `mencari yang hilang', 
alias memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan, yang sakit dan 
menderita, yang lemah dan tak berdaya, dstÂ… 

"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang 
yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan 
jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku 
berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau 
besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau 
menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku 
dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan 
mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang 
masa." (Mzm 23)
         
Jakarta, 11 Juni 2010


Kirim email ke