"Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi."
(2Raj 17:5-8.13-15a.18; Mat:1-5)

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman 
yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai 
untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di 
mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 
Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan 
selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, 
keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas 
untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Mat 7:1-5), demikian 
kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Aloysius Gonzaga, 
biarawan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: 
•       Senantiasa berpikiran positif (`positive thinking')  daripada 
berpikiran negatif (`negative thingking') terhadap sesama atau orang lain, 
itulah inti Warta Gembira hari ini. Dengan kata lain kita dipanggil untuk 
bersemangat `karya penciptaan', yang ditandai dengan pertumbuhan dan 
perkembangan ke arah yang baik, benar, mulia dan indah. Kami percaya bahwa di 
dalam diri kita masing-masing lebih banyak apa yang baik daripada yang buruk, 
benar daripada salah, mulia daripada jorok, indah daripada amburadul. Maka 
pertama-tama kami harapkan agar kita sendiri senantiasa berpikiran positif 
terhadap diri kita sendiri, dan dengan demikian kita akan lebih mudah untuk 
berpikiran positif terhadap orang lain. Kita semua dipanggil untuk mahir atau 
ahli kebaikan bukan kejahatan alias ahli Roh Kudus, terampil dalam pembedaan 
roh (spiritual discernment). Maka kami mengajak anda sekalian untuk membiasakan 
latihan pembedaan roh atau pemeriksaan batin setiap hari (ingat pemeriksaan 
batin adalah bagian dari doa malam, doa harian). Hari ini kita kenangkan 
St.Aloysius Gonzaga, Yesuit muda/ biarawan, yang dikenal kerendahan hati, 
ketaatan dan ketekunan dalam tugas, dan ia menjadi teladan bagi kawan-kawannya. 
Kerendahan hati, ketaatan dan ketekunan juga merupakan buah atau kasih karunia 
Roh Kudus, anugerah Allah. Marilah kita mengusahakan dan memperdalam keutamaan 
kerendahan hati, ketaatan dan ketekunan, serta dengan rendah hati kita lihat 
dan akui keutamaan-keutamaan tersebut dalam diri saudara-saudari kita. 
•       "Berbaliklah kamu dari pada jalan-jalanmu yang jahat itu dan tetaplah 
ikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang 
telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang telah Kusampaikan kepada 
mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi." (2Raj 17:13), demikian 
nasihat atau pesan para nabi kepada bangsa terpilih. Pesan atau nasihat ini 
kiranya juga terarah pada kita semua, maka marilah kita renungkan dan hayati 
atau laksanakan.  Aneka macam bentuk kejahatan membuat kabur penglihatan mati 
hati kita, suara hati kita semakin buta dan kita tak mampu membedakan apa yang 
baik dan buruk. Kita diingatkan untuk setia mengikuti dan melaksanakan 
perintah-perintah Tuhan, yang antara lain dapat kita lihat dalam berbagai 
kehendak baik saudara-saudari kita, dalam aneka tatanan dan aturan yang terkait 
dengan panggilan, tugas pengutusan dan kewajiban kita masing-masing. 
Pertama-tama marilah kita saling melihat dan mendengarkan kehendak baik kita 
untuk disinerjikan dan kemudian dihayati bersama-sama. Dalam kehidupan bersama 
senantiasa ada aturan atau tatanan, entah lisan atau tertulis, yang harus kita 
taati atau laksanakan. Kami angkat lagi perihal peraturan berlalu lintas di 
jalanan, dimana dapat kita lihat aneka rambu-rambu lalu lintas. Ketaatan pada 
rambu-rambu lalu lintas atau kedisiplinan berlalu lintas hemat saya merupkan 
cermin kehidupan bersama: hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 
Ketaatan dan kedisiplinan ini kami harapkan sedini mungkin dibiasakan atau 
dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga maupun sekolah dengan teladan 
konkret dari para orangtua maupun para guru/pendidik. Ketaatan utama atau dasar 
adalah taat kepada kehendak Tuhan, maka kepada mereka yang akrab dan mesra 
hidup bersama dengan Tuhan selayaknya kehendak, nasihat atau pesannya kita 
dengarkan dan laksanakan, karena mereka bagaikan nabi-nabi yang diutus oleh 
Allah untuk mewartakan apa yang baik dan benar. 

"Ya Allah, Engkau telah membuang kami, menembus pertahanan kami; Engkau telah 
murka; pulihkanlah kami! Engkau telah menggoncangkan bumi dan membelahnya; 
perbaikilah retak-retaknya, sebab bumi telah goyang. Engkau telah membuat 
umat-Mu mengalami penderitaan yang berat, Engkau telah memberi kami minum 
anggur yang memusingkan." (Mzm 60:3-5) 
Jakarta, 21 Juni 2010


Kirim email ke