"Kamu haruslah sempurna  sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
(1Raj 21:17-29; Mat 5:43-48) 

"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang 
menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang 
di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik 
dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila 
kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut 
cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada 
saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? 
Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu 
haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." 
(Mat 5:43-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Ketika kita baru saja dilahirkan dari rahim ibu kita masing-masing 
kiranya kita dalam keadaan suci, bersih, sempurna, serta didambakan tumbuh 
berkembang dengan sempurna juga, sehingga ketika suatu saat dipanggil Tuhan 
atau meninggal dunia tetap dalam keadaan sempurna, suci dan kemudian hidup 
mulia kembali di sorga untuk selama-lamanya. Namun, karena kelemahan dan 
kerapuhan kita serta aneka macam rayuan dan godaan setan di dalam perjalanan 
hidup, apa yang menjadi dambaan atau cita-cita tersebut tidak menjadi 
kenyataan. Salah satu atau mungkin hambatan utama dalam perjalanan hidup adalah 
`musuh'; yang kami maksudkan dengan  `musuh' adalah segala sesuatu yang tidak 
sesuai dengan selera atau keinginan pribadi, entah itu manusia, makanan atau 
minuman, suasana, tugas atau pekerjaan dst.. Warta Gembira hari ini 
mengingatkan kita semua: jika kita mendambakan sempurna hendaknya menghayati 
sabda Yesus ini, yaitu "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang 
menganiaya kamu". Pertama-tama kami mengingatkan kita semua pentingnya 
`mengasihi' makanan atau minuman yang sehat dan bergizi, meskipun tidak enak 
atau tidak nikmat. Hendaknya sedini mungkin anak-anak dibiasakan `mengasihi' 
makanan dan minuman berpedoman pada kesehatan bukan pada `suka dan tidak suka'. 
Nikmati makanan atau minuman yang sehat! Hemat saya ketika orang tidak ada 
masalah dalam hal makanan dan minuman yang sehat, maka yang bersangkutan juga 
tidak ada masalah dengan sesama manusia, lingkungan hidup maupun tugas atau 
pekerjaan apapun dan dimanapun, artinya ia tidak akan memusuhi mereka yang 
membuat dirinya tidak enak. Kita juga diingatkan pentingnya `doa':: "Berdoalah 
bagi mereka yang menganiaya kamu", maka baiklah ketika kita masih merasa sulit 
bertatap muka dengan mereka yang menganiaya atau memusuhi kita, marilah kita 
berdoa, seperti doa Yesus di puncak kayu salib, :"Ya Bapa, ampunilah mereka, 
sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."(Luk 23:34)  
•       "Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh 
karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan 
mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan 
mendatangkan malapetaka atas keluarganya." (1Raj 21:29)., demikian firman Tuhan 
kepada Elia. Pengalaman Ahab ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi 
kita semua, lebih-lebih bagi kita yang telah memusuhi, merampas hak atau 
menindas orang lain dengan berbagai cara dan dalam berbagai kesempatan. Marilah 
merendahkan diri dihadapan Tuhan untuk mohon kasih pengampunan serta menerima 
penitensi atau hukuman yang pantas bagi kita. Tidak ada kata terlambat untuk 
bertobat atau memperbaharui diri sebelum mati atau dipanggil Tuhan. Secara 
liturgis pertobatan atau pembaharuan diri ini dapat kita lakukan dengan mengaku 
dosa secara pribadi kepada imam/pastor, sedang secara sosial atau konkret kita 
harus mengembalikan apa yang telah kita ambil atau rampas dari orang lain. 
Sekiranya secara phisik tidak mungkin mengembalikan apa yang telah kita ambil 
atau rampas, baiklah secara spiritual kita senantiasa mendoakan mereka yang 
telah kita sakiti atau celakakan. Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha 
Pengampun, maka hendaknya tidak takut dan tidak malu untuk mohon kasih 
pengampunan dari Tuhan maupun dari sesama yang telah kita sakiti atau 
celakakan. Marilah kita hidup saling mengampuni dan mengasihi agar kita 
terlepas dari aneka macam malapetaka. 

"Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku 
menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan 
tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku 
senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku 
telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat" (Mzm 51:4-6a)

Jakarta, 15 Juni 2010


Kirim email ke